Tanggapan atas artikel blog “haulasyiah.wordpress.com” -AKIDAH SYIAH TENTANG Al-QUR’AN-
Berikut adalah kiriman dari Bapak HudaAnshori yang menanggapi salah satu artikel yang ada di weblog http://www.haulasyiah.wordpress.comBerikut teksnya:

@Haulasyiah

 

Assalamu alaikum wr. wb

Sebagai seorang muslim saya yakin bahwa Al Qur’an Al Karim terjaga dari segala bentuk kebatilan; kepalsuan isinya, penyimpangan teksnya; penambahan ataupun pengurangan. Keyakinan itu saya imani berdasarkan bukti dan bukan atas dasar taklid buta atau fanatisme tak berdasar. Semua isu yang menebar keragu-raguan terhadap kesucian dan keterjagaan Al Qur’an adalah -palsu dan dapat dibuktikan- sebagai cara musuh-musuh Islam untuk menjauhkan umat Islam dari kitab suci pedomannya.

Akan tetapi, hal aneh yang justru saya saksikan dari sebagian penulis muslim –yang kebanyakan dari mereka yang berafiliasi dengan faham dan kelompok Islam tertentu di Timur Tengah- mereka memiliki kegemaran menyebar:

(1) Isu bahwa Syi’ah mempunyai Al Qur’an sendiri yang berbeda dengan Al Qur’an kaum Muslimin, dan Al Qur’an mereka itu baru dan dikeluarkan di akhir zaman nanti.

(2) Isu bahwa Al Qur’an yang ada di kalangan kaum Muslmin sekarang ini telah mengalami perubahan dalam pandangan Syi’ah.

Sebagai bukti kebenaran isu yang dituduhkan ini, para penulis itu menyebutkan beberapa riwayat dari kitab-kitab Syi’ah yang menyebut-nyebut bahwa ayat tertentu yang tertera di sana berbeda dengan ayat-ayat yang ada di dalam Al Qur’an kaum Muslimin. Seperti yang disebutkan dalam makalah di atas… dengan dasar adanya riwayat-riwayat seperti itu, maka disimpulkan bahwa Al Qur’an Syi’ah memang berbeda dengan Al Qur’an umat Islam.

Semua pernyataan para ulama Syi’ah yang tegas menolak isu tahrif tidak digubris dan dianggap sebagai aksi taqiyyah belaka!

Bapak pengelolah blog “haulasyiah” yang saya hormati, kalau memang demikian logikanya, maka masalahnya akan menjadi runyam, sebab di dalam kitab-kitab Ahlusunnah wal Jama’ah juga dapat ditemukan riwayat-riwayat yang bahkan diakui keshahihannya, sementara isinya tegas-tegas mengatakan bahwa Al Qur’an yang ada kini telah mengalami perubahan. Atau di dalamnya termuat hadis yang mengatakan bahwa teks ayatnya berbeda dengan teks ayat yang ada di Al Qur’an yang ada ditangan kita sekarang. Lalu apakah kita akan menerima tuduhan bahwa kita (Ahlusunnah) atau paling tidak si penulis kitab tersebut telah meyakini adanya perubahan pada teks Al Qur’an?!

Jika jawabannya tidak, mengapa kita berdasarkan sekedar adanya riwayat tertentu itu (dan belum tentu atau tidak dianggap shahih oleh mereka) menuduh kelompok lain meyakini punya Al Qur’an yang ayat-ayatnya berbeda dengan Al Qur’an yang beredar sekarang?!

Bapak pengelolah yang saya muliakan, saya akan sedikit berbagi informasi dengan bapak dan para pengunjung blog ini tentang riwayat-riwayat seperti itu.

Saya harap Bapak bersabar mengikutinya dan setelahnya saya memohon tanggapan Bapak atasnya. Saya hanya pencari kebenaran dan pecinta persatuan serta meyakini bahwa kebenaran pasti akan tampil gemilang dan Islam pasti akan jaya di akhir zaman. Amin.

Perubahan Al Qur’an Dalam Kitab Hadis Imam Bukhari-rahimahullahu:

(1) Surah Wal laili Idzâ Yaghsyâ.[92]

Dalam Al Qur’an umat Islam yang turun kepada Nabi Muhammad –Shallallahu alaihi wa sallama- ayat itu berbunyi demikian:

وَ ما خَلَقَ الذَّكَرَ وَ الْأُنْثى‏

Dan Demi Yang menjadikan laki- laki dan perempuan” (Surat al-Laili, ayat; 3)

Ayat ini dalam versi Imam Bukhari berbunyi demikian:

وَ الذَكَرِ و الأُنْثَى.

“Dan demi laki-lak dan perempuan”.

Pada ayat versi Imam Bukhari mengalami pengurangan kalimat: وَ ما خَلَقَ dan kemudian harakat kata الذَّكَر dibaca karsah bukan fathah, seperti dalam Al Qur’an yang ada.

Dalam riwayat disebutkan bahwa sahabat Abu Darda’ -Radhiyallahu ‘anhu- menyatakan bahwa demikianlah sebenarnya ayat itu turun kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallama- dan beliau ajarkan. Jusrtu bunyi ayat seperti yang tertera dalam Al Qur’an sekarang itu dikatakan oleh riwayat Imam Bukhari sebagai hasil paksaan dan rekayasa para penguasa.

Jadi apakah kita akan menuduh Imam Bukahri -rahimahullahu- meyakini Al Qur’an yang berbada?! Atau kita akan menuduh Abu Darda’-Radhiyallahu ‘anhu- juga meyakini adanya perubahan dalam Al Qur’an?! Wal Iyadzu billah.

Untuk melihat langsung hadis tersebut baca Shahih Bukhari, Kitab at tafsir, tafsir wal laili idâ Yaghsyâ: 6/210.

(2) Surah Tabbat Yadâ

Dalam Al Qur’an umat Islam yang turun kepada Nabi Muhammad –Shallallahu alaihi wa sallama- ayat itu berbunyi demikian:

تَبَّتْ يَدا أَبي‏ لَهَبٍ وَ تَبَّ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” (surat al-Lahab [111], ayat: 1)

Dalam Al Qur’an versi Imam Bukhari berbunyi demikian:

تَبَّتْ يَدا أَبي‏ لَهَبٍ وَقَدْ تَبَّ

Jika pada kasus pertama terjadi pengguguran beberapa kata, di sini justru mengalami penambahan sebuah huruf قد yang berfungsi sebagai huruf tahqiq/penguat dalam istilah kaidah bahasa Arab.

Ayat Al Qur’an versi Imam Bukhari ini dapat dijumpai dalam Shahih Bukhari, kitab at-tafsir, tafsir Tabat Yadâ Abi Lahabin wa-Tabb: 6/221.

Sekali lagi, kita harus jujur bertanya, apakah dengan dasar hadis riwayat Imam Bukhari ini, kita boleh menuduh beliau telah meyakini Al Qur’an lain selain yang ada di tangan kaum muslimin dan diyakini kesuciannya oleh kaum Muslimin?!

Jika kesimpulan itu tidak boleh kita ambil, mengapakah kita menuduh orang lain yang sekedar meriwayatkan sebuah hadis tertentu (dan belum tentu ia yakini keshahihannya, berbeda dengan Imam Bukari yang meyakni kesahihan seluruh hadis kitab beliau) yang mengandung redaksi lain ayat Al Qur’an dari yang ada di tangan kaum Muslimin dengan tuduhan bahwa ia mayakini tahrif dan perubahan dalam Al Qur’an?!

Saya pikir, kita umat Islam perlu berpikir positif dan jujur dalam menyikapi berbagai masalah yang ada!

(3) Surah asy Syu’arâ’ [26] Ayat214.

Bunyi ayat tersebut dalam Al Qur’an yang ada di kalangan umat Islam demikian:

وَ أَنْذِرْ عَشيرَتَكَ الْأَقْرَبينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat- kerabatmu yang terdekat,” ( as-Syu’ara’, ayat; 214)

Sementara redaksi ayat itu sesuai versi Imam Bukahri adalah sebagai berikut:

وَ أَنْذِرْ عَشيرَتَكَ الْأَقْرَبينَ، وَ رَهْطَكَ الْمُخْلَصِيْنَ.

“Dan berilah peringatan kepada kerabat- kerabatmu yang terdekat dan kabilahmu yang terpilih.”

Hadis yang memuat ayat tersebut adalah dari riwayat sahabat Ibnu Abbas –Radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan demikian: Ketika turun ayat:

وَ أَنْذِرْ عَشيرَتَكَ الْأَقْرَبينَ، وَ رَهْطَكَ الْمُخْلَصِيْنَ.

Jadi demikianlah sebenarnya ayat tersebut turun kepada Nabi-–Shallallahu alaihi wa sallama-, bukan seperti yang beredar dalam Al Qur’an yang dibaca umat Islam. Dalam Al Qur’an yang beradar di kalangan kita ayat tersebut mengalami pengurangan satu bagian yaitu kalimat:

وَ رَهْطَكَ الْمُخْلَصِيْنَ..

Ayat Al Qur’an versi Imam Bukhari ini dapat dijumpai dalam Shahih Bukhari, kitab at tafsir, tafsir Tabat Yadâ Abi Lahabin wa Tabb: 6/221.

Bapak pengelolah blog haulasyiah yang saya muliakan, demikian tanggapan saya atas tulisan di atas. Saya berharap Bapak sudi memuatnya sebagai bahan perbandingan dan renungan. dan saya menunggu tanggapan dan jawaban saudara.

Perlu saya informasikan di sini bahwa saya termasuk pengunjung rutin blog “haulasyiah” dan juga blog-blog (situs) yang berseberangan dengan Bapak untuk studi perbandingan. Saya mungkin terpaksa mengirim tanggapan saya ini ke blog-blog tersebut jika Bapak berkeberatan memuat tanggapan saya ini.

Terima kasih dan ma’af jika kurang berkenan.

wassalam,

Huda Anshori

peace.guy@hotmail.com