Saya sebetulnya diminta berbicara materi kuliah tentang Ulumul Qur’an. Tetapi karena bulan ini bulan maulid untuk pelajaran ulumul Qur’an disampaikan sekaligus memperingati maulid Rasulullah Saw

Ulumul Qur’an adalah segala konsep ilmu yang berkaitan dengan pemahamana kita terhadap Al-Qur’an. Termasuk ulumul Qur’an adalah ilmu tafsir, itulah yang paling popular. Kalau kita mendengar ulumul Qur’an, dalam bayangan kita, yang ada itu ilmu tafsir. Atau yang paling popular di antara kita yaitu ilmu tajwid. Ada juga ilmu tentang Qiraat.


Berkaitan dengan ilmu Qiraat, sebagai contoh, Qiraat yang kita kenal di sini itu Qiraat Hafadz. Dan cara membaca Al-Qur’an itu bisa bermacam-macam, kadang-kadang mungkin mengejutkan kita semua. Saya ingin memberikan contoh membaca ayat ”maliki yaw middiin”. Ada yang membaca pendek ”ma”nya. Ada juga yang membaca panjang, “maaliki yaw middiin.” Ada yang membaca ”maliki yaw middiin”.

Katanya Imam Syafi’i memilih membaca dengan ”ma” panjang. Alasannya, katanya, karena dengan membaca panjang berarti ada satu huruf lagi yaitu huruf ”alif”. Kalau pahala kita dihitung berdasarkan huruf, maka pahala kita bertambah. Ada bonus pahala daripada kita membacanya ”maliki yaw middiin”.

Tetapi kedua cara membaca itu benar. Ada juga yang membaca ”malaka yaw maddiin” ada yang membaca ”maalika yaw middiin”.

Jadi artinya, ”wahai raja pada hari pembalasan.” Ada juga yang membaca ”milka yaw middiin”. Tapi saya sarankan Anda tidak membaca berbagai Qiraat itu di hadapan umum karena nanti kita akan ditinggalkan oleh makmum kita.

Imam Ali, katanya dalam satu riwayat, membaca ayat ini rada beda dengan kita. ”Afalaa yan duruu na ilal ibli kaifa kholaqtu wa ilassamaai kaifa rofa’tu wa ilal jibaali kaifa naqortu wa ilal ardhi kaifa sathortu.

Kalau kita baca itu sekarang di hadapan umum, nanti makmum di belakang kita akan teriak-teriak meluruskan bacaan kita karena tidak sesuai dengan bacaan yang mereka ketahui. Dan sebelum selesai kita baca ayat itu, jemaah bubar dan shalat kita dianggap tidak sah.

Padahal menurut saya, tampaknya lebih tegas maknanya kalau kita menggunakan bacaan yang katanya diriwayatkan dari Imam Ali.

Ayat itu kalau dibaca dengan Qiraat yang umum itu akan berarti, ”Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana unta diciptakan. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana langit ditinggikan. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana bukit ditegakkan. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana bumi dihamparkan.”

Jadi itu semua kalimat pasif dan tidak tegas dihamparkan oleh siapa, ditinggikan oleh siapa. Itu tidak mengingatkan kita kepada ”siapa”nya, tetapi yang diingat itu adalah prosesnya.

Tetapi ketika dibaca oleh Imam Ali akan menjadi, ”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana unta Aku ciptakan. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana langit Aku tinggikan. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana bukit Aku tegakkan. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana bumi Aku hamparkan.”

Itu akan terasa dahsyatnya ketika membaca ayat tersebut. Nah, inilah yang dinamakan ilmu Qiraat dan ilmu Qiraat ini juga bagian dari Ulumul Qur’an.

Dalam pengajian kita di Jakarta, kita mempelajari seluruh Ulumul Qur’an itu sampai juga pada ilmu tafsir. Tentang berbagai tafsiran. Yang pernah kita dengar misalnya penafsiran kata ”ummiy”, ”Mereka yang mengikuti Rasul Nabi yang Ummiy.” Umumnya itu diterjemahkan ”Ummiy” itu sebagai buta huruf. ”Mereka yang mengikuti Rasul Nabi yang buta huruf”.

Kalau Allah memberikan gelar kepada para Nabi, Allah akan berikan gelar kepada para Nabi itu gelar kehormatan. Kecuali mungkin dalam ”Ummiy” itu. Coba bayangkan kita baca shalawat ”Allahumma shalli ’ala Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi. Ya Allah sampaikan shalawat kepada Muhammad Nabi yang buta huruf”.

Saya tidak akan menanyai saudara tentang pengetahuan saudara tentang ilmu tafsir. Tetapi tanyalah hati nurani, apakah enak kita menggelari Nabi dengan gelaran buta huruf. Ustadz Quraish Shihab itu mempertahankan mati-matian ”Ummiy” itu artinya buta huruf. Syahid Muthahhari, orang yang sangat pintar itu, mempertahankan Nabi sebagai orang yang buta huruf dengan menulis buku judulnya ”An Nabiyyul Ummiy”. Kita mempersoalkan apakah betul Nabi itu buta huruf. Apakah kata ”ummiy” itu artinya hanya buta huruf ataukah ada arti-arti yang lain?

Kalau kita mengatakan bahwa Nabi itu buta huruf, kita akan berhadapan peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal. Atau tidak masuk akal saya, mungkin akal Anda masuk. Misalnya surat atau ayat yang pertama kali turun adalah ”Bacalah. Demi Nama Dia yang Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah demi Tuhanmu Yang Maha Mulia yang mengajarkan dengan pena. Yang Mengajarkan manusia sesuatu yang tidak yang tidak diketahuinya.”

Menurut cerita yang beredar di kalangan Ahlussunnah, ketika turun ayat itu, malaikat Jibril datang membentak Nabi yang ketakutan. ”Bacalah…!” Kemudian Nabi berkata dengan tergagap-gagap, ”Saya tidak bisa baca.” Lalu Nabi dijepit oleh Malaikat Jibril sampai Nabi hampir kehilangan nafas.

Riwayat ini saya kritik, insya Allah, dalam buku yang akan terbit kelanjutan dari Al-Mustafa yang mengkritik tentang sejarah-sejarah Nabi Saw.

Satu itu, kita kritik. Kasian Nabi itu, sudah jelas Nabi itu tidak bisa baca dipaksa oleh Malaikat Jibril. Dipaksanya malah memakai tekanan sampai dijepit. Padahal Allah sudah menetapkan, ”Allah tidak akan membebani orang melebihi dari kemampuannya.” Itu Allah menyuruh malaikat Jibril untuk memaksa Rasulullah membaca padahal beliau tidak mampu membaca.

Nanti Rasulullah itu akan diperintahkan oleh Tuhan, ”Engkau ini hanya pemberi ingat saja, tidak boleh memaksa.” Tetapi contoh pertama wahyu itu, Nabi yang tidak bisa baca dipaksa untuk membaca, dengan kekerasan lagi. Dan itu membebani Nabi diluar kemampuannya. Kita bisa katakan di sini bahwa itu tidak benar-benar terjadi. Itu hanya dibuat oleh orang-orang yang ingin mendiskreditkan kehormatan Rasulullah Saw.

Dalam riwayat Ahlulbayt, Nabi itu menerima wahyu dengan perasaan gembira, lega, dadanya terbuka lebar, tidak sumpek. Karena itu sudah hukum Tuhan, ”Kalau Allah menghendaki memberi petunjuk, Allah akan melegakan dadanya.” Setelah menerima wahyu, Allah berfirman, ”Bukankah telah Kami legakan dadamu dan aku lepaskan beban yang menghimpit punggungmu.”

Jadi Nabi menerima wahyu itu lega. Jangankan menerima wahyu yang itu adalah petunjuk yang tinggi tingkatnya. Kalau kita mendapat petunjuk yang ringan-ringan saja, hati kita itu lega rasanya. Sampai dalam taraf ilmiah itu ada yang disebut ”Ureka”. Jadi dulu ada seorang raja bikin mahkota dari emas, tetapi raja itu khawatir emasnya dicampur. Dia ingin emasnya itu murni. Tetapi gak tau bagaimana mengecek emas itu murni atau tidak. Disuruhlah seorang ilmuwan di jaman itu, Archimides namanya, untuk menguji dan Archimides gak tau gimana menguji emas itu asli atau tidak. Sambil berbaring-baring di kamar mandinya dia tiba-tiba menemukan pemecahannya. Itu yang lalu menghasilkan hukum berat jenis. Akhirnya dia menemukan jawabannya, dan lega betul sampai dia berteriak dan berlari-lari telanjang bulat, ”Ureka…Akhirnya aku temukan…!”

Jadi orang mendapat petunjuk hatinya tuh lega. Dan wahyu adalah tingkat yang paling tinggi, eh ternyata Nabi itu sumpek sampai katanya Nabi berlari-lari ketakutan. Menurut riwayat sampai-sampai Nabi berkata, ”Saya tidak tau apakah saya ini gila atau kemasukan setan.”

Bayangkan Nabi yang mendapat wahyu sampai begitu. Itu menurut saya riwayat itu memang menjatuhkan kehormatan Nabi. Karena itu saya anjurkan untuk membeli buku yang akan terbit itu karena buku ini berusaha untuk membersihkan kemuliaan Nabi.

Dan sekarang kita bicarakan mengenai ”Ummiy” kebutahurufan Nabi. Kalau Nabi itu memang buta huruf, paling tidak, Nabilah yang pertama kali melanggar ajaran Allah SWT. Surat yang pertama menyuruh Nabi baca. Menurut orang-orang yang berpendapat bahwa Nabi itu buta huruf, menafsirkan maksud ”bacalah” dalam ayat tersebut adalah membaca alam semesta bukan membaca buku, memahami alam semesta, membaca alam semesta itu sebagai teks. Memang sih kelihatannya ilmiah, tetapi itu tidak nyambung dengan ayat Al-Qur’an tersebut karena ujungnya ”Bacalah dengan Nama Tuhanmu Yang Maha Mulia yang mengajar dengan pena.” Kalau membaca konteksnya dengan pena itu artinya membaca buku, membaca teks, membaca huruf.

Kalau Nabi berita huruf maka perintah membaca itu menjadi perintah yang dipaksakan kepada Nabi. Nabi disuruh membaca padahal ia tidak bisa membaca.

Di antara surat-surat yang pertama turun adalah, ”Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan dengan penanya.”

Menurut riwayat Ahlulbayt, nama Nabi dalam Al-Qur’an itu ada 10. ”Yasin”, ”Ahmad”, ”Muhammad”, dan ”Nun”. Nun itu nama Rasulullah. Saya tidak akan menyebutkan lagi yang enam lainnya. Biar Anda semua yang mencarinya.

Dalam Al-Qur’an ada banyak perintah menulis. Diantaranya adalah ayat yang terpanjang di dalam Al-Qur’an yaitu ayat tentang utang piutang dalam surat al-Baqarah. Tuhan sampai menurunkan ayat terpanjang untuk mengatur utang piutang. Dalam ayat itu dikatakan bahwa hendaknya seseorang itu menuliskan utang piutang itu. Jadi wajib kalau utang piutang itu dituliskan. Kalau Nabi itu buta huruf, maka Nabilah yang pertama kali melanggarnya. Padahal kata Aisyah, ”Akhlak Nabi itu Akhlak Al-Qur’an.”

Nabi juga menganjurkan orang-orang untuk belajar tulis dan baca. Sampai beliau bersabda, ”Diantara kewajiban orang tua terhadap anaknya ialah mengajarkan menulis, berenang, memanah.”Apakah mungkin Rasulullah memerintahkan sesuatu yang tidak ia praktekkan.

Lalu kalau begitu, apa itu arti dari Ummiy kalau bukan buta huruf? Bukankah dikatakan juga Nabi akan dibangkitkan ditengah-tengah yang buta huruf? Tetapi itu tidak akan kita bahas. Bacalah buku saya yang terbaru tersebut.

Itu adalah sebagian pembahasan dari Ulumul Qur’an. Termasuk dalam pembahasan ilmu tafsir juga yaitu pembahasan yang pernah kita ributkan mengenai surat Abasa.

Ustadz Husain Al-Habsyi menulis buku Rasulullah Tidak Bermuka Masam. Lalu orang lain membantah lagi dengan sebuah buku lagi Rasulullah Benar-Benar Bermuka Masam. Dan saya adalah salah satu orang yang mengikuti pendapat ustadz Husain. Beliau adalah salah satu guru saya yang saya hormati. Bahwa Rasulullah itu tidak pernah bermuka masam.

Tetapi kemudian belakangan saya bergabung dengan kelompok yang berpendapat Rasulullah itu bermuka masam dan berpaling. Saya akan ceritakan alasannya.

Ayat tersebut itu konteksnya kepada ”engkau”. ”Tidakkah engkau ketahui barang kali ia bermaksud untuk membersihkan diri.” Engkau itu siapa? Bukankah engkau itu kepada Rasulullah? Itu jelas kepada Rasulullah dan tidak bisa dinisbahkan kepada yang lain.

Seluruh Ahlulsunnah berpendapat bahwa yang bermuka masam dan berpaling itu Rasulullah. Sedangkan pada mazhab Ahlulbayt terpecah menjadi dua pendapat. Kalau menurut Sayyid Husain Fadlullah yang bermuka masam itu Nabi, tetapi itu tidak mengganggu kema’shuman Nabi. Mengapa?

Karena Nabi bermuka masam dan berpaling bukan suatu perbuatan yang tercela. Tetapi ini coba kita bayangkan Rasulullah sedang memberikan pelajaran dalam sebuah majelis tiba-tiba ada orang buta yang intrupsi manggil-manggil Rasulullah. Nabi kemudian memalingkan wajahnya. Saya saja kalau dalam kuliah ada orang yang mengobrol saja, saya tersinggung.

Tidak semua yang bermuka masam itu jahat dan tidak semua senyum itu akhlak yang baik. Kalau Anda senyum tetapi senyumnya mengejek itu akhlak yang buruk. Tetapi kalau kita bermuka masam karena perbuatan orang yang tercela, itu malah perbuatan yang baik.

Bersambung…

Ditranskrip oleh Yasser Arafat