“Ada yang pernah gagal tapi kepingin lagi maju. No way. Silakan minggir. Pemimpin baru itu balita di bawah lima puluh tahun.”

Begitulah perkataan Tifatul Sembiring, Presiden PKS, yang diucapkannya pada saat berpidato di Mukernas PKS di Hotel Clarion, Makassar, Senin 21 Juli 2008. Dalam pidatonya tersebut, dia mengatakan bahwa Pemilu 2009 nanti adalah waktunya kaum muda untuk maju.

Megawati pun angkat bicara menanggapi pernyataan Tifatul Sembiring. Menurutnya, soal pemimpin muda yang berani, enerjik, dan siap mengambil risiko, jangan hanya diwacanakan. Dia juga menantang kaum muda untuk bersaing di dalam Pemilu 2009 yang akan datang.

Wacana kepemimpinan kaum muda mulai dihembuskan oleh sebagian kalangan yang sudah bosan, jika tidak dikatakan kecewa, dengan para calon presiden yang pada pemilu sebelumnya mencalonkan diri yang rata-rata sudah tidak muda lagi, secara umur tentunya.

Menurut mereka, kaum tua masih asyik mendendangkan lagu lama. Lagu lama yang merupakan warisan dari Orde Baru itu masih terasa begitu kental mewarnai kebijakan-kebijakan yang diambilnya. Padahal, masih menurut mereka, Indonesia ini membutuhkan pemimpim muda yang revolusioner. Ambillah contoh Soekarno dan Hatta, Hugo Chavez di Venezuela, dan Ahmadinejad di Iran.

Perdebatan seputar tua atau muda ini pun mulai memberikan aroma tersendiri menjelang pemilu 2009. Masing-masing kubu menghadirkan berbagai macam argumen untuk mendukung pendapat mereka.

Salah satu kecenderungan kaum tua adalah tidak terlalu suka dengan hal-hal baru yang akan menggeser posisi kebiasaan lama apalagi jika sudah menjadi budaya. Merekalah yang mendukung status quo. Untuk mereka yang puas dengan status quo, “gagasan baru” tidak ubahnya seperti halilintar di siang bolong. Daya kejutnya begitu membuat efek kerusakan yang luar biasa.

Tetapi banyak yang berpendapat bahwa kaum tua juga memiliki kecenderungan untuk bersikap hati-hati. Dalam mengambil keputusan, Kaum tua lebih banyak berpikir berdasarkan pengalamannya, sehingga kemungkinan resiko kegagalan sedikit banyaknya.

Berbeda halnya dengan kaum muda. Kaum muda cenderung antusias, progresif, kreatif, serta idealisme yang tinggi dan masih terjaga. Hanya saja, kaum muda juga sering diidentikkan dengan kelabilan emosional.

Kalau boleh saya berpendapat, permasalahan sebenarnya tidak terletak pada umur pemimpin. Tetapi terletak pada bagaimana seorang pemimpin itu harus bersikap.

Baik kepemimpinan tua maupun muda, sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihannya. Dengan bermodalkan pengalaman, kaum tua lebih memiliki prediksi tentang apa yang akan terjadi ketika ia mengeluarkan sebuah kebijakan. Tetapi kaum muda, dengan keprogresifitasan dan idealisme yang tinggi ia akan lebih berani menyuarakan sesuatu yang mereka anggap sebagai sebuah kebenaran.

Kalau kita mencoba melangkahkan kaki dengan pijakan Empirisme, banyak sekali contoh-contoh pemimpin ideal yang dapat dijadikan contoh. Ambillah Hugo Chaves dan Ahmadinejad yang masih muda. Kedua sosok tersebut saat ini tengah menjadi icon perjuangan bagi kaum muda.

Bagaimana dengan kepemimpinan kaum tua? Apakah ada contoh yang dianggap sebagai sosok ideal?

Dengan penuh keterpaksaan, lagi-lagi, saya ingin mengajak Anda untuk melihat sosok pemimpin negara Iran. Salah satu pemimpin yang namanya begitu harum ditengah masyarakat Iran adalah Ayatullah Khomeini. Jika kita menilai kaum muda dan kaum tua itu berdasarkan umur, maka Ayatullah Khomeini termasuk dalam kaum tua itu. Dengan ketuaannya, beliau mampu menggerakkan rakyat Iran untuk menggulirkan sebuah revolusi. Namun walaupun begitu, Ayatullah Khomeini sering menyatakan bahwa Revolusi yang sudah diraih oleh rakyat Iran adalah karena hasil perjuangan kaum muda. Senada dengan Ayatullah Khomeini, Ahmadinejad sering mengatakan bahwa yang dibutuhkan Iran bukanlah senjata nuklir tetapi para pemuda yang dengan semangat revolusionernya akan senantiasa menjadi bom bagi para penindas.

Alla kulli hal, berdasarkan pijakan epistemologi seperti diatas, kepemimpinan kaum muda ataupun kepemimpinan kaum tua bukanlah suatu persoalan pokok karena terbukti kedua tipe kepemimpinan itu sama-sama pernah memperoleh masa gemilangnya. Persoalan sesungguhnya adalah kepemimpinan orang yang matang dalam berpikir, berani dalam bertindak, teguh dalam pendirian, suci dalam niat. Mampukah Indonesia memiliki pemimpinan yang seperti itu?