Beranda > Tulisanku > Kawin dengan Anak Kecil?

Kawin dengan Anak Kecil?

Kamis, 27 November 2008. Aku dan seorang kawanku pergi ke masjid Fakultas Hukum UNS. Kabarnya, disana ada diskusi yang diadakan oleh Forum Silaturahmi Mahasiswa Islam (FOSMI) FH UNS, mengambil tema pernikahan dengan anak di bawah umur dengan pembicara Bapak Adnan (dosen Hukum Islam FH UNS) dan Ust. Abdul Hakim.

Sesampainya disana, ternyata diskusi hanya bisa menghadirkan 1 orang pembicara saja, ust. Abdul Hakim. Arah diskusi pun mudah ditebak.

Beberapa inti pembicaraan dari ustadz Abdul Hakim yang aku anggap penting, aku tuliskan dalam buku agendaku.

Beliau mengatakan bahwa tidak ada larangan bagi umat Islam untuk menikahi orang di bawah umur (menurut aturan Indonesia) asalkan sudah akil baligh.

Namun hal itu akan berhadapan dengan aturan hukum positif yang berlaku di Indonesia. Menurut Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974, bahwa ketentuan seseorang sudah dewasa atau belum berbeda dengan ketentuan yang ada di hukum Islam.

Jika dalam Islam seorang laki-laki dianggap dewasa ketika ia telah mimpi basah dan seorang wanita dikatakan dewasa ketika ia telah menstruasi, maka menurut Undang-Undang Perkawinan, dewasanya laki-laki ketika ia telah berumur 19 tahun dan untuk perempuan ketika berumur 16 tahun.

Muncullah pertanyaan, lalu bagaimana kita bisa memosisikan kedua aturan hukum yang saling berbeda ini?

Menurut beliau, bahwa hukum Islam tidak hanya berbicara sah atau tidak sah, tetapi ia juga harus memperhitungkan kondisi masyarakat.

Ini yang kemudian ketika masuk dalam sesi tanya jawab aku amini. Bahwa Fiqih Islam itu memiliki dua jenis, yaitu fiqih awwali dan fiqih tsanawi.

Fiqih awwali adalah ketentuan fiqih murni. Sedangkan fiqih tsanawi adalah ketentuan fiqih yang juga memperhatikan kondisi yang ada.

Misalnya, beliau mencontohkan, menurut ketentuan fiqih islam bahwa aurat bagi laki-laki adalah antara pusar dan lutut. Jadi jika kita shalat hanya menggunakan baju dalam dan celana basket yang panjangnya hanya sampai melebihi sedikit saja bagian lutut, itu sah hukumnya. Tetapi apakah kita lantas akan berpakaian seperti itu ketika kita shalat berjamaah di dalam masjid? Tentu hal ini tidak pantas dilakukan.

Sama halnya dengan menikahi wanita yang menurut undang-undang belum terkategorikan sebagai orang dewasa. Menurut hukum Islam, jika umur 12 tahun sudah menstruasi, maka wanita itu boleh dinikahi. Tetapi berhubung saat ini kita tengah hidup di Indonesia yang memiliki aturan bahwa wanita boleh menikah ketika berumur 16 tahun, maka alangkah baiknya jika kita menaati aturan yang berlaku di Indonesia tersebut.

Hanya saja saya ingin menyampaikan satu gelisahan yang saat ini masih ada dalam otakku.

Seperti diketahui bersama bahwa beberapa orang yang menikahi anak kecil biasanya berargumen dengan hadits Nabi bahwa Nabi menikahi Aisyah pada umur 6 tahun. Namun Nabi SAW baru hidup serumah dengan ‘Aisyah saat gadis cilik itu telah memasuki usia 9 tahu.

Ada riwayat lain yang mengatakan bahwa Nabi SAW meminang ‘Aisyah di usia 7 tahun dan menikahinya pada usia 9 tahun.

Kedua riwayat tersebut yang saling bertentangan itu anehnya ada dalam satu kitab, yaitu shahih bukhari. Kitab yang oleh sebagian besar umat Islam dianggap sebagai kitab hadits tershahih. Bahkan Imam Nawawi berpendapat bahwa semua hadits yang ada dalam kitab shahih bukhari adalah hadits shahih.

Jika benar bahwa hadits yang tertulis dalam shahih bukhari semuanya shahih, maka logiskah ada dua hadits yang dianggap shahih saling bertentangan?

Ketika saya menanyakan hal itu kepada ustadz Abdul Hakim, beliau memberikan jawaban yang tidak begitu memuaskan bahkan terkesan dogmatis.

Beliau berkata bahwa riwayat yang shahih adalah riwayat Nabi menikah dengan Aisyah ketika Aisyah berumur 9 tahun dan hadits shahih tidak mungkin bertentangan.

Ternyata, apa yang dikatakan oleh ustadz tersebut malah bertentangan dengan realita yang ada. Bahwa hadits yang mengatakan Nabi menikahi Aisyah ketika Aisyah berumur 6 tahun dan hadits yang mengatakan Nabi menikahi Aisyah ketika Aisyah berumur 7 tahun adalah hadits yang dinilai sebagai hadits shahih karena diriwayatkan dalam kitab shahih bukhari yang dianggap memuat hadits-hadits shahih saja, ternyata saling bertentangan satu dengan yang lainnya.

Menurut logika tidak mungkin ada dua hal yang benar.

Jika kita kemudian menganggap bahwa kedua hadits itu dho’if atau minimal salah satunya dho’if, maka hal ini akan bertentangan dengan doktrin yang selama ini kita terima bahwa hadits-hadits yang terdapat dalam shahih bukhari semuanya adalah hadits shahih.

Wallahu a’lam. Ini hanya satu curahan pikiran dan hati dari seorang yang masih membutuhkan proses belajar dan pendewasaan diri.

  1. November 29, 2008 pukul 2:18 pm

    agak2 berat kalo ngomongin ini. Sering kali agama digunain sebagai dalil buat ngebenerin tindakan berdasarkan hawa nafsu

  2. November 29, 2008 pukul 6:14 pm

    Begitulah. Sering kali kita gunakan ayat suci untuk menjustifikasi kepentingan kita. Kita gunakan ayat suci untuk mendukung kepentingan kita. Kita paksa ayat suci untuk ikut dengan kita.

    Padahal seharusnya kita yang ikut ayat suci.

  3. Desember 20, 2008 pukul 4:46 am

    yang jelas diskusi tentang hal beginian jangan dengan mereka yang aliran “pokoknya”

  4. Desember 20, 2008 pukul 5:47 am

    Gimana kabarnya pak?

    terus harusnya kita diskusi dengan orang yang alirannya apa pak?

  5. Januari 22, 2013 pukul 11:58 am

    Nice post. I was checking constantly this blog and I’m inspired! Very useful information particularly the ultimate phase🙂 I handle such info a lot. I used to be looking for this certain info for a long time. Thanks and good luck.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: