Di Bandung ada Monas…!!!

20050809-pesona-monas.jpg

Mari kita tinggalkan saja pembahasan mengenai fenomena film FITNA yang memang sekarang sedang hangat dibicarakan orang. Banyak sekali yang kontra dengan film FITNA, bukan hanya umat Islam, tetapi beberapa pemuka agama non-Islam pun menolak kehadiran FITNA yang nampaknya diharapkan mampu memicu naiknya emosional umat Islam.

Pemuka-pemuka agama tersebut berkumpul bersama dengan pemuka agama Islam membahas film FITNA tersebut dan hasilnya mereka sepakat untuk menolak hadirnya film kontroversial tersebut.

Penolakan tersebut dituangkan dalam pernyataan bersama yang ditandatangani Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsudin, Ketua Konferensi Wali-gereja Indonesia (KWI), Mgr. M.D. Situmorang, dan Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Pdt. A.A. Yewangoe.

Ajakanku untuk meninggalkan pembahasan film FITNA ini bukan berarti aku mengajak Anda semua untuk melupakan yang melukai hati umat Islam karena telah difitnah oleh film FITNA. Tetapi untuk sekedar mengajak bersantai sejenak. Capek kalau kita terus-terusan fokus pada permasalahan ini saja.

***

Baru tadi siang aku mendapatkan fenomena lucu. Lelah rasanya kalau kita memikirkan film FITNA yang begitu fenomenal dan juga capek karena harus repot membantu kawan yang ingin sekali mendapatkan film tersebut.

Fenomena yang aku temui tadi siang sedikit membuatku tertawa di dalam hati. Ceritanya begini:

Aku tinggal di Sekretariat HMI Hukum UNS. Di depannya ada dua buah SD yang bangunannya berdempetan. Saat itu adalah saat-saat anak-anak SD yang tubuhnya masih kecil mungil, pulang sekolah. Ada dua orang anak SD yang tengah asyik berbincang. Yang aku dengar, salah satunya berbicara dengan begitu sombongnya (dalam bahasa jawa), “Aku ndek wingi lungo neng Bandung sing enek Monase.” Kurang lebih terjemahannya seperti ini, “Aku kemarin pergi ke Bandung yang ada monasnya itu.”

Spontan aku tertawa dalam hati mendengar celotehan anak kecil itu. Sempat berpikir juga bahwa aku juga dulu pernah seperti itu. Aku menyombongkan sesuatu hal, tetapi hal tersebut salah. Ya mungkin begitu kebiasaan anak-anak kecil. Jadi kalau anak kecil ngomong kayak gitu, gak terlalu memalukan. Tetapi bagaimana jika yang seperti itu calon presiden Amerika Serikat, Negara Superpower, Adikuasa, Negara Rakus, Negara Sombong?

 

Berbicara kepada para reporter di Amman, McCain mengatakan bahwa ia mengkhawatirkan operasi-operasi Iran, “yang membawa al-Qaeda masuk ke Iran, melatih mereka, dan mengirim mereka kembali (ke Irak),” menurut laporan Washington Post. McCain beberapa kali mengatakan bahwa Iran membantu grup militan al-Qaeda.

Ditanya untuk lebih lanjut mengelaborasi apa yang dikatakannya, McCain menjelaskan, “Sudah umum diketahui dan telah dilaporkan di dalam media bahwa al-Qaeda kembali ke Iran dan menerima latihan lalu kembali ke Irak dari Iran, hal itu sudah umum diketahui.

Dan ini sangat tidak menguntungkan,” katanya dengan yakin.

Beberapa saat kemudian, Senator Joseph Lieberman, yang bersama dengan McCain, membisikkan sesuatu di telinganya. McCain pun kemudian berkata, “Maaf, orang-orang Iran memang melatih para ekstrimis, bukan al-Qaeda.”

Penyakit (Untuk orang Dewasa) ini bukan hanya dialami oleh Yang Mulia John McCain, tetapi pernah juga dialami oleh beberapa petinggi Amerika Serikat.

 

Dulu dalam pertemuan APEC di Austria, Presiden George W. Bush pernah menyebutnya sebagai pertemuan OPEC. Kemudian wakil Bush, Dick Cheney yang mengidentifikasi Presiden Venezuela Hugo Chavez sebagai presiden Peru.

Pantesan aja Amerika Serikat menjadi negara yang bahlul seperti sekarang ini. Pemimpinnya aja masih seperti anak kecil kok.

😀