236405_malangcopy
Radio Republik Indonesia

Sore tadi aku diajak teman untuk wawancara / siaran untuk rubrik universitaria dengan tema “konflik Israel – Palestina di RRI . Aku memberanikan diri menyanggupi ajakan tersebut hanya dengan bermodalkan informasi-informasi yang aku dapatkan selama ini dari dunia maya dan televisi terkait dengan konflik Israel Palestina.

Siaran tadi offair, baru disiarkan onair pada malam harinya. Walaupun offair, tetap saja grogi masih terus berusaha menggrogoti konsentrasiku. Maklum, baru pertama kali aku berbicara di radio. Gak kebayang deh jika harus siaran onair. Bisa jadi, grogi ku semakin menjadi.

Temanku berbicara mengenai konflik Israel Palestina dengan sudut pandang hukum sedangkan aku dari sudut pandang umum (bisa politik, agama, militer).

Aku mengatakan bahwa konflik Israel Palestina bukanlah konflik agama. Konflik Israel Palestina adalah konflik politik, konflik kepentingan.

Mengenai latar belakang terjadinya konflik tersebut, banyak para analis memberikan analisisnya. Ada yang mengatakan bahwa konflik tersebut muncul karena adanya pelanggaran yang dilakukan oleh Israel atas gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Selain itu blokade yang dilakukan oleh Israel membuat Hamas meluncurkan roket-roketnya ke beberapa kota di Israel. Batallah perjanjian gencatan senjata tersebut dan meletuslah peperangan tak seimbang itu.

Namun ada juga yang berpendapat bahwa Hamaslah yang memulai konflik ini. Salah satunya adalah Gus Dur yang baru-baru ini menyalahkan hamas sebagai penyebab konflik tersebut.

Baru kemarin aku chating dengan salah seorang dosen hukum UNS bahwa konflik tersebut merupakan lahan untuk uji coba senjata dan untuk mengetahui kekuatan militer Iran. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Iran adalah negara yang senantiasa menyuplai dana dan senjata kepada Hamas untuk melakukan perlawanan. Ini merupakan agenda dari Amerika. Amerika berusaha membawa Iran pada konflik tersebut. Harapannya, Amerika dapat mengetahui persis kekuatan militer Iran. Dengan diserangnya Hamas oleh Israel, Amerika berharap Iran turun tangan.

Si penyiar kemudian menanyakan kepadaku apakah Israel sudah mencapai tujuannya dari peperangan ini? Aku katakan bahwa Israel memiliki tujuan dalam peperangan dengan Hamas ini, yaitu ingin menghancurkan kekuatan Hamas sehingga Hamas tidak lagi mampu meluncurkan roket-roketnya ke Israel. Alasan keamanan dalam negeri inilah yang kemudian dijadikan modus Israel untuk menyerang Palestina.

Namun jika kita mengikuti pemberitaan di media massa, sampai sekarang roket-roket Hamas masih bisa meluncur ke Israel. Ini artinya bahwa kekuatan Hamas belum dihancurkan oleh Israel. Maka bisa kita katakan, tujuan dari peperangan ini belum juga mampu dicapai oleh Israel.