Beranda > Tulisanku > Kawini Anak Kecil, Jadi Terkenal

Kawini Anak Kecil, Jadi Terkenal

Kontroversi yang terjadi di Indonesia, seakan tidak pernah berhenti. Begitulah perkataan salah seorang teman.

Nampaknya dia cukup resah dengan pemberitaan di media seputar perkawinan antara seorang pengusaha kaya di Semarang dengan seorang gadis cilik berumur 12 tahun. Tentu saja hal ini membuatnya resah, karena aku yakin baru pertama kali ini dia menjumpai fenomena seperti itu. Seorang anak muda menikahi janda itu hal yang wajar dan biasa terjadi dan diangkat oleh media Indonesia. Tetapi Lelaki berumur 40 tahunan menikahi seorang anak kecil berumur 12 tahun, merupakan berita yang langka dan termasuk ‘good news’.

Masih dengan perasaan resahnya, ia bahkan sempat menuduh pengusaha kaya itu mengidap penyakit Phedopilia. Salah satu jenis penyakit kejiwaan yang membuat si pengidapnya akan naik birahinya ketika melihat anak kecil. Dia akan lebih mendapatkan kepuasan seksualnya ketika ia berkumpul dengan anak kecil.

Terlepas dari anggapan seperti, aku akan coba berikan pendapatku seputar isu tersebut.
Secara Fiqih Islam, apa yang dilakukan oleh pengusaha kaya itu sah-sah saja. Islam memperbolehkan menikahi seorang wanita yang masih berumur 12 tahun. Syarat seorang wanita boleh dinikahi yaitu adanya restu dari orang tua laki-laki dari si anak tersebut. Hanya saja, Islam baru memperbolehkan si suami berkumpul dengan istrinya tersebut saat si isteri telah menstruasi.

Jadi, misalnya, seorang lelaki menikahi anak yang berumur 9 tahun dan belum menstruasi, maka lelaki itu boleh menikahi anak tersebut. Dengan syarat, belum diperbolehkan untuk mengumpulinya. Hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah ketika menikahi Aisyah.

Lalu jika sah secara Islam, bagaimana dengan orang Indonesia yang notabene tinggal di Negara yang tidak berdiri di atas syariat Islam? Bolehkah ia menikahi anak kecil dengan dasar syariat Islam?

Secara fikih (yang bersifat personal), maka ia diperbolehkan. Namun kalau kita berbicara hukum, maka akan banyak aspek yang akan ditinjau, termasuk aspek sosial dan aspek yuridisnya.

Indonesia adalah Negara hukum. Maka kita wajib mematuhi aturan yang diberlakukan di Indonesia.
Di Indonesia, ketentuan perkawinan sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang perkawinan.

Dalam Pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun. Jadi, pengusaha kaya itu tidak sah menikahi seorang anak kecil yang berusia 12 tahun, berdasarkan UU Perkawinan tersebut.

Berperilaku sesuai dengan batasan-batasan yang dalam agama boleh-boleh saja, tetapi jika hal itu malah bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia, maka ia harus siap menerima resiko hukuman.

Seperti halnya dengan Qishos. Qishos dalam Islam diperbolehkan. Nyawa dibayar Nyawa. Namun jika kita membunuh orang yang telah membunuh istri kita, misalnya, maka kita bisa dikenai sanksi pidana atas dasar tuduhan membunuh.

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Aku pikir peribahasa ini cukup mewakili pendapatku diatas.

Kategori:Tulisanku
  1. Desember 9, 2008 pukul 2:10 pm

    Sunnah Nabi? waduh…sunnah Nabi ataukah hadits Nabi?

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: