solo_spirit.gif

Berkenaan dengan kebijakan pemerintah kota Surakarta, biasa disebut SOLO, yang ingin melestarikan budaya Jawa di kota Surakarta, ada sebuah cerita lucu mengenai itu. Saya pikir menarik juga untuk dipositngkan disini.


Tetapi terlepas dari cerita lucu itu, saya sepakat dengan langkah yang diambil pemerintah kota Surakarta untuk melestarikan budaya Jawa, seperti slogan kota Surakarta, “Spirit of Java”. Sudah seharusnya kita melestarikan budaya walaupun dunia globalisasi kian hari kitan menggilas. Ya semoga saja slogan kota surakarta itu bukan hanya sekedar ngikut-ngikut negara Malaysia yang memiliki slogan, “Malaysia Truly Asia.” Kalau gak salah gitu yach? Spirit of Java bukan hanya slogan, tetapi sebuah semangat yang harus tetap direalisasikan dan djaga.

Semoga Surakarta bisa menjadi kota yang njowo banget.

Daripada kebanyakan omong, lebih baik langsung aja nih ceritanya.

 

Berikut Ceritanya:

Alkisah, Walikota SOLO hendak melestarikan budaya jawa, huruf jawa, jadi hendak mewajibkan semua kantor dan toko untuk memakai aksara jawa pada papan nama tokonya. Tahu khan aksara jawa? itu tuh yang pating kruwel itu. (Dulu gue pernah belajar sama kawan gue orang Jogja, tapi gue menyerah separuh jalan, hihihihi.)


Well setelah si walikota ini diwawancarai, lalu ada pertanyaan dari pemirsa kira-kira begini : “waduh Pak, lalu bagaimana dengan toko MATAHARI, apa namanya harus diganti menjadi SRENGENGE ??”

Kaga tahan deh, sopir pribadi gue tercinta langsung ngakak terbahak sampe ngga bisa nyetir terpaksa minggir untuk sejenak ketawa-ketawa mengusap airmata.

Wehehehe, engga kok, katanya nama MATAHARI ya tetep matahari saja, cuman ditambahi aksara jawa untuk ma-ta-ha-ri begitu. Begitupun SOLO SQUARE kaga usah diganti namanya ya tetep aja, (tapi nulis square dalam aksara jawa gimana jadinya ya, hihiihihihi )

Oalaaaaaahhhhh, piye tho.

Sumber: http://www.mail-archive.com/tionghoa-net@yahoogroups.com/msg24718.html