images.jpg26 Maret waktu dini hari saat semua orang terlelap dalam mimpi indah mereka, ketika cahaya matahari mulai malu-malu sembunyi dibalik selimut malam, di dalam kamar yang beralaskan spring bed berwarna biru, bersandarkan bantal merah, berpelukan guling merah, bertemankan kipas angin berwarna biru, dalam keadaan terkantuk-kantuk.

Handphoneku tersentak bernyanyi. Seperti layaknya seorang penyanyi, menyanyikan lagu “I Need U”, tanda ada seseorang yang mencoba menganggu handphoneku yang sejak 10 malam tertidur lelap.

Suara seorang wanita terdengar dari handphone. ternyata suara seorang wanita yang telah ridho membawaku dalam perutnya selama 9 bulan, wanita yang telah bersusah payah mengeluarkan dan membesarkanku, wanita yang tetap berdiri tegap walaupun ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan butir air laut yang tergabung dalam ombak maut menghantam dirinya.

Masih dalam keadaan terkantuk-kantuk, ku coba khidmat mendengarkan suara wanita itu. “Nak, Nenek sudah meninggal.” suara itu seperti menghantamkan kepalaku ke dinding yang terbentuk dari beton.

Ya, ibuku mengabarkan bahwa nenek dari ayahku telah tiada. Beliau hembuskan nafas terakhir, tatapan terakhir, gerakan bibir terakhir, sentuhan terakhir, pada 3 dini hari.

Ingin sekali kukatakan kepada nenek dari ayahku:

“Nek, belum sempat ku makan semua kue-kue buatan tanganmu.”

“Nek, belum sempat ku ucapkan betapa lezatnya kue dan masakan buatan jari jemarimu.” 

“Nek, baru satu kali ku merasakan pesijuk darimu.” 

“Nek, belum sempat ku berikan hadiah wisudaku, kau telah pergi tanpa kesempatan bagiku tuk melihat paras wajahmu yang teduh untuk terakhir kalinya.” 

Selamat jalan Nenek tercinta. Semoga Allah memudahkan perjalananmu setelah perjalanan dunia telah kau tempat.

I LOVE U Nenek…