Beranda > Tulisanku > Mengapa Mereka, Bukan Saya?

Mengapa Mereka, Bukan Saya?

Mungkin seperti itu ungkapan seseorang yang menginginkan sesuatu yang didapatkan oleh orang lain. Ungkapan itu diajukan secara implisit oleh salah satu dosen fakultas hukum UNS tadi pagi ketika aku kuliah.

Dekanat FH UNS menata ulang ruangan administrasi dan diberi fasilitas ac. Dahulu ruang administrasi yang terkesan panas, sekarang telah sejuk. Dahulu ruang administrasi yang terkesan kumuh, sekarang sudah tertata rapi dan membuat nyaman orang yang berada di dalamnya.

Hal ini nampaknya menimbulkan pertanyaan kritis (kalau tidak dikatakan kecemburuan) dari beberapa dosen fakultas hukum UNS. Mengapa ruang administrasi yang ditata ulang dan diberi AC? Mengapa ruang dosen dan ruang kuliah tidak diberi AC? Para dosen dan mahasiswa harus merasakan panasnya ruangan ketika berada di dalamnya.

Biarlah pertanyaan-pertanyaan itu dijawab oleh pihak dekanat, tentunya mereka punya alasan tersendiri ketika mengambil keputusan itu.

Tetapi saya ingin menyoroti ruangan dosen. Beberapa kali saya iseng menengok ruang dosen yang dibagi per bagian (ada bagian pidana, bagian perdata, bagian HTN, dll), kok sepi yach? Pada kemana dosen ini? Pada ngajar ataukah punya bisnis dan pekerjaan lain di luar kampus?

Ambillah berasumsi itu diperbolehkan, maka bisakah saya itu berasumsi bahwa alasan pihak dekanat tidak/belum memberikan fasilitas AC di ruang dosen karena memang ruangan itu sepi, jarang sekali ruangan dosen itu ramai dengan penghuninya. Bandingkan dengan ruang administrasi yang pasti selalu ada orang.

Muncul pertanyaan lagi, “lalu bagaimana dengan ruang kuliah? Bukankah ruang kuliah itu penuh dengan mahasiswa (bayangkan 1 ruangan harus ditempati 50-100 orang)?

Menurutku, sudah saatnya dekanat memberikan fasilitas AC di ruang kuliah. Ya itung-itung sebagai daya tarik agar mahasiswa rajin kuliah, gak rajin bolos.

Salah satu penunjang keefektifan kegiatan belajar mengajar, kegiatan bekerja, adalah kenyamanan tempat. Anggaplah kita digaji besar oleh perusahaan tempat kita bekerja, tetapi jika perusahaan itu tidak nyaman untuk ditempati, maka semangat untuk bekerjapun akan lebih buruk ketimbang bekerja di tempat yang nyaman.

Jadi inget sama sinetron cinta fitri. Farel dan Fitri (sepasang suami istri) yang bekerja di perusahaan keluarga dengan berat hati keluar dari perusahaan itu karena suasana yang ada di tempat mereka bekerja itu tidak nyaman. Selalu saja ada permusuhan karena permasalahan keluarga. Lebih baik bekerja di perusahaan yang memberikan gaji tidak terlalu besar, namun nyaman.

Kategori:Tulisanku
  1. Juli 16, 2008 pukul 8:30 am

    hehehee.. internal toh.. ^_^

    tapi di paragrap terakhir betul juga sih.
    Mungkin bakal lebih ideal lagi klo pendapatnya gini : “lebih baik bekerja di perusahaan yang gajinya besar dan suasananya nyaman”🙂 (hhehehhee,, ngaaarreeeeppp..! ^_^ )

  2. Juli 16, 2008 pukul 10:43 am

    Hehehe…idealnya memang seperti itu. amin…

  3. Juli 17, 2008 pukul 2:51 pm

    berhubung tidak ada buku tamu, maka saya posting salam saya di sini: “salam kenal kembali”

  1. Juli 14, 2008 pukul 11:53 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: