Beranda > News > Kronologi Kematian Maftuh, Mahasiswa Unas Pendemo BBM

Kronologi Kematian Maftuh, Mahasiswa Unas Pendemo BBM

Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak rata-rata 28,7 persen, pada 24 Mei silam. Sebagai reaksi atas kenaikan harga BBM itu, mahasiswa termasuk dari Universitas Nasional Jakarta menggelar unjuk rasa. Polisi merespons protes dengan mengejar mahasiswa hingga ke dalam kampus di Pejaten, Jakarta Selatan, dan menangkapi 141 orang di antaranya, Minggu (25/5) pagi itu.

Setelah sembilan hari ditahan di Markas Polres Jakarta Selatan, Jumat (2/6), sebanyak 31 mahasiwa dibebaskan dari sel tahanan. Di antara mereka adalah Maftuh Fauzi alias Nanang (25), yang akhirnya meninggal, Jumat (20/6).

Berikut kronologis hari-hari Nanang berunjuk rasa, hingga meninggal menurut Muhammad Muptadi (36), kakak sepupu almarhum.

* Sejak kecil Nanang memang senang berkawan dan memiliki banyak sahabat.

* Tahun 2003 kuliah di Akademi Bahasa Asing Universitas Nasional Jakarta. Dia aktif di Senat Mahasiswa Unas, termasuk ikut berunjuk rasa.

* 24 Mei 2008:

Bersama ratusan mahasiswa Unas menggelas unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM yang diputuskan pemerintah

* 25 Mei 2008:

Polisi menyerbu kampus Unas di Pejaten, Jakarta Selatan, dan menangkap 141 orang mahasiswa dan ditahan di Mapolres Jakarta Selatan.

Saat penyerbuan ke kampus, polisi memukuli mahasiswa. “Nanang sempat melindungi kepalanya dengan tangan agar tidak kena pentung. Tapi karena tangannya sakit setelah kena pentungan, tangannya turun, kemudian kepala kena pentung. Setelah dipentung dia sempat pingsan,” ujar Muhammad Muptadi.

Di Mapolres Jakarta Selatan, Nanang menolak menandatangi surat penahanan. Saat diinterogasi, Nanang berkeras berdalih bahwa aksi mahasiswa berunjuk rasa untuk mengubah kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM

* Jumat 2 Juni:

Polisi membebaskan semua mahasiswa. Hari itu, ada 31 mahasiswa yang bebas.

* Senin 9 Juni pagi:

Nanang dirawat di RS Pasar Rebo, Jakarta Timur. Malamnya, dirujuk ke RS UKI. Setibanya di RS UKI, Nanang masih sadar, tak lama kemudian tidak dapat berkomunikasi lagi. “Saat itu, keluhan almarhum adalah sakit pada kepala bagian atas,” ujar Muptadi.

Saat masih bisa berkomunikasi, dia sempat berbicara kepada Mumfatimah, ibunya. “Nanang sempat bilang, apakah mama menyesal saya ikut demo itu?” ujat Muptadi. Lalu ibunya menjawab, “Mama tidak menyesal, mama malah bangga atas apa yang kamu lakukan.”

* Rabu 11 Juni:

Pihak Unas mengambil alih pengobatan Nanang, dan dipindah ke RSPP langsung masuk ke ICU B di Gedung F lantai V.

* Jumat 20 Juni pukul 11.20 WIB:

Nanang meninggal

* Jumat 20 Juni pukul 15.00 WIB:

Jenazah Nanang diusung ke Kebumen, Jawa Tengah. (Warta Kota/Kompas)

  1. Desember 31, 2008 pukul 2:58 pm

    Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Salam Hangat buat Keluarga Anda
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: