Beranda > Tulisanku > Badan Hina Pendidikan (BHP)

Badan Hina Pendidikan (BHP)

tolak-bhp

Badan Hina Pendidikan (BHP)

Badan Hina Pendidikan, begitulah salah seorang kawanku yang berjiwa hijau hitam merah itu menyebutnya. BHP yang sebetulnya singkatan dari Badan Hukum Pendidikan, kemudian ia plesetkan menjadi Badan Hina Pendidikan.

Menurutnya, Undang-Undang BHP yang baru-baru ini disahkan sebetulnya menghina semangat penyelenggaraan pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan yang seharusnya menjadi tanggung jawab dari pemerintah, menurut Undang-Undang Dasar yang ia pahami, tetapi selepas berlakunya Undang-Undang Tentang Sisdiknas dan Undang-Undang tentang BHP seolah-olah pemerintah berlepas tangan dalam hal penyelenggaraan pendidikan.

Instansi pendidikan dipaksa untuk mencari dana mandiri untuk memenuhi kebutuhan operasional pendidikan. Hal ini akan mendorong munculnya komersialisasi pendidikan.

Rakyat kecil yang seharusnya bisa mendapatkan pendidikan layak, dengan disahkannya UU BHP ini, mereka akan kesulitan untuk mendapatkan pendidikan tersebut karena mahalnya biaya pendidikan. Ini diakibatkan karena instansi pendidikan berlomba-lomba mencari dana mandiri, termasuk dari peserta didik.

Gaung penolakan terhadap Undang-Undang ini pun mulai semarak kita saksikan di media massa. Mereka menuntut dicabutnya UU tersebut. Bahkan sebagian meminta kepada MK untuk melakukan Judicial Review atas UU BHP dan UU Sisdiknas tersebut.

Namun, ada pemandangan biasa yang masih saja menjadi hal yang lumrah dalam dunia perdemoan. Ketika peserta demo sendiri ternyata tidak memahami maksud dari mereka berdemo. Anggap mereka tahu isu yang dibawa, namun beberapa orang yang aku temui ketika ditanya tentang UU BHP, mereka tidak terlalu banyak tahu. Bahkan yang paling menyedihkan adalah ketika pembahasan mengenai BHP itu hanya dihadiri oleh segelintir orang saja. Namun ketika tiba saatnya demo, orang-orangnya bertambah banyak.

Tidak ada suasana dialogis rasional ketika demo. Yang ada hanyalah argumentum ad populum. Berteriak-teriak, menyanyikan lagu-lagu demo yang sebelum demo disediakan waktu khusus untuk latihan, membakar ban (apa hubungannya ama BHP?, mencaci maki polisi (walaupun memang ada sebagian polisi yang patut dicaci),.

Entahlah, aku pribadi masih dalam posisi yang membingungkan. Antara ikut demo (walaupun sebenarnya terkesan formalitas untuk menunjukkan eksistensi belaka) dan memilih jalan diplomatis (ini pun amat susah untuk dilakukan).

Bagaimana pendapat Anda tentang UU BHP ini? lalu, masih relevankah demo itu disaat masyarakat agak sinis ketika melihat demo mahasiswa yang berujung pada tindak kekerasan (bukan anarkis lho). Apakah mahasiswa harus melakukan perubahan paradigma, mengingat saat ini kekuatan mahasiswa tidak sebesar dahulu? Ambillah contoh demo menolak kenaikan BBM yang dilakukan oleh mahasiswa. Itu hanya berlangsung sesaat saja. Toh, walaupun ada demo tersebut pemerintah tetap santai melenggang menaikkan harga BBM. Turunnya harga BBM pun bukan karena desakan dari mahasiswa, tetapi karena memang turunnya harga minyak dunia.

  1. Desember 25, 2008 pukul 4:04 am

    lha emang apa pentingnya pendidikan? Gak perlu makan bangku sekolahan utk nyari duit. Malah yg namanya pendidikan cmn ngabisin duit. Apalagi klo dunia politik, gak usah lulus kuliah, mas, untuk jadi presiden…
    hehehehe, salam prihatin.
    (sebenarnya pengen jadi presiden tapi nyasar jadi dosen :p )
    Btw, mahasiswa yg rajin demo thok thil identik dg oportunis ketika mereka sudah tdk berstatus mahasiswa. Klo betul idealis, mending sekolah yg bener, cepet lulus, berprestasi setinggi mungkin, klo perlu masuk ke birokrat atau dewan dan perbaiki dari dalam. Jangan hanya omong doang. Saya khawtir yg jago demo itu isinya kosong. Klo mereka kelak jadi birokrat & dewan, ya hanya jadi gombal oportunis.
    (Weh, sok bijak sekarang, hehehe…)
    oh iya, oportunis kui artine apa tha? Sama oporayam enak mana ya?

  2. Desember 25, 2008 pukul 2:17 pm

    Salam kenal:mrgreen:

    *datang karena kesummon avatar*
    *mau komen di about tapi ditutup*
    *disini saja*

    (OOT) Saya juga anak HMI lho. Tapi beda sama HMI situ:mrgreen:
    Silaken cek banner HMI di blog saya, sekiranya tertarik:mrgreen:

  3. Desember 25, 2008 pukul 3:17 pm

    Salam kenal.
    Beda yah? Asyik donk.

  4. Desember 26, 2008 pukul 2:35 am

    harusnya BEM itu diajak duduk semeja ma pemerintah dan DPR, apa yg dimau pemerintah dan apa argumen BEM, ya emang kadang hanya bisanya treak tapi apa yg dituntutkan aja kadang pendemo itu ga ngerti.

  5. Desember 26, 2008 pukul 2:45 am

    Mahasiswa harus mau berlelah-lelah melakukan revolusi kesadarannya terlebih dahulu, sebelum berangan-angan melakukan revolusi atas negara Indonesia ini.

  6. safar_Aceh
    Desember 26, 2008 pukul 10:02 am

    Sip. Bro. terus lawan Penindasan baru melalui sistem edukasi.
    salam kenal

  7. Desember 26, 2008 pukul 12:12 pm

    lam kenal!
    hm… lo’ omongin masalah mahasiswa. nurut gue mending buat yang banyak cuap-cuap perbaiki diri dulu dah. ntar takutnya kena ma omongannya ndiri

  8. Desember 27, 2008 pukul 1:27 am

    Setahu saya si, pendidikan zaman sekarang tu ya emang buat orang kaya. Orang miskin dilarang sekolah dan sakit. Semua harga naik, listrik, air, (hampir semua objek vital dieksploitasi habis2an)

  9. Desember 27, 2008 pukul 1:41 am

    jadi itu tochh arti BHP

  10. Desember 27, 2008 pukul 3:02 am

    dan dalam setiap pengambilan keputusan seharusnya masukan dari bawah itu adalah penting……sehingga tidak ada salah satu pihak yang dirugikan…
    yang saya takutkan adalah tindakan mereka yang dibawah dengan membuat aturan baru ketika anak akan masuk sekolah yaitu masalah uang…jadinya aturan yang ada dijadikan tameng dalam menetapkan tarif…..

    Bener kata para pemulung dijalanan kalo orang birokrat itu ibarat dewa, tahunya netapin keputusan tapi KAGAK TAHU KONDISI DILAPANGAN…..

    BERARTI GOLPUT TUH HALAL……

  11. Desember 28, 2008 pukul 1:30 am

    Halal haram, tidak sembarangan orang bisa menetapkan.

  12. Gyl
    Desember 28, 2008 pukul 3:04 am

    Hmm… ada yang pernah ngomong sebenarnya mahasiswa hanya boleh menanggung 1/3 dari biaya operasional. Itu ada di isi UU BHP.

    Dan kalo ga salah ingat salah satu isinya menyebutkan bahwa pemerintah masih menanggung biaya sebanyak berapa bagian gitu… lupa.

    Saya sendiri tidak berani komentar banyak.. soalnya isinya secara lengkap pun belum tahu.

  13. Desember 28, 2008 pukul 1:02 pm

    Ada yang berkenan memberikan data mengenai itu?

  14. Desember 29, 2008 pukul 2:15 pm

    TOLONG KIRIMI SAYA UU BHP YAAA…..UNTUK KAMI TELAAH…MAKASIH
    WASSALAM

  15. Desember 29, 2008 pukul 4:15 pm

    Silakan hubungi 08568277882.

  16. havier
    Januari 1, 2009 pukul 3:01 pm

    sudahkah anda tau pa tu bhp???????
    pa isi dr bhp????
    pa prospek bhp???
    sebagai kaum kaum berpendidikan selesaikan masalah dengan bijak
    bukan menyelesaikan masalah dengan masalah

  17. Januari 1, 2009 pukul 3:25 pm

    Anda sudah tahu? Bisa kami yang tidak berpendidikan ini diberi tahu?

  18. GUE
    Januari 11, 2009 pukul 5:06 am

    Duuuh da ngomongin BhP yea.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!

    Slam knl Az dech buat BhP……;)

  19. Januari 12, 2009 pukul 3:17 pm

    Pendidikan di Indonesia sekarang sedang mengalami kemunduran dengan disyahkannya UU BHP, rakyat miskin dilarang sekolah.
    Pengesahan UU BHP ini akibat Indonesia terlalu nurut sama IMF dan bank dunia yang akan menjadikan negara berkembang sebagai obyek penjajahan neolberalisme melalui pasar bebasnya.
    http://www.warnadunia.com/

    Salam kenal^_^

  20. Januari 12, 2009 pukul 3:26 pm

    @prabu
    salam kenal juga.

  1. Mei 2, 2009 pukul 4:27 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: