Ketua Dewan Penentu Kebijakan Negara Republik Islam Iran, Ayatollah Akbar Hashemi Rafsanjani yang berbicara di konferensi Mazhab-Madzhab Islam di kota Makkah Al-Mukarramah mengatakan, “Konferensi ini yang berlangsung di sisi Baitullah Al-Haram, dengan pertolongan Allah akan menjadi landasan yang kuat bagi membuka dialog madzhab-madzhab Islam dengan agama-agama ilahi lainnya dan peradaban yang lahir dari ajaran agama samawi.”

Ayatollah Rafsanjani, seperti diberitakan Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA), menandaskan, dengan mengikuti ajaran Al-Qur’an al-Karim dan berkat wahyu ilahi, pesan yang dibawa agama Islam harus disampaikan kepada seluruh bangsa di dunia. Jangan sampai konferensi seperti ini dianggap sebagai seremonial belaka. “Umat Islam bisa dan harus membuka dialog dengan agama-agama ilahi lainnya, dan melalui itu pesan Islam disebarkan ke seluruh dunia,” tegasnya.

Rafsanjani menambahkan, “Konferensi ini harus menjadi langkah pembuka bagi dialog agama.” “Kita harus siap mendengar pendapat orang lain. Salah satu ciri khas hamba-hamba Allah yang baik adalah mendengar semua perkataan dengan seksama lalu dengan bijak memilih yang terbaik di antaranya,” jelasnya. Menurut Ketua Dewan Penentu Kebijakan Negara Iran ini, seluruh peradaban di dunia bersumber dari ajaran agama, dan agama ilahi adalah induk dan jantung peradaban.

Ayatollah Rafsanjani yang juga menjabat sebagai ketua Dewan Ahli Kepemimpinan Iran mengatakan, umat Islam dewasa ini menghadapi masalah serius dan para ulama memikul tanggung jawab besar untuk mengatasi kesulitan yang ada. “Predikat sebagai sebaik-baik umat layak disandang kaum muslimin dengan syarat umat ini melaksanakan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar. Tentunya dalam masalah ini kita jangan tertipu oleh bentuk lahiriyah tetapi harus juga memandang pada sisi batinnya,” imbuhnya.

Ayatollah Rafsanjani menjelaskan, “Fanatik jika berarti loyalitas kepada prinsip agama, layak dipuji. Tetapi jika bermakna sikap keras kepala pada kesalahan, maka fanatisme ini sangat merugikan.” Ditambahkannya, “Konferensi Makkah harus menjadi kesempatan ikrar untuk membuka dialog antar madzhab Islam. Seluruh ulama harus saling mengulurkan tangan solidaritas dan persahabatan, serta mengubah titik perbedaan dan kelemahan menjadi titik kekuatan.”

Ketua Dewan Penentu Kebijakan Negara menegaskan, “Jangan kita biarkan dunia Islam menjadi lemah karena menyebarnya perselisihan. Adalah tugas kita bersama untuk membuat dunia Islam dan umat Muslim kuat.”[im/mt] taghrib