Pernahkah Anda menonton film All the President’s Men (1976) yang dibintangi Robert Redford dan Dustin Hoffman atau JFK (1991) arahan Oliver Stone?

Konflik, ketegangan, dialog, dan kepanikan, sebagaimana tergambarkan dalam film-film ternama itulah yang coba diledakkan secara naratif dalam America Undercover: Kupas Tuntas Skandal Seks di Gedung Putih.

America Undercover menawarkan sebuah kelana mendebarkan ke masa silam hingga masa kini, seraya menelisik dark side para pemimpin Amerika Serikat: dari presiden yang mempunyai enam anak hasil hubungan dengan gundiknya hingga presiden gay pertama; dari kasus-kasus yang terekspos secara vulgar hingga yang di-X-file-kan dari radar publik.

Skandal selingkuh John F. Kennedy dengan Marlyn Monroe dan George W. Bush dengan Margie Schoedinger adalah sebagian dari serangkai adegan yang direkonstruksi secara “blak-blakan” dalam buku ini.

———————-

Pengantar Penulis

Menonton film dan surving internet yang berkaitan dengan politik adalah kegemaran kami berdua sejak lama. Data-data tentangnya pun menumpuk. Merangsang adrinalin kami untuk meraciknya menjadi sebuah buku. Tanpa diduga, rencana sederhana ini direspon seorang teman yang giat menerbitkan buku. Kontan, setelah membagi tugas; pengumpulan, interpterasi dan peracikan data-data, kami berdua langsung “tancap gas”. Buku ini rampung ditulis dalam waktu relatif singkat.

Buku yang sedang Anda sisir aksaranya ini bukan fiksi dramatisasi atraktif; “menghibur” pembaca semata. Tapi, buku serius namun “renyah”. Memuat reportase investigatif dalam kemasan cerita yang bertutur. Kadang romantis dan menghanyutkan. Kadang pula seru dan mendebarkan.

America Undercover ini ditulis tanpa sisipan opini atau pandangan subjektif penulis. Itu demi mempertahankan originalitasnya. Kami yakin pembaca modern adalah manusia yang memelihara independensi sikap dan kesimpulan. Buku ini tidak memperlakukan pembaca sebagai “keranjang”, namun semata-mata sebagai pembaca.

Harus diakui, di balik cerita-cerita faktual dalam buku ini, penulis ingin menyampaikan pesan: betapa moralitas dan etika sangat perlu dipertahankan agar prilaku dan kebijaksanaan para pemimpin tidak kehilangan daya dobrak dan efektivitasnya. Moral dan etika, karena bersifat universal bahkan melampaui himpunan-himpunan keimanan, merupakan benteng terakhir yang mesti dipertahankan.

Buku ini dihadirkan tidak untuk mencibir negara lain atau bangsa lain. Tapi, ditulis sebagai sebuah fakta sekaligus bahan pelajaran amat berharga bagi pemimpin di negara manapun, terutama Indonesia yang sangat kita cintai. Bagi kami, siapapun bisa berbuat salah dan siapapun bisa memperbaikinya, bahkan menghindarinya.

Penulis merasa perlu berterimakasih kepada rekan-rekan yang secara langsung dan tidak langsung membantu kami merampungkan penulisan buku ini, terutama Anwar Muhammad Aris.

Jemala Gemala & Jon Feda