Akhirnya, rezim zionis Israel pun harus mengakui kembali kekalahannya di hadapan gerakan Hezbullah Lebanon, setelah rezim penjajah ini sepakat menjalin pertukaran tawanan dengan Hezbullah. Dengan disahkannya keputusan pembebasan para tawanan Lebanon oleh kabinet rezim zionis, maka hitungan mundur detik-detik masa pembebasan para tawanan Lebanon telah dimulai. Rezim zionis berjanji bakal melakukan pertukaran tawanan dengan Hezbullah dalam tempo dua minggu lagi.

Keputusan tersebut tentu saja disambut gembira oleh rakyat Lebanon. Mereka pun tengah sibuk menyiapkan pesta kemenangan yang kesekian kalinya atas Israel. Ketua Dewan Eksekutif Hezbullah, Hashim Safiuddin menegaskan, keberhasilan Hezbullah dalam membebaskan para tawanan Lebannon merupakan bukti atas ketangguhan perlawanan anti-zionis.

Keberhasilan Hezbullah memaksa rezim zionis Israel menyepakati pertukaran tawanan merupakan hadiah bagi rakyat Lebanon dan menjadi tonggak baru kemenangan gerakan perlawanan Islam melawan rezim zionis Israel. Sementara di pihak Tel Aviv, hal itu merupakan pukulan telak di saat para pejabat tinggi Israel tengah asyik berebut kuasa.

Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert dalam rapat kabinetnya dengan nada sedih menyatakan bahwa keputusan untuk melakukan pertukaran tawanan dengan Hezbullah merupakan salah satu keputusan tersulitnya. Olmert bahkan mengaku merasa terhina dan sedih atas persetujuannya untuk membebaskan para tawanan Lebanon. Ia menilai, kesepakatan pertukaran tawanan ini merupakan keputusan yang terpaksa dan kerugian besar yang mesti dipikul Tel Aviv. Lebih lanjut PM rezim zionis itu menegaskan bahwa pihaknya tak mampu mengubah syarat pertukaran tawanan yang diajukan oleh Hezbullah. Bahkan kegagalan itu disebut Olmert mengingatkannya terhadap kekalahan yang diderita Israel dalam perang 33 hari musim panas 2006 lalu.

Sebagaimana diketahui, rezim zionis Israel memulai perang 33 hari melawan Lebanon dengan dalih untuk membebaskan dua serdadunya yang ditawan oleh Hezbullah. Namun setelah melewati masa-masa perang yang sengit, Israel akhirnya harus menelan pahitnya kekalahan.

Tentu saja, keberhasilan gerakan perlawanan Islami Hezbullah memaksa rezim zionis menyetujui rencana pertukaran tawanan, sejatinya merupakan penggenap kemenangan Hezbullah dalam perang 33 hari dua tahun lalu. Para pengamat politik menilai, kesepakatan pertukaran tawanan yang terpaksa diambil oleh Tel Aviv adalah bukti lain kegagalan Israel untuk kesekian kalinya dalam merealisasikan ambisinya di kawasan Timur Tengah, khususnya di Lebanon. Bila kegagalan Israel ini terus berlanjut, bisa dipastikan gelombang perlawanan anti-Israel di tingkat regional makin bangkit dan berkembang luas. Sementara Israel mesti bersiap-siap menunggu ajal menjemputnya.

Sumber: IRIB