Beranda > Tanggapan, Tulisanku > Dogma dan Argumentum Ad Hominem

Dogma dan Argumentum Ad Hominem

Diskusi

Diskusi di Mabes HMI Cabang Surakarta

Judul diatas aku ambil berdasarkan pengalaman ketika mengikuti dua diskusi keagamaan.

Pertama, diskusi yang diadakan oleh FOSMI yang mengangkat tema tentang perkawinan dengan anak dibawah umur.

Disana aku coba menyampaikan pendapat sekaligus juga bertanya perihal riwayat umur Aisyah ketika dinikahi oleh Nabi.

Sepanjang yang aku ketahui, riwayat itu ada di dalam kitab shahih bukhari. Kitab hadits yang paling shahih di kalangan Ahlusunnah.

Namun, ada perbedaan redaksi dalam hadits-hadits tersebut.

Ada yang mengatakan bahwa Aisyah dinikahi oleh Nabi ketika berumur 6 tahun dan baru tinggal satu rumah dengan Nabi ketika berumur 9 tahun:

“Saya dinikahi oleh Nabi saw. ketika saya gadis berusia enam tahun, dan baginda membawa saya, ketika saya berusia sembilan tahun.” (Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadits no. 3681)

Ada juga riwayat yang menuturkan kepada kita bahwa Nabi menikahi Aisyah ketika Aisyah berumur 7 tahun dan baru tinggal satu rumah dengan Nabi ketika berumur 9 tahun:

“Nabi menikahi beliau (Aisyah) ketika beliau berumur tujuh tahun. Penikahan beliau dengan Nabi diumumkan ketika beliau berumur sembilan tahun, ketika beliau masih menggendong mainannya. Nabi meninggalkan beliau (wafat), ketika beliau berusia delapan belas tahun.” (Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadits no. 4739)

Sebagai orang awam dalam ilmu hadits, aku coba bertanya mengapa ada dua hadits yang diklaim sebagai hadits shahih namun dengan redaksi yang berbeda dalam satu kitab hadits yang dianggap paling shahih.

Karena orang awam, aku coba menggunakan kaidah umum logika. Tidak mungkin benar dan salah dalam satu waktu. Artinya, harus ada satu dari kedua hadits tersebut yang kemudian kita anggap bukan sebagai hadits shahih. Kedua riwayat tersebut juga saling berkontradiksi. Sedangkan tidak mungkin sesuatu yang benar itu saling berkontradiksi dengan sesuatu yang benar lainnya.

Pembicara dalam diskusi tersebut menjawab, “Tidak mungkin hadits shahih itu saling bertentangan.” Tanpa diberikan jawaban lebih lanjut, diskusi dihentikan sampai disini.

Disinilah aku mendapatkan dogma. Dogma berbeda dengan doktrin, menurutku. Doktrin ialah suatu hal yang disampaikan nilai dan epistemologinya. Sedangkan dogma ialah suatu hal yang disampaikan hanya dengan menyajikan nilainya saja.

Misalnya, seorang dokter memerintahkan pasiennya untuk meminum suatu obat. Lalu sang pasien bertanya mengapa ia harus meminum obat itu? apa kegunaan obat itu? sang dokter menyampaikan mengapa ia harus meminum obat tersebut. Ini yang dinamakan proses pendoktrinan.

Seorang dokter memerintahkan pasiennya untuk meminum suatu obat tanpa pernah diberitahukan mengapa si pasien harus meminum obat tersebut. Ini adalah dogma.

———–

Kedua, diskusi yang diadakan oleh HMI Cabang Surakarta yang bertemakan Islam fundamentalis

Entah bagaimana awalnya, pembahasan menjadi tidak fokus.

Ada hal yang menjadi perdebatan ketika itu, walaupun aku sendiri enggan untuk menyebutnya sebagai perdebatan. Karena yang kita harapkan saat itu, aku yakin, bukan menang kalah. Tetapi mencari kebenaran atas suatu realitas.

Pembicara sempat menyampaikan kepada peserta bahwa patokan kita dalam beragama adalah Al-Qur’an (Kitabullah)  dan Al-hadits.

Dengan rasa penasaran yang teramat sangat, aku bertanya bukankah patokan kita dalam beragama itu Al-Qur’an (Kitabullah) dan As-Sunnah? Itulah yang aku dapatkan ketika membaca hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik.

Aku tinggalkan pada kamu dua hal yang jika kamu pegang teguh pasti kamu  tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu (Dikeluarkan oleh Malik dalam Al Muwatta II/899 dan Al Hakim I/93)

Bahkan yang membuat aku kebingungan ialah ketika aku membaca hadits di shahih muslim bahwa Nabi meninggalkan kepada kita dua perkara penting. Al-Qur’an (Kitabullah) dan Al-Itrah Ahlulbayt.

Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761).

Aku kembali menanyakan hal yang sama seperti diskusi yang pertama diatas. Tidak mungkin kedua hadits yang memiliki redaksi berbeda itu lalu kemudian kita anggap sebagai hadits shahih.  Pasti salah satunya benar atau mungkin keduanya salah.

Aku juga mengatakan bahwa ada seseorang yang berpendapat dalam tulisannya bahwa hadits “Al-Qur’an dan Sunnahku” itu dhoif jiddan. Sedangkan yang shahih adalah hadits “Al-Qur’an dan Al-Itrah Ahlulbayt.

Beliau kemudian menjawabnya dengan membacakan surat An-Nisa ayat 59. Aku pikir ndak nyambung juga jawaban beliau itu. Karena saat ini kita tengah mempersoalkan kedudukan kedua hadits tersebut. Manakah yang shahih dan manakah yang dho’if.

Namun setelah itu, aku mendapatkan jawaban lain yang begitu membunuh karakterku saat itu. Pembicara mengatakan bahwa beliau tidak ingin menghabiskan waktunya untuk membahas itu dengan mahasiswa seperti aku yang gak paham apa-apa tentang ilmu hadits.

Jawaban santun dan mencerahkan yang aku harapkan, ternyata jawaban yang penuh dengan Argumentum ad hominem yang aku dapatkan.

———

Bagaimana pendapat Anda? Baik tentang dogma dan argumentum ad hominem yang aku dapatkan, maupun tentang isi dari kedua diskusi tersebut.

  1. Desember 10, 2008 pukul 11:10 pm

    apa tho hominem itu..????

    *maklum gaptek*

  2. Desember 11, 2008 pukul 12:32 am

    yang aku tahu sih, bukan substansi lagi yang diperbincangkan, tetapi personal.

  3. Desember 11, 2008 pukul 1:28 pm

    Mirip kayaknya seperti jangan mencampurkan fakta dengan opini kali ya…….

  4. Desember 11, 2008 pukul 1:29 pm

    Saking buru2 sampe lupa…. mohon ijin link nya disimpan di tempat saya mas. terima kasih
    Wassalamualaikum Wr Wb

  5. Humor lucu
    Desember 11, 2008 pukul 5:47 pm

    Ad Hominem itu tanda orang kepepet alias kehabisan argumen, drpd malu ketahuan g tahu, mending nyerang orgnya saja he he he.

    Kalo Soal Hadits no comment dulu lah, aku g bgtu ngerti ilmu hadits.

  6. Desember 12, 2008 pukul 5:09 am

    @manztea
    Ok, aku link-kan.

    @Humor lucu
    apa yang beliau sampaikan memang betul. Tetapi jika perkataan itu untuk menjawab pertanyaanku, maka itu merupakan bentuk fallacy.

  7. Badari
    Desember 12, 2008 pukul 7:40 am

    @ressay
    2 trik bersilat lidah yg dipakai oleh orang yg sudah bangkrut argumennya: ngoceh dgn kalimat2 yg tidak nyambung / tidak merupakan bahasan (agar pendengar bingung/tidak fokus) dan merendahkan pribadi lawan pendapatnya dgn label2 negatif/buruk (agar pendengar berprasangka buruk, alergi, & sinis thd lawan pendapat).

