Beranda > News > JAI Tidak Sama Dengan GAI

JAI Tidak Sama Dengan GAI

Menteri Komunikasi dan Informatika M Nuh mengatakan tidak semua anggota Ahmadiyah terkena dampak dari Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung. Nuh mengatakan perlu dibedakan antara Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

“Tidak semua Ahmadiyah bertentangan atau keluar dari koridor syariah akidah. Yang GAI itu tidak disebut di SKB,” ujar Nuh di Gedung Depkominfo, Jakarta, Jumat (13/6).

Yang diatur dalam SKB kontroversial itu hingga saat ini hanya JAI. Larangan menyebarluaskan ajaran JAI tersebut diputuskan pemerintah semata-mata karena apa yang diajarkan aliran tersebut dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. “Sementara mereka (JAI) mengaku sebagai Islam,” kata Nuh.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Litbang Departemen Agama Atho Mudzhar mengatakan JAI dinilai bertentangan karena berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang nabi. Sedangkan, GAI menganggap Mirza cuma sebagai pembaharu.Ahmadiyah didirikan di Kota Qodiam, India oleh Mirza Ghulam Ahmad pada 23 Maret 1889.

Dalam perkembangannya, Ahmadiyah terbagi menjadi dua aliran yakni Ahmadiyah Qodian dan Ahmadiyah Lahore. Ahmadiyah masuk Indonesia pada 1925 dan terbentuk dalam dua organisasi yakni Gerakan Ahmadiyah Indonesia sebagai organisasi pengikut Ahmadiyah Lahore dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia sebagai organisasi pengikut Ahmadiyah Qodiani. Dalam perkembangannya, kehadiran JAI di Indonesia mendapat penolakan dari umat Islam. Imbasnya, terjadi perusakan bangunan rumah, masjid, dan mushala milik Ahmadiyah di Sumatera, Medan, NTB, dan beberapa tempat lain. (Kompas)

Kategori:News
  1. Juni 16, 2008 pukul 5:48 am

    Ada komentar mnrk neh, ak liat di tv waktu ada seorang anggota ahmadiyah yg rmhnya dibakar diwawancarai wartawan:

    “apakah setelah pnyerangan tersebut anda akan bertobat ke islam yg bnar?” ujar wartawan.
    Anggota ahmadi itupun mnanggapi, “apakah saya akan ikut islam yang membakar rumah kluarga dan desa sy?”

    any comment??

  2. aldi
    Juni 16, 2008 pukul 7:43 am

    wew susah mo komment apa……….

  3. Juni 16, 2008 pukul 8:39 am

    Jadi inget cerita dari Jalaluddin Rumi. Cerita itu pernah ada di tulisan Ustadz Jalal. Singkat cerita, ada satu wanita kristen di mesir yang ndak jadi masuk islam karena mendengar suara adzan yang sangat jelek sekali.

    Hikmahnya, ketika sesuatu kebenaran itu disampaikan dengan cara yang tidak benar, maka bisa saja orang yang kita tuju tidak jadi tertarik lagi dengan kebenaran yang kita bawa.

  4. Juni 17, 2008 pukul 6:42 am

    No comment.

  5. Juni 17, 2008 pukul 11:05 am

    no comment juga🙂

  6. Juni 17, 2008 pukul 11:22 am

    kontradiksi ah. Comment Anda itu, “No comment.”

  7. coang
    Juni 21, 2008 pukul 4:44 am

    ini sama juga dengan

    yang dipukul berkata “allahu akbar”
    Yang memukul juga berkata ” allahu akbar “

  8. Juni 21, 2008 pukul 3:59 pm

    Lalu siapa yang paling “allahu akbar”?

  9. coang
    Juni 21, 2008 pukul 5:38 pm

    ngak tau tuh mas siapa yang paling ter..
    yang saya pahami bahwa memang ada perbedaan mengenai ahmadiyah itu, tetapi jika memang mereka menganggap bahwa MGA itu nabi maka, secara akidah kita menolak, tetapi hal yang paling baik dilakukan adalah mengajak dialog dengan berbagai pendekatan,, bayangkan aja mas, apa kata orang2 bila mereka membakar masjid2 dengan meneriakan yel2 allahu akbar, disaat yang sama orang yang merasa terzalimi juga berteriak allhu akbar..nah imbas dari kejadian ini berdampak pada islam itu sendiri, sehingga memberikan beberapa penafsiran yang berbeda..kita cukup bermohon kepada allah agar kita diberikan kesempatan untuk berbenah diri seraya memohon agar umatNya tidak terpecah belah

    Mohon maaf atas komentarnya

  10. Juni 21, 2008 pukul 5:44 pm

    Terlepas dari benar tidaknya keyakinan Ahmadiyah menurut Islam yg qta pahami, saya hanya bisa memberikan saran, mari qta sampaikan sesuatu yang qta anggap sbg sebuah kebenaran dengan cara yang benar.

  11. coang
    Juni 22, 2008 pukul 5:20 pm

    ya..saya sepakat, apapun yang namanya perbedaan itu tidak mesti harus dengan kekerasan, merekakan dikategorikan sebagai orang yang tidak tahu, mngkin dengan jalan dakwah sebagai salah satu alternatifnya..

  12. Juni 23, 2008 pukul 8:19 am

    Harus tegas juga bahwa Allah telah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 125.

    Harus tegas juga bahwa Umat Islam ini sedang tersesat? Gak percaya? Buka saja kitab shahih bukhari dan shahih muslim, riwayat tentang Kamis Kelabu.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: