Panggilan Hidup Seorang Ibu Supiah

Aku yakin banyak di antara kita yang bekerja hanya ingin mendapatkan Uang yang banyak. Bahkan tidak jarang dari kita bekerja di suatu tempat yang kita sendiri tidak nyaman, tetapi karena gaji yang diberikan besar, maka kita berusaha menyamankan diri sendiri.

Tetapi tidak jarang dari kita yang bekerja bukan hanya mencari penghasilan banyak, tetapi karena memang sudah panggilan hidupnya. Sekalipun gaji yang didapatkannya kecil, tetapi ia merasa nyaman dengan pekerjaan yang ia geluti tiap harinya.

Tetapi, tidak bagi Ibu Supiah. Beliau bekerja berjualan rempeyek di pinggiran jalan. Walaupun sering kali beliau menderita kerugian, tetapi beliau tetap saja berjualan dengan niat mulia. Bagaimana ceritanya? Silakan simak tulisan dari Mbak Hilda berikut ini yang aku pungut dari weblognya.

—————————————

Rempeyek Berjiwa Ala Ibu Supiah

Jika Anda kerap melintasi perempatan Pasar Rebo arah Kampung Rambutan, Jakarta Timur, mampirlah sebentar di sebuah lapak Ibu Supiah (bukan nama sebenarnya). Lapak ini berada tepat di ujung perempatan Pasar Rebo sebelah kiri. Beratapkan terpal plastik warna biru (jadi inget lagunya Dessy Ratnasari bertajuk ‘Tenda Biru’), serta meja berkaki empat bertaplak koran bekas. Lapak ini, begitu sederhana, hanya seukuran muat tubuh Ibu Supiah dan ’segelintir’ dagangannya. Barang yang dijualnya cuma satu jenis; makanan ringan tradisional. Makanan ini sekarang begitu langka, tak akan saya dapatkan di Mal sekalas Citos, Jakarta Selatan, Hotel sekaliber Ritz Carlton, Jakarta Pusat atau pun kafe seprestis Pisa di Menteng, Jakarta Pusat.

Ya, Ibu Supiah menjajakan rempeyek (teri, kacang tanah dan kacang hijau), opak (singkong) dan rengginang (berbahan dasar ketan). Makanan langka, bukan? Setidaknya saya susah mendapati makanan ini di Jakarta. entah di daerah. Setiap hari, menjelang siang hingga malam, perempuan sepuh ini berjualan. Tak banyak barang yang ditawarkan. Hanya ’sanggup’ mengisi meja sebesar meja belajar anak SD, plus sekantung beras untuk sebagian lainnya yang tak tertampung. “Saya gak mampu bawa banyak-banyak, gak kuat lagi,” ujarnya.

Harga rempeyek, opak dan rengginang amat sangat murah. Hanya Rp2.500 per bungkus plastik ukuran 1/2 kg. Itu pun tak setiap hari ludes terjual. “Kalau lagi musim hujan begini, laku sepuluh bungkus saja sudah syukur. Jarang yang beli. Mungkin mereka lebih suka makan ‘merger’ ya Non hihihi,” katanya seraya mengulum bibir. Ia membahasakan ‘burger’ dengan ‘merger’. Saya hanya tersenyum.

Berapa keuntungan yang ia dapat dalam sehari? Tidak banyak. Dan bahkan keseringan minusnya, jika kita kalkulasiksn secara rasional. Katakanlah ia bisa menjual 30 bungkus per hari dengan durasi 8 jam waktu jualan, uang yang bisa dibawa pulang cuma Rp75.000. Nominal sebesar ini adalah penghasilan kotor. Setelah dikurangi biaya produksi seperti minyak tanah dua liter (@Rp8.000), minyak goreng 2 kg (@Rp12.000), tepung beras 3 kg (Rp8.000), kacang tanah 1/2 kg (Rp3.500), kacang hijau 1/2 kg (Rp5.000), teri 1/4 kg (Rp12.000), opak 1/4 kg (Rp2.500), rengginang 1 kg (Rp4.000) plus bumbu (Rp5.000), plus ongkos dari rumah ke tempat jualan Rp8000 (pp), maka ia nombok Rp29.000. Dengan hitung-hitungan seperti ini, kenapa dia masih juga setia berjualan makanan ini?

Ibu Supiah cuma manggut-manggut. Dia tersenyum, kali ini saya tidak ikut tersenyum. Malah prihatin. Nenek sebelas cucu dari 4 orang anak ini, menurut pengakuannya, merasa bahagia bisa berjualan. Ia beralasan, gak betah diam di rumah. mending bantu-bantu anak, cucu dan menantu. “Kalau ada uang lebih kan saya bisa beliin cucu buku atau mainan. Senang rasanya bisa ngasih sesuatu ke mereka,” ungkapnya.

“Tapi bu, kan gak ada untungnya jualan beginian,” protes saya berusaha meyakinkan dia. Saya terlambat memikirkan dampak ucapan yang telanjur saya katakan ini. Apalah hak saya untuk berusaha ‘meyakinkan’ Ibu Supiah agar banting setir atau bahkan tidak berjualan sama sekali. Ibu Supiah kembali tersenyum. Dengan suara lembut cenderung parau, ia menjelaskan hal yang tidak saya duga sebelumnya.

Ia menatap saya dengan sorot mata yang juga tersenyum. Meskipun rugi, lanjutnya, ia membuat dan menjual makanan tradisional ini sepenuh jiwa, hati, cinta dan semangat. Bukan sok-sokan ingin melestarikan makanan tradisional dalam peta perkulineran Indonesia. “Sama sekali jauuuuuh dari itu,”, juga bukan karena ingin mendapat untung sebesar-besarnya. Ibu Supiah justru memiliki motivasi yang tidak saya dapatkan dari pedagang lain lazimnya. Ia ingin segala peluh, tenaga, air mata (kadang ia menangis jika dagannya tidak sebungkus pun terbeli, dan ini sering terjadi), kemahirannya mengolah makanan, pikiran, dan jiwanya dianggap sangat berarti oleh orang-orang terdekat yang dicintainya.

Ibu berjilbab dengan pakaian sederhana (seringnya berwarna unmatch/tabrakan) itu hanya berharap, bisa memberikan sesuatu kepada orang-orang yang menunggunya di rumah dengan penuh harap. Bahasa sederhananya mungkin begini, Ibu Supiah berkeinginan kuat untuk memenuhi harapan orang-orang yang dicintainya. “Cucu saya selalu menunggu saya pulang jualan. Mereka senang kalau saya pulang sambil bawa oleh-oleh”, tukasnya.

Ya, keberartian hidup. Motivasi yang sangat mulia, dan ia tidak membuang waktu untuk sekadar berwacana. Ibu Supiah telah membuktikan bahwa ialah perempuan yang karena itulah kekuatannya, tidak menjadi beban keluarga. Sebuah ethos yang pantas diteladani. Kendati usahanya ini tidak dimaksudkannya sebagai pembuktian kepada siapa pun.

Lantas, bagaimana siasatnya agar tetap ‘ajeg’ berjualan meski keseringan merugi? “Saya ikhlas, Non. Laku atau tidak, itulah rezeki saya. Tidak baik menyesali hasil yang telah kita usahakan,” lagi-lagi Ibu Supiah tersenyum. Kalimat kontemplatif itulah yang langsung membungkam mulut saya untuk mengiyakan falsafah dagang yang ia yakini, hayati, dan tekuni. Pertemuan itu berlangsung selama 3 jam. Saya akhiri dengan memberinya Rp50.000 namun ditolaknya dengan halus. Bahwa uang itu bukan haknya. “Kalau mau, Non bisa ambil sekarung rempeyek itu dengan uang ini, Non”.

Saya merasakan basah air di wajah. entah rintik hujan, entah air mata. Yang jelas, hari ini saya belajar praktek keikhlasan dan menyukuri nikmat yang tiada saya dapat dari materi sekolah atau teori ilmu.