Beranda > Tanggapan, Tulisanku > Orang yang Mencaci dan Mengkafirkan Sahabat Nabi adalah Kafir?

Orang yang Mencaci dan Mengkafirkan Sahabat Nabi adalah Kafir?

Ada begitu banyak orang yang sering kali melemparkan suatu tuduhan kepada orang lain, namun tanpa dia sadari, dirinya sendiripun termasuk dalam tuduhan tersebut.

Misalnya, seorang mahasiswa yang melapor kepada dosen pengawas ujian bahwa si A itu menyontek. Namun, tanpa dia sadari (tapi saya yakin dia sadar sih), ternyata dirinya pun menyontek.

Hal ini juga terjadi pada kehidupan keberagamaan. Salah satunya mungkin bisa kita jadikan pelajaran bersama, yaitu jawaban dari Ahmad Sarwat ketika menjawab pertanyaan yang dilayangkan kepadanya. Jawaban tersebut bisa anda baca disini.

Syiah sering kali dituduh sebagai pihak yang mencaci sahabat Nabi bahkan dituduh sampai mengkafirkan sahabat Nabi. Sudah berpuluh-puluh website yang membahas persoalan ini. Sudah berderet situs yang melemparkan tuduhan tersebut kepada Syiah. Tuduhan yang sering kali dilemparkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya Ahlulsunnah. Tetapi apakah itu benar?

Ahmad Sarwat mengatakan bahwa syiah yang masih menghormati pada shahabat khulafaurrasyidin itu jelas masih muslim. Kita tidak mungkin mengatakan mereka kafir begitu saja. Tetapi syiah yang mengkafirkan para khulafaurrasyidin itu, atau bahkan mencaci maki mereka sambil menambahi kata-kata laknatullahi ‘alaihim setiap menyebut nama Abu Bakar, Umar, Utsman dan Aisyah, jelas-jelas syiah yang 100% kafir, bukan Islam dan musuh umat Islam sedunia.

Dari sana disimpulkan bahwa siapa saja yang mencaci maki Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah adalah orang yang 100% kafir. Muncullah pertanyaan dalam benak saya, apa yang menjadi dasar pernyataan beliau itu?

Ternyata pada jawabannya tersebut beliau menyampaikan argumen yang melandasi jawaban tersebut. Bahwa hal ini sejak awal masa Islam telah disepakati oleh para ulama, meski mereka tidak secara ekplisit menyebut syiah sebagai pelakunya. Misalnya, Imam Malik berkata: “Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam.”

Penulis tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Quran, Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Sungguh ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya pun benar. Siapa pun yang menghina seseorang Shahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin.”

Jadi, orang yang mencaci sahabat Nabi itu adalah orang kafir memiliki dasar argumen dari pernyataan beberapa ulama. Muncul pertanyaan lagi. Lalu apa yang menjadi dasar bagi para ulama itu untuk mengeluarkan pernyataan bahwa orang yang mencaci sahabat Nabi itu kafir? Tetapi nampaknya Ahmad Sarwat tidak mencantumkan dalam jawabannya tersebut. Mungkin bisa ada yang membantu Ahmad Sarwat untuk melengkapi jawabannya?

Ambillah kita menyepakati pendapat para ulama itu bahwa orang yang mencaci sahabat Nabi adalah orang yang kafir, telah keluar dari agama Islam.

Lalu bagaimana dengan beberapa riwayat yang sampai ke tangan kita bahwa diantara sahabat Nabi sendiri terjadi, bukan hanya caci maki, tetapi sampai pada pertikaian dan peperangan yang tentunya menelan korban jiwa?

Sebut saja pertikaian yang terjadi di Saqifah saat perebutan kekuasaan kekhalifahan, padahal saat itu jenazah Nabi belum sempat dikuburkan; perang jamal antara Imam Ali dengan pasukan Aisyah, padahal Nabi sudah melarang istri-istrinya untuk keluar rumah; perang siffin antara Imam Ali dengan Muawiyah.

Jika kita konsisten dengan pendapat ulama itu, bahwa “orang yang mencaci dan mengkafirkan sahabat Nabi adalah orang kafir”, maka mau tidak mau kita harus mengatakan sahabat yang saling lempar caci maki dan menumpahkan darah diantara mereka itu sebagai orang kafir. Dan kita yang menyatakan mereka sebagai orang kafir, padahal mereka itu sahabat Nabi, maka kita sendiri juga kafir. Jadi ndak ada yang bener donk? bingung khan?

Kembali ke pertanyaan awal, apakah benar syi’ah telah mencaci dan mengkafirkan sahabat Nabi?

Dalam menjawab pertanyaan yang sering kali dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku diri mereka ahlulsunnah itu, saya ingin mengajak Anda semua untuk sedikit melihat kepada kitab-kitab Ahlulsunnah.

Imam Al-Bukhari di dalam Shahihnya, Kitab al-Riqaq, bab al-Haudh halaman 379-386 menyatakan bahwa mayoritas para sahabat Rasulullah saw telah murtad sepeninggal wafatnya Rasulullah. Hanya segelintir dari mereka yang selamat.

Rasulullah bersabda, “Aku mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawah kehadapanku, kemudian mereka dipisahkan jauh dariku. Aku (akan) bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah sahabatku (ashabi). lalu dijawab: sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathuu ba’da-ka).

Pada riwayat yang lain Rasulullah juga bersabda: “Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku, lalu dia berfirman: Sesungguhnya Engkau tidak mengetahuai apa yang telah mereka lakukan sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka telah menjadi murtad ke belakang (inna-hum irtadduu ‘ala a’qabi-him al-Qahqariy)”.

Riwayat-riwayat diatas, dikutip dari The Translation of the Meanings of sahih Al-Bukhari Arabic-English Vol. VIII oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan, Islami University, Medina Al-Munawwara.

Jadi sebenarnya di dalam kitab Ahlulsunnah sendiri ada riwayat yang menunjukkan kepada kita semua bahwa ada sahabat Nabi yang murtad sepeninggal Nabi. Di antara mereka murtad karena merubah sunnah Nabi, mengacak-acak ketentuan-ketentuan yang telah diturunkan oleh Allah melalui Rasul-Nya. Celakanya, riwayat itu ada dalam kitab hadits yang dianggap oleh Ahlulsunnah sebagai kitab hadits yang paling shahih.

Apakah lantas kita berani mengatakan bahwa Bukhari yang telah meriwayatkan riwayat tersebut sebagai orang kafir? Apakah kita mau mengatakan bahwa Ahlulsunnah itu kafir karena meyakini hadits itu sebagai hadits shahih?

Lalu jika sudah seperti ini, manakah yang benar? Karena menurut Ahlulsunah, di syi’ah pun ada riwayat bahwa mayoritas sahabat Nabi itu murtad dan yang selamat hanya 4 orang saja, jadi Syi’ah juga kafir.

Menurut saya, sebelum kita menentukan mana yang benar, apakah sunni atau syi’ah, maka kita harus mau menelaah kembali pernyataan para ulama yang dijadikan rujukan oleh Ahmad Sarwat bahwa “orang yang mencaci atau mengkafirkan sahabat Nabi adalah orang kafir”. Pernyataan itu yang kemudian harus kita kritisi. Karena jika tidak, sama saja kita menganggap semua sahabat Nabi yang saling berperang adalah orang kafir karena mencaci maki saja bisa jadi kafir apalagi jika sampai saling memerangi Dan kita juga kafir, karena mengatakan mereka kafir padahal mereka adalah sahabat Nabi.. Jadi semuanya kafir.

Alih-alih mau mengkritisi, argumen yang menjadi dasar pernyataan ulama tersebut pun belum kita ketahui. Atau ada diantara Anda yang mengetahuinya? silakan…

  1. pahry
    Januari 7, 2009 pukul 7:35 pm

    baiklah, ternyata anda belum bisa menangkap maksud saya.

    begini, saya akan kutip pendapat anda :
    “Seorang sahabat Nabi adalah orang yang bertemu dengan Nabi, beriman atas ajarannya, setia kepada Nabi.”

    berarti jika ada orang yang bertemu dngan Nabi, beriman atas ajarannya, namun tidak setia kepada Nabi, apakah dia dapat dikatakan sahabat??
    tentu tidak bukan?!

  2. Januari 8, 2009 pukul 3:12 am

    Betul ustadz pahry. Seorang sahabat Nabi itu adalah orang yang bertemu dengan Nabi, beriman atas ajarannya, setia kepada Nabi.

    Namun perlu diingat ustadz pahry, Sahabat Nabi adalah manusia biasa seperti kita, mereka bisa terjerumus pada lembah pengkhianatan, lembah kenistaan, lembah kekafiran.

    Dan itulah yang tercantumkan dalam riwayat yang saya kutip diatas.

    Jadi maksud saya ustadz pahry, biar Anda bisa memahaminya, pada riwayat itu Nabi menganggap bahwa mereka itu sahabat Nabi yang beriman atas ajarannya dan setia. Tetapi ternyata diberitahukan kepada beliau bahwa mereka merubah-rubah ajaran Islam. Kemudian Nabi mengusir jauh-jauh mereka dan tidak ingin menganggapnya sebagai sahabat beliau.

    Intinya apa ustadz pahry? bahwa sahabat Nabi pun ternyata bisa merubah sunnah Nabi, berkhianat kepada Nabi. Jika sudah seperti itu, mereka bukan sahabat Nabi lagi ustadz.

  3. pahry
    Januari 8, 2009 pukul 4:51 am

    saya akan buat permisalan tuk anda dkk agar lebih mudah memahaminya, begini:
    seseorang dapat dinyatakan sebagai Presiden RI adalah jika dia MASIH MENJABAT sebagai kepala Negara Republik Indonesia. dan SBY adalah orangnya bukan?!.
    tetapi jika ada yang mengatakan bahwa Soekarno adalah PRESIDEN RI, tentu ucapan itu hanya bualan, sebab Soekarno sudah TIDAK MENJABAT sebagai kepala negara saat ini. adalah lebih tepat jika dikatakan bahwa Soekarno adalah sebagai MANTAN PRESIDEN RI.

    jika anda telah memahami,maka dari sini akan menelurkan sebuah implikasi logis bahwa :
    “Presiden RI PASTILAH orang yang masih aktif menjabat sebagai Kepala Negara”
    Setuju bukan…? (saya anggap anda setuju)

    begitu juga tentang sahabat kawan:
    seperti yang anda nyatakan diatas:
    “Seorang sahabat Nabi adalah orang yang bertemu dengan Nabi, beriman atas ajarannya, setia kepada Nabi. ”

    maka jika ada orang yang tidak setia kepada Nabi atau murtad dari ajaran yang dibawanya, maka, meskipun dia pernah bertemu dan beriman atas ajaran yang dibawa oleh Nabi, maka jelas dia tidak dapat dikatakan sebagai Sahabat Nabi.!
    Kenapa…?
    sebab dia sudah tidak setia lagi kepada nabi dan ajaran yang dibawanya. Adalah lebih tepat jika dikatakan bahwa dia adalah MANTAN SAHABAT (baca: bukan sahabat)….sebab tidak dapat dikatakan sebagai SAHABAT NABI, jika dia tidak setia kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi setelah meninggalnya Nabi.

    silahkan koreksi jika ada yang salah..saya siap untuk belajar dari anda.

    jika tidak ada koreksi, maka kelanjutannya adalah:
    sebagaiamana disebutkan diatas bahwa, “PRESIDEN RI PASTILAH orang yang sedang menjabat sebagai kepala negara sampai saat ini.”
    begitu pula, “SAHABAT NABI PASTILAH orang yang setia kepada Nabi dan Ajarannya sampai setelah meninggalnya.”

  4. pahry
    Januari 8, 2009 pukul 6:05 am

    ada koreksi terhadap komentar anda yang terakhir, anda menyatakan bahwa:

    “Intinya apa ustadz pahry? bahwa SAHABAT NABI pun ternyata bisa merubah sunnah Nabi, berkhianat kepada Nabi.”

    begini mas ressay,justru jika dia merubah sunnah Nabi dan berkhianat kepada nya, maka dia bukan lagi dikategorikan sebagai sahabat.

    bisakah hal ini dipahami dulu..jika sudah, kita akan lanjutkan kepada dialog tentang hadisnya.

  5. Januari 8, 2009 pukul 8:05 am

    Bukan bermaksud berfallacy, hanya saja apa yang sudah saya sampaikan ternyata tidak dapat Anda pahami dengan baik. Karena sebetulnya, apa yang saya sampaikan, itu sama dengan yang Anda sampaikan.

    Intinya bahwa seorang sahabat Nabi adalah orang yang bertemu dengan Nabi, beriman atas ajarannya, setia kepada Nabi.

    Namun, karena sahabat Nabi ini adalah manusia biasa yang bisa berbuat salah dan dosa, yang dahulunya beriman kepada Nabi, setia kepada Nabi bisa berubah menjadi manusia yang mengkhianati Nabi, kufur, bahkan murtad.

    Itu sebenarnya pesan yang dibawa pada tulisan diatas. bahwa sahabat Nabi hanyalah manusia biasa, yang bisa murtad seperti yang ada pada riwayat murtadnya sebagian sahabat Nabi.

    Tentunya, sahabat Nabi yang sudah murtad tidak layak untuk kita sebut sebagai sahabat Nabi. saya sepakat itu. Dan memang dari dulu saya berpendapat seperti itu.

    Tetapi sebetulnya, ini hanyalah permainan bahasa kawan.

    Tentu bisa saja kita mengatakan bahwa Soekarno adalah PRESIDEN INDONESIA YANG TELAH HABIS MASA JABATANNYA. Bisa saja kita mengatakan orang-orang yang disinggung dalam hadits mengenai murtadnya sebagian sahabat Nabi kita sebut sebagai SAHABAT NABI YANG TELAH MURTAD.

  6. pahry
    Januari 8, 2009 pukul 4:47 pm

    anda benar, orang yang pernah menjadi sahabat nabi, lalu kemudian murtad, tidaklah dapat dikatakan kembali sebagai sahabat Nabi.
    baiklah, pada poin ini kita sepakat setuju.

    tetapi, koreksi pada poin terakhir, anda mengatakan:
    “Tentu bisa saja kita mengatakan bahwa Soekarno adalah PRESIDEN INDONESIA YANG TELAH HABIS MASA JABATANNYA. Bisa saja kita mengatakan orang-orang yang disinggung dalam hadits mengenai murtadnya sebagian sahabat Nabi kita sebut sebagai SAHABAT NABI YANG TELAH MURTAD”

    pada poin about PRESIDEN saya setuju dengan anda, karena soekarno sudah dapat memenuhi syarat untuk dikatakan sebagai Pesiden.
    namun, pada poin SAHABAT NABI YANG TELAH MURTAD, saya tidak sependapat dengan anda. sebab, jika murtad, berarti tidak dapat dikatakan sebagai sahabat, karena tidak dapat memenuhi PERSYARATAN untuk dikatakan sebagai Sahabat Nabi.
    bukankah anda mengatakan bahwa:
    “Tentunya, sahabat Nabi yang sudah murtad tidak layak untuk kita sebut sebagai sahabat Nabi. saya sepakat itu. Dan memang dari dulu saya berpendapat seperti itu.”

    maka, bagaimana jika sekarang kita buat kesepakatan, bahwa tidak akan ada lagi penyebutan SAHABAT NABI YANG MURTAD.
    jika hendak mengatakan, katakanlah seorang atau kelompok orang yang pernah beriman dan sezaman dengan Nabi dan kemudian murtad.
    terlalu panjang yaa, bagaimana kalau kita sebut sebagai sahabat dalam tanda kutip ( ‘SAHABAT’ )

    bagaiamana,apakah anda keberatan…?
    atau anda ada ide yang lain..?silahkan.
    jika ide anda sesuai, saya tidak akan keberatan untuk menggunakannya.

  7. Januari 8, 2009 pukul 4:58 pm

    Mas, nampaknya memang Anda tidak mampu menangkap hal-hal yang simple. Entahlah, dimana letak kekurangan saya dalam menyampaikan hal ini.

    Soekarno adalah PRESIDEN INDONESIA YANG TELAH HABIS MASA JABATANNYA

    itu sama dengan

    Fulan adalah SAHABAT NABI YANG TELAH MURTAD

    Soekarno itu dulu presiden kemudian habis masa jabatannya sehingga menjadi mantan presiden.

    Fulan itu dulu sahabat Nabi tetapi kemudian murtad sehingga menjadi mantan sahabat Nabi.

    Sebetulnya simple, namun Anda membuat ini menjadi sebuah hal yang sulit dimengerti. Ini sebetulnya hanya persoalan kegenitan bahasa. Namun Anda betul-betul menyenangi hal ini.

  8. pahry
    Januari 10, 2009 pukul 5:32 pm

    Bung ressay, pendapat anda tidak sepenuhnya tepat .
    baiklah, saya akan berikan gambaran kepada anda.
    ada beberapa point penting yang akan saya ajukan disini, tapi saya akan ajukan satu saja, insya-ALLAH itu cukup memahamkan kepada anda.
    tentang masa jabatan antar keduanya:
    1) Jika Presiden Soekarno, terbatas oleh masa jabatan tertentu, katakanlah normalnya 5 tahun. maka jika telah lewat masa jabatannya, dia disebut sebagai MANTAN PRESIDEN atau dengan bahasa anda “PRESIDEN INDONESIA YANG TELAH HABIS MASA JABATANNYA”.

    2) Adapun Sahabat, tidak dibatasi oleh masa jabatan atau waktu tertentu untuk disebut sebagai Sahabat Nabi. Selama dia tetap setia terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi, maka kedudukan dia sebagai SAHABAT NABI itu tetap ada pada dirinya.
    karena itu tidak ada yang namanya MANTAN SAHABAT NABI atau SAHABAT NABI YANG TELAH MURTAD.
    sebab, jika telah murtad, berarti dia tidak setia kepada Nabi dan Ajarannya.
    Dan jika dia tidak setia terhadap Nabi dan ajarannya, berarti dia tidak memenuhi persyaratan utk dikategorikan sebagai Sahabat Nabi. Dengan begitu, sebagaimana yang dikatakan oleh anda:
    “Tentunya, sahabat Nabi yang sudah murtad tidak layak untuk kita sebut sebagai sahabat Nabi. saya sepakat itu. Dan memang dari dulu saya berpendapat seperti itu.”

  9. Januari 10, 2009 pukul 5:47 pm

    @pahry
    saya tekankan sekali lagi mas pahry, bahwa ini hanya persoalan bahasa. Ini berada dalam wilayah semesta bahasa.

    Justru saya begitu heran sama Anda karena sedari awal Anda hanya berputar-putar tanpa arah tampak sekali kebingungan.

    Mengenai pembatasan waktu, bukankah pada keduanya terdapat adanya suatu batas waktu? Dan itu pun sudah ditentukan bukan?

    Jika masa jabatan presiden itu telah ditentukan hanya sampai 5 tahun saja, maka status sahabat Nabi itu telah ditentukan waktunya, yaitu ketika seseorang itu masih setia pada ajaran Nabi.

    Anda mengatakan, “Selama dia tetap setia terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi, maka kedudukan dia sebagai SAHABAT NABI itu tetap ada pada dirinya.”

    Mas, kata “selama” itu menunjukkan waktu.

    Silakan Anda terus menerus berputar-putar pada semesta bahasa. Karena sampai kapanpun, saya masih bisa membantah kesesatan berpikir Anda dalam hal ini.

  10. bin laden
    Februari 18, 2009 pukul 7:59 am

    inti dari masalah ini adl definisi dr sahabat. Sebenarnya mehdar dr awal sdh memberi penjelasan mengenai definisi sahabat, sy kutip kembali dr permyataan mehdar. Sahabat adl siapapun orang yang berjumpa Nabi Saw dan beriman padanya “serta wafat dalam berimanan”, Jd mnrt kami ahli sunnah seseorang yg murtad bknlah sahabat. sebaiknya anda bs memahami aqidah kami. apakah anda setuju dg definisi tsb?

  11. Februari 18, 2009 pukul 3:41 pm

    Betul, saya paham mengenai itu.

    Seorang yang murtad bukanlah sahabat Nabi, tetapi BEKAS / MANTAN sahabat Nabi.

    Artinya, dimungkinkan sahabat Nabi bisa kafir dan murtad.

  12. Iwan
    Maret 3, 2009 pukul 2:10 am

    Diskusi yang menarik…

    Pertanyaan saya….Orang yang Mencaci dan Mengkafirkan Sahabat Nabi disebut apa?dan kenapa anda menjawab seperti itu???

    • Maret 3, 2009 pukul 4:24 pm

      ndak tahu mas.

  13. Mei 16, 2009 pukul 1:51 pm

    “Seorang sahabat Nabi adalah orang yang bertemu dengan Nabi, beriman atas ajarannya, setia kepada Nabi.” =======> Yang murtad kepada ajaran Nabi SAW bukan sahabat namanya sebab dia tidak setia kepada Nabi SAW. Gitu aja kok repot!!!

  14. Mei 16, 2009 pukul 3:16 pm

    “Mereka itu adalah sahabatku (ashabi).” Anda salah mengartikan Mas Ressai. Coba rujuk kembalilah ke kitab-kitab syarah hadits Bukhori Fathul Bari (Ibnu Hajar), Umdatul Qori’ (Imam ‘Aini) atau banyak lagi kitab-kitab syarah Bukhori yang lainnya. Apakah ada di antara mereka yang mengartikan “ashabi” dengan sahabat-sahabat Nabi SAW. Jangan membaca terjemah indonesianya saja (terlebih ke dalam Bahasa Inggris/sangat rentan salah terjemah).
    “Ashabi” pada hadits di atas maknanya bukan berarti Sahabat-sahabat Nabi SAW walaupun secara redaksi Rasul mengatakannya dengan “ashabi”. Tetapi “ashabi” di situ adalah umat Islam secara umum. Kiasan seperti ini biasa dalam Bahasa Arab. Sebab umat Islam juga dapat disebut sebagai ashab Rasululullah SAW. Jika umat Islam, berarti konteksnya lebih luas mencakup seluruh kaum muslimin yang ada di hadapan Rasul pada waktu itu, baik yang mukmin maupun yang munafik (mengaku muslim tetapi menyembunyikan kekafiran dalam hatinya). Nah orang-orang munafik ini nantinya sepeninggal Rasulullah SAW akan murtad kembali kepada kekafiran. Itulah makanya dikatakan kepada Rasul SAW “sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathuu ba’da-ka” pada akhir hadits tsb. Wallahu a’lam.

    • Mei 16, 2009 pukul 3:50 pm

      Mungkin Anda bisa membantu saya untuk membacanya. Besar harapan saya, Anda berkenan mengutipkan pendapat dari Ibnu Hajar.

  15. Mei 17, 2009 pukul 11:15 am

    Mungkin Mas Ressay bisa lebih kreatif untuk mencarinya sendiri atau bertanya dengan para ulama mumpuni yang ada di tempat Mas…Saya sudah membukakan pintunya. Mungkin itu sudah cukup. Shohih Bukhori itu banyak sekali syarahnya. Kalau Mas sering tela’ah turots-turots Islam, mungkin tidak akan merasa kesulitan untuk menemukannya. Allahu yubarik fik…🙂

    • Mei 17, 2009 pukul 5:29 pm

      Ya sudah kalau ndak mau kasih tau.

  16. lecaire
    Mei 17, 2009 pukul 8:08 pm

    Ashabul kahfi, ashabul irtsi, ashabul mayyit, ashabul hadits, ashabul ra’yi, ashabul iman (al muhim ashabi ternyata tidak hanya bermakna sahabat)

    • Mei 18, 2009 pukul 4:20 am

      Terus ashabi bermakna apa?

      Terus terang saya masih penasaran sama pendapatnya Ibnu Hajar itu lho. mbok ya tolong dikutipkan biar aku ini bisa belajar.

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: