Lezatnya ‘Ayat-Ayat Cinta’ Tak Selezat Hakikat Cinta

ayatayatcinta.jpg

 

Semalam, setelah belajar menjelang tidur, sempat berpikir kira-kira apa yang belum ada di weblogku, karena aku ingin weblog ini bisa memiliki banyak kategori bacaan. Sempat baca-baca buku yang tersusun rapi di rak bukuku yang berwarna coklat kelam.

Perhatianku tertuju pada buku yang berjudul Muatan Cinta Ilahi dalam Doa-Doa Ahlulbayt karya Syaikh Muhammad Mahdi Al-Ashify dengan pengantar buku oleh KH. Jalaluddin Rakhmat terbitan Pustaka Hidayah. Spontan aku mengucapkan shalawat karena akhirnya aku mendapatkan ide juga untuk bahan tulisan di weblog.

Kedepannya, insya Allah, akan kutambah satu lagi kategori tulisan di weblog ini yaitu Doa-Doa Ahlulbayt yang mungkin akan banyak dikutip dari buku tersebut dan buku-buku doa Ahlulbayt yang lain.

Mohon maaf kepada Pustaka Hidayah karena tidak meminta izin terlebih dahulu untuk memuat tulisan-tulisan yang ada di buku tersebut.

Untuk penampilan perdana, aku kutipkan satu tulisan yang terdapat dalam buku terbitan Pustaka Hidaya tersebut. Judul asli tulisannya adalah Lezatnya Hakikat Cinta. Namun pada postingan ini aku tambahkan menjadi Lezatnya Ayat-Ayat Cinta Tak Selezat Hakikat Cinta.

Latar belakang penambahan itu karena akhir-akhir ini belahan bumi Indonesia dihebohkan dengan tayangan film yang sangat kontroversial tersebut. Film yang diklaim sebagai visualisasi novel ayat-ayat cinta karya Habiburrahman El Shirazy yang sangat laku di pasaran.

Seperti tidak mau kalah dengan muda-mudi yang berbondong-bondong pergi ke bioskop untuk menonton film fenomenal tersebut, Presiden SBY juga ikut-ikutan nonton.

Ada perbedaan pendapat mengenai film ini. Ada yang berpendapat bahwa ada rekayasa di balik film ini bahkan ada yang mengatakan film ini lebih berbahaya dari film maksiat. Tetapi ada juga yang mengaku senang melihat film itu. Bahkan ada yang mengkritisi Novelnya juga dari sudut pandang agama.

Daripada disibukkan dengan urusan mengkritisi film tersebut, baiknya jika Anda baca tulisan berikut ini:

Lezatnya Hakikat Cinta

Oleh: Syaikh Muhammad Mahdi Al-Ashify

Manis dan lezatnya ibadah yang tiada tara akan terasa jika berlandaskan atas rasa cinta dan rindu. Imam Ali Zainal Abidin yang telah mencicipi manisnya cinta dan dzikir kepada Allah bermunajat:


Betapa sedapnya rasa cinta-Mu,
Betapa nikmatnya minum kedekatan (qurbah)-Mu.
(Bihar Al-Anwar, 98:26)


Itulah manis dan lezatnya cinta yang menghiasi sanubari para kekasih Allah. Yang tidak mekar pada suatu waktu ataupun layu pada waktu yang lain. Jika lezatnya cinta Ilahi tertanam di hati seorang hamba, maka ia akan senantiasa memakmurkan hatinya untuk mengingat-Nya. Allah tidak akan menyiksa hamba yang memakmurkan hatinya dengan rasa cinta kepada-Nya, dan telah tertanam di dalamnya kelezatan cinta kepada-Nya.


Amirul Mukminin Imam Ali a.s. berkata:

Ilahi, Demi keagungan dan kemuliaan-Mu.
Sungguh aku mencintai-Mu
Hingga terasakan manisnya cinta-Mu di dalam kalbuku.
Tak pernah terbetik
Dalam hati orang yang mengesakan-Mu
Bahwa Engkau membenci
Orang-orang yang mencintai-Mu.

(Munajat Ahlul Bayt, hal. 96-97)


Imam Ali Zainal Abidin a.s. dalam suatu munajatnya mengungkapkan tentang suatu kondisi kemantapan hati yang telah diliputi cinta Ilahi:

Demi keagungan-Mu duhai Junjunganku,
Jika Engkau mengusirku,
Aku akan tetap berdiri di depan gerbang-Mu.
Aku tak akan berhenti merayu-Mu
Sampai aku mencapai titik puncak makrifat
Dengan kebaikan dan kemuliaanmu.

(Bihar al-Anwar, 98:85)

Itulah ungkapan paling mendalam akan rasa cinta yang bersemayam di hati. Kondisi semacam ini tidak akan hilang dan berubah dari hati seorang hamba meskipun dia diusir oleh tuannya, atau dari sisinya.


Bila seseorang telah tenggelam dalam lautan cinta Ilahi, maka tidak ada sesuatu pun yang mampu mempengaruhi kepribadiannya. Imam Ali Zainal Abidin a.s., penghulu para pecinta, dalam munajatnya:


Adakah orang yang telah mencicipi manisnya cinta-Mu
Lalu menginginkan pengganti selain-Mu
Adakah orang yang telah bersanding di samping-Mu
Lalu ia mencari penukar selain-Mu

(Bihar al-Anwar 94:148)


Timbulnya perpecahan di antara sekte-sekte dan aliran-aliran disebabkan karena mereka tak pernah merasakan manisnya cinta kepada Allah. Adapun mereka yang mengetahui hakikat cinta kepada Allah tidak lagi mengharapkan atau dijauhkan sesuatu dalam kehidupan mereka.


Imam Husain bin Ali a.s. berkata:

Apakah gerangan yang diperoleh oleh orang
Yang telah kehilangan diri-Mu.
Masih adakah kekurangan bagi orang yang
Telah mendapatkan-Mu?


Imam Ali bin Husain a.s. memohon perlindungan dari segala kenikmatan selain dari kenikmatan cinta kepada Allah; dari segala kesibukan dengan mengingat-Nya; dari segala kegembiraan selain bersanding di sisi-Nya; walaupun hanya sedetik.


Segala sesuatu yang dilakukan oleh para kekasih Allah didasarkan atas cinta, dzikir, dan taat kepada-Nya. Semua hal selain itu dianggap sebagai penyimpangan dari jalan-Nya, yang perlu disertai dengan istighfar.


Imam Ali Zainal Abidin berkata:


Aku mohon ampun pada-Mu
Dari segala kelezatan tanpa mengingat-Mu
Dari setiap ketenangan tanpa mendekati-Mu
Dari setiap kesibukan tanpa menaati-Mu
Dari setiap kegembiraan tanpa menyertai-Mu.