Beranda > Tulisan Orang > Sejawat Dalam Kafilah Tuhan

Sejawat Dalam Kafilah Tuhan

Sejawat Dalam Kafilah Tuhan

Bukan berarti reaksioner, kalau pun reaksioner bukankah sesuatu yang reaksioner tidak selamanya bermakna negatif? Seseorang yang tangannya digigit semut, pasti dia akan menggerakkan tangannya sebagai reaksi atas gigitan semut.

Berikut ini aku kutipkan beberapa paragraf tulisan ustadz Jalaluddin Rakhmat yang berjudul “Tor Andre: Sejawat Dalam Kafilah Tuhan”. Aku merasa tulisan tersebut sangat pas jika aku postingkan di weblogku untuk menjawab tuduhan FITNA terhadap Islam.

***

TOR ANDRE: SEJAWAT DALAM KALIFAH TUHAN

KH. Jalaluddin Rakhmat

Kemenangan orang-orang Arab menunjukkan sikap yang sangat ramah terhadap umat Kristiani di negeri-negeri yang mereka taklukkan. Hampir tidak ada keluhan dari pihak gereja Kristen. Pada 650 Masehi, Imam Gereja Nestorius sanggup menulis, “Orang-orang Arab ini bukan saja berusaha menghindari peperangan dengan orang Kristen, tetapi juga membela agama kita. Mereka menghormati para pendeta kita dan orang-orang suci kita. Mereka memberikan sumbangan bagi biara dan gereja.”

Informasi yang mengejutkan ini; yakni, para pendeta dan rahib disukai secara istimewa oleh para penakluk memang bukanlah isapan jempol. Di Mesir, para pendeta Kristen dibebas-kan dari pajak, termasuk pajak jizyah yang dikenakan kepada para pengikut Yahudi dan Nasrani supaya dapat menikmati kebebasan agamanya. Kebijakan yang penuh persahabat-an terhadap umat Kristiani ini seluruhnya sesuai dengan ajaran Nabi yang diungkapkan dalam Al-Quran: Akan kamu temukan orang-orang yang paling memusuhi orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan akan kamu temukan orang yang paling dekat kecintaannya kepada orang beriman adalah orang yang berkata,’Kami ini Nashara’ Demikian itu, karena di antara mereka ada para pendeta dan rahib dan mereka tidak menyombongkan dirinya. Apabila mereka mendengar apa yang diturunkan Rasul kamu lihat mata mereka berlinang airmata karena mereka mengakui kebenaran. Mereka berkata, ‘Tuhan kami, kami beriman maka tuliskanlah kami bersama para saksi kebenaran (Al-Maidah 82-83)”

Tebaklah siapa yang menulis paragraf di atas? Kaum Muslim liberal yang sudah dikooptasi oleh Kristen internasional, atau kaum Muslim intelektual yang sudah menjadi agen zionisme, atau barangkali kaum apologetik Muslim yang membela toleransi umat Islam dalam dialog antar umat beragama? Tidak sama sekali. Penulis kutipan itu adalah Tor Andrae, profesor sejarah agama dan sekaligus seorang bishop dari Gereja Lutheran di Linkoeping, Swedia. Andrae mengisahkan kerjasama Muslim-Kristen yang rukun selama ratusan tahun. Dan itu terjadi ketika kaum Muslim memegang hegemoni politik.

Dalam In The Garden of Myrtles, Andrae menjelaskan sikap bersahabat kaum Muslim itu bukan saja dengan merujuk pada Al-Quran dan sunnah Nabi, tapi juga tradisi para ulama terdahulu (salaf yang salih). Disebutkan bahwa menurut Ibn Abbas, para rahib Kristen adalah orang-orang yang menghindari para tiran dan masyarakat yang korup untuk mempertahan-kan kemurnian agamanya. Mereka tinggal di tempat terpencil dan gua-gua untuk menjalani kehidupan yang suci. Ketika Abu Bakar mengirimkan tentaranya ke Syria, di mana tinggal banyak rahib seperti itu, ia berkata, “Di sana kamu akan menemukan orang-orang yang sudah mengurung dirinya di ruang-ruang sempit. Jangan ganggu mereka. Mereka mengasingkan dirinya karena Allah.” Ali bin Thalib berkata kepada sahabatnya, “Hai Nauf, berbahagialah orang yang menanggalkan dunia ini dan merindukan hari akhirat. Merekalah orang-orang yang menjadikan tanah sebagai tikar pembaringannya, debu sebagai tempat istirahatnya, air sebagai wewangiannya dan Al-Quran serta salat sebagai busananya. Mereka tinggalkan dunia untuk mengikuti jalan Isa.”

Menurut Andrae, kelompok kaum Muslim, yang banyak merujuk pada jalan Isa sambil berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah saw adalah kaum sufi. Mereka menghindari perdebatan teologis dan memusat-kan perhatiannya pada upaya mendekati Tuhan lewat Cinta. “Ketika Tuhan mencintai hamba-Nya, ia membukakan kepadanya pintu amal saleh dan menutup pintu perdebatan teologis,” kata Ma`ruf Al-Karkhi, salah seorang guru besar tasawuf.

Andrae tampak sangat setuju dengan ucapan para sufi itu. Ia menganggap agama yang berhenti pada spekulasi teologis adalah agama yang gersang, tanpa makna, dan akhirnya menimbulkan konflik sosial. Ketika berbicara tentang tasawuf, Andrae sang bishop menanggalkan seluruh pakaian teologisnya. Ia masuk ke dalamnya dengan seluruh emosinya. Ia loncati pagar teologis yang memisahkan Kristen dan Islam. Ia bukan saja mengamati tasawuf, tetapi juga mengalaminya. Maka, dalam tasawuf Islami, ia menemukan bukan saja keimanan Islami tetapi juga keimanan Kristiani.

Setelah menceritakan bagaimana ia terpesona dengan para sufi, Andrae menulis pada akhir kata pengantarnya: “Ketika membaca kata-kata sufi, aku merasakan pengalaman yang aneh tetapi sekaligus familiar. Kulihat wajah orang asing dan kutemukan sahabat. Kudapatkan ucapan mereka menye-garkan kembali keimananku. Telah kulihat pancaran sinar dari sumber cahaya yang kuketahui, walaupun sudah dipantulkan lewat prisma baru.”

Karena sikapnya yang sangat simpatik kepada Islam, banyak koleganya bingung. Sangat sulit dipahami bagaimana seorang Andrae yang bishop bisa membela Islam lebih dari para penganutnya. “To many, it is no doubt practically inconceivable that the same person could sustain both the identities without the one exercising a destructive influence on the other,” kata Eric Sharpe yang menulis biografinya.

Bagi banyak orang Islam juga, sangat sulit dipahami bagaimana Al-Quran dan Sunnah memuji para rahib Kristen, bagaimana para salaf memperlakukan mereka dengan penuh penghormatan; lebih-lebih bagaimana para sufi dulu belajar kesucian dari para rahib Kristen dan para rahib kini belajar kecintaan kepada Tuhan dari para sufi. Tapi, betapa pun gejala keberagamaan seperti ini sulit dipahami, kita tengah menyaksikan banyak pemikir Kristen menyegarkan iman Kristianinya dengan tasawuf dan banyak pengamal tasawuf yang memandang umat Kristiani sebagai sejawatnya dalam kafilah cinta ilahi……………………….

Tulisan lengkapnya, lihat di http://www.jalal-center.com/index.php?option=com_content&task=view&id=405

  1. andre
    April 6, 2008 pukul 6:36 pm

    betapa susahnya para TKW yang non muslim untuk beribadah di arab saudi ….tidak ada rumah ibadah lain disana,…gimana ini bos….

  2. April 7, 2008 pukul 4:47 am

    wah…saya baru tau di arab saudi gak ada tempat untuk beribadah umat non muslim. kalau memang benar gak ada, alasannya knapa?

  3. hilda alexander
    April 7, 2008 pukul 6:28 am

    seandainya betul tidak ada, katakanlah gereja, di Arab Saudi, kita harus belajar banyak dari toleransi dan keikhlasan ummat non muslim di sana. Mereka tidak memaksakan diri untuk mendirikan gereja agar supaya bisa beribadah atau menganggap punya hak yang sama dengan ummat mayoritas (seandainya pun mereka memang diakui hak dan kewajibannya sebagai warga negara Arab Saudi)….

    Ini yang menyentil saya:

    “Menurut Andrae, kelompok kaum Muslim, yang banyak merujuk pada jalan Isa sambil berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah saw adalah kaum sufi. Mereka menghindari perdebatan teologis dan memusat-kan perhatiannya pada upaya mendekati Tuhan lewat Cinta. “Ketika Tuhan mencintai hamba-Nya, ia membukakan kepadanya pintu amal saleh dan menutup pintu perdebatan teologis,” kata Ma`ruf Al-Karkhi, salah seorang guru besar tasawuf.”

    Semakin saya berpikir, ternyata Tuhan itu semakin ada…..

  4. musakazhim
    April 7, 2008 pukul 6:40 am

    Tulisan yg halus, tapi menyengat:-)–khas Kang Jalal!

  5. April 7, 2008 pukul 8:28 am

    @hilda alexander
    memang menyentil knapa mbak?

    @musakazhim
    Tulisan Antum juga menyengat juga ustadz. Tetapi yang menyengat bukan kupu-kupu, tetapi lebah.

  6. hilda alexander
    April 7, 2008 pukul 9:41 am

    @ressay
    menyentil, karena selama ini gw mendekati Tuhan tidak dengan cinta yang tulus dan ikhlas…. aku ingin mencintai-Nya dengan sederhana….

    ketika Tuhan mencintai hamba-NYa, ia membukakan pintu amal saleh kepadanya”… sangat indah bukan?

  7. April 7, 2008 pukul 9:59 am

    @mba hilda
    Ada saja orang yang menemukan Tuhan dengan jalan perdebatan teologis. Tetapi tidak sedikit juga orang yang menemukan Tuhan justru ketika saling menyayangi, mencintai sesama makhluk-Nya dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

  8. hilda alexander
    April 7, 2008 pukul 10:47 am

    @ressay
    saya rasa kita tidak menemukan Tuhan, melainkan mencari Tuhan. kalau kita aktif mencari-Nya, Dia pasti akan menemukan kita….

    pengalaman saya, deeuuuu, proses pencarian Tuhan melalui jalan yang amat berliku. sempat tidak yakin dan tidak percaya eksistensi-Nya, namun setelah saya terus mencari dan mencari itu, finally, i found Him. Dalam proses pencarian itulah Tuhan bersama kita, tanpa kita sadari…..

  9. April 7, 2008 pukul 11:08 am

    @mba hilda
    oh ya lupa katanya kalau kita berjalan kepada Tuhan, Tuhan akan berlari menghampiri kita.

    wah boleh juga tuh kalau pengalaman spiritual mencari Tuhannya dibuat dalam satu judul artikel. Ya kalau gak bisa, mungkin bisa dipecah menjadi beberapa judul artikel.

    Karena selama ini saya belum mengalami pengalaman katanya begitu dahsyat itu.

    Hati ini masih kosong. Tetapi kosongnya hati ini masih ada kotoran, sehingga Tuhan tidak berkenan untuk memasuki taman hatiku.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: