pramuka
Betapa gagahnya mereka menggunakan seragam pramuka

Malam minggu  itu, ketika langit mulai menggelap dan menampakkan keindahan bulan. Ketika udara yang siang hari terasa menyengat berubah menjadi dingin menusuk. Ku larikan sepeda motorku ke Markas Besar HMI Cabang Surakarta.

Ditengah perjalanan, aku lihat sebaris anak-anak SMP (dilihat dari postur tubuhnya) menggunakan seragam pramuka. Dengan tongkat pramuka, begitu disebutnya, mereka berjalan seraya meneriakkan yel-yel khas pramuka. Terkejut aku melihat barisan pramuka itu. Di saat anak muda sekarang asyik menghabiskan malam minggu dengan kencan dan pacaran, mereka malah menghabiskan malam minggu dengan berjalan dikegelapan malam dengan membawa tongkat dan meneriakkan yel-yel.

Spontan aku jadi teringat kembali masa-masa ketika berproses di pramuka SMP dahulu. Satu-satunya organisasi yang aku minati saat itu. Jika kebanyakan teman-temanku menggeluti dunia OSIS, aku lebih memilih pramuka sebagai tempat penggemblenganku. Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana.

Satu hal yang membuatku ikut pramuka saat itu karena dahulu aku menganggap orang yang menggunakan seragam itu orang hebat. Mereka menggunakan seragam layaknya seorang polisi. Dengan peluit di pundak, tangan dipangkukan di pinggang, mereka membentak adek-adek tingkat. Pikiranku saat itu, aku ingin sekali menjadi jagoan. Aku ingin menjadi orang hebat karena ditakuti oleh adek tingkat. Aku bisa seenaknya membentak adek tingkat. Aku sangat senang jika melihat raut muka adek tingkat yang ketakutan melihat tatapanku yang tajam. Walaupun posisi itu diraih dengan penuh perjuangan dan harus rela menjadi adek tingkat yang dibentak itu terlebih dahulu, tetapi seakan itu tidak menjadi penghalang. Karena aku berpikiran, apapun caranya, aku harus bisa menjadi senior di pramuka.

Sekarang, aku berpikir, mengapa aku dulu bisa memiliki pola pikir seperti itu? Pola pikir militeristik lah yang kemudian membuatku menerjunkan diri dalam dunia kepramukaan. Paradigma kesenioran membuat nyaman berada dilingkungan semi militer, begitu aku menyebut pramuka saat ini.

Banyak beberapa temanku menganggap tidak ada manfaat dari kegiatani pramuka. Yang ada di pramuka hanyalah nuansa senioritas yang begitu kental.

Menurut mereka, disana seakan-akan berlaku dua Pasal.

Pasal 1, senior tidak pernah salah.

Pasal 2, jika senior melakukan kesalahan, maka kembali pada pasal 1.

Artinya, senior dipandang sebagai sosok yang ma’shum, terbebas dari kesalahan. Mereka tidak dapat dipersalahkan.

Sebetulnya, aku tidak sepenuhnya sepakat dengan pendapat temanku itu. Memang betul nuansa senioritas di dalam pramuka begitu kental. Namun, tidak dapat dipungkiri juga dapat manfaat dari kegiatan pramuka. Kedisiplinan dan cinta terhadap tanah air (nasionalisme) adalah beberapa manfaat dari pramuka.

Namun permasalahannya, cinta tanah air seperti apa yang dibentuk di Pramuka? Apakah cinta tanah air yang begitu saja patuh pada pemimpin negara yaitu dalam hal ini presiden? Ataukah cinta tanah air yang masih membuka ruang-ruang bagi kekritisan kita atas realitas yang ada?

Sekali lagi, temanku pun berkomentar mengenai hal itu. Ia berpandangan bahwa pramuka hanya membentuk orang-orang yang cinta tanah air secara buta. Mereka patuh betul kepada pemimpin. Ketaatan kepada pemimpin, menjadi dogma utama mereka.

Apakah memang betul seperti itu? setujukah Anda jika pramuka harus tetap dipertahankan keberadaannya? Bagaimana pandangan Anda terhadap pramuka masa lalu, pramuka masa kini, dan pramuka masa depan?