Ahmad Sarwat mulai lagi menunjukkan sikapnya terhadap Syi’ah. Kali ini ada salah seorang yang bertanya kepada Tuhan Ahmad Sarwat itu. Berikut pertanyaannya:

Ustadz yang saya hormati, kemarin malam saya menonton di salah satu televisi swasta tentang pro kontra pembubaran Ahmadiyah, alasan yang dikemukakan oleh pihak yang pro pembubaran sangat masuk akal, saya lantas kepikiran bagaimana dengan Syiah, bukankah ajaran Syiah juga melenceng dari ajaran Islam yang kita pahami?

Dalam hal ini, kenapa hanya Ahmadiyah yang dituntut pembubaran, sedangkan Syiah tidak? Mohon Ustadz dapat memberikan penjelasan, agar saya yang awam ini tidak bingung. Terima kasih

Wassalamualaikum wr. wb

Funexo
funexo@yahoo.com

Betul sekali mas atau mbak Funexo. Syi’ah itu melenceng dari ajaran Islam yang Ahmad Sarwat pahami. Tetapi apakah Syi’ah itu melenceng dari ajaran Islam sesungguhnya? Silakan tanya lagi ke Ahmad Sarwat, siapa tau beliau ini sudah berhubungan langsung sama Allah sehingga dia yakin betul mengatakan Syi’ah itu sesat.

Saya sempat berpikiran, seandainya saja eramuslim mau membuat dialog terbuka sunni syi’ah dengan pembicara dari pihak Ahlulsunnah adalah Ahmad Sarwat. Kita tunggu saja nyali dari Ahmad Sarwat untuk menunjukkan taringnya dalam dialog terbuka. Buatlah dialog itu, sehingga bisa lebih jelas lagi menunjukkan kesesatan Syi’ah kepada khalayak umum. Ya itu sih kalau mampu. Tapi saya yakin mampu lah, lulusan Timur Tengah gitu lho.

Tetapi satu hal yang menarik yang ingin saya sampaikan kepada Anda semua. Gaya penulisan jawaban dari Ahmad Sarwat ini berbeda dengan jawaban-jawabannya terdahulu. Kali ini, gaya penulisannya terkesan kasar dan to the point. Mungkin Ahmad Sarwat sudah geram dengan pergerakan Syi’ah yang mengancam eksistensinya di Eramuslim. Tapi ini sih asumsi saya, jadi jangan dimasukkan dalam hati.

Seperti biasanya, saya tidak akan berbusa-busa atau membuat jari-jari saya ini keriting dengan mengetikkan beberapa argumen untuk membantah jawaban dari Ahmad Sarwat ini. Saya hanya akan memberikan beberapa rujukan yang bisa Anda baca.

Kalau Ahmad Sarwat menyinggung Al-Azhar Mesir, saya pun berkeinginan menyinggung fatwa-fatwa Mufti Al-Azhar Mesir terkait dengan Syi’ah.

Silakan Anda baca disini. Jika Anda berkeinginan membaca pendapat beberapa ulama atau pemimpin pergerakan Islam yang lain, maka silakan baca artikel ini.

Petunjuk Jalan Lurus

Di dalam shalat yang sehari-hari kita lakukan, sebagai hamba Tuhan mengakui ketidakberdayaan di hadapan-Nya untuk mengetahuai secara pasti jalan manakah yang merupakan jalan lurus (kebenaran) dan jalan sesat (kebatilan). Pengakuan diri itu kita ucapkan ketika membaca surat Al-Fatihah ayat 6-7, Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Maka menurut hematku, kalau masih ada orang Islam yang merasa dirinya paling benar, dirinya paling berhak atas surga Tuhan, maka sebenarnya dia belum sepenuhnya menghayati makna shalat yang lima kali dalam sehari ia lakukan.

Di dalam Surat An-Nahl ayat 125, Tuhan lebih menegaskan lagi, Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dengan segala kerendahan hati, aku ingin mengatakan kepada seluruh umat Islam, kita ini adalah makluk yang nisbi. Pengetahuan kita terkadang itu pengetahuan yang nisbi pula. Sudah sepantasnya kita yang nisbi ini merendahkan hati untuk tidak menganggap diri kita paling benar dan paling shaleh diantara yang lain. Bukankah Iblis dilaknat Tuhan ketika Iblis merasa dirinya paling baik dibandingkan manusia. Satu perkataan iblis yang terkenal, ”Ana khairum minhu. Aku lebih baik dari dia.” Perkataan itulah yang mengantarkan iblis pada laknat Tuhan.

Terakhir untuk menutup tulisan ini, aku ingin menyampaikan bahwa dalam Al-Qur’an Tuhan telah memerintahkan umat Islam yang telah terpecah belah, seperti yang disabdakan Rasulullah, untuk bersatu dan tidak berpecah belah. Persatuan Islam, dalam hal ini Ahlulsunnah dan Syi’ah, adalah suatu keniscayaan karena tidak mungkin Allah memerintahkan kita melakukan sesuatu sedangkan kita tidak mampu melakukannya. Tuhan memerintahkan sesuatu sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.

Ambillah Hamas dan Hizbullah sebagai contoh. Keduanya menampilkan suatu keharmonisan dan kerjasama dalam melawan Zionis Israel. Ahlulsunnah yang diwakili oleh Hamas dan Syi’ah yang diwakili oleh Hizbullah berjuang melawan agresi militer Zionis Israel yang biadab.

Disaat Zionis Israel menghembuskan propaganda devide et impera, sekelompok umat Islam yang merasa dirinya paling benar dan paling shaleh juga ikut-ikutan menghembuskan nafas permusuhan dikalangan umat Islam. Mengapa sebagian dari kita malah senang melakukan sesuatu yang ujung-ujungnya menguntungkan pihak yang memusuhi Islam?

Baca juga!!!!!!!:

Kejahilan Berujung Pada Kontradiksi Tulisan Eramuslim