Beranda > Nyante > Keanehan Ketika Ujian Datang

Keanehan Ketika Ujian Datang

img0211a

Kapan ruang kuliah FH UNS bisa bersih, segar, terang, nyaman seperti ini?

Minggu-minggu ini adalah minggu menegangkan bagi mahasiswa UNS Solo. Pasalnya sejak senin minggu lalu mereka harus menghadapi beberapa lembar soal ujian akhir semester.

Minggu tenang pun disediakan oleh pihak dekanat agar mahasiswa dapat lebih mempersiapkan dirinya untuk menghadapi ujian akhir semester. Pada kenyataannya, minggu tenang tidak benar-benar tenang bagi sebagian mahasiswa. Yang ada justru kepanikan yang muncul karena mereka tidak menyiapkan diri jauh-jauh hari.

Tetapi ada pula yang memanfaatkan minggu tenang sebagai hari-hari yang benar-benar tenang. Tidur larut malam, bangun siang hari. Tidak ada jam masuk kuliah, yang ada hanya waktu tidur, makan, nonton tv, atau mungkin jalan-jalan. Untuk mahasiswa yang seperti ini, Sistem Kebut Semalam (SKS) merupakan jurus andalan mereka. Persiapan mencari bahan ujian pun mereka lakukan pada malam harinya. Tidak jarang dari mereka disibukkan dengan mengerjakan tugas.

Inilah bentuk keanehan yang pertama, menurutku. Entahlah dimana letak keanehannya. Yang jelas, aku pikir ini sebuah keanehan yang seharusnya tidak dilakukan oleh mahasiswa.

Keanehan yang kedua aku saksikan ketika berada pada ruang ujian. Mahasiswa yang seharusnya mampu memahami materi kuliah yang selama 1 semester ini mereka dapatkan ternyata harus berbuat curang.

Untuk mempersiapkan ujian akhir semester yang mereka hadapi, bukan proses belajar (menghafal dan memahami) yang mereka jalani, tetapi proses membuat bahan contekanlah yang kemudian mereka susun pada beberapa lembar kertas-kertas kecil.

Aku melihat beberapa kawanku sesekali mengambil sesuatu dari kantong baju dan celananya. Ternyata mereka tengah mengambil beberapa carik kertas contekan hasil perenungannya semalaman. Bahkan, teknologi canggih pun mereka gunakan sebagai sarana mencontek. Mulai memasukkan catatan contekan itu ke hp, sampai mempostingkannya ke dalam blog pribadi mereka.

Telah banyak cara-cara mencontek yang aku lihat sejak SMP dahulu. Mulai dari cara tradisional sampai kepada cara-cara modern yang memanfaatkan teknologi canggih. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Itu wajar, karena setiap pilihan pasti memiliki resiko dan konsekuensi tersendiri.

  1. Januari 13, 2009 pukul 10:13 am

    kudune dosen ngawasi mahasiwa, kui malah mahasiwa ngawasi dosen😀

  2. Januari 13, 2009 pukul 10:40 am

    hehehehe…jadi saling mengawasi donk. Dan pandangan akan dipertemukan pada suatu saat.

  3. ala
    Januari 13, 2009 pukul 3:46 pm

    kata orang, itu seni-nya ujian…gimana caranya si murid ngakalin gurunya, dan gimana caranya si guru ngonangi muridnya…

  4. Januari 13, 2009 pukul 3:48 pm

    salah dosennya jgua, bikin soal yg bisa dijawab hanya dengan mencontek…hehehe…

  5. Januari 13, 2009 pukul 4:46 pm

    @ala
    Hari ini ada 2 orang temanku yang tertangkap basah membawa kertas contekan.

    @afie
    ada 2 kemungkinan:
    1. dosen menganggap mahasiswanya masih sma.
    2. dosennya gak mampu membuat soal analisis kasus.

  6. Januari 14, 2009 pukul 4:56 am

    kalo saya menamakan bukan minggu tenang mas, tapi minggu blingsatan, karena pasti banyak dari mhs yang sibuk cari materi kuliah temennya, fotocopy sampe bikin kepek-an… jangankan mahasiswa… guru yang ujian mengikuti ujian sertifikasi pun ada yang nyontek…😀 kalo gurunya saja seperti itu, gimana bisa menjadi teladan bagi muridnya?😀

  7. Januari 14, 2009 pukul 6:30 am

    Minggu tenang itu emang haruse minggu buat tenang, lha namnya ae minggu tenang. . .kalo namanya minggu sibuk. . .lha itu baru minggu yang sibuk. . .ahhh semua orang juga haruse tau ta yo. . .
    Kalo masalah nyontek. . .tiap orang pasti pernah nyontek. . .nyontek kan artinya njiplak. . .alias meniru. . .
    apalagi sebagian orang di Indonesia. . .sukanya ‘njiplak’. . .
    lagian sebagai manusia kan sudah dikodratkan untuk ‘meniru’. . .kita pernah kecil. . .dan anka kecil itu kan sukanya ‘meniru’. . .jadi dapat disimpulkan, tiap orang di dunia ini pernah ‘meniru’. . .ini sih cuma pendapatku saja lho. . .

  8. Januari 14, 2009 pukul 8:19 am

    @masiqbal
    hehehehe…termasuk mas iqbal dulu kayak gitu yach? hehehehe….

    Guru nyontek? wah…wah…baru tahu saya.

    @arit
    tenangnya itu gimana mas?

    Memang, kalau kita bebricara meniru=njiplak=meniru, semua orang pasti pernah seperti itu. Tetapi bukankah yang sedang kita singgung ini mencontek yang dilakukan ketika ujian?

  9. Muhammad Ridwan Al-Jufrie
    Januari 14, 2009 pukul 12:07 pm

    kalo di al-azhar mesir, satu ruangan 40 orang, yang ngawas 4 orang, 2 duduk 2 keliling, jadi secanggih apapun cara nyonteknya selalu ketahuan, udah banyak temen2 ana yang dirobek kertas jawabannya di depan matanya gara2 ketahuan nyontek, dan akibatnya fatal karena bukan hanya mata pelajaran itu saja yang dianggap gagal tapi semua mata pelajaran dianggap gagal-roshib, dan terpaksa harus ngulangi lagi tahun depan

  10. ame
    Januari 14, 2009 pukul 12:21 pm

    yup!
    budaya nyontek di indonesia ini memang harruuuss di hapuskan dari muka bumi!

    gara2 budaya itu, tmn2 yg pada berkomitment g nyontek jd rugi bgt.
    pemberian nilai jd g adil.

    menyebalkan!

  11. Januari 14, 2009 pukul 4:38 pm

    @Muhammad Ridwan Al-Jufrie
    wah ngeri juga yach. gak berani deh.

    @ame
    betul itu. orang-orang yang jujur kasian.

  12. masmpep
    Januari 15, 2009 pukul 1:37 am

    menurut pengalaman mas yasser, apa aja bentuk-bentuk dan teknik mencontek itu. kok belum dijelasin. kan bisa jadi inspirasi (untuk tidak melakukannya).

    mencontek? saya kira sudah mulai banyak mahasiswa yang ingin menjadi pembelajar. karena terbukti banyak mahasiswa punya IP tinggi saja banyak yang gak bunyi. tapi ini bukan jadi alasan bagi (yang ngaku aktivis): ‘bunyi’, tapi IP jeblok, namun masih jago buat koneksi.

    saya sepakat bila: menjadi pembelajar. tetap bertanggungjawab atas IP-nya. tak mencontek. kemampuan analisis situasi baik. punya uang saku cukup buat beli buku. ada motor generasi terbaru. punya pacar di kampus, eh…

  13. faind
    Januari 15, 2009 pukul 4:27 am

    lha wong Dosennya kag’ kreatip. Jadi mahasiswanya yang kreatip……….itulah Pemuda indonesia. Lha wong pengawasnya, cuma pindah tempat untuk tidur…..pantasan mahasiswanya…..berkreasi……

    Mahasiswa sekarang mempunyai paradigma berfikir yang terbalik,,,,masa pengawas yang disiplin dibilang sebagai monster…..sebegitukah cara berfikir mahasiswa kita?????????????

    jawabannya hannya pada anda:)

  14. Januari 15, 2009 pukul 5:16 am

    @masmpep
    Tipe orang seperti itu mah impianku. hehehe…semoga gak hanya mimpi deh.

    Teknik mencontek? yang aku tahu dulu waktu di SMP sampe kuliah, buku di taruh di laci meja, catatan kecil ditaruh di saku dan tepak (dompet pulpen), catatan kecil di taruh di kamar mandi jadi kalau mau nyontek harus ke kamar mandi dulu, contekan dimasukin ke handphone, bahkan ada yang memasukkannya ke blog pribadi. Ada yang membuat catatan dengan lembar besar yang kemudian diselipkan antara kertas soal dan kertas jawaban jadi ketika mencontek, ada yang mengaktifkan yahoo messenger dari handphone terus meminta bantuan temannya di tempat lain untuk memberikan jawaban dari setiap pertanyaan yang dia kirimkan.

    banyak juga yach?

    @faind
    tetapi kalau dilihatin terus ama pengawas, jadi gak enak juga. salah tingkah. hehehe…

  15. Iwan
    Februari 23, 2009 pukul 1:06 pm

    Soale di negeri kita tercinta ini standar kelulusan ditentukan oleh nilai tertulis, bukan nilai nyata pada kemampuan mahasiswa/siswa….

    Dikampusku banyak temen2 yang aku rasa cukup pintar(dari sudut pandang bagaimana dia memodifikasi jawaban dari tugas2 yang diberikan, terutama bila itu adalah tugas berupa proyek lapangan) tapi IPK nya masih kalah ama anak2 yang jago ngopy lembar jawaban rekan2x….

    Dan juga kebanyakan dunia kerja khususnya di negeri kita melakukan penilaian awal dari IPK, bukan kerja lapangan….

    NB:

    Di bandung ada politeknik yang pnya peraturan unik “Ujian ketahuan nyontek, langsung DO”

    • Februari 23, 2009 pukul 2:41 pm

      wah ngeri tenan. Ketahuan nyontek langsung DO. mantapz itu mah.

      Tetapi lebih baik, kerja dilapangan baik tetapi IPK juga baik. Itu cita-citaku. hehehe…:D

  16. animusparagnos
    April 22, 2009 pukul 7:52 am

    Berarti nanti disusulkan ganti nama jadi “Minggu Tidak Tenang”. Menjadi mahasiswa, pelajaran yang paling berharga bukan materinya, tapi selama beberapa tahun itu bagaimana kita mempelajari diri sendiri, klo managemennya nggak bagus bisa-bisa bubrah kuliahnya. Klo masalah SKS sih, sebenarnya tidak sepenuhnya salah, karena ada juga beberapa mahasiswa yang merasa lebih nyaman menggunakan model belajar seperti ini dan hasilnya lebih manjur malah. Tiap orang seharusnya bisa mengenali model belajar yang cocok dengan dirinya sendiri. Contohnya saya ini yg suka dengan SKS (^_^) he..he… sebenernya nggak cocok sih, tapi lho yo dicocok-cocokin (maksa mode-on).

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: