Beranda > Nyante > Aku Benci Rokok dan Puntungnya

Aku Benci Rokok dan Puntungnya

Entah kenikmatan apa yang didapatkan oleh para perokok ketika merokok. Itulah pertanyaan yang dari dulu sampai sekarang belum bisa aku jawab.

Beberapa kali kutanyakan hal ini kepada beberapa kawan yang suka merokok, sebagian besar diantara mereka malah meminta aku untuk mencobanya langsung. Kita tidak akan tahu apa rasanya rokok, sebelum kita mencobanya langsung, begitu celetuk mereka.

Dengan sedikit tersenyum aku bilang bahwa itu pun sudah aku lakukan. Dulu ketika SMP, aku mencoba-coba merokok. Namun selama merokok, tak ada satu pun kenikmatan yang aku dapatkan dari merokok. Sebaliknya, uang jajanku menjadi cepat berkurang karena dipakai untuk membeli beberapa batang rokok.

Keadaan itu bertahan sampai beberapa bulan. Satu alasanku ketika itu adalah ingin mengikuti tingkah laku kawan-kawan yang juga merokok. Gak ngerokok, maka gak gaul. Itulah semboyan yang disebarkan kawan-kawanku.

Baru setelah sadar, ku tinggalkan begitu saja rokok yang sempat membuat diriku “miskin”.

Sampai sekarang aku heran, mengapa aku bisa begitu mudahnya berhenti merokok sedangkan orang lain mengatakan susah sekali. Banyak orang yang mengatakan mereka ingin berhenti merokok, tetapi untuk memenuhi keinginan itu rasanya sulit betul.

Aku pribadi semenjak kecil sudah alergi dengan puntung rokok. Ketika aku hendak BAB dan ternyata di WC ada puntung rokok, terkadang aku ndak jadi BAB. Jika aku ingin makan dan di meja makan ada puntung rokok, aku singkirkan puntung rokok yang ada di asbak itu.

Apakah ini yang lalu membuat aku mudah berhenti merokok? Apakah ini yang kemudian membuat diriku tidak mendapatkan kenikmatan merokok seperti yang sering orang-orang katakan?

Entahlah, yang pasti AKU BENCI ROKOK DAN PUNTUNGNYA.

Kategori:Nyante Tag:
  1. Agustus 14, 2008 pukul 4:49 pm

    Salam Revolusi, Mullah Yasser.

    Belakangan aku kembali tertarik menyusun amunisi baru perubahan sosial. Semacam bentuk baru revolusi. Aku menyebutnya, revolusi ala gue atau REVALAGUE. Semoga kita bisa menjadi rekanan yang baik.

    Awalnya, topik pentingnya adalah bukan pada sejauh mana kita memahami revolusi menurut semua orang, tapi revolusi yang kita desain sendiri.

    Hingga suatu saat, kita akan temukan banyak formulasi baru tentang Revalague. Sedikit masukan ada di blog-ku, meski aku masih setengah-setengah.

    Eniwei, intinya aku mulai tak nyaman dengan semua hal di sekitar kita. Perusahaan dan modal besar yang semakin zalim, meski tak semua. Cara pandang yang based on state. Atau setidaknya, mental kita yang ‘tak bertauhid’ dan tunduk di depan dominasi. Dominasi yang zalim tentunya.
    Semoga Allah Swt. meridhainya. Amin.

    Oya, alamat blogku di weblink becak salah. Makanya ngga bisa diakses. Thanks.

  2. Agustus 15, 2008 pukul 8:51 am

    Salam wa rahmah cendekiawan muslim Arif Giyanto,
    Aku rindu dengan ketawamu. Aku rindu dengan info-info bagus darimu. Aku rindu makan nasi tempe penyet. Dan FYI, warung tempat kita makan tempat penyet, sekarang dah pindah ndak tau kemana.

    Apakah formulasi revolusi itu akan mempengaruhi banyak orang atau mugkin akan mempengaruhi semua orang? sehingga nantinya revolusi ala gue itu sendiri jadi revolusi yang dipahami oleh semua orang?

  3. Agustus 15, 2008 pukul 6:42 pm

    Revolusi itu diksi marxisme. Bisa jadi tak banyak orang yang setuju. Sebab, terlalu pelik menjelaskan pemisahan yang sangat antara gerakan politik kaum Marxis, Sosialis, atau Komunis pada masyarakat. Mereka hanya tahu, gerakan kiri itu jahat. Padahal, Tan Malaka memang tak segaris dengan Musso dan PKI-nya. Sjahrir sama sekali bukan komplotan Aidit cs, juga Tan-Sukarni.

    Sebutlah itu apa, terserah. Bukan revolusi juga tak apa. Aku hanya butuh desain baru perubahan sosial yang menurutku, tak mungkin bisa dipisahkan dari sejarah konflik masa lalu Indonesia.

    Umumnya, revolusi dipahami dua tahap. Setidaknya, itu pendapat Lenin-Stalin. Pertama, borjuasi proletariat untuk demokratisasi. Kedua, sosialisme.

    Tapi menurut Trotsky, yang diamini Tan Malaka, Indonesia tak bisa masuk revolusi babak pertama, karena kaum borjuis di Indonesia kecil-kecil, tidak seperti Eropa yang memang dominan. Artinya, kaum proletarlah yang semestinya ambil kepemimpinan.

    Kelebihan marxisme adalah pada klasifikasi musuh yang jelas. Itu sebabnya, Khomeini tak segan menyebut Pergerakan di Iran 1979 sebagai revolusi Islam Iran.

    Aku tidak tertarik membenturkan kelas dalam pengertian penguasaan aset. Sebab, PKI tak pernah berhasil menjalankan strategi itu, baik dalam konteks state atau modal. Aku hanya berkeinginan membangun gerakan baru yang bisa menyelesaikan persoalan-persoalan keseharian dalam desain gerakan yang lebih sistematis. Persoalan yang aku maksud semisal, UMK Solo yang tak sampai 600-an. Terang itu tak cukup. Atau tentang kesempatan kerja yang semakin menipis, dengan menyisakan penghambaan pada modal yang semakin kental. Juga yang lain.

    Marxis meyakini realitaslah yang menentukan ide. Bukan sebaliknya. Aku tak tertarik berdebat tentang seberapa benar premis ini. Aku hanya berpikir bahwa keharusan kita untuk berpikir dan bergerak untuk menyelesaikan persoalan yang aku maksud di atas sudah memuncak, karena kenyataan di depan kita tak pernah sempat memberi orang pilihan.

    Aku berharap, suatu saat akan lahir insan pencipta yang tak melulu bersandar pada kekuasaan dan modal dalam pengertian formal. Sebab, mereka adalah kaum pengabdi. Bismillah, semoga kita lebih baik di depan Tuhan dari siapa pun yang masih tunduk di depan kekuasaan dan modal. Amin.

  4. Agustus 15, 2008 pukul 6:46 pm

    Allahumma shalli alaa Muhammad wa aali Muhammad

    duh, mas… mas ga termasuk yang mengusulkan fatwa rokok haram oleh MUI kan?
    ulama2 banyak yang ngrokok lho mas… bukan buat gaul2an… ga tau buat apaan.. hehehe
    tapi boleh siy klu rokok ditiadakan, tentunya klu pemerintah sudah lebih bijak untuk gulung tikar ahmadiyah paling ga di indonesia ini.

  5. Agustus 16, 2008 pukul 12:55 am

    saya bukan termasuk yang mengusulkan fatwar rokok haram oleh MUI. Karena sayyid Husain Fadlullah sendiri sudah memfatwakan haram hukumnya rokok itu. Jadi ndak perlu MUI.

    saya pikir ndak ada hubungannya antara Ahmadiyah dan Rokok.

  6. Agustus 16, 2008 pukul 2:54 am

    Fatwa Haram ? Hihihi siapa yang denger ? Narkoba aja yang ganjaranya bisa sampe hukuman mati orang nggak takut !😆

    ada beberapa masalah disini yang patut di perhatikan.

    1. Industri rokok lokal, merupakan salah satu tiang penopang perekonomian nasional dan nggak perlu muluk2, dengan kondisi ekonomi yang memperihatinkan rasanya setiap elemen pendukung ekonomi perlu diperhatikan.

    2.Rasanya fatwa haram hanya memiliki sedikit impact di masyarakat. Menaikan harga rokok pun bukan solusi yang dirasa jitu.

    3.Pembatasan usia perokok seperti di luar negri ? Yah … u know lah ke efektifanya …

    Penyuluhan sebagai kunci …

    Nah ini dia, lagi lagi di butuhkan pemahaman pada masyarakat mengenai effek negatif bagi perokok. – sehingga, saia rasa butuh keajaiban untuk merubah perokok Aktif menjadi perokok pasif alias stop total,
    akan tetapi menjadi sangat menarik bila perokok aktif berubah menjadi perokok occasionally.

    Kampanye anti rokok di eropa barat saja masih gagal total, padahal dari iklan hingga masyarakat yang sudah Hi-ed seharusnya memberi pemahaman lebih mengenai bahaya rokok. tetapi ternyata sulit. Apalagi MUI yang rasanya sudah seperti burung beo dimana omonganya sudah tidak lagi di denger oleh masyarakat…

    Make The Best Of IT …

    Penghasilan pabrik/produsen rokok sangat, besar, justru bagai mana bila pemerintah setidaknya menjadikan mereka sebagai sebuah asset. Katakan bila pajak rokok dinaikan 10% saja. dengan kenaikan tersebut artinya setiap bungkus akan naik sekitar 1000 rupiah. dari situ setidaknya bisa dimanfaatkan membangun industri kecil, menengah maupun pembangunan infra struktur sehingga yah minimal masih ada benefit yang bisa di peroleh dari Industri rokok bagi kalangan kecil maupun non perokok

  7. Agustus 16, 2008 pukul 2:57 am

    Solusi rokok tidak semudah MUI mengeluarkan fatwa haram. Di depan akan ada banyak akibat yang akan ditimbulkan dari fatwa haram rokok tersebut.

  8. Agustus 26, 2008 pukul 5:35 am

    memang merokok itu meyebabkan kerugian kedua belah pihak…yang merokok dan yang menghirup asap rokok itu….tetapi kalau rokok di stop…yang rugi indonesia juga…katanya nih…indonesia punya tembakau yang maknyos punya …heuheueheu….

  9. ceenta
    September 1, 2008 pukul 7:45 am

    se7 bgt dah, buang2 duit aje. bisa ngurangi kecantikan lagi kalo dekat2 asap rokok. wuih paling benci kalo dekat2 ma perokok, pha lagi kalo di t4 umum.

  10. September 1, 2008 pukul 8:36 am

    mantab tuh moga aku ketularan kamu benci rokok dan putung bahkan bungkusnya sekalian

  11. ABD.WAHID BUKHORI
    September 5, 2008 pukul 1:21 pm

    KAYAKNYA SDH TERWAKILI SDR MIVTAH.PRL SY TAMBAHKAN KITA HRS BENCI PEMBUATNYA SEKALIAN

  12. September 7, 2008 pukul 7:29 am

    Gud job, Sir…
    Ntah mengapa aku senang sekali membaca posting-an mengenai ini, apalagi buat mereka yg membenci rokok.
    Memang benar koq, rokok harus dibenci, dan perokoknya juga semestinya dibegituin..
    Bukan ingin men-judge tapi memang itulah kenyataannya.

    Orang yg merokok sebenarnya tdk mengasihi dirinya sendiri apalagi orang lain, apalagi Tuhan.
    Bukankah begitu? Dia tdk menghargai tubuh yg diberikan oleh Allah…

    Namun, mungkin kita menanyakan kalau begitu mengapa Allah menciptakan tembakau?
    Sebenarnya siapapun bisa menjawabnya..😉

  13. toniadq
    September 7, 2008 pukul 11:42 am

    Saya juga membenci rokok. Tapi saya tidak setuju dengan perkataan “Solusi rokok tidak semudah MUI mengeluarkan fatwa haram. Di depan akan ada banyak akibat yang akan ditimbulkan dari fatwa haram rokok tersebut”.
    Saya yakin fatwa itu tidak dikeluarkan dengan mudah. banyak kajian dan waktu diperlukan. Juga diskusi yang panjang.
    Dan MUI benar telah mengeluarkan fatwa tersebut.
    Hal ini bisa di sandarkan dengan dalil haramnya babi, darah, bangkai, bunga bank, judi dan zina dan lain2?.
    Akibat yang ditimbulkan bukan tanggung jawab MUI, tetapi tanggung jawab perorangan. Bukankah sudah banyak orang tahu haramnya hal2 tersebut? Tapi kenapa masih ada yang melakukan?
    Itulah tanggung jawab perorangan.
    Wallahu’alam

  14. September 7, 2008 pukul 3:17 pm

    Maksud dari perkataan saya itu adalah, solusi rokok tidak dianggap mudah dengan hanya mengeluarkan fatwa haram saja. Karena dari fatwa tersebut, akan muncul banyak masalah.

    Apa betul fatwa tersebut dikeluarkan tidak dengan mudah dan banyak kajian dan waktu yang diperlukan serta diskusi yang panjang? Tahu darimana?

  15. o"rais"o
    September 13, 2008 pukul 5:14 am

    yang saya tau dari orang MUI sendiri lewat berita untuk mengeluarkan Fatwa itu berdasarkan pengkajian yang dalam dan menyeluruh…

    dari tinjauan medis: nikotin( salah satu racun dari ratusan racun yang terkandung di dalam rokok yang terbesar jumlahnya selain “tar”) membuat perlukaan di pembuluh darah koroner dan pengerasaan pada pembuluh darah tersebut(pembuluh darah Jantung)..sehingga memunculkan penyakit yang di sebut arteriosklerosis dan aterosklerosis….sehingga orang tersebut punya penyakit jantung koroner…yang intervensi invasiv bisa dengan pemasangan balon atau operasi bypass (memindahkan pembuluh darah di paha ke jantung untuk men short cut pembuluh darah yang tersumbat) dan biayanya kurang lebih 300 juta…sekali pemasangan balon kurang lebih 30-40 juta tergantung kualitas balonnya…..kalo orang punya asuransi bisa ada kurangnya….tapi klo orang miskin????

    trus juga bisa menjadi faktor pemicu Kanker Paru2…dan penyakit ini yang banyak di derita oleh para perokok….selain “kantong kering”.

    Asap rokok yang dihisap oleh orang sekitar 2 kali lipat lebih berbahaya di banding dengan yang dihisap…..Dzalim Khan?

    makanya tidak aneh klo di indonesia klo ada dalam keluarga perokok…maka hampir 50% bayi di keluarga tersebut mengidap penyakit gangguan paru2….( maaf saya lupa badan penyurveinya)
    dzalim juga khan?.

    pembatasan umur untuk merokok itu salah satu solusi selain penyuluhan tentang banyak mudharatnya rokok dibanding maslahatnya….

    karena orang perokok itu…seperti ngisap racun perlahan…padahal kantung udara di paru2nya sudah pecah….dan bisa menyebabkan penyakit emphysema (udara yang terjebak diluar organ paru2)

    jadi pointnya Fatwa itu bisa mengurangi masalah….karena kesehatan itu penting

  16. September 13, 2008 pukul 5:30 am

    hehehehe…kalau masalah dampak terhadap kesehatan sih aku juga tahu.

    seingatku sih, MUI mengeluarkan fatwa haram rokok itu setelah ada usulan dari Kak Seto. Begitu sih yang dilaporkan dalam pemberitaan di media-media internet.

  17. o"rais"o
    September 19, 2008 pukul 12:55 am

    hehehehe…syukur dah klo udah tau……
    tapi wong di MUI asal……setiap ada usul kemudian langsung di keluarkan fatwa….
    saya kira kita semua setuju klo setiap fatwa yang di keluarkan pasti ada prosesnya……..
    jadi klo di pemberitaan hanya menyebutkan gara2 seorang kak seto mengusulkan tiba22222 dan ujug2222 keluar fatwa…..mungkin itu pandangan yang kurang bijak…

  18. September 19, 2008 pukul 8:15 am

    Hehehe…retoris. Semua itu pasti ada prosesnya. Komentar ku ini pun hasil dari proses yang ada.

    Entah Anda akan menganggap bijak atau tidak, karena memang pada kenyataannya, MUI mengeluarkan fatwa tersebut setelah ada desakan dari Kak seto.

  19. Oktober 18, 2008 pukul 3:56 pm

    Hamdillah, sampeyan hanya benci rokok dan puntungnya. Tetapi tidak ada perokok yang mencintai roko apalagi puntungnya. Jika sampai cinta nanti akan dibangkitkan bersama rokok. Untuk merokok butuh api. DI syurga kagak ade api. Refot lah, masak harus nyulut rokok di neraka. Gara-gara mencintai rokok bisa masuk neraka.

    Buat yang argumen menyebabkan kemiskinan harap belajar Ilmu Ekonomi khususnya mengenai konsep Paradox of Thrive [ejaannya lupa]. Semakin orang secara masal berhemat maka ekonomi akan mengalami kemunduran…!

    Studi manfaat dan mudharat rokok hanya pernah dilakukan sebatas pada aspek kesehatan semata. Walaupun banyak perokok yang mati tua. Dan yang superhiegienis mati muda. Aneh!

    I hate cigarrete and “cigarete trash alias puntung”. Juga benci jika orang-orang pada merokok di bus. Juga benci jika orang-orang pada merokok, aku jadi pengen tetapi Djisamsu Premium-ku habis sedangkan orang-orang merokok merek lain. Mau minta sapa coba!

    Seperti fatwa Alm. Prof. Dr. Sayyid Fuad Hassan Al…..: “If u smoke don’t stop, if u don’t smoke: DON’T START” walau akhirnya beliau berhenti karena cucunya tidak mau bermain bersamanya karena: “Eyang bau rokok!”.

    Semoga Pemerintah segera menutup pabrik-pabrik rokok. Tembakau olahan diekspor saja ke negeri yang menghalalkannya. Maka mau tidak mau akupun akan berhenti merokok karena barangnya kagak ade lagi. Ciptakan sumber ekonomi baru itu solusinya kalau mau menghentikan rokok. Atau mas ressay yang tidak merokok karena fatwa Sayyid Hasan. Sebelumnya merokok gak mas?

    Kalau boleh, kirimkan ke saya BUKTI bahwa Sayyid Hasan mengharamkan merokok. Akan saya forward ke teman yang bertaqlid padanya. Hehehe… Kecuali kalau rokoknya ganti Djisamsu Premium. Khan bisa minta. Kalau fatwa gak tahu khan mash boleh dia merokok. Bisa pindah marja’ karena rokok itu.
    🙂

  20. Oktober 18, 2008 pukul 3:57 pm

    Tambahan dikit! MUI kagak usah didengerin! Kata Gusdur ahli fikihnya cuman dua gelintir doang!

  21. Oktober 18, 2008 pukul 4:09 pm

    Sebelumnya saya merokok, tepatnya ketika SMP dahulu. Saya berhenti merokok karena memang gak betah dengan asap rokok dan saya tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari rokok.

    Pikiranku dulu, kalau aku ngerokok, maka bisa ikutan gaul. Tetapi tetap saja, gak bisa gaul.

    Maksudnya Sayyid Hasan siapa?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: