Beranda > Tulisan Orang > Mengenang Muhammad Imaduddin

Mengenang Muhammad Imaduddin

Oleh :AMICH ALHUMAMI

Tahun 2008 mungkin bisa disebut sebagai tahun belasungkawa bagi Indonesia. Beberapa putra terbaik bangsa berpulang ke haribaan Sang Pencipta.

Khusus bagi kalangan aktivis gerakan Islam, duka mendalam terasa amat menyesakkan dada karena satu demi satu tokoh-tokoh pentingnya wafat. Setelah Prof Nurcholish Madjid (20/8/2005), Prof Deliar Noer (18/6/2008), kini Dr Muhammad Imaduddin Abdulrahim menyusul wafat pada hari Sabtu (2/8) karena penyakit stroke yang sudah cukup lama dideritanya.

Bagi kalangan aktivis gerakan Islam dan intelektual Muslim, kepergian Bang Imad panggilan akrab sang cendekiawan jelas kehilangan besar. Dr Imaduddin salah satu tokoh utama yang mewakili generasi baru intelektual Muslim yang muncul sejak dekade 1970-an, suatu lapisan kelompok terpelajar yang di kemudian hari memberi kontribusi besar bagi terbentuknya struktur baru masyarakat Muslim Indonesia, sekaligus membawa pengaruh signifikan terhadap dinamika sosial-politik di pentas nasional.

Lahir pada 21 April 1931 di Langkat, Sumatra Utara, dari keluarga terpelajar dan terpandang, ayah seorang pendidik dan hakim agama lulusan Universitas Al-Azhar dan ibu keturunan bangsawan kesultanan Riau, Dr Imaduddin sejak muda sudah memiliki bakat cemerlang dan mempunyai orientasi kuat pada aktivisme dan gerakan Islam. Kecenderungan ini tentu lantaran pengaruh sang ayah yang menjadi salah satu pemimpin teras Masjumi pada zaman itu.

Sebagai anggota keluarga aristokrasi Melayu, Imaduddin punya social privilege untuk menempuh pendidikan di sekolah Belanda, Hollandsch Inlandische School (HIS). Ketika masih di sekolah menengah, dia menjadi anggota tentara pelajar Muslim, Hizbullah, yang bergerak di masa perjuangan kemerdekaan. Setelah menamatkan pendidikan menengah, dia memendam cita-cita besar melanjutkan pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendalami teknik elektro setelah terkesan pidato Bung Hatta mengenai pentingnya bidang ilmu tersebut bagi bangsa Indonesia di masa depan.

Di kampus ITB bakat cemerlang dan orientasi aktivisme Imaduddin menemukan lahan subur untuk berkembang. Dia sosok intelektual Muslim berkarakter kuat dan berintegritas tinggi yang memiliki komitmen besar dalam perjuangan Islam yang uniknya justru ditempuh melalui perguruan tinggi sekuler. Bahkan, proses pembentukan dan pengasahan talenta intelektual yang kemudian menjadikan seorang Imaduddin sebagai cendekiawan Muslim terpandang justru melalui sistem pendidikan modern-sekuler di Barat, ketika melanjutkan sekolah jenjang master (MSc) dan doktor (PhD) di Iowa State University, Amerika.

Keterlibatan Imaduddin dalam gerakan Islam berpusat di dua tempat, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Masjid Salman-ITB. Di HMI, dia pernah memimpin Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) dan melakukan pendidikan kader dakwah bagi mubaligh-mubaligh muda, yang direkrut dari kalangan mahasiswa Islam. Di bawah kepemimpinan Imaduddin Abdulrahim, LDMI berkembang dan sangat populer di kalangan aktivis HMI, bahkan menyaingi popularitas PB-HMI yang menjadi induk LDMI. Di Masjid Salman-ITB, dia terlibat sejak perintisan, kepanitiaan pembangunan, sampai pengelolaan kegiatan masjid, dan menjadi wakil ketua takmir masjid.

Setelah tak lagi menjabat pimpinan LDMI, dia meneruskan program pelatihan dakwah melalui Masjid Salman-ITB yang mengundang minat besar aktivis gerakan Islam yang bukan semata unsur HMI, tetapi juga mahasiswa Islam secara umum di berbagai perguruan tinggi di Bandung yang kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Dia merancang secara khusus program pelatihan mubaligh untuk melahirkan kader-kader dakwah.

Semula program ini diberi nama Latihan Kader Dakwah (LKD), kemudian berubah Latihan Mujahid Dakwah (LMD), yang dimaksudkan sebagai kawah candradimuka untuk mendidik dan melatih calon-calon mujahid dalam perjuangan Islam. Ketika sentimen negatif masih kuat terhadap Islam, gerakan Islam, dan politik Islam antara dekade 1970-an dan 1980-an, kegiatan LKD-LMD yang dibina Imaduddin mengundang kecurigaan penguasa rezim Orde Baru, terutama kalangan militer yang secara nyata menunjukkan sikap anti-Islam politik.

Untuk menghindari tekanan politik, Imaduddin mengubah nama menjadi Studi Islam Intensif (SII), selain untuk memperluas cakupan program dan kegiatan yang tidak lagi terbatas pada dakwah, tetapi meliputi pemahaman keislaman dalam konteks luas. Dalam proses pelatihan LKD-LMD-SII, tiga hal penting yang selalu ditekankan: (1) pengetahuan dasar tentang Islam, (2) pananaman jiwa perjuangan dalam gerakan Islam, dan (3) komitmen terhadap pembangunan umat Islam. Mengingat pelatihan ini untuk melahirkan tokoh pendakwah dan mujahid Islam, rekrutmen kader dakwah dilakukan secara ketat melalui seleksi khusus dengan mempertimbangkan dua hal penting: (1) prestasi akademis yang mencerminkan daya intelektual dan (2) bakat kepemimpinan yang tinggi.

Kedua hal itu mutlak diperlukan karena para kader dakwah akan menjadi pelopor perjuangan Islam. Dia mengadaptasi model pelatihan kader dakwah dari organisasi Ikhwanul Muslimin pimpinan Hassan Al-Banna (Mesir) dan Jami’at-i-Islam pimpinan Abul A’la Maududi (Pakistan). Model pelatihan kader dakwah yang dikembangkan Imaduddin bukan saja mengundang minat aktivis mahasiswa Islam Indonesia, melainkan juga tokoh Muslim Malaysia. Terkesan oleh ceramah Imaduddin di Masjid Salman-ITB dan terpikat oleh model pendidikan dakwah LKD-LMD, seorang pejabat tinggi Pemerintah Malaysia secara khusus mengudangnya untuk melakukan pelatihan dakwah serupa, yang mula-mula berbasis di University Technology of Malaysia dan kemudian menyebar di berbagai perguruan tinggi besar seantero negeri.

Di antara banyak kader militan yang lahir adalah Anwar Ibarahim, yang di kemudian hari menjadi tokoh penting dalam panggung politik Malaysia, dengan karier politik cemerlang sampai terpilih menjadi timbalan perdana menteri. Terinspirasi oleh organisasi HMI melalui figur prominennya, Imaduddin Abdulrahim, aktivis mahasiswa Islam Malaysia merintis pembentukan organisasi Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) pada 1972, yang menandai kemunculan Islamic revivalism di negeri jiran dan menjadi jembatan-emas jalinan persahabatan antara tokoh-tokoh gerakan Islam Indonesia-Malaysia.

Ketokohan Dr Imaduddin Abdulrahim juga tampak sangat menonjol di kalangan intelektual Muslim seperti terlihat dalam proses pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Desember 1991. Kepeloporan Imaduddin ini mewakili aspirasi politik umat Islam ketika kelompok intelektual Muslim meningkat secara kuantitatif. Pertumbuhan pesat intelektual Muslim telah membentuk struktur piramida baru dalam strata sosial, yang mencerminkan lapisan masyarakat terpelajar Muslim dalam jumlah sangat besar. Dalam imajinasi Dr Imaduddin Abdulrahim, melalui ICMI diharapkan akan lahir pemimpin Islam dari kalangan intelektual yang berkomitmen tinggi dalam memperjuangkan aspirasi umat Islam.

Pengarang Inggris peraih hadiah Nobel Sastra, Vadiadhar Surajprasad Naipaul, ketika merekam dinamika gerakan Islam di Indonesia melukiskan pemimpin Islam sejati dalam imajinasi Imaduddin sebagai sosok pemimpin who lived according to the Quran, …who could stand in for the Prophet, …who knew the Prophet’s deeds so well that he would order affairs as the Prophet himself might have ordered them.” (lihat Among the Believers: An Islamic Journey, New York-Knopf, 1981).

Peneliti Sosial Department of Social Anthropology, University of Sussex, United Kingdom.

Dimuat di harian Republika, 5 Agustus 2008

  1. Agustus 17, 2008 pukul 4:21 am

    Jadi malu kan kalau kader-kader HMI sekarang justru risih dengan gerakan mahasiswa setelahnya, seperti KAMMI dan Gema Pembebasan. Mungkin, kader-kader HMI kini kesulitan mengendapkan semua pikir Bang Imad dalam desain gerakan yang semakin dinamis.

    Bahasa becandanya, “Emang dah ngga bisa beroposisi? Secara HMI kan paling lengkap modal epistemologinya. Secara gitu loh!!”

  2. Agustus 17, 2008 pukul 4:42 am

    HMI pun harus mampu menjawab kebutuhan mahasiswa. Aku pikir setiap zaman memiliki kebutuhannya masing-masing.

  3. Agustus 17, 2008 pukul 5:46 pm

    Assalamu ‘alaikum ….🙂
    sekedar mampir silaturrahim …
    mampir juga yah …

  4. yulhendri Ibrahim
    September 4, 2008 pukul 9:53 am

    yang saya tahu tentang Nurcholis majid adalah dia mengatakan semua agama itu sama, Allah itu seperti sumbu roda pedati bisa dicapai dari semua arah, artinya semua agama akan masuk sorga, anggapan ini dapat membatalkan keislaman orang yang mengimaninya yatitu tidak mengkafirkan orang kafir dan dia mengawinkan anaknya dengan yahudi amerika, saran sama anak muda mahasiswa dll hati hatilah dalam belajar dunia ini luas dan banyak ilmu dan pemahaman yang menyimpang, jangan asal semangat berdebat aja atau posting komentar tanpa ilmu, bila ahli ilmu (bukan saya) melihat tulisan tulisan diblog ini mereka akan sedih, sesedih sedihnya melihat kejahilan generasi kita, maaf atas pemakaian kata atau apa saja yang terlihat keras, saya mengatakan yang saya ketahui demi Allah hanya karena kecintaan saya yang tulus pada anda anda semua, sungguh demi Allah

  5. September 4, 2008 pukul 9:57 am

    Dimana Almarhum Cak Nur mengatakan bahwa semua agama itu sama?

  6. September 4, 2008 pukul 11:46 am

    Blog Retorika Mau Di Private, lebih terarah … jadi Visit Ke Sini yacH!

    http://sekulerliberal.wordpress.com/

    Wassalam

  7. na
    Oktober 4, 2008 pukul 2:28 pm

    Innalillahi wa innailaihi rojiun, selamat jalan Bang Imad, semoga Allah SWT menerima amal ibadah Bang Imad…. sedih juga euy!!

  8. eru
    Oktober 23, 2008 pukul 12:52 pm

    Selamat jalan kakanda………
    aku baca biografi belia (belum selesai seeh) tapi mampu memompa semangat aktivisku yang hampir layu. memang beliau tipikal aktivis muslim sejati, pembaharu dan revolusioner.

  9. Oktober 23, 2008 pukul 6:07 pm

    Model perjuangan dan dakwah boleh berbeda dengan beliau. Tetapi setidaknya, contohnya semangat beliau dalam berdakwah dan berjuang.

  10. Sunarya
    Maret 24, 2009 pukul 10:12 am

    Cak Nur maupun Bang Imad keduanya banyak mengadopsi ajaran Ibnu Arabi (Al Futuhat Almakaiyah) , hanya saja pengeutaraan secara lisan dan tulisannya yang berbeda. Yang diajarkan Cak Nur bahwasanya kita jangan meintervensi terhadap pemahaman atau aqidah orang lain karena itu adalah wilayah Tuhan bukan wilayah kita. Wilayah kita adalah merealisasikan ajaran Islam sebagai ajaran yang Rachmatan LilAllamin. Rasul pernah ditanya oleh sahabat apakah inti ajaran Islam itu. Beliau menjawab :” Islam adalah achlaq budi pekerti yang baik. Sahabat bertanya lagi achlaq yang baik itu yang bagaimana. Beliau menjawab yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Bahkan Hasan AlBanna seorang tokoh Al Ichwan yang pernah dipenjarakan oleh pemerintah mesir, karena ingin mendirikan negara Islam, menulis dalam suatu bukunya bahwa Eddy farady adalah lebih Islam dari padanya, karena betapa tiap hari, jam, menit dan detik Eddy Farady bersilahturachim dengan seluruh manusia hingga sekarang dengan penemuan listriknya. Banyak tokoh Al Ichwan dan aliran keras lainnya kecewa terhadap tulisan Hasan AlBanna tsb yang mensinyalir bawasanya Hasan AlBana telah murtad dan dipengaruhi Amerika, tidak mungkin Eddy Farady adalah seorang Islam dia itukan seorang kafir . Beliau menjawab bahwasnya dia tetap seperti dahulu aqidah Imannya namun paragdigma pemahaman Islamnya yang telah berubah, Dia mengatakan kita jangan masuk kiwilayah Tuhan untuk mengkafirkan seseoarang, wilayah kita adalah mengadopsi dan meneruskan semangat Eddy Farady dalam penemuan2 lainnya untuk kemashahalatan manusia dan alam semesta. Juga dalam tulisan dan ceramah Bang Imad bahwasanya sewaktu beliau kuliah di Amerika beliau takjub banyak menemuka orang Islam namun sedikit menemukan masjid. Pulang ke Indonesia beliau banyak menemukan masjid namun sedikit menemukan orang Islam.

  11. Juli 21, 2009 pukul 8:16 am

    Asslamu….almrh. haruslah menjadi barometer bagi perjuangan kader2 HMI

  12. Juli 21, 2009 pukul 9:43 am

    Sepakat banget.

  13. Dody
    Maret 1, 2010 pukul 3:14 am

    Melihat sejarah para kader terbaik HMI adalah sebuah motivasi untuk meneruskannya.
    Namun realitanya kader HMI sekarang lebih berorientasi pada politik. tidak ada yang salah, yang kurang benar justru pada saat rekruitmennya yang hanya melihat potensi akademiknya dan “siapa yang mau” bergabung. hal ini menjadi faktor lahirnya kader2 pemimpin masa depan yang hanya pandai ngomong, kosong nilai perjuangan apalagi nilai2 Islam, akan lebih jauh lagi bernafaskan Islam. Indikatornya PTKP lebih dipilih dan lebih populer ketimbang LDMI.
    Maka tidak salah kalau kemudian kekosongan ini diisi oleh OMEK lain, seperti KAMMI misalnya. Oleh karena itu harus ada Imaduddin2 untuk meneruskan perjuangan dakwah untuk kader2 HMI masa depan. HMI bukan tempat mencetak kader2 yang kosong nilai, kosong ruh perjuangan, semoga. YAKUSA!!!

    • Maret 1, 2010 pukul 4:15 am

      Melihat sejarah para kader terbaik HMI adalah sebuah motivasi untuk meneruskannya.

      Betul sekali…tapi betapa banyak kader HMI yang melihat senior2 terbaiknya hanya sebagai simmbol belaka.

      Namun realitanya kader HMI sekarang lebih berorientasi pada politik. tidak ada yang salah, yang kurang benar justru pada saat rekruitmennya yang hanya melihat potensi akademiknya dan “siapa yang mau” bergabung. hal ini menjadi faktor lahirnya kader2 pemimpin masa depan yang hanya pandai ngomong, kosong nilai perjuangan apalagi nilai2 Islam, akan lebih jauh lagi bernafaskan Islam.

      Kita harus mampu mengklasifikasikan calon kader. Bukankah ada pos-posnya sendiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya?

      Indikatornya PTKP lebih dipilih dan lebih populer ketimbang LDMI.
      Maka tidak salah kalau kemudian kekosongan ini diisi oleh OMEK lain, seperti KAMMI misalnya.

      LDMI harus dihidupkan lagi…

      Oleh karena itu harus ada Imaduddin2 untuk meneruskan perjuangan dakwah untuk kader2 HMI masa depan. HMI bukan tempat mencetak kader2 yang kosong nilai, kosong ruh perjuangan, semoga. YAKUSA!!!

      Aku berharap, mas adalah salah satu orang yang akan menjadi imaduddin2 jaman ini.

  14. Avicena Ibnu Sina
    Juli 23, 2010 pukul 5:53 pm

    Salamunakaykuum …🙂

    Saya ingin sekali memperoleh E.book ( PDF ) karya bang Imad Alm…yaitu :
    Kuliah Tauhid, Islam: Sistem Nilai Terpadu, dan Kebangkitan Umat: Membangun Wacana Islam.

    Terima Kasih infonya ya…Wassalam..🙂

  15. Januari 30, 2012 pukul 8:47 am

    sebenarnya kalau melihat konteks imaduddin ini lebih tepat ke KAMMI….HMI sudah jauh dari khittah awalnya….dalam masyarakat melayu yang asal ustad imaduddin ini telah jelas budaya..politik..semua unsur kehidupan tetap bertumpu kepada islam…..kalau dia berketurunan dari kesultanan siak,,maka beliau merupakan ketrunan ahlil bait..keturunan quraish……

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: