Beranda > Hikmah, Nyante, Tulisanku > Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa

Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa

Pernah ada seorang kawan yang saat itu tengah berpuasa berkata, “hormatilah orang yang berpuasa,” ketika ada seorang temennya, kebetulan perempuan dan sedang datang bulan, makan di depannya. Langsung saja aku bilang ke kawanku, “begitu juga sebaliknya, kamu juga hormati donk orang yang tidak berpuasa.”

Iya, sudah sering kita dicekokin dengan kata-kata ampuh “hormati orang yang berpuasa” ketika bulan Ramadhan tiba. Orang-orang yang tidak berpuasa, dipaksa untuk menghormati orang yang sedang berpuasa, dengan alasan agar orang yang berpuasa tidak mendapatkan godaan.

Warung-warung dan restoran yang menjual makanan dipaksa untuk tutup ketika siang hari. Alternatif lain yaitu warung-warung tersebut diminta untuk menutupi warungnya dengan tirai, sehingga orang yang sedang berpuasa tidak bisa melihat makanan yang ada di dalam warung tersebut.

Aku pikir, alasan itu merupakan alasan yang mengada-ada saja. Pada hakikatnya, ditutup maupun tidak jendela warung tersebut, tetap saja orang berkeyakinan bahwa di dalam warung tersebut ada makanan yang jika dimakan tentu akan membuat perut ini kenyang.

Padahal sesuatu yang ditutup itu cenderung mendatangkan akibat yang lebih besar dari pada sesuatu yang dibuka. Karena sehelai tirai, imajinasi yang bermain dalam otak kita bisa menjadi sangat liar. Pernah di Amerika diadakan penelitian tentang mana yang lebih kuat membangkitkan gairah seseorang: apakah melalui tayangan televisi, drama radio, ilustrasi komik, atau sekedar bacaan saja. Hasilnya menakjubkan, bacaan ternyata lebih menggairahkan, karena itu menyertakan pembacanya dalam imajinasi tak terbatas. Begitu pula kedai yang ditutup tirai. Ia lebih menggoda daripada saat ketika dibuka.

Lalu mengapa hanya orang yang tidak berpuasa saja yang diperintahkan untuk menghormati orang yang berpuasa? Mengapa kita yang berpuasa tidak diperintahkan untuk menghormati orang yang tidak berpuasa? Bukankah di antara kita ada orang sakit, ibu hamil, para musafir yang dibolehkan untuk mengqadha puasanya, meskipun para fukaha masih berbeda pendapat tentang rinciannya?

Lagipula, umat Islam yang berpuasa, walaupun hanya sekedar memenuhi kewajiban,  tidak akan membatalkan puasanya hanya karena melihat orang makan minum di  siang hari. Melihat makanan ketika sedang berpuasa, tidak membuat kita berdosa.

Aku pikir persoalan ini berbeda konteksnya dengan persoalan aurat. Ketika kita melihat aurat orang yang bukan muhrin kita, itu dosa. Tetapi ketika kita berpuasa dan melihat makanan, ini bukanlah suatu perbuatan dosa.

Jadi, marilah kita ubah cara pandang kita dalam persoalan ini. Masing-masing pihak, baik yang berpuasa maupun yang tidak, harus sama-sama saling menghormati. Bukan orang yang tidak berpuasa saja yang harus menghormati orang yang berpuasa, tetapi begitu juga sebaliknya, orang yang berpuasa pun harus mampu menghormati orang yang tidak berpuasa.

Kategori:Hikmah, Nyante, Tulisanku Tag:,
  1. Muhammad Khalid
    September 20, 2008 pukul 7:38 pm

    Orang yang tidak berpuasa dihormati????? Sekalian saja hormati Syetan !!! He.. He.. He..

  2. September 21, 2008 pukul 1:05 pm

    Kepada orang yang sakit, kita berikan dia kesempatan untuk makan dan minum. karena mereka membutuhkan itu.

    Kepada mereka yang menyusui, mereka telah diberi keringanan untuk tidak berpuasa. Berikan hak mereka untuk makan.

    Takut tergoda?

    Nah kalau gak mau takut tergoda, kuat keimanan Anda.

Comment pages

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: