Beranda > Tulisanku > Andai Ku Tahu

Andai Ku Tahu

Dulu aku pernah nulis cerita tentang dua orang anak SD yang saling berbincang selepas pulang sekolah. Salah satu di antara mereka ada yang mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu dia beserta keluarganya pergi ke Bandung. Dengan gaya yang agak sombong, anak itu bilang bahwa dia baru pergi ke Bandung yang menurutnya itu ada Monasnya.

Pada tulisan yang lalu aku mengambil contoh ucapan yang sok tau dari seorang calon presiden Amerika, John McCain. Padahal apa yang diucapkannya itu salah besar.

Aku bilang, ternyata John McCain yang sudah dewasa dan menyalonkan dirinya menjadi Presiden ternyata kayak anak kecil pada cerita diatas yang menganggap bahwa Monas itu di Bandung.

Aku juga teringat dengan masa kecilku. Saat itu, antara aku dan anak SD itu memiliki kesamaan, yaitu sok tau. Dengan bangga mengucapkan sesuatu tetapi sebenarnya sesuatu itu salah.

Aku sempat berpikir apakah semua anak kecil pasti akan seperti itu? Namun belakangan aku berpikir kalau aku menganggap semua anak kecil pasti akan seperti itu, itu namanya bentuk generalisasi.

Baru semalam aku temukan jawabannya. Ternyata anak kecil ”yang biasanya” sok tau, malam itu, anak kecil itu benar-benar tau. Bukan lagi sok tau, tetapi benar-benar tau.

Malam itu genap 1 tahun meninggalnya kakek si anak kecil itu. Rumah si anak kecil itu rame didatangi orang-orang yang hendak yasinan, ritual yang sering dilakukan oleh penganut agama tradisional. Selepasnya yasinan, si anak kecil itu langsung menuju komputernya dan menyalakan lagu rohani gaul.

Terkejut aku dibuatnya. Lagu yang dinyanyikan oleh grup Ungu tersebut sesuai betul dengan suasana yang ada dirumah itu. Suasana duka mengenang orang yang telah meninggal. Suasana introspeksi diri mengingat kematian. Lagu yang berjudul ”Andai Ku Tahu” mengingatkanku akan kematian. Introspeksi diri terbesar yang muncul dalam diriku, ketika itu, bukan dari ritual yasinan tetapi dari beberapa bait syair lagu yang ”dikumandangkan” oleh Ungu yang terkenal gaul itu.

Nampaknya ritual yang sekarang ini dijalani oleh sebagian masyarakat tradisional, sekarang hanya terbatas pada formalitas semata tanpa pernah mau memahami hakekat dari ritual tersebut. Justru pencapaian hakekat itu datang dari syair lagu yang dibuat oleh anak gaul yang pakaiannya senantiasa menyesuaikan dengan mode yang sedang berkembang.

Kategori:Tulisanku
  1. April 28, 2008 pukul 3:45 am

    Aku juga teringat dengan masa kecilku. Saat itu, antara aku dan anak SD itu memiliki kesamaan, yaitu sok tau. Dengan bangga mengucapkan sesuatu tetapi sebenarnya sesuatu itu salah.

    Aku sempat berpikir apakah semua anak kecil pasti akan seperti itu? Namun belakangan aku berpikir kalau aku menganggap semua anak kecil pasti akan seperti itu, itu namanya bentuk generalisasi.

    loh … saya dulu kok juga seperti itu yah. jangan jangan memang semua anak kecil … *menunduk malu*

  2. April 28, 2008 pukul 3:57 am

    Entahlah, tetapi beberapa kawanku juga pernah melakukan hal yang sama.

  3. April 29, 2008 pukul 9:51 am

    hmi bangeettts !

  4. April 29, 2008 pukul 10:29 am

    Maksudnya HMI banget gimana mas hilman?

  5. Juni 16, 2008 pukul 3:11 am

    hallo…………………………………,lagu andai ku tau itu baguszzzzzzzzzt banget,itu membuat kita sadar akan kehidupan duniawi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: