Pilih Mana? Kelahiran atau Kematian Nabi?

 

 

Memasuki saat-saat maulid Nabi, saya jadi teringat dengan tulisan yang pernah saya tulis mengenai riwayat kematian Nabi. Tulisan tersebut dicetak dalam bentuk buletin dakwah dan disebarkan di kampus UNS SOLO. Saat itu sudah diperkirakan tulisan itu akan menimbulkan kontroversi dan ternyata terbukti. Selang beberapa minggu tulisan itu menyebar di kampus, ada satu buletin baru yang nampaknya keberadaan buletin tersebut khusus untuk membantah tulisan-tulisan yang ada di buletin yang saya buat. Setelah saya mendapatkan buletin “tandingan” itu, esoknya saya mencoba membuat tanggapannya.

Di dalam Islam, terdapat 2 mazhab terbesar yaitu Sunni dan Syi’ah. Masing-masing mazhab memiliki metode yang berbeda dalam memahami Islam sehingga menghasilkan keyakinan yang berbeda pula. Salah satu perbedaan pendapat antara Sunni dan Syi’ah adalah mengenai kelahiran dan kematian Nabi.

Menurut Ahlulsunnah, Nabi Muhammad itu lahir tanggal 12 Rabiul Awal dan meninggalpun tanggal 12 Rabiul Awal. Dahulu waktu kecil, saya sempat berpikir, mungkin ini salah satu mukjizat yang diberikan Nabi oleh Allah. Nabi lahir dan meninggal pada tanggal dan bulan yang sama.

Berbeda dengan Ahlulsunnah, Syi’ah berpendapat bahwa Nabi lahir pada tanggal 17 Rabiul Awal (yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja’far Ash-Shodiq) dan meninggal pada tanggal 28 Shafar.

Mana yang benar? Saya tidak akan membahas mengenai hal itu. Biarlah orang-orang yang berkompeten mengenai ilmu hadits yang membahasnya. Saya lebih tertarik untuk membahas keyakinan Ahlulsunnah bahwa Nabi lahir dan meninggal pada tanggal dan bulan yang sama. Ini menurut saya sebuah keanehan (tidak selamanya aneh itu jelek).

Ada dua keanehan yang saya lihat di sana:

  1. Nabi lahir dan meninggal pada tanggal dan bulan yang sama.
  2. Umat Islam lebih sering memperingati hari kelahiran (milad) beliau. Tidak pernah saya melihat ada sekelompok umat Islam Ahlulsunnah yang memperingati hari dimana Rasulullah meninggalkan kita semua. Mengapa mereka lebih senang memperingati hari kelahiran beliau?

Padahal kalau keadaan itu dihadapkan kepada saya, misalnya, ada orang yang saya cintai lahir dan meninggal pada tanggal 2 juni, saya pasti akan bersedih pada hari itu karena hari itu saya telah kehilangan seseorang yang sangat dicintai.

Tetapi mengapa untuk Rasulullah kita malah bersuka ria pada tanggal 12 Rabiul Awal padahal Rasulullah meninggal pada tanggal 12 Rabiul Awal juga (menurut riwayat Ahlulsunnah).

Kalau kita mencoba membuka lembaran sejarah Islam yang terbukukan, kita akan mendapati riwayat mengenai saat-saat meninggalnya Rasulullah. Dan mubaligh-mubaligh jarang (mungkin tidak pernah) menyinggung mengenai saat-saat Rasulullah hendak meninggalkan kita semua. Seperti terkesan menutup-nutupi sejarah. Tetapi itu sih masih sekedar asumsi saya.

Riwayat yang saya maksudkan adalah riwayat Kamis Kelabu. Ibnu Abbas menyebutkan tragedi Kamis Kelabu, karena memang pada saat itu terjadi ada kejadian yang menyedihkan.

Tragedi kamis kelabu adalah peristiwa terhalangnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Aalihi wasallam (Sawaw) dari penulisan wasiat. Riwayat tragedi kamis kelabu ini banyak diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadits terkenal. Keshahihan riwayat ini tidak diragukan lagi.

Berikut beberapa riwayatnya:

Al Bukhari, Sahih, Jilid IV vol 5, Hadis diatas juga dirawikan al Bukhari di kitab sahih Bab al Ilm Jilid 1 hal 2. melalui sanad ‘Ubaidillah bin Abdullah dari ibnu Abbas yang berkata: “Ketika ajal Rasulullah Sawaw telah hampir, dan dirumah beliau ada beberapa orang, diantara mereka, umar bin khatab, beliau (Saw) bersabda Mari kutuliskan bagi kamu sebuah surat (wasiat) agar sesudah itu kamu tidak akan pernah sesat. Namun Umar berkata: Nabi telah makin parah sakitnya, sedangkan al-Qur’an ada pada kalian. Cukuplah Kitab Allah bagi kita! MAKA TERJADILAH PERSELISIHAN DI ANTARA ORANG YANG HADIR DAN MEREKA BERTENGKAR. Sebagian berkata, sediakan apa yang diinta oleh Nabi Sawaw Agar beliau menuliskan bagi kamu sesuatu yang menghindarkan kamu dari kesesatan. Tetapi sebagian lainnya menguatkan ucapan Umar. Dan ketika keributan dan pertengkaran makin bertambah di hadapan Nabi Sawaw, beliau memerintahkan: Keluarlah kalian dari sini!

Pada riwayat yang lain di kitab shahih Bukhari, Kalimat “Namun Umar berkata” diganti dengan “Mereka berkata”.

Berikut riwayatnya:

Bukhari hadis No. 2846 – Ditulis Oleh Said bin Jubair. Ibn Abbas berkata. “Kamis ! Apa (Hal yang besar/hebat) terjadi di hari kamis !” Kemudian dia mulai menangis sampai air matanya membasahi tanah. Kemudian dia berkata,”Pada hari kamis penyakit Rasulullah bertambah parah, kemudian beliau bersabda, “Berikan aku alat-alat tulis sehingga aku bisa menulis sesuatu kepadamu, agar kamu tidak pernah tersesat.” Orang-orang (yang ada di sana) berbeda dalam hal ini sedangkan tidak boleh berbeda di depan seorang rasul. Mereka berkata,”Rasul Allah sedang menderita sakit yang sangat parah.’ Sang nabi berkata, “Biarkan aku sendiri, dalam keadaan aku yang sekarang, lebih baik daripada apa yang kalian kira.” Sang rasul yang sedang berada dalam ranjang kematiannya memberi tiga perintah(nasihat). Usir para penyembah berhala dari tanah arab, hormati para perwakilan orang2 luar negeri sebagaimana kau pernah melihatnya aku melakukan hal itu. “Saya lupa perintah yang ketiga”(Ya’qub bin Muhammad said, “Aku bertanya kepada Al-Mughira bin’Abdur rahman tentang ‘tanah arab’ dan dia berkata,’tanah arab itu”Mekkah,Madinah, Al – Yama, dan yaman.”yaqub menambahkan,” dan Al- Arj,awal dari tihama.”)

Bahkan menurut riwayat lain yaitu Bukhari hadits no. 2951, Umar berkata: “Ada apa dengan beliau? Apakah beliau sedang mengigau?”

Inilah sejarah, yang menurut saya, sengaja ditutup-tutupi ulama-ulama. Mereka tidak pernah mau menyampaikan riwayat ini kepada umat yang dipimpinnya, karena banyak ulama-ulama yang, nampaknya, mengkultuskan para sahabat Nabi termasuk Umar bin Khattab. Kalau kita membaca riwayat tersebut, maka kita akan berpikir, “Kok ya tega Umar berkata dan bersikap seperti itu kepada Rasulullah?”

Padahal kepada orang yang mau dihukum mati saja masih diberikan kesempatan untuk mengajukan permintaan terakhir dan permintaan itu dipenuhi. Tetapi kepada Nabi Besar Muhammad Sawaw, Umar bersikap seperti itu. Dia menghalangi Nabi permintaan Nabi. Padahal permintaan Nabi itu untuk keselamatan kita, bukan untuk memenuhi egoisme pribadi Rasulullah.

Saya tidak bermaksud untuk mengajak para pembaca untuk membenci Umar, Tidak demikian…! Saya hanya bermaksud untuk mengajak para pembaca untuk membaca realitas sejarah yang ada. Syukur-syukur Anda menjadi berpikir ulang, Mengapa Umar tega bersikap seperti itu? Dan muncul pertanyaan, Mengapa kita lebih senang memperingati hari kelahiran Nabi dan bersenang-senang pada tanggal 12 Rabiul Awal, padahal pada tanggal itu kita telah kehilangan seorang Nabi suci yang menjadi perantara antara Allah dan kita?

Mau pilih mana? Memperingati Kelahiran Nabi atau Kematian Nabi?