    Ayat 59 Al-Nisa dibaca boleh2 saja, tapi saya menduga ayat itu dipakai (tentu dgn tafsir perspektif pribadinya) utk memvonis hadis mana (tsaqal ke-2: Ahlul-Baitku atau Sunnahku) yg sahih & mana yg tidak. Itu menunjukkan justru dia yg belum tahu (juga belum mau pakai) metodologi pengecekan hadis melalui sanad & rawi.
    Lalu, agar metodologi standar kritik hadis tidak dibahas, dia nilai itu buang2 waktu & dia vonis lawan pendapatnya dgn label2 negatif bhw lawan pendapatnya tidak mengerti (pakai istilah apa-apa lagi!!!) tentang ilmu hadis. Ini tujuannya agar timbul opini bhw lawan pendapat tidak punya hak berbicara/berpendapat, tapi wajib membeo & membebek kepadanya. O iya, istilah membeo & membebek itu label negatif; istilah label positifnya: sami’na wa atho’na, wa laa nas-alu wa laa na’qilu 😀

    Hah! di HMI kayak gitu diskusinya?! Tidak sangka saya bhw di HMI diskusi bisa tidak sehat & tidak bermutu gitu. Apa kata dunia? Gimana mau maju mahasiswa kalau di-training agar tidak mengkaji kritis pendapat2 di dunia ilmu?

    Saran saya: di HMI perlu ada [bagi anggota baru, & anggota senior yg dogmatis 🙂 ] training etika berdiskusi dgn memanfaatkan bahan logic fallacies [bisa dicari di Internet, ada yg bagus].
    Mas Yasser, selamat menyebarkan etika diskusi yg sehat. Salam ‘alaykum.

  8. Desember 12, 2008 pukul 8:44 am

    Sebenarnya, pembicara pada kedua diskusi tersebut bukan dari HMI.

  9. Desember 13, 2008 pukul 12:19 pm

    sebenarnya bila terjadi deadlock argumen, artinya menandakan bahwa kita harus melakukan penelitian lebih lanjut.

    entah kesahihan haddis tentan usia siti aisyah, atau asal usul hommo sapien hingga bagai mana membuktikan jumlah sebenarnya korban hollocaust oleh Nazi.

    Tidak boleh hanya dengan kata “pokoknya” tetapi setiap pihak baik yang pro atau kontra harus berusaha keras mengumpulkan fakta, agar statement tersebut tidak sekedar merupakan indoktrinasi buta namun merupakan kebenaran yang hakiki dan diterima semua pihak ! ya toh!

  10. Desember 13, 2008 pukul 12:23 pm

    lha saya ini bukan orang yang ahli hadits kok mas. Jadi ngapain diskusi masalah hadits sama saya?

  11. Desember 13, 2008 pukul 6:07 pm

    @ Ressay

    “”lha saya ini bukan orang yang ahli hadits kok mas. Jadi ngapain diskusi masalah hadits sama saya?””

    ditujukan buat siapa nih ?

  12. Desember 13, 2008 pukul 6:25 pm

    Hehehe…buat siapa saja yang merasa telah terjangkiti virus ad hominem. hehehe…

  13. Desember 17, 2008 pukul 12:52 pm

    diskusi dengan penganut aliran “pokoknya” tidak akan pernah terjadi diskusi *smile*

  14. tomi bt sngkar
    Desember 17, 2008 pukul 1:40 pm

    diskusi memang bagus untuk membuka kerangka berpikir… ketika diskusi itu membicarakan yang sangat sakral maka diskusi semakan hangat… tapi hasil diskusi jangan di telan mentah2,,, bisa jatuh talangkang.

  15. Desember 17, 2008 pukul 3:16 pm

    @afie
    Pokoknya kambing walaupu bisa terbang.

    @tomi bt sngkar
    jatuh talangkang apa itu mas?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: