rip

Siang ini kuterima sms dari ayahku.

“Nek angku telah berpulang ke rahmatullah.”

Spontan langsung ku aktifkan laptopku berharap anak beliau yang saat ini tengah kuliah di Medan sedang online.

Dan benar saja, ia online dan menuturkan bahwa dirinya saat ini berada di perjalanan menuju aceh.

Ia sedih karena tidak sempat melihat wajah ayahnya untuk yang terakhir kali, terlebih sampai saat ini ia belum bisa memberikan sesuatu yang membanggakan ayahnya. Ia pun meminta saya untuk diajarkan doa ziarah.

Ku berikan saja doa itu, tentunya seingatku.

———-

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad. Semoga Allah merahmatimu, duhai ayahku.

Engkau berlapar tetapi engkau berikan aku kenyang

Engkau kurang pakaian, tetapi engkau mencukupkan pakaianku

Engkau tidak memakai wangi-wangian, tetapi engkau memberikan aku makanan

Kesemua ini engkau lakukan semata-mata mencari keridhoan Allah dan balasan akhirat

Allahumma ya Allah, Engkaulah Yang Menghidup dan Mematikan,

Dan Engkau sendiri yang hidup tiada akan mati

Ya Allah, demi hak Nabimu dan keluarganya yang telah Engkau sucikan, ampunilah ayahku, terimalah amal baik beliau, lapangkan pusaranya, dan berikan kesabaran kepada kami yang ditinggalkan.

Sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengasihi dari segala Yang Pengasih.

———

Tak terasa air mata menetes ketika ku tulis doa ini.

Semoga tetes air mata ini bukanlah tetes air mata yang memberikan bekas temporer, tetapi juga menorehkan bekas permanent dalam diriku untuk selalu ingat.

  1. Kematian tidak dapat disangka kedatangannya.
  2. Sampai saat ini aku belum juga lulus kuliah, belum juga memberikan sesuatu yang membanggakan untuk kedua orang tuaku. Akankah aku terus menerus lalai terhadap kewajiban ini?