Beranda > Nyante > Fallacy di Sekolah Revolusi Kesadaran

Fallacy di Sekolah Revolusi Kesadaran

revolution

Revolusi harus dimulai dari sekarang...!

Dulu ketika masih menjabat Ketua Bidang PPA di HMI Komisariat FH UNS, aku coba membuat program kerja Sekolah Revolusi Kesadaran. Sekolah? Itu hanya sebuah nama saja. Sebenarnya adalah Kajian yang terkurikulum. Karena ada kurikulum, kemudian aku namakan sebagai Sekolah.

Revolusi Kesadaran? Apa maksud dari Revolusi Kesadaran itu? Apakah sekolah itu ingin merevolusi kesadaran?

Sebenarnya ini terkait dengan perkataan Rene Descartes bahwa pikiran adalah bukti keberadaan manusia. Kemampuan berpikir adalah suatu bentuk kesadaran karena kemampuan kognitif manusia adanya di dalam kesadaran.

Kesadaran adalah suatu keadaan, dimana setiap orang yang memiliki pengetahuan tentang apa yang ia ketahui. Dari setiap apa-apa yang sudah ia ketahui tersebut, secara langsung akan berfungsi sebagai pijakan untuk pengetahuan atau kesadaran lebih lanjut.

Pengetahuan manusia akan sesuatu, akan berimbas pada sikapnya dalam menjalani kehidupan. Contoh misalnya, jika seorang anak kecil mengetahui bahwa setan itu betul ada dan menakutkan, maka itu akan berakibat pada kehidupan yang dijalani si anak tersebut. Dia tidak akan berani pergi ke kamar mandi sendirian.

Berangkat dari konsepsi tersebut, maka verifikasi atas pengetahuan yang kita miliki menjadi suatu keharusan. Jangan sampai pengetahuan yang kita miliki ternyata salah, karena itu akan berimbas pada kehidupan yang salah juga.

Dengan memverifikasi pengetahuan, kita telah melakukan usaha merevolusi kesadaran.

Malam ini aku diminta oleh HMI Komisariat FH UNS, untuk jadi pembicara pada sekolah revolusi kesadaran. Materi yang akan aku bawakan nanti ialah fallacy atau kesesatan berpikir.

Ternyata kurikulum yang ada sekarang, selepas aku lengser dari jabatan, tidak ada perubahan yang begitu mendasar. Materi-materi yang dulu ada di kurikulum yang aku buat, masih tetap ada pada kurikulum Sekolah Revolusi Kesadaran yang sekarang. Tetapi aku pikir itu gak terlalu masalah. Tinggal bagaimana nanti si penyelenggaran membuat Sekolah Revolusi Kesadaran itu menjadi menarik bagi kader HMI, karena pengalaman dulu tidak banyak kader HMI yang berminat dengan ini.

Apa itu fallacy? Silakan baca disini.

  1. Desember 18, 2008 pukul 4:43 pm

    Mantap, Mullah. Kesadaran itu ada ya karena banyak dicurhatkan, atau bahasa lainnya… didialektikakan.

    Aku pikir, setelah di cabang, cuma tertarik sama pencalonan Rahmad aja. Hehe….

  2. Desember 18, 2008 pukul 5:08 pm

    Pencalonan Rahmad? Aku hanya bisa berdoa saja. Semoga saja dia yang terpilih dan mampu membawa HMI Jateng DIY jadi lebih baik ke depannya.

    Kalau masalah blog, okay juga nampaknya. Tetapi kalau politik, otakku gak kesampaian.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: