Beranda > Tulisanku > 10 Muharram: Inspirasi Bagi Para Pejuang

10 Muharram: Inspirasi Bagi Para Pejuang

asyura

Setiap hari adalah Asyura, Setiap Bumi adalah Karbala. Pantang Hina..!!

Telah banyak media memberitakan pembantaian keji yang dilakukan oleh Rezim Zionis Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Satu demi satu tangisan bayi terhenti karena nyawanya telah tercerabut. Perempuan demi perempuan Gaza mulai menangisi kematian anak-anak mereka. Tangisan bocah-bocah kecil yang begitu menyayat hati mulai terdengar. Luka akibat rudal Zionis Israel itu membuat bocah itu menangis, meringis kesakitan. Mereka berjuang melawan maut.

Dengan arogannya Israel tidak memperdulikan siapa yang mereka serang. Bukan lagi pasukan Hamas yang mereka bunuh, tetapi orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan Hamas pun menjadi korbannya. Hingga peperangan tak seimbang itu pun terus berlanjut sampai saat ini.

Peperangan yang tidak seimbang itu mengingatkanku pada beberapa abad silam, ketika satu kafilah yang dipimpin oleh cucu Nabi, Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib berangkat untuk menemui khalifah Islam pada saat itu, Yazid bin Muawiyah.

Ketika itu, ajaran-ajaran Islam diselewengkan, kebenaran diperlihatkan sebagai suatu kebatilan dan sebaliknya. Sang penguasa melakukan hal-hal yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam, padahal ia telah memploklamirkan dirinya sebagai khalifah Rasul saww dan khalifah kaum muslimin. Maka tibalah saatnya Imam Husain as bangkit untuk melawan kezaliman dan memurnikan Islam yang telah dikotori oleh tangan-tangan jahil yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad saww. Imam Husain as sendiri telah menjelaskan masalah ini ketika menuliskan wasiat kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiah berkaitan dengan sebab-sebab keberangkatannya ke Karbala. Imam mengatakan bahwa keberangkatannya ke Karbala bukan untuk berbuat keonaran dan kerusakan tetapi untuk merevisi kembali kondisi umat kakeknya (Nabi Muhammad saww), menegakkan yang makruf dan mencegah yang munkar serta menghidupkan kembali jalan serta agama kakek dan ayahnya. Imam Husain as datang ke Karbala bukan untuk melakukan gerakan harakiri, akan tetapi demi menyelamatkan Islam Muhammadi. Meskipun proses penyelamatan tersebut dapat merenggut nyawanya.

Al-Husain membawa serta para sahabat, istri, anak, dan sanak keluarganya. Kafilah yang hanya berjumlah 70an orang itu kemudian dihadang oleh ribuan pasukan khalifah Islam Yazid. Pertempuran yang tidak seimbang itu pun berkecamuk. Satu demi satu anggota kafilah Al-Husain syahid, termasuk anaknya yang masih bayi syahid setelah anak panah menancap di leher mungil itu.

Tepat 10 Muharram, Al-Husain pun menyusul. Ia syahid dengan keadaan kepala terpenggal oleh pedang si durjana Syimr laknatullah. Para perempuan dijadikan tawanan. Mereka di arak keliling kota beserta kepala Al-Husain yang tertancap pada ujung tombak. Mereka dibawa ke hadapan Yazid bin Muawiyah. Melihat kepala Al-Husain, Yazid langsung memukul-mukulnya sambil mengucapkan syair:

“Bani Hasyim (Rasulullah) telah bermain dengan kekuasaan padahal tidak ada berita yang datang dan wahyu yang turun. Andaikan leluhurku yang mati dalam perang Badar menyaksikan keketakutan dan kekalahan kabilah Khazraj maka mereka akan bergembira ria dan memujiku. Kami melakukan perbuatan ini sebagai balasan atas kekalahan kami dalam perang Badar. Sekarang, kedudukan korban kami (di perang Badar) dan kedudukan musuh kami adalah sama. Jangan katakan diriku dari keturunan Khandaf (nama salah satu leluhur Muawiyah .red) jika aku tidak mampu membalas dendam kepada Bani Ahmad (baca: keturunan Muhammad saww)”.

Salah seorang pecinta keluarga Nabi berteriak, “Engkau memukul gigi Husain dengan kayu ini? Aku melihat kayumu mengenai bagian yang sering dicium oleh Rasul saww. Ingatlah wahai Yazid, pada hari kiamat engkau akan datang dengan Ibnu Ziyad sebagai pensyafa’atmu dan kepala suci ini akan datang sedang Rasul saww sebagai pensyafa’atnya.”

Jika kita menilai peristiwa 10 Muharram itu dari sudut pandang militer, memang kafilah Al-Husain kalah telak. 70 orang harus melawan ribuan pasukan keji. Mereka bukan hanya membantai orang-orang dewasa, tetapi anak-anak pun dijadikan sasaran keberingasan mereka.

Betul memang, kafilah Al-Husain dibantai habis oleh pasukan Yazid, yang tersisa hanya para perempuan dan satu anak Al-Husain yang masih diperkenankan hidup, Ali Zainal Abidin.

Namun sebetulnya peperangan tersebut dimenangkan oleh Al-Husain dan para pecintanya. Pesan moral perjuangan melawan penindasan membuahkan hasil tersadarkannya sebagian umat Islam saat itu bahwa mereka tengah dipimpin oleh seorang khalifah dzalim durjana. Bahwa khalifah Yazid bin Muawiyah tidaklah lebih dari seorang pembenci keluarga Nabi. Bahwa cucu Nabi, yang sering dipeluk dan diciumi Nabi harus syahid ditangan pasukan durjana dengan keadaan yang menyedihkan. Pedang Syimr Laknatullah itu menggorok leher suci Al-Husain. Darah segar mengucur deras dari leher itu seiring keluarnya suara takbir yang digumamkan bibir suci Al-Husain.

Al-Husain dan para pecintanya mengajarkan kepada kita perjuangan melawan penindas, walaupun harus mengorbankan nyawa. Inilah yang menjadi inspirasi bagi rakyat Iran yang menggulirkan Revolusi Islam menumbangkan penguasa dzalim, menjadi motivasi bagi Hizbullah dan Hamas dalam melawan setiap kekejian yang dilakukan Rezim Zionis Israel durjana.

Pesan kemenangan pasukan Al-Husain bukan diraih dengan membunuh semua pasukan musuh. Namun, pesan itu tersampaikan dengan terbunuhnya cucu Nabi, Al-Husain beserta para pecintanya.

Pesan kemenangan Hizbullah bukan karena berhasil menghancurleburkan seluruh wilayah Israel, tetapi pesan tersebut tersampaikan karena syahidnya ratusan rakyat tak berdosa karena terkena rudal Zionis.

Demikian pula Hamas. Semoga atas pertolongan Allah, Hamas akan meraih kemenangan.

  1. masmpep
    Januari 10, 2009 pukul 5:20 am

    10 muharram memang tragis. tetapi selain 10 muharram saya kira banyak peristiwa tragis. misalnya saat suatu hari di abad 15 amangkurat membantai 6.000 ulama (kiai) di tatar jawa. saya kira umat muslim indonesia perlu melacak tanggal persitiwa itu, dan menjadikannya sebagai pelajaran.

  2. Januari 10, 2009 pukul 5:35 am

    Pengorbanan keluarga Ibrahim adalah Ismail yang kemudian digantikan dengan seekor domba.

    Pengorbanan keluarga Muhammad adalah Al-Husain. Tetapi leher yang digorok itu bukan leher domba, tetapi leher Al-Husain.

    Sekarang ini, muncul Yazid-yazid baru. Mereka berkuasa atas nama agama tetapi berbuat dzalim.

  3. masmpep
    Januari 12, 2009 pukul 5:39 am

    gus mus bilang: dia seorang jawa yang beragama islam. agama merupakan proses kesadaran. sedang ‘jawa’ merupakan sesuatu yang asali; tak terbantah; genotipik.

    selain belajar pada tradisi-tradisi islam-arab dan islam-timur tengah, islam-jawa menarik juga lo diambil ibrohnya….

  4. Januari 12, 2009 pukul 4:48 pm

    Kalau Ahmad Wahib, Islam yang ku cari adalah Islam menurut Allah.

  5. masmpep
    Januari 13, 2009 pukul 2:36 am

    he-he-he.

    masih dari wahib: saat ini aku belum wahib. sedang me-wahib. aku adalah wahib sesaat sebelum sakaratul maut–saat aku tak berkesempatan menjadi siapapun selain wahib.

    ah, ayolah kita me-diri. mudah-mudahan saat sakratul maut, diri yang kita bentuk paripurna. dan mudah-mudahan allah setuju–meminjam iwan fals (dalam album belalang tua, 2004)

  6. Januari 13, 2009 pukul 5:35 am

    @masmpep
    Semoga mendapat ridho Allah.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: