Beranda > Tulisan Orang > Dapatkah Sunnah – Syiah saling merangkul?

Dapatkah Sunnah – Syiah saling merangkul?

OLEH: Muhammad Bagir Al-Muhdhar

“ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Perbedaan bukanlah perselisihan akan tetapi adalah sebuah rahmat yang Allah berikan kepada manusia, bukanlah suatu masalah yang besar perbedaan antar suatu kelompok dengan kelompok yang lain, yang mempunyai prinsip – prinsip syariah dan aqidah sendiri. Demikian itu secara teori perbedaan – perbedaan itu baru akan berbahaya jika disertai fanatisme buta dan fanatisme tidak hanya dapat menimbulkan perpecahan tapi juga mengakibatkan keterbelakangan.

Tetapi apakah pemikiran – pemikiran yang seperti itu dapat diterima oleh penghuni jagat raya ini? Jawabannya sangat simple: “Dapat! kalau kita mau”. Banyak dari para penganut aneka madzhab memberikan pendapat, usulan – usulan dan juga saran untuk menghentikan pertikaian ini salah satu contoh Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam bukunya Dustur al-Wihdah ats-Tsaqafiyah baina al-Muslimin yang berisikan memuji pendapat dari syaikh Muhammad Isa Abbasy yaitu tentang memerhatikan pandangan – pandangan hukum yang dicetuskan oleh ulama’ pada masa lalu dengan tujuan, diantaranya:

Menetapkan hukum – hukum yang disepakati oleh seluruh ulama’ berbagai aliran tanpa melihat perbedaan dari segi manapun.

Dalam masalah perbedaan maka semuanya diambil,selama memiliki dasar syariat.tidak mengambil hanya satu dan menolak yang lain.

Ditinggalkan semua pendapat yang telah jelas kesalahan atau kelemahannya.

Perlu kita ketehui bahwa madzhab – madzhab dalam islam mepunyai kesamaan dalam prinsip – prinsip ajaran, sedang dalam rinciannya terdapat perbedaan akan tetapi persamaannya lebih banyak. Jika kita bisa menerima kesamaan itu maka kita tidak hanya di selamatkan dari perpecahan saja akan tetapi bencana ukhrawi juga. Dan kita harus mengumandangkan persatuan umat yaitu membiarkan madzhab – madzhab Islam yang ada tumbuh serta melakukan pendekatan agar semua dapat berpelukan, bekerja sama meraih kejayaan islam dan saling membantu dalam melawan musuh – musuh Allah.

Dalam upaya menjalin ukhuwwah islamiyah ini telah diadakan beberapa kali pertemuan ,sekali waktu diadakan oleh kalangan Sunni dan di waktu lain oleh kalangan Syiah, Karena keinginan untuk ummat Islam bersatu, tapi dalam realitanya kita lihat di Negara yang penduduknya mayoritas muslim terjadi pengkafiran antara satu dengan yang lain bahkan terjadi saling bunuh membunuh. Salah satu tokoh Syiah terkemuka Ayatullah Muhammad Ali at-Taskhiry mengatakan dalam salah satu konferensi yang diadakan di Doha bahwasanya timbulnya perpecahan dikarenakan:

Kepentingan kelompok sehingga menginjak injak Hak kelompok – kelompok yang lain dan membesar-besarkan perbedaanya.

Prasangka buruk terhadap kelompok lain bahkan mereka yang berusaha melakukan pendekatan antar madzhab.

Rector Universitas Al-Azhar Cairo, Ahmad ath-Thayyib dari kalangan sunni menyatakan juga dalam konferensi tersebut bahwa dia tidak termasuk mereka yang suka berdalih ada ketidaksamaan didalam tubuh Islam namun ia mengakui bahwa hal tersebut tidak dapat dipungkiri. Secara panjang lebar rektor Al- azhar ini memuji tentang pandangan Ayatullah at-Taskhiry,dan beliau juga memberikan kritik kepada penganut aliran Syiah yang berada di Mesir yang menyebar luaskan Syiah bukan dengan cara Ulama-ulama Syiah masa lalu, yaitu memperjuangkan Syiah Imamiyah sebagai madzhab kelima yang berdampingan dengan keempat madzhab sunni, seperti yang dilakukan oleh Sayyid Syarifuddin Al-musawi (Syiah) dengan Syekh Salim Al-Bishri (sunni) seorang rektor Mesir pada masa itu yang saling berdialog melalui surat menyurat yang diabadikan dalam buku “Al-Muraja’at”, Dan setelah diadakannya dialog antara tokoh dari kedua belah pihak tersebut yang dimana tokoh Syiah berharap bahwa ajaran Syiah dapat diakui sebagai salah satu Madzhab islam yang benar dan hal tersebut dapat diterima dengan baik oleh kalangan tokoh sunni di Mesir.

Perbedaan pendapat merupakan fenomena yang telah ada pada masa lalu sejak terbentuknya komunitas manusia, perbedaannya tersebut dapat meliputi aspek kehidupan dan termasuk agama dan keyakinan sebagai mana Allah mensinyalir didalam Al-Quran: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”(Q.S Al-Maidah 48)

Akan tetapi Allah juga berfirman didalam ayat yang lain:

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.”

Ayat ini bermakna bahwa manusia sejak dulu hingga kini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia adalah makhluk sosial mereka harus saling menolong demi mencapai kebahagiaan di dunia sampai ke akhirat. Dengan demikian perbedaan adalah keniscayaan sedang persatuan adalah keharusan yang harus diwujudkan, keragaman dan perbedaan tidak dapat dihindari walau dalam saat yang sama manusia dituntut dengan harusnya dia bersosialisasi. Dari sini kita harus dapat membedakan antara perbedaan dan perselisihan , perbedaan tidak bisa divonis dapat menimbulkan bencana perpecahan karena dia bisa menjadi baik dan bermanfaat. Ia menjadi bencana jika perbedaan mengarah pada perselisihan sambil masing-masing menganggap diri atau Aliranya memonopoli kebenaran sedangkan diluar Aliranya adalah salah.

Islam sangat menoleransi aneka perbedaan diantara pemeluknya, penghargaan islam terhadap perbedaan lahir dari keyakinan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk mencapai Ukhuwah Islamiyah. Sunah dan Syiah adalah aliran besar yang lahir dari tubuh Islam sebagai dua saudara masing – masing memiliki persamaan dan juga perbedaan, akan tetapi perbedaan antara keduanya sering kita lihat dari pada persamaannya. Maka dari itu wahai ummat Rosulullah tinggalkanlah busana perselisihan dan kenekanlah busana Ukhuwwah agar kita dapat melawan para musuh Allah yang sekarang sedang menepukkan kedua tangannya karena bahagia melihat para muslimin saling bermusuhan dan saling mengkafirkan, MARI BERSATU!!!!!!!!!! ALLAHU AKBAR!!!!

  1. Oktober 23, 2008 pukul 6:17 pm

    Semgoa Alloh mengampuni dosa kita semua.

  2. Muhammad Ridwan Al-Jufrie
    Desember 8, 2008 pukul 11:04 am

    jangan bawa2 Al-Azhar kalo ga pernah belajar di Al-Azhar, Al-Azhar berdiri di atas semua golongan, kalo ga percaya ente kuliah disini

  3. Desember 8, 2008 pukul 5:13 pm

    iya deh saya percaya.

  4. abu Rafif
    Desember 9, 2008 pukul 7:16 am

    Saya salah satu yang memimpikan /menginginkan supaya sunni-syiah bersatu…itu bukan sesuatu yg mustahil…kalau kafir ma islam pasti jelas jelas mutahil disatukan…Saya ngga ngerti kenapa ada orang yang berakidah islam begitu ngotot bilang tidak mungkin sunni – syiah bersatu…kalau yang bilang orang kafir sih wajar wajar saja , seperti yg mereka gembar gemborkan sampai hari ini, bahwa sunni -syiah tidak akan bisa bersatu…Saya kira opini saya ini rasional, karena apapun bentuk permasalahan yang kita hadapi memecahkannya harus dengan rasional ( memuaskan akal, menentramkan hati, menggugah perasaan ). Karena apa ? akidah Islam adalah akidah rasional, yang dari situ setiap problem pasti terpecahkan. Saya melihat masih banyak saudara2 seakidah tidak memakai standard akidah islam yang rasional ini untuk melihat, menanggapi, memecahkan masalah, tetapi lebih sering memakai doktrin …islam tidak pernah mengajarkan doktrin….
    akibatnya berpendapat hanya mengandalkan kata guru saya, kata ustadz saya, katanya katanya….Padahal Rosulallah saw jelas2 mengatakan ” cukup dikatakan seorang pendusta siapa saja yang mengatakan apa apa yang didengarnya”…insya Allah sunni – syiah akan bersatu…

  5. Desember 9, 2008 pukul 7:39 am

    Semoga harapan Anda akan lekas terjadi.

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: