Beranda > Tulisan Orang > GABUNGKAN KAMI BERSAMAMU!

GABUNGKAN KAMI BERSAMAMU!

Ketika Imam Husain as bersiap-siap untuk berangkat, Ummu Salamah datang. Dengan airmata berlinang, ia memohon, “Janganlah engkau dukakan daku dengan kepergianmu ke Iraq. Aku telah mendengar kakekmu Rasulullah saw bersabda, ‘Anakku Al-Husain akan terbunuh di bumi Iraq, di bumi yang dikenal dengan nama Karbala’. Masih kusimpan tanahmu dalam botol yang diberikan Nabi kepadaku.”

Imam Husain berkata, “Yâ Ummah, aku tahu aku akan terbunuh, terbantai karena kezaliman dan permusuhan. Allah telah berkenan memperlihatkan kepadaku keluargaku dan sahabatku yang dihalau; anak-anakku yang disembelih, ditawan, dan dibelenggu. Mereka minta pertolongan tetapi tidak mereka dapatkan pertolongan.”

“Ajaib! Lalu mengapa engkau pergi padahal engkau akan terbunuh?” ujar Ummu Salamah. Imam Husain menjawab, “Yâ Ummah, jika aku tidak berangkat hari ini, aku akan berangkat esok. Jika tidak esok, esoknya lagi. Demi Allah, kematian tidak dapat dihindari. Sungguh, aku tahu hari ketika aku terbunuh, detik-detik ketika aku terbunuh, dan kuburan yang di situ aku dikebumikan. Aku mengetahuinya seperti mengetahuimu. Aku melihatnya seperti melihat-mu. Jika engkau mau, akan kuperlihatkan padamu tempat pembaringanku dan tempat sahabat-sahabatku.” Ummu Salamah memohonkannya. Ia memperlihatkan kepadanya turbah (tanah) sahabat-sahabatnya dan memberikan sebagian untuk Ummu Salamah. Dipesankannya agar ia menyimpannya dalam botol lagi. Bila ia melihat-nya bersimbah darah, yakinlah bahwa Husain terbunuh. Pada hari kesepuluh Muharram, sesudah Zhuhur ia melihat kepada kedua botol itu. Dan keduanya telah berubah menjadi genangan darah.

Peristiwa yang saya kutip dari Maqtal Al-Husain, tulisan Abdul Razzaq Al-Musawi, diriwayatkan oleh banyak muhaddits. Tak seorang pun mempersoalkan keabsahannya. Tetapi banyak orang bertanya, seperti Ummul Mukminin ra, mengapa Imam Husain pergi juga padahal ia telah mengetahui bahwa ia akan terbunuh. Sebagian bahkan menolak hadis itu hanya dengan alasan: Tidak mungkin Imam Husain menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan. Bukankah Tuhan berfirman, “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195).

Izinkan saya bertanya: Apa yang dimaksud dengan kebinasaan? Apakah setiap kematian dianggap kebinasaan? Apakah setiap kehidupan keberuntungan? Ketika Nero membakar kota Roma, ia tertawa menyaksikan ratusan ribu orang yang terpanggang hangus. Apakah Nero beruntung dan rakyat yang mati semua binasa? Hitler bersenang-senang di istananya, ketika jutaan manusia dijebloskan ke kamar gas dan dibunuh dengan gas beracun. Apakah Hitler beruntung dan rakyat yang tertindas itu celaka? Vlad The Impaler, raja Kristen dari Rumania, melemparkan tawanan Turki yang Muslim ke sebuah lembah yang dipenuhi dengan tombak-tombak, yang bagian tajamnya diarahkan ke atas. Kaum muslimin itu tertusuk puluhan tombak dan mati karena kehabisan darah. Apakah kaum Muslim itu binasa dan Raja Rumania itu beruntung? Kejadian seperti itu berulang terus dalam sejarah umat manusia: Pengungsi Palestina yang dibunuh tentara Israel di Sabra dan Shatilla, Muslim Bosnia yang dibantai Kristen Serbia, pejuang Muslim Kashmir yang didrel serdadu Hindu dari India, Muslim Ambon yang dijagal oleh saudara-saudaranya yang berbeda agama.

Bila kita mengukur kebinasaan dari kekalahan dalam pertempuran, kelemahan dalam perbekalan, atau kekurangan dalam dukungan, ucapkanlah salam perpisahan kepada Islam. Kebinasaan dan keberuntungan tidak terletak pada kematian dan kehidupan; tetapi pada tujuan yang menyertai keduanya. Imam Ali, yang digelari George Jourdac sebagai Suara Keadilan Insani, memberikan kriteria tegas: Al-Hayât fî mawtikum qâhirîn; wal mawt fî hayâtikum maqhûrîn. Kehidupan itu dalam kematianmu yang menakluk-kan dan kematian itu dalam kehidupanmu yang ditaklukkan. Dalam peribahasa Melayu, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai.

Mati untuk menegakkan kalimah Allah adalah kebaikan yang di atasnya tidak ada yang lebih baik lagi. Hidup mewah dengan mencam-pakkan syariat adalah kehinaan yang di bawahnya tidak ada yang lebih hina lagi. Imam Husain berkata dalam khutbahnya, “Aku tidak melihat kematian selain kebahagiaan; dan aku tidak melihat kehidupan bersama orang yang zalim selain kehinaan.” Ketika Allah swt berfirman –Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling takwa– Dia meletak-kan kehormatan dan kemuliaan pada ketakwaan. Harta menjadi mulia bila berada di tangan orang yang beragama, yang memperoleh dan mengeluarkan harta itu sesuai dengan tuntunan syariat. Harta menjadi fitnah yang mencelakakan bila dipegang oleh orang yang mencari dan membelanjakannya dengan cara yang haram. Kekuasaan menjadi mahkota yang mulia bila dipergunakan untuk menegakkan keadilan dan menumbangkan kezaliman. Kekuasaan menjadi godaan yang menjerumuskan bila dijalankan untuk menyengsarakan rakyat dan memperkaya diri dan golongan.

Rasulullah saw bersabda, “Jika para penguasamu adalah orang-orang yang baik di antara kalian; jika orang-orang kayamu adalah orang-orang yang dermawan di antara kalian; jika urusanmu selalu dimusyawaratkan di antara kamu, maka punggung dunia lebih baik bagimu dari perutnya. Jika para penguasamu adalah orang-orang buruk di antara kamu; jika orang-orang kayamu orang-orang yang bakhil; dan urusan diserahkan pada isteri-isterimu, maka perut bumi lebih baik bagimu dari punggung-nya.”

Zaman buruk yang digambarkan Nabi adalah zaman Imam Husain. Pada masanya, Bani Umayyah menegakkan kekuasaan dengan mengalirkan darah orang yang tidak bersalah, menumpuk kekayaan dengan merampas hak orang-orang kecil, dan menyebarkan ideologi “Might is right” –yang berkuasa adalah yang benar. Ia “membayar” para ulama untuk melegitimasikan kekuasaannya dan menghamun-maki orang-orang yang berpegang teguh pada kebenaran. Agama diberi makna sesuai dengan kehendak penguasa. Lewat mesin propaganda waktu itu –antara lain, khotbah-khotbah Jumat dan majlis-majlis pengajian– ajaran keluarga Rasulullah saw (pasangan Al-Quran) dianggap sebagai Islam yang sesat dan fatwa keluarga Akilat Al-Kabad sebagai Islam yang benar.

Simaklah ucapan Imam Ali as ketika menyaksikan ulah Bani Umayyah: “Ingatlah bahwa bencana yang buruk bagi Anda di mata saya ialah bencana Bani Umayyah, karena bencana itu buta dan menciptakan kegelapan pula. Melandanya umum tetapi akibat buruknya adalah bagi orang-orang tertentu. Orang yang tetap berpandangan cerah di dalamnya akan tertimpa kesedihan, dan orang yang tetap buta di dalamnya akan menjauhi kesedihan itu. Demi Allah, Anda akan mendapatkan Bani Umayyah sesudah saya adalah orang yang terburuk bagi Anda, seperti unta betina tua pembangkang yang menggigit dengan mulutnya, memukul dengan kaki depannya, menendang dengan kaki belakangnya, dan menolak untuk diperahi susunya. Mereka akan tetap menguasai Anda sehingga mereka hanya akan meninggalkan di antara Anda orang-orang yang bermanfaat bagi mereka atau orang-orang yang tidak merugikan mereka. Petaka mereka akan berlanjut hingga permintaan tolong Anda pada mereka seperti permintaan tolong oleh budak pada tuannya atau pengikut pada pemimpinnya. Bencana mereka akan menimpa Anda seperti ketakutan bermata jahat dan perpecahan jahiliah di mana tak akan terlihat menara petunjuk atau suatu tanda (keselamatan). Kami Ahlul Bait bebas dari kejahatan dan kami tidak termasuk kalangan orang yang akan melahirkannya.” (Puncak Kefasihan, Khotbah 92)

Apa yang dikuatirkan Imam Ali betul-betul terjadi pada zaman Imam Husain. Muawiyyah mati dan meninggalkan Yazid (la.) sebagai penguasa. Dalam hadis ia mendapat julukan “bocah yang bodoh.” Abdullah bin Hanzhalah (yang jasadnya dimandikan para malaikat), melaporkan perilaku Yazid, ketika bersama delegasi Madinah kembali dari Syam: “Wahai manusia, kami baru saja kembali dari seorang lelaki yang meninggalkan salat, minum minuman keras, menikahi ibu dan saudara kandung, bermain bersama monyet dan anjing. Jika kita tidak melepaskan baiat kepada-nya, aku takut kita akan dilempari batu dari langit.” Ibnu Khaldun, sosiolog Islam itu, dengan tegas menyatakan bahwa para ulama Muslimin telah sepakat (ijmak) berkenaan dengan kefasikan dan kemaksiatan Yazid.

Orang dengan kualitas seperti itu, yang mencemoohkan agama dengan syair-syairnya, diangkat sebagai penguasa Islam. Ia memaksa semua orang untuk berbaiat kepadanya. Di Madinah, di kota Rasulullah yang mulia, Marwan bin Al-Hakam memaksa Imam Husain untuk berbaiat kepadanya. Ia juga mengancam untuk membunuh cucu Nabi itu jika menolaknya. Imam Husain berkata, “Yazid manusia yang fasik, pendosa, pembunuh orang yang tidak bersalah, yang menyebarkan kefasikan dan kemaksiatan. Orang sepertiku tidak mungkin berbaiat kepada orang seperti dia!”

Dan Imam Husain memilih kematian daripada tunduk kepada kezaliman. Dengan darahnya di Karbela, ia meletakkan tonggak sebuah mazhab yang meletakkan kehormatan, bukan pada kekuatan fisik dan kekuasaan, tetapi pada pengorbanan untuk agama yang memihak keadilan. Baginya, kemenangan sejati diperoleh ketika benih kemaslahatan umat tumbuh subur dari siraman darah dan airmatanya. Bila Yesus, menurut pandangan Kristiani mati untuk menebus dosa umat manusia, Imam Husain gugur untuk meletakkan nilai kemanusiaan di atas nilai-nilai kekuasaan, keturunan, kekayaan, dan kepandaian. Kematiannya menghidupkan kembali Islam Muhammadi yang asli, yang memasukkan Salman orang Persia dalam kelompok Ahli Bayt karena ketakwaannya dan mengeluarkan Abu Lahab, keluarga dekat Nabi dari kelompok Ahli Bayt karena keingkarannya.

Ketika ia meninggalkan Madinah, ia menulis surat wasiat kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiyyah: “Aku keluar bukan karena kesombongan dan kepongahan, bukan juga untuk berbuat kerusuhan dan kezaliman. Aku keluar untuk menimbulkan perbaikan dalam tubuh umat kakekku Muhammad saw. Aku ingin melakukan amar makruf nahi munkar. Aku ingin mengikuti perjalanan hidup kakekku dan ayahku Ali bin Abi Thalib. Jika orang menerimaku dengan penerimaan kebenaran, maka Allah lebih utama untuk dipatuhi kebenaran-Nya. Barangsiapa yang menolakku, aku akan bersabar sampai Allah memutuskan kebenaran antara aku dan mereka. Dialah sebaik-baiknya Hakim.”

Lebih dari seribu tahun sesudah itu, seorang perempuan tua dan peneliti yang tekun berbicara di depan para pejabat Jerman, termasuk presiden dan anggota parlemen di sebuah istana di Berlin. Ia memperingatkan para penguasa Dunia Barat untuk tidak mengajari orang Islam memperjuangkan hak asasi manusia. Sejarah Islam adalah perjuangan panjang untuk menentang tirani dan otokrasi. Dengan suara yang serak karena ketuaan, ia mengisahkan pengorbanan Imam Husain di Karbela. Inilah contoh utama pengorbanan besar untuk menegakkan pemerintahan yang adil dan beradab. Perempuan itu namanya Annemarie Schimmel.

Jauh di sebelah timur, di bumi Indonesia, kita menangis pada hari Asyura, bukan karena menyesali nasib. Kita menangis untuk memasuk-kan arwah kita dalam barisan Imam Husain. Kata Imam Hasan Al-Askari, “Bukan golongan kami yang tidak menderita karena derita kami dan tidak bergembira karena kegembiraan kami.” Kita menangis duka karena para imam yang berduka. Dan mereka hanya berduka karena redupnya cahaya kebenaran dan berkobarnya api penindas-an. Duhai, alangkah bahagianya bila kami bergabung bersamamu, Ya Aba Abdillah. Kami penuhi panggilanmu, labbaik, wahai Penyeru Allah. Jika badan dan lidah kami tidak dapat memenuhi panggilanmu ketika engkau mencari pertolongan, hati kami, pendengaran kami dan penglihatan kami telah menjawab seruanmu!

Sumber: JCE

  1. malix
    Juni 26, 2008 pukul 3:48 pm

    ya imam gabungkan lah kami dengan mereka yang telah membelamu di padang karbala.biar kami dapat mengilhami perjuangan kami saat ini terhadap penindasan oleh penguasa pada kaum musthadafin.

  2. hildalexander
    Juni 29, 2008 pukul 7:25 am

    saya ijin copy paste ya….

    postingan yang sangat berguna bagi saya. Tengkyu

  3. salman nasution
    Februari 11, 2009 pukul 5:24 am

    kita tidak perlu melihat siapa dia tapi yang kita ihat kedekatan dia dengan tuhannya

  4. Februari 11, 2009 pukul 5:29 pm

    Maksudnya gimana?

  5. FU'SYSTEM OF A DOWN'biru putih
    Januari 18, 2010 pukul 7:53 am

    gk bs memahami x klo gk mengetahui sejarah nya..
    sangat di sayang kan bila tidak mengetahui peristiwa besar dan luar biasa dari Al Husain beserta keluarga nya yg mulia..
    SHALAWAT!!!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: