Bismillahirrahmanirrahim

Seingatku, baru kali ini kubuat tulisan yang diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim. Ku tuliskan untaian kalimat indah itu untuk mengawali tulisan ini. Tulisan yang sebenarnya berat sekali untuk aku tuliskan. Semenjak tulisan ini tertuang, semenjak itu pula aku memasuki sebuah kehidupan baru. Semoga dengan mengucapkan kalimat basmalah tersebut, semuanya akan berakhir indah.

Berbagai macam persoalan kuliah, yang menurutku lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kemalasanku, ku putuskan untuk meninggalkan kehidupan yang sudah 3 tahun ini aku jalani di kota solo ini.

Di sudut kota solo, ada satu rumah baru yang berdiri kokoh. Disitulah selama 3 tahun ini aku menjalani hidup di kota solo. Ya, aku tegaskan disitulah kehidupanku. Semua pendewasaan, pembelajaran, aku dapatkan dari rumah itu, rumah yang sering kali dipandang sebelah mata oleh mahasiswa yang study oriented, rumah yang senantiasa dipandang oleh mahasiswa yang pragmatis dan menjijikan itu dengan pandangan sinis. Pendewasaan dan pembelajaran yang sampai kapanpun tidak akan aku, dan semua mahasiswa di dunia, dapatkan dari kampus yang berdiri, memang, untuk menjadi ideological state aparatus.

Masa suka dan duka bersama, mungkin tidak akan aku rasakan lagi bersama mereka. Tahukah kalian siapa mereka itu? Mereka itu adalah laron-laron kecil. Aku sebut mereka sebagai laron-laron kecil yang senantiasa terbang mengejar cahaya. Dengan segala kekurangan dalam diri mereka dan dengan hanya bermodalkan semangat bersama, mereka memberanikan diri untuk meninggalkan kehidupan gelap mereka menuju cahaya. Kehidupan yang penuh dengan kesesatan, baik kesesatan pikir maupun kesesatan ruhani.

Kawan, laron-laron kecil, kini bukan saatnya lagi ku meneriakkan kata-kata yang dulu sering kali aku teriakkan. Kini bukan saatnya lagi ku suarakan jeritan yang dulu kerap kali terdengar. Karena kini, tiba saatnya ku harus bergelut dengan kehidupan yang mati.

Selamat berjuang kawan. Kelak, kalian tidak akan temukan diriku dalam barisan perjuangan kalian.