MAZHAB AKHLAK DAN CINTA

(Sebuah Catatan Kecil Menyambut Munas III IJABI)
Oleh:Supa Atha’na

Muliakan Peradaban Bangsa dengan Mazhab Akhlak dan Cinta. Itulah tema yang diusung organisasi Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) pada Muktamar Nasional (Munas) III yang berlangsung di Makassar 28-1 Maret nantinya. Serangkaian acara menyertai Munas ini: Seminar Nasional; Posisi Pancasila dalam Islam Madani, Seminar Internasional; The Role of Ahlulbait in Promoting Islam as Mercy for all Humankind, dan Parade Budaya Asyura Nasional; Perjalanan Mazhab Cinta Mewarnai Nusantara.

Isu akhlak dan cinta untuk ukuran Indonesia, saya kira ulama dan cendikiawan yang paling intens membicarakan dan membahasnya hanyalah Prof.Dr.Jalaluddin Rakhmat. Banyak ulama yang membicarakan tentang akhlak sebagaimana banyak cendikiawan mendiskusikan tema cinta tetapi sekali lagi hanya Kang Jalal yang mampu menampilkan dan mengupas tuntas kedua tema tersebut dengan baik. Artinya, Kang Jalal menampilkannya dengan nuansa baru dalam dimensi yang luas dan variatif. Ia berhasil meyakinkan kita bahwa akhlak dan cinta adalah sesuatu yang sangat penting dan mendasar dalam kehidupan pribadi, sosial, berbangsa dan bernegara juga dalam beragama. Kunci kesuksesan hidup pada semua level dan segmentasi terletak pada akhlak dan cinta. Orang yang mengikuti perjalanan pemikiran cendikiawan terkemuka Indonesia saat ini dengan segera bisa merasakan aura tersebut lewat penyajian dalil-dalil dari teks suci quran dan hadis maupun lewat fakta sosial.

Mazhab akhlak dan cinta seolah-olah juga menjadi simpul terakhir sementara dari perjalanan intelektual dan spiritual yang bisa kita tangkap dan rasakan dari goresan pena dan aksi sosial Kang Jalal. Lalu untuk menguatkan pondasi dasar dalam meraih akhlak dan cinta yang kuat, Kang Jalal sejak awal menyampaikan baik dalam bentuk aksi, lisan, maupun tulisan pada kita bahwa mazhab akhlak dan cinta hanya bisa dan mesti dibangun lewat dua syarat; daya intelektual dan interaksi sosial. Wujud nyata dari kedua syarat tersebut dapat kita lihat dengan hadirnya lembaga pendidikan Muthahhari dan Ormas IJABI dari tangan dingin ulama yang pakar komunikasi ini.

Perjalanan intelektual Kang Jalal menuju pengembaraan spiritual turun ke dunia aksi yang kemudian memunculkan mazhab akhlak dan cinta bila ditilisik lebih jauh akan kita temukan bahwa yang menjadi penggerak utamanya adalah berangkat dari pemahaman yang mendalam dan penguasaan yang komprehensif tentang hubungan agama dengan negara, bangsa, masyarakat dan individu. Untuk menciptakan hubungan yang harmonis diantara entitas-entitas tersebut akan bisa terurai dengan baik dan apik bila didahului dengan pembinaan daya intelektual, pengetahuan dan wawasan yang luas, melakukan amal (aksi sosial), dari pembiasaan kemudian membentuk akhlak yang pada akhirnya melahirkan cinta yang agung.

Pada kedua institusi pendidikan Muthahhari dan ormas IJABI tersebut, sangat jelas terlihat ambisi besar Kang Jalal untuk mewujudkan manusia Indonesia dengan daya intelektual yang tangguh pada saat yang sama memiliki akhlak dan cinta yang kuat. Hal lain yang tak bisa dilupakan bahwa pencapaian tersebut saya kira tidak terlepas dari rasa pengbadian dan kecintaannya kepada Tuhan sebagai seorang hamba Tuhan-khalifah di muka bumi-, kesadaran pertangungjawaban dirinya sebagai ulama yang cendikiawan, dan juga sebagai sebuah persembahan anak bangsa yang mencintai negerinya:Indonesia .

Penggambaran singkat ini kiranya sudah cukup untuk memahami bahwa latar belakang pendirian IJABI- di usianya yang ke-7 tahun sudah punya 2.500.000 orang dengan rincian;Dalam Negeri terdiri atas: 29 Pengurus Wilayah, 83 Pengurus Daerah, 145 Pengurus Cabang, dan pengurus cabang luar negeri di Iran,Maroko, Mesir, dan Saudi Arabia-tidaklah terlalu jauh beda dengan latar belakang pendirian Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah dimana mereka sama sama dilahirkan oleh seorang tokoh ulama dan cendikiawan muslim Indonesia atas keprihatinan yang dalam dengan apa yang menimpa ummat, bangsa dan negara kita Indonesia. Mereka bertujuan untuk memperbaiki dan ingin punya andil dan sumbangsih pada kemajuan bangsa Indonesia. Dengan tujuan ini pula organisasi IJABI menegaskan diri sebagai oraganisasi sosial yang terpercaya dan meyakinkan untuk mengkampenyakan pencerahan pemikiran, pemberdayaan kaum musthadaifin, persamaan hak, toleransi antara umat beragama dan sesama umat manusia, selain itu pula sangat concern untuk selalu mau ikut melaksanakan ketertiban dunia sebagaimana yang dicita-citakan oleh founding father negeri ini yang termaktub dalam Pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Perahu IJABI dengan mazhab akhlak dan cinta berlayar di atas bakhtera Indonesia terus bergerak maju bersama dengan pencermatan, penghayatan dan keprihatinan atas gelombang-gelombang sosial-politik yang terus menerpa tanah air Indonesia, dengan penumpang beraneka-ragam suku, agama dan kepercayaan dengan ini berpandangan bahwa Pancasila adalah dasar negara Republik Indonesia yang sesuai dan sudah final bagi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Sesungguhnya pula mazhab akhlak dan cinta merupakan sebuah penghayatan yang bersumber dari sari pati kandungan ajaran yang merupakan warisan dari manusia suci dan mulia Muhammad SAW dan para ahlul baitnya.Para manusia suci itu telah mengajarkan dan mencontohkan lewat tutur kata setiap hari, doa-doa, dan dari kumpulan kisah hidup mereka dalam memperjuangkan, menyebarkan, dan mengembangkan ajaran suci Islam yang tak pernah lepas dari berbagai tantangan, rintangan,cercaan, siksaan meski demikian mereka tetap menghadapinya dengan kesempurnaan akhlak dan cinta. Mereka menunjukkan dan mengukir jalan keselamatan untuk generasi mendatang.

Bila IJABI memilih mazhab akhlak dan cinta sebagai paradigma pergerakan memang sudah melewati berbagai pertimbangan yang dipandang dan diyakini sesuai dengan kondisi dan budaya Indonesia sekaligus ampuh untuk meredam dan memberi solusi atas berbagai konflik, penyimpangan, dan perdebatan yang terjadi dinegeri kita ini yang mana seolah-olah tak kunjung usai. Mulai dari pertikaian soal sara, penyimpangan perilaku korupsi dan perzinahan, hingga perdebatan wacana sosial, politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan keagamaan.

Semua persoalan bangsa yang mengemuka sekarang paling tidak bisa berkurang manakala akhlak dan cinta manusia Indonesia bisa diaktualkan secara benar dan maksimal. Konsep mazhab akhlak dan cinta adalah mazhab yang revolusioner, progressif, imaginatif, dan humanistik, natural dan fitrawi. Ketika Allah SWT berfirman:” Innaka la ‘alaa khuluqin ‘azhiim (Sesungguhnya engkau hai Muhammad mempunyai perilaku yang agung ) seketika itu pula seluruh isi alam sesungguhnya mendapat rahmat dari Allah SWT. Akhlak menjadi taruhan turunnya rahmat Tuhan. Dengan sebab itulah Allah SWT berfirman:” Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil ‘alamien (Tidak kami utus engkau hai Muhammad kecuali menjadi rahmat bagi sekalian alam). Dalam logika hubungan kedua kata akhlak mulia dengan rahmatan lilalamin adalah hubungan dalil kandungan atau bagian (Tadhamuniyah, implication) . Rasululah dipandang sebagai penyebab utama diciptakan-Nya dunia ini. Kalau tidak karena maksud Allah untuk mengutus Muhammad sebagai rahmat bagi alam semesta, maka tidak akan diciptakan dunia dan alam seisinya.

Lantaran kemulian akhlak itulah sehingga Tuhan mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil alamin. Aklahklah sehingga alam raya diciptakan secara teratur bersama hukum-hukumnya. Kekuatan akhlaklah menyebabkan semua wujud yang ada di muka menjadi teratur dan damai. Sekaitan dengan kondisi bangsa yang sedang carut marut pada semua aspek, kekuatan akhlak dan cinta bisa dijadikan penawar yang dahsyat. Persoalan-persoalan bangsa seputar isu sara, diskriminasi, kezaliman, korupsi, bisa dijawab dengan baik oleh akhlak dan cinta. Karena akhlak dan cinta membuat kita merasa tidak enak dan tidak tega untuk menduduki jabatan secara manipulasi, tidak sampai hati membangun gedung-gedung mewah kalau masih ada pondok-pondok kumuh disekeliling kita, tidak rela membangun imperium perusahan multinasional sementara banyak orang yang belum punya penghasilan dan tempat tinggal, dengan itu pula kita tidak mau mengambil hak orang lain, memandang hina dan remeh orang lain.

Dimensi akhlak dan cinta menyeret kita pada arus energi positif kehidupan yang tiada habis-habisnya. Spirit individu dan masyarakat larut dalam kebersamaan memperjuangkan cita-cita hidup yang lebih baik. Dalam pusaran akhlak dan cinta manusia satu sama lain tak ada kelas sosial dan perbedaan keyakinan yang menghalangi untuk saling hormat saling menghargai, dan saling kasih. Beban dan tantangan yang menimpa seorang individu menjadi beban dan tanggungan bersama. Tidak beriman seseorang sebelum ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Tidak beriman seseorang jika ia tertidur kekenyangan sementara masih ada tetangganya yang masih kelaparan. Setiap hal menjadi tangggungan bersama. Satu sama lain satu anggota badan. Sa’di, penyair kenamaan Persia bersyair: Bani adama azoye yek digarand (Seluruh anak Adam adalah umat yang satu)//Keh dar ovarinesh ze yek gauharand (Mereka tercipta dari sumber yang sama)// Chu azoye bedard ovard roozegar (Ketika salah seorang dari mereka berduka cita)//Digar azaha ra namonad qarar (Yang lain mesti lebih merasakan kepedihannya) // Tu kez mehnat digarond bighami (Bila engkau tidak bisa merasakan derita orang tertindas dan teraniaya)// Nashoyad keh nomet nahad adami( Sama sekali engkau bukanlah manusia).

Mazhab akhlak dan cinta secara tidak langsung merupakan antitesa dari mazhab benturan peradaban (Clash of Civilization) yang dikembangkan oleh Samuel Hungtinton. Menurut Samuel P. Huntington dalam ‘Benturan Antar Peradaban’ ada 8 peradaban besar yang saling bersaing untuk mendominasi dunia; Peradaban Barat, Peradaban Islam, Peradaban Konfusius, Peradaban Jepang, Peradaban Hindu, Peradaban Slavik, Peradaban Ortodoks, Peradaban Amerika Latin, Peradaban Afrika. Mazhab benturan peradaban memandang identitas formal sesuatu yang sangat penting. Identitas formal pada suatu suku dan agam tertentu sama dengan eksistensi diri. Sementara mazhab akhlak dan cinta lebih mengutamakan hal-hal yang substansial. Mazhab Huntington bertumpu pada logika kekuatan materi-fisik. Selalu mendendangkan lagu peperangan. Alquran membahasakan cukup jelas berkenaan suku bangsa yang suka membanggakan kekuatan fisik (QS:41;15) oleh Allah semua itu kemudian di hancurkan. Mazhab akhlak bertumpu pada kekuatan logika, menganjurkan perdamaian. Tuhan menjadikan sebuah negeri aman sentosa bila mayoritas penduduknya mencintai Tuhan dengan ikhlas (QS;2:126).

Penekanan akhlak dan cinta tidak berarti anjuran meninggalkan aturan formal dari salah satu mazhab (baca:fiqih) . IJABI menganggap hal tersebut sebagai privacy individu, kelompok dan ormas tertentu yang tidak boleh kita ganggu gugat. IJABI mengedepankan akhlak dan cinta sebab dimensi ini yang akan berperan dan berpengaruh besar pada individu dan masyarakat. Perlu untuk ditegaskan kembali bahwa dengan tujuan kesempurnaan akhlak maka manusi paling mulia diantara semua manusia mulia, Muhammad SAWW di utus. Kesempurnaan akhlak merupakan kunci mengapa ajaran rasul menjadi rahmatan lil alamin. Seandainya bukan lantaran akhlak dan cinta, tiap hari kita bisa menyesatkan dan mengkafirkan orang. Bayangkan kalau dimensi aturan formal pada setiap mazhab yang harus kita utamakan dan pertahankan maka setiap hari dan setiap waktu kerja kita hanya untuk mencela dan memusuhi orang. Akhlak dan cinta-lah yang mengajari kita bisa berendah hati, bisa menghargai bentuk dan corak pemahaman orang lain, bisa toleran hidup berdampingan dengan orang yang tidak sepaham dan tidak sesuai dengan aturan formal yang kita yakini. Hanya mazhab akhlak dan cinta yang mampu mengawal manusia Indonesia untuk bisa memuliakan peradaban bangsa kita yang dibangun atas kultur dan keyakinan yang beraneka ragam. Dengan jalan akhlak dan cinta kita bisa mengamalkan ajaran-ajaran pancasila dengan baik.

Kumpulan syair ‘Asrar-e Khoodi’ yang ditulis dalam bahasa Persia oleh tokoh pembaharu terkemuka Islam di abad ke -20 kelahiran dan berkebangsaan Pakistan, Dr Muhammad Iqbal Lahore semoga dapat membantu kita memahami kedahsyatan mazhab akhlak dan cinta ini:

Titik cahaya manusia adalah diri// Ia selalu menerangi jalan hidup manusia// Dengan cinta sang diri menjadi kekal// Semakin hidup, semakin bersemangat dan semakin bercahaya//Dengan cinta hakikat tersingkap// Perbendaharaan tersembunyi terkoyak// Fitrah diri membutuhkan api cinta// Cinta mengajarinya menerangi alam semesta//Cinta tak pernah takut kepada pedang dan belati//Cinta pula yang menciptakan kedamaian dari peperangan di bumi// Cinta adalah sumber kehidupan juga kilaunnya adalah mata pedang yang tajam// Tebing paling keras akan gemetar oleh tatapan cinta// Cinta ilahi kemudian mewujudkan Tuhan// Belajarlah mencinta dan berjuanglah agar engkau dicintai//Carilah mata seperti Nuh dan ciptakan kalbu seperti Ayub//Ciptakan emas dari setumpuk abu//Ciumlah ambang gerbang insanul-Kamil/ / Bagai Rumi, nyalakan pelita//Lalu bakar Rumi dalam api Tabriz//Yang dikasihi sembunyi dalam kalbumu// Akan kutunjukkan dia kepadamu, jika engkau benar punya sepasang mata// Kekasihnya lebih antik dari bidadari//Lebih molek,lebih mempesona dan paling dikasihinya/ /Cinta memperkukuh hatinya//Dan bumi sanggup merangkul bintang//Dan oleh sentuhan langkahnya tanah Najd hidup kembali//Pesonanya menerbangkan kau menuju angkasa//Dalam hati Muslim,Muhammad bersemayam// Seluruh karunia kita bersumber berkat namanya// Bukit Sinai hanya sejumput dari abu rumahnya//Ka’ bah adalah tempat tinggalnya/Hidupnya dipenuhi oleh keabadian/Apa itu rahasia penemuan baru ilmu pengetahuan? /Dengan tenaganya gairah selalu memecah diri/Melompat keluar dari kalbu kemudian mewujud ke dalam bentuk/Hidung, tangan,otak, mata serta telingan/Gagasan, takhayul, syukur,kenangan, telinga//semuanya itu jadi senjata bagi perwujudan pribadi/Kepadanya yang menunggang kuda kehidupan//Tujuan ilmu dan seni bukanlah pengetahuan/ Tujuan taman sari tidak terletak pada putik dan bunganya//Ilmu merupakan alat bagi perwujudan pribadi/Ilmu dan seni adalah hamba sahaya bagi kehidupan ini//Tapi mahkota Kisra ada di bawah telapak kaki umatnya/Dan gua Hira adalah tempatnya berkhalwat/Lalu dibentuknya negara dan hukum serta pemerintahan/ Malam-malamnya tidur tanpa nyenyak/agar umatnya dapat tinggal di singgasana Persia/Dalam detik-detik perjuangan besi pun hancur oleh pedangnya//Kala sembahyang airmatanya jatuh seperti hujan dari pelupuk matanya//Tatakala dia dipanggil untuk memberikan bantuan, pedangnya menjawab;Amin! //Dan ditumpasnya hingga musnah bangsa raja-raja//Dibuatny a Undang-undang baru untuk dunia//Diruntuhkann ya kerajaan purba masa siulam//Dengan anak kunciagama dia buka gerbang alam semesta//Belum pernah rahim dunia melahirkan orang seperti dirinya//Dihadapann ya semua manusia tak berbeda//Dengan para abdinya dia duduk untuk makan bersama//Putri Tai yang tertangkap saat perang dihadapkan padanya//Kakinya terbelenggu, dan wajahnya tanpa kerudung//Putri itu tertunduk tanpa kata//Kemudian sang nabi segera mengerudungi wajah sang putrid//tap[ I kita ternyata lebih telanjang lagi disbanding putrid tai itu//Malah kita bertelanjang di depan bangsa-bangsa lain//Kita beriman hanya kepadanya di hari padang Mahsyar//Dan diatas bumi ini dialah pelindung keselamatan kita//Karunia dan amarahnya semata ujud dari kasih-sayangnya/ /Demikianlah dia bersikap terhadap musuh-musuh- Nya//Dibentangka nnya pintu rahmat bagi selruh penentangnya/ /Diberikanya pesan kepada Mekkah: La tatsriba ‘alaikum sampai akhirnya,-// Tak ada setitik noda ataupun hukum ditimpakan kepadamu!”//Kita yang belum tahu seluruh luas negri//Samalah artinya dengan air sinar dua mata tapi tetap satu yang dilihat//Hejaz, Tiongkok, serta Persia milik kita//Dan kitalah titik-titik embun dari senyum fajar kegembiraan/ /kita semua takjub menyaksikan pembawa piala dari Mekkah//Kita satu padau bagaikan anggur dengan piala//Dikikisnya segala perbedaan asal-usul//Apinya meluluh-lantahkan remeh-temeh dan kekolotan ini//Kita seumpama rumpunan bunga namun hanya satu wanginya//Dialah ruh bagi masyarakat dan dia tunggal adanya//Kitalah rahasia yang tersembunyi alam relung kalbunya//Lagu cinta untuknya memenuhi batang kesenyapan serulingku// Ratusan nada menggetari ruang dadaku//Betapa akan kukisahkan kebaktian yang dihidupkannya padaku?//Sebatang kayu kering menangis tatkala berjauhan dari dirinya//Wujud muslim tumbuh saat kehadiran wahyunya//Gunung Sinai bertumbuhan pada jejak-jejak langkahnya// Bayanganku tercipta oleh kacanya//Fajarku menyingsing dari matahari dadanya//istirahatk u adalah demam panas tak sudah//Budak yang diasuh dan dididik dalam rumah kehidupan//Bangkitl ah!kau yang selama ini asing bagi keajaiban hidup//Buatlah dirimu mabuk kepayang dengan anggur cita-cita//Jika engkau penjelmaan cita kau akan bercahaya seperti fajar//Dan jadikanlah dirimu sebagai kobaran api bagi siapa pun//Jika engkau adalah Cinta, kau pasti lebih tinggi dari langit//Hapuslah yang percuma dan palsu dari masa silam//Dipenuhi kegelisahan, penjelmaan akhir zaman//Kita hidup dengan terus membangun cita//Kita menyala bersama cahaya matahari keinginan.

Penulis, Panitia Munas III IJABI dan Direktur Iranian Corner Unhas

Sumber: Jalal-Center