Soal: Apakah madzhab-madzhab semisal Ja’fari, Zaidi, Ibadhi, termasuk masuk dalam kategori aliran Islam? Apa hukumnya menerima madzhab-madzhab seperti itu?

Jawab: Membatasi fiqh Islam hanya pada Al-Qur’an dan Sunnah berarti melecehkan agama Islam dan membuat kesan bahwa Islam adalah agama yang picik dengan pandangan yang sempit dan tak mampu menjawab tuntutan kehidupan umat manusia.

Tujuan dari pembentukan madzhab-madzhab fiqh secara praktiknya adalah untuk kemaslahatan dan kepentingan umat. Meski ada perbedaan dalam segi furu’ antara satu madzhab dengan yang lain, namun semuanya sepakat dalam masalah-maslah yang prinsipal.

Faktanya, perbedaan dalam fiqh ini justeru memberikan kemudahan kepada umat dan memberikan jalan keluar dari kesulitan. Karenanya, diperbolehkan mengikuti salah satu dari madzhab-madzhab Islam yang ada, meskipun berujung pada praktik memilih yang termudah, ketika seseorang dalam keadaan darurat, atau keperluan mendesak, atau lemah dan udzur-udzur lainnya, dan hal ini diperbolehkan dalam madzhab Maliki dan Hanafi. Sebagaimana halnya diperbolehkan untuk mengamalkan madzhab yang memberikan kemudahan paling besar kepada pengikutnya. Agama Allah itu mudah, tidak sulit. Allah swt berfirman:

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesusahan kalian.”

Madzhab Zaidi adalah salah satu madzhab utama dalam Islam. Apalagi kitab ulama besar Zaidi Imam Yahya bin Murtadha yang bernama kitab Al-Bahr Al-Zakhkhar Al-Jami’ li Madzahib Ulama’ al-Amshar, selain dapat disebut sebagai ensiklopedia fiqh komparatif juga tidak banyak perbedaannya dengan madzhab-madzhab Sunni. Perbedaannya hanya dalam masalah-masalah kecil semisal mengusap sepatu dalam berwudhu dan keharaman sembelihan non muslim.

Madzhab Imamiyah atau Ja’fari adalah madzhab yang paling dekat dengan madzhab Syafi’i. Madzhab ini hanya dalam 17 perkara berbeda pendapat dengan fiqh Ahlussunnah.

Madzhab Ibadhi, adalah madzhab yang paling dekat dengan madzhab Sunni dari sisi aqidah. Sumber utama yang mendasari fatwa-fatwanya adalah al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.

Karena itu, perbedaan para fuqaha dalam furu’ harus dipandang sebagai hal yang wajar. Sebab kesemuanya berasal dari satu agama dan kebenaran hanya satu. Kesemuanya kembali kepada wahyu ilahi. Tidak pernah terdengar berita adanya perang yang melibatkan pengikut satu madzhab dengan pengikut madzhab lain. Sebab perbedaan dalam ijtihad keilmuan dan fiqh hanya kecil. Seperti disabdakan oleh Nabi SAW, seorang faqih akan diberi pahala dalam berijtihad. Jika ijtihadnya benar, ia mendapat dua pahala dan jika salah ia memperoleh satu pahala. Karena itu tidak diperbolehkan untuk mengatakan hal selain ini tentang madzhab-madzhab yang lain. Kesemuanya adalah madzhab-madzhab Islam dan fiqh mereka harus dihormati.[im/mt/taghrib]