Beranda > Tulisanku > Aliran Negativisme

Aliran Negativisme

Positivisme, itulah salah satu aliran dalam ranah pemikiran hukum. Aliran ini menganggap bahwa hukum itu berasal dari aturan yang telah dibuat dan tertulis. Menurut aliran ini, aturan-aturan yang tidak tertulis, tidak bisa kita jadikan aturan.

Aku sejenak berpikir. Kalau dari namanya Positivisme, maka kalau kebalikannya itu Negativisme. Spontan pikiran nakalku bekerja, gimana kalau aku buat aliran baru dalam hukum yaitu aliran negativisme. Aliran ini berusaha menegasikan hukum itu sendiri. Pada hakekatnya, menurut aliran ”iseng dibuat” ini, ketika masing-masing individu telah memiliki moral yang baik dan berpegang teguh pada moral tersebut, tidak perlu itu yang namanya hukum. Menurutku, moral itu muncul terlebih dahulu ketimbang hukum. Ketika hukum muncul, barulah hukum memasukkan moral dalam ranah perbincangannya.

Jadi sebenarnya, keberadaan hukum ini diperlukan ketika memang moral tidak dapat mengatur kehidupan bermasyarakat. Tetapi ketika moral sudah mampu menjawab semua permasalahan dalam hidup bermasyarakat, maka tidak diperlukan lagi suatu hukum.

Aku coba iseng menyampaikan pikiran tololku itu ke salah satu kawan. Seakan gak terima dengan pendapatku, dia berusaha membantah habis-habisan argumenku. Menurutnya, jika masing-masing orang itu berpegang teguh pada moral yang disepakati, maka moral itu sendiri akhirnya akan menjadi sebuah aturan hukum. Menurut Hobes, katanya, hukum itu adalah hasil perjanjian masyarakat.

Aku bantah aja, justru itu menguatkan pendapatku. Kalau menurut Hobes itu hukum adalah hasil perjanjian masyarakat, maka kita coba lihat di Indonesia apakah hukum dibuat berdasarkan kesepakatan semua rakyat? Tidak…! Makanya ketika satu aturan hukum dibuat, pasti akan menimbulkan pro dan kontra.

Coba kita melirik kepada moral. Moral merupakan nilai-nilai yang disepakati oleh masyarakat, menurutku. Jadi sebenarnya lebih tepatnya, menurut Thomas Hobes ini, yang mengatur kehidupan bermasyarakat ini adalah Moral bukan hukum yang dibuat oleh Parlemen yang PASTI mengandung kepentingan si pembuat hukum.

Aneh memang kalau Anda semua membaca tulisanku diatas. Aku sendiri bingung kenapa pikiranku bisa setolol itu. Inilah bentuk ketololan ku akan ilmu hukum.

  1. hilda alexander
    April 25, 2008 pukul 5:38 am

    Lantas apa hubungan antara statement Thomas Hobes dan aliran negativisme?🙂

  2. dimas
    April 25, 2008 pukul 5:53 am

    *****celingak celinguk*****
    kagak mudeng hukum
    ^====^

  3. April 25, 2008 pukul 11:58 am

    He3x…hubungannya apa ya mbak?😀

  4. April 25, 2008 pukul 2:13 pm

    Memang kita hidup di tengah ‘relativitas’ terhadap segala sesuatu……
    Ada bedanya Hukum dengan Moral?
    1. Yang repot tentang Moral, adalah tinjauan ruang dan waktunya? (jadi sangat tidak jelas batasannya)
    2. Yang repot kalo Hukum, adalah pemaksaan nilainya dan kandungan ‘sangsi’ jika melanggarnya!
    3. Untuk kasus Indonesia, sama saja, …………..Dengan dalih moral, ‘mereka’ berlaku amoral, dengan dalih hukum ‘mereka’ berlaku seolah2 tidak ada hukum ……………………..
    4. Trus kalo masih bingung tentang ‘Negativisme’, godok saja terus, pikir terus sampai dapat formulanya yang jelas dan patent-kan saja, he…..he….he….. (yang ini iseng) 🙂
    -peace-

  5. April 25, 2008 pukul 2:30 pm

    Hayo siapa yang mau jawab apa beda hukum dan moral? beda moral dan etika?😀

  6. April 26, 2008 pukul 1:39 am

    idemu menarik sekali.🙂

  7. April 26, 2008 pukul 1:41 am

    Menarik? Aku sendiri nganggep ini ide konyol apa memang mungkin ada aliran Negativis?

  8. April 26, 2008 pukul 2:05 am

    moral itu berlaku umum,
    semua orang memiliki nilai-nilai moral yang luhur,
    etika kondisional, kontekstual.

    Tetapi, bagaimana mendefinisikan moral?

  9. April 26, 2008 pukul 2:33 am

    Pemikiran orang, pasti dipengaruhi oleh sudut pandang dia dalam memandang sesuatu.

    Sama halnya ketika kita mencoba mendefinisikan moral. Maka masing-masing orang mendefinisikan berdasarkan sudut pandangnya masing-masing. itu menurut saya pak.

    Hal itu terjadi juga ketika para ilmuwan mendefinisikan hukum. Dari perbedaan sudut pandang itulah maka muncullah berbagai macam aliran hukum.

    Tetapi kalau kita berbicara moral, sebenarnya kata Moral berasal dari kata latin “mos” yang berarti kebiasaan.

    saya mendapatkan referensi dari Wikipedia.
    Moral (Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh.

    Saya jadi teringat dengan kisah para perampok yang berhasil mendapatkan harta rampokan. Sang pemimpin mengatakan kepada anak buahnya, “Mari kita bagi secara adil hasil rampasan kita.”

    Hukum berbicara merampok itu suatu perbuatan yang tercela. Dan para perampok itu melanggarnya. Tetapi setelah mendapatkan hasil rampokan, sang pemimpin berbicara kepada anak buahnya dengan menggunakan sudut pandang moral.

  10. April 26, 2008 pukul 4:43 am

    Bukannya positivisme dan negativisme adalah dua bentuk pemahaman yang memang sudah ada dan kebetulan tidak berlawanan sebagaimana namanya?

    Positivisme setahu saya adalah pemahaman di mana nilai kebenaran suatu klaim ditentukan oleh bagaimana klaim yang dimaksud bertahan di bawah metodologi ilmiah yang ketat.

    Negativisme (a.k.a. Pesimisme Filsafat) adalah pendekatan filosofis beberapa orang (seperti Schopenhauer) yang menilai bahwa secara inheren hidup dan kehidupan memiliki nilai negatif.😛

  11. April 26, 2008 pukul 4:48 am

    wah saya baru tau kalau aliran negativisme sudah ada sejak dahulu kala.

  12. vendra22
    April 26, 2008 pukul 5:51 am

    Ente gaya-gayanya macam Ahmad Wahib begitu… mentang-mentang HMI ya… hahaha…

  13. April 26, 2008 pukul 6:29 am

    memangnya Ahmad Wahib gimana? Emang HMI kayak gimana bang?

  14. Mei 3, 2008 pukul 3:44 am

    negativism bisa mnegurangi korupsi; meningkatkan harkat dan martabat bangsa dan memerangi kemiskinan gak? kalo bisa saya mau ikutan ^_^

  15. Mei 3, 2008 pukul 4:15 am

    Kita tidak tau sebelum mencoba.😀

  16. zen florena
    November 15, 2010 pukul 2:17 pm

    setahuku c kalo aliran positivisme tu terbentuk dr lingkungan, sedangkan aliran negativisme tu terbentuk dr keturunan..

    apa hubungannya ma hukum truzan??

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: