Beranda > Tulisanku > Fallacy (Kesalahan Berpikir)

Fallacy (Kesalahan Berpikir)

the_fallacy_detective_hi-res_image

Apakah kita saat ini sedang berfallacy?

Apa itu fallacy? Fallacy berasal dari bahasa Yunani dan Latin yang berarti ‘sesat pikir’. Fallacy didefinisikan secara akademis sebagai kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja. Ia juga bisa diterjemahkan dalam bahasa sederhana dengan ‘ngawur’.

Ada dua pelaku fallacy, yaitu Sofisme dan Paralogisme

Sofisme adalah sesat pikir yang sengaja dilakukan untuk menyesatkan orang lain, padahal si pemuka pendapat sendiri tidak sesat.

Disebut demikian karena yang pertama-tama mempraktekkannya adalah kaum sofis, nama suatu kelompok cendekiawan yang mahir berpidato pada zaman Yunani kuno. Mereka selalu berusaha mempengaruhi khalayak ramai dengan argumentasi-argumentasi yang menyesatkan yang disampaikan melalui pidato-pidato mereka agar terkesan kehebatan mereka sebagai orator-orator ulung.Umumnya yang sengaja ber-fallacy adalah orang menyimpan tendensi pribadi dan lainnya. Sedangkan yang berpikir ngawur tanpa menyadarinya adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang bertanggungjawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya.

Paralogisme adalah pelaku sesat pikir yang tidak menyadari akan sesat pikir yang dilakukannya.

Fallacy sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi amoral, seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu.

Begitu banyak manusia yang terjebak dalam lumpur fallacy, sehingga diperlukan sebuah aturan baku yang dapat memandunya agar tidak terperosok dalam sesat pikir yang berakibat buruk terhadap pandangan dunianya. Seseorang yang berpikir tapi tidak mengikuti aturannya, terlihat seperti berpikir benar dan bahkan bias mempengaruhi orang lain yang juga tidak mengikuti aturan berpikir yang benar. Karena itu, al-Qur’an sering kali mencela bahwa ‘sebagian besar manusia tidak berakal’, tidak berpikir’, dan sejenisnya.

Beberapa macam-macam fallacy:

1. Fallacy of dramatic instance yaitu kecenderungan untuk melakukan analisa masalah sosial dengan penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum (over generalisation).

Contoh: Mahasiswa beriman tadi yang mengatakan bahwa HMI itu organisasi yang sesat, kiri, liberal karena melihat beberapa kadernya yang menurut pandangannya sebagai orang sesat, kiri, dan liberal.

2. Argumentum ad hominem adalah argumentasi yang diajukan tidak tertuju pada persoalan yang sesungguhnya, tetapi terarah kepada pribadi yang menjadi lawan bicara atau dalam bahasa kerennya dikenal dengan istilah Personal Attack.

Contoh: Saya tidak ingin berdiskusi dengan Anda, karena Anda seorang anak kecil yang gak tahu apa-apa.

3. Argumentum ad verecundiam adalah kesalahan berpikir akibat argumen dengan menggunakan argumen yang bersifat otoritas meskipun otoritas itu tidak relevan

Contoh: A sedang berdiskusi dengan B. Lalu A berkata kepada B, pendapat Anda bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Ini bentuk kesalahan berpikirnya. Bahwa, sebenarnya B tidak bertentangan dengan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah sepanjang yang A pahami.

4. Argumentum Auctoritatis adalah sesat pikir dimana nilai penalaran ditentukan oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya. Jadi suatu gagasan diterima sebagai gagasan yang benar hanya karena gagasan tersebut dikemukakan oleh seorang yang sudah terkenal karena keahliannya

Contoh: Saya meyakini bahwa pendapat dosen itu benar karena ia seorang guru besar.

5. Kesesatan non causa pro causa (post hoc ergo propter hoc) adalah kesesatan yang dilakukan karena penarikan penyimpulan sebab-akibat dari apa yang terjadi sebelumnya adalah penyebab sesungguhnya suatu kejadian berdasarkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan. Orang lalu cenderung berkesimpulan bahwa peristiwa pertama merupakan penyeab bagi peristiwa kedua, atau peristiwa kedua adalah akiat dari peristiwa pertama – padahal urutan waktu saja tidak dengan sendirinya menunjukkan hubungan sebab-akibat.

Contoh: Anda membuat surat untuk seseorang yang anda cintai dengan menggunakan pulpen A, dan ternyata cinta Anda diterima. Kemudian pulpen A itu anda gunakan untuk ujian, dan Anda lulus. Tak lama kemudian ortu Anda mengirimkan uang pada Anda, Anda kemudian sangat mencintai pulpen itu. “ini bukan sembarang pulpen!” kata anda. “Pulpen ini mengandung keberuntungan”

6. Argumentum ad baculum adalah argumen yang diajukan berupa ancaman dan desakan lawan bicara agar menerima suatu konklusi tertentu, dengan alasan bahwa jika menolak akan berdampak negatif terhadap dirinya

Contoh: Jika Anda tidak mengakui kebenaran apa yang saya katakan, Anda akan terkena adzab Tuhan.

7. Argumentum ad misericordiam adalah sesat pikir yang sengaja       diarahkan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara dengan tujuan untuk memperoleh pengampunan/ keinginan.

Contoh: Saya mencuri karena saya miskin dan tidak bisa membeli sandang dan pangan.

8. argumentum ad ignorantiam adalah Apabila kita memastikan bahwa sesuatu itu tidak ada karena kita tidak mengetahui apa pun juga mengenai sesuatu itu atau karena belum menemukannya, maka itulah sesat pikir.

Contoh: “Menerbangkan manusia di bulan itu sulit. Maka manusia tidak bisa diterbangkan ke bulan.”

9. Argumentum ad auctoritatis adalah argumentasi yang diajukan berdasarkan kewibawaan atau pengaruh besar seseorang, bukan berdasarkan penalaran. Perhatikan contoh berikut ini: “Saya yakin apa yang dikatakannya, karena ia pemimpin partai besar”.

Sumber:

Wikipedia

Islam Protes

Fertob

Buku Rekayasa Sosial karya Jalaluddin Rakhmat

Maaf jika ada yang salah. Masih belajar.

  1. Desember 19, 2008 pukul 6:08 am

    salam saudara,,,,,

    yakin usaha sampai

  2. Desember 19, 2008 pukul 6:15 am

    referensi tentang Buku Rekayasa Sosial ada di sini:
    http://intelektualkuldesak.blogspot.com/2008/08/rekayasa-sosial.html

  3. Desember 19, 2008 pukul 10:15 am

    yakusa..!!
    makasih atas infonya.

  4. Desember 30, 2008 pukul 4:46 pm

    good article🙂

    nah, seharusnya pendidikanlah yang seharusnya menjadi wadah agar kita terhindar dari ‘fallacy’. 😀

  5. Desember 31, 2008 pukul 5:08 am

    Tetapi ternyata sebaliknya.

    Fallacy itu banyak beredar di lingkungan pendidikan.

  6. Rist Lawliet
    Mei 25, 2009 pukul 9:11 am

    Hm….

    cuma saya, atau….

    Argumentum ad Verecundiam nya ada 2? sedangkan kayaknya penjelasan yang kedua itu salah…

  7. Mei 25, 2009 pukul 9:22 am

    Iya memang ada kesalahan. Belum sempat aku betulkan. Thanks a lot dah mengingatkan.

  8. Maret 19, 2014 pukul 11:06 am

    Kalo saya yakin dengan ulama salaf karena mereka hidup di jaman rasulullah, kira kira termasik sesat pikir gak om?

  9. Juli 28, 2016 pukul 4:37 pm

    Excellent, what a blog it is! This weblog presents useful facts to
    us, keep it up.

  1. September 1, 2010 pukul 6:38 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: