Antara FITNA dan SCHISM

Belum lupa dari ingatanku bagaimana seorang yang berkewarganegaraan Belanda membuat film yang akhirnya menjadi film yang kontroversial, tidak hanya di Indonesia tetapi juga seluruh dunia. Film yang berdurasi 15 menit itu dibuat oleh Geert Wilders seorang politikus Belanda. Film yang diberi judul FITNA itu berisikan dokumentasi dari gambar-gambar yang terkait dengan perilaku sebagian Umat Islam dan juga berisi kutipan ayat-ayat Al-Qur’an. Wilders berpendapat bahwa dengan film ini, dia berusaha menunjukkan kepada dunia suatu ancaman baru, setelah adanya nazi, yang akan membabat habis kebebasan yang selama ini diagung-agungkan di Wilayah Barat secara umum dan di Belanda secara khusus.

Terang saja film ini membuat sebagian umat Islam naik pitam. Seakan-akan tidak terima dengan tuduhan Wilders, sebagian umat Islam turun ke jalan meneriakkan bahwa Islam itu Cinta damai, Islam tidak seperti yang digambarkan oleh Wilders. Tetapi anehnya, aksi turun ke jalan mereka itu pun berakhir ricuh. Hal itu tidak menunjukkan bahwa umat Islam memang cinta damai.

Bukan hanya umat Islam saja yang menolak kehadiran film tersebut, tetapi umat agama lain pun menolak film tersebut. Mendengar hal itu, aku sempat bahagia karena betapa indahnya kerukunan umat beragama yang tercipta. Ternyata film yang mendiskreditkan umat Islam tidak hanya ditolak oleh umat Islam itu sendiri, tetapi umat agama lain pun merasa tergerak untuk menolak kehadiran film FITNA yang dapat mengancam kerukunan antar umat beragama. Mulai dari Dewan Gereja sampai dengan umat Yahudi.

***

Belum juga film FITNA ini berhenti dibicarakan orang ramai, muncul lagi film yang tidak berbeda jauh dengan film FITNA. Kali ini bukan berasal dari Wilayah Barat, tetapi muncul dari sebuah negara Arab, yaitu Arab Saudi. Film yang berjudul SCHISM itu dibuat oleh Rae Al-Saeed seorang berkewarganegaraan Arab Saudi. Bagi yang mau download film tersebut, silakan kunjungi link ini.

Rae Al-Saeed mengatakan kepada The Associated Press kemarin bahwa tujuan videonya yg berdurasi 6 menit tsb adalah untuk menunjukan bahwa Islam janganlah dihukumi dengan menonton fil “Fitna” buatan Geer Wilder, yang menghubungkan serangan teror oleh ekstrimis muslim dengan teks-teks dari Al Qur’an, kitab suci umat Islam. “Adalah sangat mudah mengambil sebagian dari kitab suci yang melenceng (dari konteks) dan menyeolahkan sebagai kitab paling tidak berperi-kemanusiaan yg pernah ditulis”, Kata Al Saeed dalam pernyataanya yg diposting pada akhir video.

Al-Saeed juga menggunakan ayat-ayat dari Injil, termasuk satu dari 1, Samuel 15, yang menyerukan serangan atas Amalekites. “Pergi dan serbulah Amalekites! Hancurkan mereka dan dan semua milikmereka. Jangan berbelas kasihan. Bunuh kaum lelaki, wanita, anak-anak dan bahkan bayi-bayi mereka. Bantai ternak, domba, unta dan keledai mereka, “begitu nukilannya, menurut Injil bahasa Inggris kontemporer.

***

Setelah menyampaikan pendahuluan diatas, aku ingin sedikit menyampaikan pendapatku perihal fenomena diatas.

Menurutku, apa yang dilakukan oleh Wilders dan Al-Saeed itu suatu bentuk penistaan terhadap agama lain. Wilders dengan film FITNAnya ingin mendiskreditkan Islam, sedangkan Al-Saeed dengan film SCHISMnya ingin mendiskreditkan umat Kristiani walaupun dia ngakunya hanya ingin menunjukkan bagaimana jika Teks Suci dipahami secara parsial.

Tetapi secara umum, menurutku, apa yang dilakukan oleh Wilders dan Al-Saeed itu sama. Bahkan kalau boleh aku katakan di sini, apa yang dilakukan oleh Wilders dan Al-Saeed itu suatu bentuk ketololannya. Wuih…kasar banget yach? Mohon maaf kalau memang kasar.

Dimanakah letak ketololan Wilders dan Al-Saeed?

Menurutku, apa yang dilakukan Wilders itu adalah suatu bentuk manipulasi atas teks suci Al-Qur’an. Al-Qur’an dipahami secara parsial dan dipahami berdasarkan fenomenologi. Dan itu menurutku suatu bentuk ketololan yang parah jika itu dilakukan oleh seorang politikus seperti Geert Wilders.

lalu dimana letak ketololan Al-Saeed? bukankah apa yang dia lakukan adalah karena bentuk pembelaan diri atas tuduhan film FITNA? (kata orang-orang siy).

Menurutku, apa yang dilakukan oleh Al-Saeed bukanlah suatu bentuk pembelaan diri, tetapi itu adalah bentuk usaha untuk mencari perkara baru.

Mengapa?

Kalau kita menggunakan urutan proses peradilan, maka yang saat ini menjadi terdakwa adalah Islam. Sebagai penuntut umum itu adalah Geert Wilders dengan alat bukti film FITNA.

Sebagai seorang yang waras, tentunya umat Islam akan melakukan pembelaan diri dengan mengajukan bukti bahwa Islam tidak seperti yang dituduhkan Geert Wilders. Misalnya dengan membuat film baru yang berisi bahwa Islam itu cinta damai bahwa Islam itu tidak seperti yang dibayangkan oleh Geert Wilders.

Alih-alih membela diri, ada umat Islam yang mencari perkara baru dengan membuat film yang berisi pendiskreditan terhadap agama lain. Film itu tidak lagi berisi pembelaan diri, tetapi berisi hal-hal yang bisa mengundang pihak lain untuk menjadi terdakwa.

Jadi menurutku, emosi boleh-boleh saja tetapi jangan sampai emosi kita itu kelepasan sehingga mengakibatkan kita melakukan hal-hal yang tidak rasional lagi.

Lalu bagaimana nih langkah pemerintah Indonesia menyikapi muncul film baru ini? apakah pemerintah akan mengecam Al-Saeed karena pada hakekatnya filmnya berisi penghinaan terhadap agama tertentu, sama seperti ketika pemerintah mengecam film FITNA? Apakah pemerintkah akan memblokir webiste-website yang memungkinkan orang untuk mendownload film tersebut?

Kita tunggu saja.