Sebetulnya agak begitu malas aku memenuhi keinginan seorang kawan. Dia membaca komentar dari saudara sry, yang tidak berani menunjukkan identitasnya bahkan sempat menggunakan nama lebih dari 1 hanya untuk sekedar berkomentar di weblog ini. Menurut kawanku itu, komentar dari saudara sry baiknya jika dijawab pada tulisan tersendiri.

Apa yang membuat aku malas? Karena apa yang ada pada komentar saudara sry betul-betul tidak membahayakan eksistensi pecinta Ahlulbayt. Apa yang beliau sampaikan tidak lebih dari sekedar propaganda dan fitnah yang dibumbui dengan ayat Al-Qur’an yang dia tafsirkan secara serampangan.

Baiklah, untuk menghormati kawanku itu, aku mencoba untuk menanggapi komentar dari saudara sry.

Beberapa paragraf yang saya kutip berikut adalah komentar dari saudara sry untuk kemudian dibawahnya saya bubuhi tanggapan.

Petikan Ressay ( Kaum Syiah ) :

” Maka benar hadits Rasulullah dalam shahih muslim bahwa beliau meninggalkan kepada kita semua 2 buah pusaka yang mana jika kita berpegang teguh kepada keduanya, kita tidak akan tersesat sepeninggal beliau. yang pertama adalah Kitab Allah dan yang kedua Al-Itrah Ahlulbayt Nabi.”

umat Islam inilah salah satu bentuk tipu daya kaum kuffar ( karena mengaku – ngaku agama Islam maka dia termasuk juga MUNAFIK ) ..

Pertama dari Hadits di atas ia membenarkan Hadits Riwayat Muslim :
tapi begitu masuk isi hadits, dengan kedustaannya dia mengganti kata ” As Sunnah ” dengan ” Al-Itrah Ahlulbayt Nabi ”

bagaimana tidak sesat kalimat dari Nabi saja sudah berani mereka ganti-ganti …
maka kaum muslim agar anda semua hati-hati, dengan propaganda Syiah mereka jelas ” KAFIR- KAFIR – KAFIR ”

Orang-orang yang telah menelaah kitab shahih muslim, niscaya mereka akan dapati hadits ats-tsaqalain tersebut yang menyebutkan bahwa Nabi itu meninggalkan kepada kita 2 perkara penting yang jika kita mengikutinya kita tidak akan tersesat sepeninggal beliau. Yang pertama adalah Kitab Allah dan yang kedua adalah Al-Itrah Ahlulbayt Nabi.

Saya tidak akan berpanjang lebar, cukup mempromosikan weblog seorang kawanku yang senang sekali membedah kitab-kitab Ahlulsunnah. Berikut beberapa link yang bisa Anda baca dan pelajari:

http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/

http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-bait-ahlul-bait-dalam-hadis-tsaqalain/

http://secondprince.wordpress.com/2007/10/30/kritik-terhadap-distorsi-hadis-tsaqalain/

http://secondprince.wordpress.com/2008/04/30/tinjauan-ulang-hadis-tsaqalain/

apalagi kalau anda sudah baca tulisan kang Jalal ”
dalam dialog nya Achsin’s site dia ( Jalal ) sudah mendukung Ahmadiyah ( yang jelas sesat Keluar dari ISLAM Fatwa MUI ), Paham Pluralisme agama ( yang sudah di Fatwa sesat MUI ),

Berikut petikan dialog kang Jalal :

Penanya : Ijabi membela Ahmadiyah?

Jalal : Ya. Karena kita membela hak-hak minoritas apapun agamanya. Kita juga membela orang-orang Kristen yang diserang.

Betul sekali itu. Jika aku ditanya seperti itu, aku akan menjawab tidak jauh dari itu. Walaupun aku belum bisa memastikan keotentikan dialog tersebut.

Jika benar dialog dengan Kang Jalal itu seperti apa yang Anda copy pastekan, maka disana terlihat jelas bahwa IJABI tidak membela atau mendukung keyakinan Ahmadiyah. Tetapi membela hak-hak orang lain untuk beragama. Apalagi jika hak-hak orang untuk beragama itu harus tercerabut dengan cara-cara kekerasan.

Jadi harus dibedakan, membela keyakinan Ahmadiyah dengan membela hak-hak beragama dari komunitas Ahmadiyah.

Penanya: Kenapa mengambil posisi seperti itu?

Jalal: Kita memegang prinsip pluralisme, itu ideologi kita. Pluralisme bukan hanya ditunjukkan toleransi, tapi membela kepentingan orang dalam mengekspresikan keyakinan agamanya. Dan itu dinyatakan dengan undang-undang maupun bagian dari deklarasi HAM.

Pluralisme masih debatable. Pluralisme yang berkeyakinan bahwa semua agama itu benar, maka bentuk pluralisme itu harus kita tolak. Tetapi jika bentuk pluralisme itu adalah menganggap semua agama benar DENGAN ukuran mereka masing-masing, maka pluralisme itulah yang diusung oleh IJABI. Itu sepanjang yang saya ketahui. Saya harap Anda mampu membedakan kedua bentuk pluralisme tersebut.

Jadi kesimpulannya : 1. Bagaimana mungkin sebuah kelompok yang sudah jelas-jelas menistakan agama ISLAM yang sempurna ini masih dia (Kang Jalal) dukung, maka ditaruh manakah akal pikirannya, katanya mengaku ISLAM tapi tidak bisa membedakan yang HAQ dan BATIL !!

Menistakan darimana? Harus bisa dibedakan donk antara menistakan dengan berbeda. Ahmadiyah berbeda keyakinan dengan mayoritas umat Islam di Indonesia, itu benar. Tetapi Ahmadiyah menistakan agama Islam, ini yang menurutku sesat pikir. Bahkan Ahmadiyah itu sangat menghormati Nabi Muhammad. Syahadat mereka pun sama seperti mayoritas umat Islam.

Saya tekankan kepada para pembaca semua, dengan saya menulis tanggapan seperti diatas, tidak berarti saya sepakat dengan keyakinan Ahmadiyah. Tidak sama sekali.

Silakan di baca disini

http://musadiqmarhaban.wordpress.com/about/safari-syiar-kristologi-bandung/

2. Prinsip dia ( Syiah / kang Jalal ) = Pluralisme ( SESAT )

Sejak kapan pendapat Kang Jalal dianggap representasi dari pendapat Syi’ah? Aneh…

Orang yang belum pernah terjun ke dalam wilayah keilmuan Syi’ah, dia memang akan beranggapan pendapat kang Jalal itu adalah pendapat Syi’ah. Padahal diantara Kang Jalal dengan Murtadha Muthahhari terkadang terjadi perbedaan penafsiran dan pendapat.

Itulah kultur keilmuan dalam Syi’ah. Ulama bukan Tuhan yang harus disepakati pendapatnya, tetapi Ulama adalah orang yang patut kita hormati karena keilmuannya tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mengkritisi ulama.

3. Pluralisme = adalah Ideologi nya = ini sama dengan menentang Al Quran Surah = Al Maidah : 44-47

Justru ayat ini sangat mendukung pluralisme. Penafsiran manusia terhadap suatu ayat al-Qur’an berbeda satu dengan yang lainya. Antara Ibnu Katsir dengan Jalaluddin As-Suyuthi saja berbeda. Lalu manakah penafsiran yang benar?

Kalau aku sendiri (entah syi’ah secara mazhab berpendapat seperti ini juga atau tidak).

Penafsiran itu ada dua bentuk:

1. Penafsiran mutlak

2. Penafsiran relatif

Penafsiran mutlak ada ketika Rasulullah masih hidup. Namun ketika Rasulullah telah meninggal, siapakah yang berhak untuk menjadi penjelas makna dari ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an? Maka Rasulullah mewasiatkan kepada kita 2 perkara, Al-Qur’an dan Al-Itrah Ahlulbayt. Al-Qur’an sebagai pedoman dan Ahlulbayt sebagai penjelas atau penafsir.

Penafsiran relatif ini adalah penafsiran dari para ulama dan Mufassir terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Masing-masing mufassir menafsirkan sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing. Ada yang senang menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lain. Ada yang senang menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan hadits Nabi, sekalipun hadits itu dhoif. Kalau gak salah yang terakhir itu adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Mohon diluruskan jika salah.

Pantaslah jika kang jalal pemikirannya seperti ini, karena bagaimana dia bisa mendirikan sekolah / perguruan tinggi, membiayai operasionalnya Syiah di Indonesia kalau bukan dari Musuh-musuh ISLAM ..

Menurutku ini hanya sekedar asumsi. Kalau mau ngikutin para pengacara-pengacara, saya akan berkata begini, ”Tunjukkan buktinya.”

Hehehe…silakan ajukan bukti dari transkrip keuangan sekolah yang didirikan oleh kang Jalal.

Sayangnya untuk tantangan ini tidak mungkin bisa dia tunjukkan. Dia hanya bisa berasumsi. Padahal Al-Qur’an melarang keras berprasangka.

”Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Yunus 36)

Wallahu a’lam bishawab.