Sudah Luluskah Anda dalam Ujian?

Oleh: Ust. Miftah Fauzi Rakhmat

Waktu itu, haji wada. Rasullah Saw beranjak meninggalkan Mekkah menuju Madinah. Pada 18 Zulhijjah, di tempat bernama Khum, di sebuat mata air (Ghadir), iringan kafilah Nabi terhenti. Rasulullah memerintakan para sahabat untuk beristirahat. Panas padang pasir menyengat kepala para jamaah haji yang baru menyelesaikan ritus suci. Nabi memandang ke padang yang luas. Beliau meminta para jemaah yang lebih dahulu pergi untuk kembali. Beliau menunggu para peziarah yang belum tiba. Ghadir Khum memang sebuah persimpangan. Dari titik itulah kemudian, para jemaah haji pulang ke kampung halaman.

Begitulah riwayat yang diceritakan dalam Tafsir Al-Fakhr al-Razi. Ketika menjelaskan ayat Surat Al-Maidah: 67, penafsir besar Ahlulsunnah itu bercerita: (10) ayat ini turun berkenaan dengan keutamaan Ali bin Abi Thalib as. Ketika turun ayat ini, Nabi menggenggam tangan Ali dan mengangkatnya seraya berkata: Man kuntu mawlahu, fa Aliyyun mawlahu. Allahumma wali man walahu wa ’adi man ’adahu. Barang siapa menjadikan aku sebagai mawlanya, hendaknya dia menjadikan Ali sebagai mawlanya juga. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya. Musuhilah orang yang memusuhinya. Setelah itu berkatalah Umar bin Khattab: Hani’an laka ya ibna Abi Thalib. Ashbahta mawlaya wa maula kulli mu’minin wa mu’mininatin. Selamat bagimu, Hei putra Abu Thalib. Engkau telah menjadi mawlaku, dan mawla setiap mukmin dan mukminat. Menurut Imam al-Fakhr al-Razi, hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Al-Barra bin ’Aazib, dan Muhammad bin Ali (Tafsir Al-Kabir, juz 12 halaman 53).

Riwayat singkat dari Imam al-Fakhr al-Razi serta banyak literatur lainnya menceritakan peristiwa agung itu, yang kini banyak dilupakan kaum Mukminin. Rasulullah diperintahkan Allah untuk menyampaikan pesan terakhir ini. Sekiranya –sebagaimana redaksi ayat 5:67) – perintah ini tidak disampaikan, maka Nabi dianggap tidak menyampaikan risalah sama sekali (fa ma ballaghta risalatah). Mengapa pesan Nabi ini begitu penting? Karena kelanjutan risalah Nabi berada pada Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. Beliaulah pintu kota ilmu Nabi.

Pada perisitwa yang penting itu, Nabi mengingatkan kaum Mukminin untuk mengambil teladan, mengangkat pemimpin, dan mempelajari Islam dari kader beliau yang paling cerdas, bijak, pemberani, dan setia yaitu Ali bin Abi Thalib. Bukankah Ali adalah bagian dari Ahlulbayt yang diwasiatkan Nabi untuk dijaga sebagai dua pusaka yang agung? Tanpa seorang penafsir seperti Ali –yang belajar langsung dari Rasulullah– Al-Qur’an akan mengundang banyak penafsiran, sunnah Nabi akan terjatuh dalam berbagai pertikaian. Inilah yang terjadi pada wajah umat dewasa ini.

Menerima Ali sebagai mawla adalah syarat untuk menerima kesempurnaan agama Islam. Menurut riwayat lain, barulah setelah turun ayat ”Pada hari ini Aku sempurnakan agama-Ku…”

Menurut Ust. Jalal, Islam telah sempurna disampaikan, tetapi kesempurnaan Islam akan terpelihara dengan mengambilnya sebagai penerima wasiat Nabi, yaitu Imam Ali as. Seumpama anak-anak kelas III yang menghadapi ujian, mereka boleh belajar tiga tahun, tetapi ilmu yang mereka terima baru dihitung berhasil bila mereka lulus dalam ujian akhir.

Ghadir Khum adalah ujian akhir kaum Mukminin. Sudahkah Anda lulus dalam ujian itu?