Beranda > News > Aparat Kepolisian Diminta Tak Represif, Demo Mahasiswa Tuai Kecaman

Aparat Kepolisian Diminta Tak Represif, Demo Mahasiswa Tuai Kecaman

FOTO (AP Photo/Tatan Syuflana) SOLOPOS

Jakarta (Espos). Aksi mahasiswa di Gedung DPR, Selasa (24/6), yang berakhir dengan kerusuhan menuai kecaman dari berbagai kalangan. Hal itu dinilai ironis dengan peran pemuda sebagai agen perubahan sekaligus calon pemimpin di masa depan.


Kritikan keras disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Menurut Presiden, pemuda harus dijauhkan dari budaya kekerasan.


”Kita harus sosialisasikan budaya saling hormat, toleran, perdamaian dan menolak kekerasan di kalangan pemuda. Sebab mereka adalah pemimpin masa depan,” kata Presiden SBY dalam pidatonya meresmikan pembukaan 2nd World Peace Forum di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (24/6) malam.


Sebagai pemimpin di masa depan, maka sudah seharusnya kalangan muda sejak dini menerapkan budaya dan teknologi perdamaian. Sebab kaum muda yang akan selanjutnya bertanggung jawab atas kelangsungan dunia.


Budaya perdamaian adalah sikap yang kedepankan pandangan moderat, toleran, tidak berprasangka buruk dan saling menghormati. Sementara teknologi perdamaian langkah-langkah anti kekerasan untuk menyelesaikan setiap perselisihan dan konflik yang terjadi.


Perdamaian dunia


”Saya percaya dengan perbedaan latar belakang budaya, maka upaya tersebut akan semakin efektif. Indentifikasikan peran konkret apa yang bisa kita lakukan bersama untuk wujudkan cita-cita perdamaian dunia,” sambung SBY.


Upaya bersama menekan tindak kekerasan merupakan isu utama yang akan mereka bahas dalam dua hari ke depan. Baik kekerasan yang muncul akibat kesenjangan ekonomi maupun tindak kekerasan yang berlatar belakang politik dan agama.


Beberapa kalangan menilai aksi anarkisme dalam unjuk rasa mahasiswa di DPR telah menimbulkan keprihatinan. Sebagai kalangan terpelajar, mahasiswa seharusnya memberikan contoh hidup berdemokrasi secara damai. ”Seharusnya mahasiswa memberi teladan pada masyarakat berunjuk rasa tanpa tindak anarkisme,” ujar Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dalam acara tersebut.


Hidayat juga memberikan koreksinya pada aparat kepolisian. Upaya untuk menjaga keamanan dan ketertiban pun seharusnya dilaksanakan tanpa tindak represif apa pun. ”Sebaliknya polisi juga harus memberi teladan dengan tidak represif,” kata Hidayat.


Sementara itu, Kontras juha menilai aksi mahasiswa dalam melakukan unjuk rasa di DPR dinilai sudah berlebihan. Kontras meminta mahasiswa agar tidak anarkis dan melakukan kekerasan.


”Penyampaian aspirasi itu hendaknya tidak dengan cara-cara yang malah menimbulkan antipati publik. Mahasiswa adalah agen perubahan sosial,” kata Koordinator Kontras Usman Hamid dalam siaran pers, Selasa.


Usman juga meminta agar meminta semua pihak, khususnya kepada aparat Polri dan para demonstran untuk tidak menggunakan tindak kekerasan. ”Ini hanya akan memperkeruh keadaan di lapangan. Perilaku kekerasan menodai semangat juang mahasiswa dalam melakukan perubahan itu. Sekali lagi hentikan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah,” jelasnya. – dtc

sumber: SOLOPOS

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: