Beranda > News > Fatwa al-Marhum Syekh Ahmad Kaftaro, Mufti Besar Suriah

Fatwa al-Marhum Syekh Ahmad Kaftaro, Mufti Besar Suriah

Soal: Apakah madzhab-madzhab semisal Ja’fari, Zaidi, Ibadhi, termasuk masuk dalam kategori aliran Islam? Apa hukumnya menerima madzhab-madzhab seperti itu?

Jawab: Membatasi fiqh Islam hanya pada Al-Qur’an dan Sunnah berarti melecehkan agama Islam dan membuat kesan bahwa Islam adalah agama yang picik dengan pandangan yang sempit dan tak mampu menjawab tuntutan kehidupan umat manusia.

Tujuan dari pembentukan madzhab-madzhab fiqh secara praktiknya adalah untuk kemaslahatan dan kepentingan umat. Meski ada perbedaan dalam segi furu’ antara satu madzhab dengan yang lain, namun semuanya sepakat dalam masalah-maslah yang prinsipal.

Faktanya, perbedaan dalam fiqh ini justeru memberikan kemudahan kepada umat dan memberikan jalan keluar dari kesulitan. Karenanya, diperbolehkan mengikuti salah satu dari madzhab-madzhab Islam yang ada, meskipun berujung pada praktik memilih yang termudah, ketika seseorang dalam keadaan darurat, atau keperluan mendesak, atau lemah dan udzur-udzur lainnya, dan hal ini diperbolehkan dalam madzhab Maliki dan Hanafi. Sebagaimana halnya diperbolehkan untuk mengamalkan madzhab yang memberikan kemudahan paling besar kepada pengikutnya. Agama Allah itu mudah, tidak sulit. Allah swt berfirman:

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesusahan kalian.”

Madzhab Zaidi adalah salah satu madzhab utama dalam Islam. Apalagi kitab ulama besar Zaidi Imam Yahya bin Murtadha yang bernama kitab Al-Bahr Al-Zakhkhar Al-Jami’ li Madzahib Ulama’ al-Amshar, selain dapat disebut sebagai ensiklopedia fiqh komparatif juga tidak banyak perbedaannya dengan madzhab-madzhab Sunni. Perbedaannya hanya dalam masalah-masalah kecil semisal mengusap sepatu dalam berwudhu dan keharaman sembelihan non muslim.

Madzhab Imamiyah atau Ja’fari adalah madzhab yang paling dekat dengan madzhab Syafi’i. Madzhab ini hanya dalam 17 perkara berbeda pendapat dengan fiqh Ahlussunnah.

Madzhab Ibadhi, adalah madzhab yang paling dekat dengan madzhab Sunni dari sisi aqidah. Sumber utama yang mendasari fatwa-fatwanya adalah al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.

Karena itu, perbedaan para fuqaha dalam furu’ harus dipandang sebagai hal yang wajar. Sebab kesemuanya berasal dari satu agama dan kebenaran hanya satu. Kesemuanya kembali kepada wahyu ilahi. Tidak pernah terdengar berita adanya perang yang melibatkan pengikut satu madzhab dengan pengikut madzhab lain. Sebab perbedaan dalam ijtihad keilmuan dan fiqh hanya kecil. Seperti disabdakan oleh Nabi SAW, seorang faqih akan diberi pahala dalam berijtihad. Jika ijtihadnya benar, ia mendapat dua pahala dan jika salah ia memperoleh satu pahala. Karena itu tidak diperbolehkan untuk mengatakan hal selain ini tentang madzhab-madzhab yang lain. Kesemuanya adalah madzhab-madzhab Islam dan fiqh mereka harus dihormati.[im/mt/taghrib]

  1. Agustus 6, 2008 pukul 12:22 am

    Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad

    “Tujuan dari pembentukan madzhab-madzhab fiqh”

    Setuju mas, mungkin ada baiknya juga terdapat banyak madzhab, tapi yang sampai sekarang saya bingung, apakah madzhab itu terbentuk dengan sendirinya ataukah memang sengaja dibentuk ? Kitakan harus mengikuti kepada ajaran Rasulullah yang sesungguhnya, kayaknya memang kita dituntut “belajar” sampai akhir hayat ya mas…

  2. Agustus 6, 2008 pukul 8:21 am

    Sepanjang yang saya ketahui, Mazhab fiqih tidak sengaja terbentuk. Artinya bukan atas kehendak si ahli fiqihnya. Pengikutnyalah yang membuat mazhab sendiri dengan menokohkan ahli fiqih itu.

  3. Mahavatar Dhammaraja
    Agustus 6, 2008 pukul 10:37 am

    perbedaan itu adalah jalan untuk mengenal islam yang sesungguhnya.
    madzab tak terbentuk dengan sendirinya, melainkan terbentuk karena terbelah oleh pendapat.
    demikianlah.
    apa anda bisa memperjelas ini, jika ini salah?
    terima kasih.

  4. Agustus 6, 2008 pukul 11:23 am

    Perbedaan pendapat memang terjadi diantara para ulama ahli fiqih. Tetapi sepanjang yang saya ketahui, mereka tidak mensimbolikkan pendapat mereka dalam sebuah mazhab. Para pengikutnyalah yang kemudian mensimbolikkan itu dalam bentuk mazhab.

    itu sih pendapatku.

  5. Agustus 10, 2008 pukul 5:42 pm

    Thanks for sharing ya kang … jadi terbuka mata aq

  6. riyadi
    Februari 28, 2009 pukul 12:06 am

    biarkanlah perbedaan itu jadi rahmatallilngalamin,menyikapi perbedaan dewasa ini antar umat islam kami berpedoman jika seseorang masih mengakui Allah SWT sebagai tuhan yang ahad dan muhammad rasul akhir zaman maka haram hukumnya memerangi orang yang demikian,umat ini harus bersatu untuk kemajuan dan kebangkitan,kejayaan umat islam.

  7. dedy
    Juni 5, 2012 pukul 1:25 am

    izin share

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: