Beranda > Lagu > Derita Al-Husain

Derita Al-Husain

852404hgy

Kesyahidanmu simbol perlawanan kaum mustadh'afin

Lirik oleh: Miftah Fauzi Rakhmat

Musik oleh: Muhammad Ghifar

Sahabat kenanglah derita berat

Yang kini menyesakkan ruang batinmu

Meremuk redam hancurkan mimpi

Meniti asa yang tak pasti

Keluh terdengar rintihan semakin menjadi

Seolah diri berat diuji

Menelan kelam peluh tak berperi

Lupa akan nikmat Ilahi

Kenanglah…Al Husain…

Derita sebagai tanda cinta

Ya Husain…Ya Husain…

Mengenangmu bangkitkan asa

Bahwa hidup adalah cinta suci

Kau persembahkan untuk Ilahi

Gemuruh dada menghentak gelisah mengisi

Kehilangan kawan sejati

Cintamu padam hatimu sunyi

Hilang semua harga diri

Sahabat masihkah batinmu meronta sepi

Setelah Al-Husain kau tangisi

Wajahmu muram merenung diri

Adakah cinta yang kau beri?

Kenanglah…Al Husain…

Derita sebagai tanda cinta

Ya Husain…Ya Husain…

Mengenangmu bangkitkan asa

Bahwa hidup adalah cinta suci

Kau persembahkan untuk Ilahi

Download Lagu KLIK DISINI

Kategori:Lagu
  1. Januari 19, 2009 pukul 12:32 pm

    Copy Paste dari blog tetangga neh

    Kisah Terbunuhnya Al Husein radhyiallahu’anhu
    5 10 2007

    Berbagai versi tentang fitnah yang terjadi sekitar terbunuhnya Al Hussain radhyillahu ‘anhu banyak tersebar diantara kita sehingga membuat sebagian kaum muslimin terjatuh kedalam hal yang dilarang yaitu mencela sebagian sahabat radhyillahu ‘anhum, kemudian kerancuan antara nama Yazid bin Muawiyyah dengan Yazid bin Abu Sufyan dimana Syeikhul islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan hal tersebut dalam (Majmu Fatawa jilid III hal 409 – 411) membuat sebagian kaum muslimin mengalami kebingungan, manakah sejarah dan kisah yang benar, apa yang terjadi sesungguhnya…??!

    Al-Hasan dan Al-Husein adalah putera dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari anak perempuannya Fathimah radhiyallahu ‘anha.
    Mereka termasuk kalangan ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki keutamaan-keutamaan yang besar dan mendapat pujian-pujian

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya beliau bersabda:

    Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husein adalah kesayanganku dari dunia.
    (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, juz VII, hal. 464, hadits 3753 dan Tirmidzi, Ahmad dari Ibnu Umar)

    Juga bersabda:
    Al-Hasan dan Al-Husein adalah sayyid (penghulu) para pemuda ahlul jannah.
    (HR. Tirmidzi, Hakim, Thabrani, Ahmad dan lain-lain dari Abi Sa’id al-Khudri; dishahihkan oleh Syaikh AlAlbani dalam Silsilah Hadits Shahih, hal 423, hadits no. 796 dan beliau berkata hadits ini diriwayatkan pula dari 10 shahabat)

    Riwayat Hidup Al-Husein dan Peristiwa Pembunuhannya

    Beliau dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun ke-empat Hijriyah.
    Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam men- tahnik (yakni mengunyahkan kurma kemudian dimasukkan ke mulut bayi dengan digosokkan ke langit-langitnya ), mendoakan dan menamakannya Al-Husein.
    Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, juz VIII, hal. 152.

    Berkata Ibnul Arabi dalam kitabnya Al-Awashim minal Qawashim: “Disebutkan oleh ahli tarikh bahwa surat-surat berdatangan dari ahli kufah kepada Al-Husein (setelah meninggalnya Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu).
    Kemudian Al-Husein mengirim Muslim Ibnu Aqil, anak pamannya kepada mereka untuk membai’at mereka dan melihat bagaimana keikutsertaan mereka. Maka Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu memberitahu beliau (Al-Husein) bahwa mereka dahulu pernah mengkhianati bapak dan saudaranya. Sedangkan Ibnu Zubair mengisyaratkan kepadanya agar dia berangkat, maka berangkatlah Al- Husein. Sebelum sampai beliau di Kufah ternyata Muslim Ibnu Aqil telah terbunuh dan diserahkan kepadanya oleh orang-orang yang memanggilnya. “Cukup bagimu ini sebagai peringatan bagi yang mau mengambil peringatan” (kelihatannya yang dimaksud adalah ucapan Ibnu Abbas kepada Al-Husein ).

    Tetapi beliau radhiyallahu ‘anhu tetap melanjutkan perjalanannya dengan marah karena dien dalam rangka menegakkan al-haq. Bahkan beliau tidak mendengarkan nasehat orang yang paling alim pada jamannya yaitu ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan menyalahi pendapat syaikh para shahabat yaitu Ibnu Umar. Beliau mengharapkan permulaan pada akhir (hidup ), mengharapkan kelurusan dalam kebengkokan dan mengharapkan keelokan pemuda dalam rapuh ketuaan.

    Tidak ada yang sepertinya di sekitarnya, tidak pula memiliki pembela-pembela yang memelihara haknya atau yang bersedia mengorbankan dirinya untuk membelanya. Akhirnya kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah Al-Husein, maka datang kepada kita musibah yang menghilangkan kebahagiaan jaman.
    (lihat Al- Awashim minal Qawashim oleh Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dengan tahqiq dan ta’liq Syaikh Muhibbuddin Al-Khatib, hal. 229-232)

    Yang dimaksud oleh beliau dengan ucapannya ‘Kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah Al-Husein’ adalah bahwa niat Al-Husein dengan sebagian kaum muslimin untuk mensucikan bumi dari khamr Yazid yang hal ini masih merupakan tuduhan-tuduhan dan tanpa bukti, tetapi hasilnya justru kita menodai bumi dengan darah Al-Husein yang suci.
    Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhibbudin Al-Khatib dalam ta’liq-nya terhadap buku Al-Awashim Minal Qawashim.

    Ketika Al-Husein ditahan oleh tentara Yazid, Samardi Al-Jausyan mendorong Abdullah bin Ziyad untuk membunuhnya. Sedangkan Al-Husein meminta untuk dihadapkan kepada Yazid atau dibawa ke front untuk berjihad melawan orang-orang kafir atau kembali ke Mekah. Namun mereka tetap membunuh Al-Husein dengan dhalim sehingga beliau meninggal dengan syahid radhiyallahu ‘anhu.
    Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Al-Husein terbunuh di Karbala di dekat Eufrat dan jasadnya dikubur di tempat terbunuhnya, sedangkan kepalanya dikirim ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad di Kufah.
    Demikianlah yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dan dari para imam yang lain.

    Adapun tentang dibawanya kepala beliau kepada Yazid telah diriwayatkan dalam beberapa jalan yang munqathi’ (terputus) dan tidak benar sedikitpun tentangnya.

    Bahkan dalam riwayat-riwayat tampak sesuatu yang menunjukkan kedustaan dan pengada-adaan riwayat tersebut. Disebutkan padanya bahwa Yazid menusuk gigi taringnya dengan besi dan bahwasanya sebagian para shahabat yang hadir seperti Anas bin Malik, Abi Barzah dan lain-lain mengingkarinya.

    Hal ini adalah pengkaburan, karena sesungguhnya yang menusuk dengan besi adalah ‘Ubaidilah bin Ziyad. Demikian pula dalam kitab-kitab shahih dan musnad, bahwasanya mereka menempatkan Yazid di tempat ‘Ubaidilah bin Ziyad. Adapun ‘Ubaidillah, tidak diragukan lagi bahwa dialah yang memerintahkan untuk membunuhnya (Husein) dan memerintahkan untuk membawa kepalanya ke hadapan dirinya. Dan akhirnya Ibnu Ziyad pun dibunuh karena itu.

    Dan lebih jelas lagi bahwasanya para shahabat yang tersebut tadi seperti Anas dan Abi Barzah tidak berada di Syam, melainkan berada di Iraq ketika itu.

    Sesungguhnya para pendusta adalah orang-orang jahil (bodoh), tidak mengerti apa-apa yang menunjukkan kedustaan mereka.”
    (Majmu’ Fatawa, juz IV, hal. 507-508)

    Adapun yang dirajihkan oleh para ulama tentang kepala Al-Husein bin Ali radhiyallahu ‘anhuma adalah sebagaimana yang disebutkan oleh az- Zubair bin Bukar dalam kitabnya Ansab Quraisy dan beliau adalah seorang yang paling ‘alim dan paling tsiqah dalam masalah ini (tentang keturunan Quraisy). Dia menyebutkan bahwa kepala Al-Husein dibawa ke Madinah An-Nabawiyah dan dikuburkan di sana. Hal ini yang paling cocok, karena di sana ada kuburan saudaranya Al-Hasan, paman ayahnya Al-Abbas dan anak Ali dan yang seperti mereka. (Dalam sumber yang sama, juz IV, hal. 509)

    Demikianlah Al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma terbunuh pada hari Jum’at, pada hari ‘Asyura, yaitu pada bulan Muharram tahun 61 H dalam usia 54 tahun 6 bulan.
    Semoga Allah merahmati Al-Husein dan mengampuni seluruh dosa dosanya serta menerimanya sebagai syahid.
    Dan semoga Allah membalas para pembunuhnya dan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih. Amin.

    Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Yazid bin Mu’awiyyah

    Untuk membahas masalah ini kita nukilkan saja di sini ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah secara lengkap dari Fatawa-nya sebagai berikut:

    Belum terjadi sebelumnya manusia membicarakan masalah Yazid bin Muawiyyah dan tidak pula membicarakannya termasuk masalah Dien.
    Hingga terjadilah setelah itu beberapa perkara, sehingga manusia melaknat terhadap Yazid bin Muawiyyah, bahkan bisa jadi mereka menginginkan dengan itu laknat kepada yang lainnya.
    Sedangkan kebanyakan Ahlus Sunnah tidak suka melaknat orang tertentu. Kemudian suatu kaum dari golongan yang ikut mendengar yang demikian meyakini bahwa Yazid termasuk orang-orang shalih yang besar dan Imam-imam yang mendapat petunjuk.

    Maka golongan yang melampaui batas terhadap Yazid menjadi dua sisi yang berlawanan:

    Sisi pertama, mereka yang mengucapkan bahwa dia kafir zindiq dan bahwasanya dia telah membunuh salah seorang anak perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, membunuh shahabat-shahabat Anshar, dan anak-anak mereka pada kejadian Al-Hurrah (pembebasan Madinah) untuk menebus dendam keluarganya yang dibunuh dalam keadaan kafir seperti kakek ibunya ‘Utbah bin Rab’iah, pamannya Al-Walid dan selain keduanya. Dan mereka menyebutkan pula bahwa dia terkenal dengan peminum khamr dan menampakkan maksiat-maksiatnya.

    Pada sisi lain, ada yang meyakini bahwa dia (Yazid) adalah imam yang adil, mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk. Dan dia dari kalangan shahabat atau pembesar shahabat serta salah seorang dari wali-wali Allah. Bahkan sebagian dari mereka meyakini bahwa dia dari kalangan para nabi. Mereka mengucapkan bahwa barangsiapa tidak berpendapat terhadap Yazid maka Allah akan menghentikan dia dalam neraka Jahannam.

    Mereka meriwayatkan dari Syaikh Hasan bin ‘Adi bahwa ia adalah wali yang seperti ini dan seperti itu. Barangsiapa yang berhenti (tidak mau mengatakan demikian), maka dia berhenti dalam neraka karena ucapan mereka yang demikian terhadap Yazid.

    Setelah zaman Syaikh Hasan bertambahlah perkara-perkara batil dalam bentuk syair atau prosa. Mereka ghuluw kepada Syaikh Hasan dan Yazid dengan perkara-perkara yang menyelisihi apa yang ada di atasnya Syaikh ‘Adi yang agung -semoga Allah mensucikan ruhnya-. Karena jalan beliau sebelumnya adalah baik, belum terdapat bid’ah-bid’ah yang seperti itu, kemudian mereka mendapatkan bencana dari pihak Rafidlah yang memusuhi mereka dan kemudian membunuh Syaikh Hasan bin ‘Adi sehingga terjadilah fitnah yang tidak disukai Allah dan Rasul-Nya.

    Dua sisi ekstrim terhadap Yazid tersebut menyelishi apa yang disepakati oleh para ulama dan Ahlul Iman.
    Karena sesungguhnya Yazid bin Muawiyyah dilahirkan pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan radliallahu ‘anhu dan tidak pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak pula termasuk shahabat dengan kesepakatan para ulama. Dia tidak pula terkenal dalam masalah Dien dan keshalihan.
    Dia termasuk kalangan pemuda-pemuda muslim bukan kafir dan bukan pula zindiq. Dia memegang kekuasaan setelah ayahnya dengan tidak disukai oleh sebagian kaum muslimin dan diridlai oleh sebagian yang lain. Dia memiliki keberanian dan kedermawanan dan tidak pernah menampakkan kemaksiatan-kemaksiatan sebagaimana dikisahkan oleh musuh-musuhnya.

    Namun pada masa pemerintahannya telah terjadi perkara-perkara besar
    yaitu:

    1. Terbunuhnya Al-Husein radhiyallahu ‘anhu sedangkan Yazid tidak memerintahkan untuk membunuhnya dan tidak pula menampakkan kegembiraan dengan pembunuhan Husein serta tidak memukul gigi taringnya dengan besi.
    Dia juga tidak membawa kepala Husein ke Syam. Dia memerintahkan untuk melarang Husein dengan melepaskannya dari urusan walaupun dengan memeranginya. Tetapi para utusannya melebihi dari apa yang diperintahkannya tatkala Samardi Al-Jausyan mendorong ‘Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuhnya.Ibnu Ziyad pun menyakitinya dan ketika Al-Husein radhiyallahu ‘anhu meminta agar dia dibawa menghadap Yazid, atau diajak ke front untuk berjihad (memerangi orang-orang kafir bersama tentara Yazid -pent), atau kembali ke Mekkah, mereka menolaknya dan tetap menawannya. Atas perintah Umar bin Sa’d, maka mereka membunuh beliau dan sekelompok Ahlul Bait radhiyallahu ‘anhum dengan dhalim.
    Terbunuhnya beliau radhiyallahu ‘anhu termasuk musibah besar, karena sesungguhnya terbunuhnya Al-Husein -dan ‘Utsman bin ‘Affan sebelumnya- adalah penyebab fitnah terbesar pada umat ini. Demikian juga pembunuh keduanya adalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah. Ketika keluarga beliau radhiyallahu ‘anhu mendatangi Yazid bin Mua’wiyah, Yazid memuliakan mereka dan mengantarkan mereka ke Madinah.

    Diriwayatkan bahwa Yazid melaknat Ibnu Ziyad atas pembunuhan Husein dan berkata: “Aku sebenarnya meridlai ketaatan penduduk Irak tanpa pembunuhan Husein.” Tetapi dia tidak menampakkan pengingkaran terhadap pembunuhnya, tidak membela serta tidak pula membalasnya, padahal itu adalah wajib bagi dia. Maka akhirnya Ahlul Haq mencelanya karena meninggalkan kewajibannya, ditambah lagi dengan perkara-perkara yang lain. Sedangkan musuh-musuh mereka menambahkan kedustaan-kedustaan atasnya.

    2. Ahlil Madinah membatalkan bai’atnya kepada Yazid dan mereka mengeluarkan utusan-utusan dan penduduknya. Yazid pun mengirimkan tentara kepada mereka, memerintahkan mereka untuk taat dan jika mereka tidak mentaatinya setelah tiga hari mereka akan memasuki Madinah dengan pedang dan menghalalkan darah mereka. Setelah tiga hari, tentara Yazid memasuki Madinah an-Nabawiyah, membunuh mereka, merampas harta mereka, bahkan menodai kehormatan-kehormatan wanita yang suci, kemudian mengirimkan tentaranya ke Mekkah yang mulia dan mengepungnya. Yazid meninggal dunia pada saat pasukannya dalam keadaan mengepung Mekkah dan hal ini merupakan permusuhan dan kedzaliman yang dikerjakan atas perintahnya.

    Oleh karena itu, keyakinan Ahlus Sunnah dan para imam-imam umat ini adalah mereka tidak melaknat dan tidak mencintainya.

    Shalih bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku katakan kepada ayahku: “Sesungguhnya suatu kaum mengatakan bahwa mereka cinta kepada Yazid.” Maka beliau rahimahullah menjawab: “Wahai anakku, apakah akan mencintai Yazid seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir?” Aku bertanya: “Wahai ayahku, mengapa engkau tidak melaknatnya?” Beliau menjawab: “Wahai anakku, kapan engkau melihat ayahmu melaknat seseorang?” Diriwayatkan pula bahwa ditanyakan kepadanya: “Apakah engkau menulis hadits dari Yazid bin Mu’awiyyah?” Dia berkata: “Tidak, dan tidak ada kemulyaan, bukankah dia yang telah melakukan terhadap ahlul Madinah apa yang dia lakukan?”

    Yazid menurut ulama dan Imam-imam kaum muslimin adalah raja dari raja-raja (Islam -pent). Mereka tidak mencintainya seperti mencintai orang-orang shalih dan wali-wali Allah dan tidak pula melaknatnya.
    Karena sesungguhnya mereka tidak suka melaknat seorang muslim secara khusus (ta yin), berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
    Bahwa seseorang yang dipanggil dengan Hammar sering minum khamr.
    Acap kali dia didatangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicambuknya. Maka berkatalah seseorang: “Semoga Allah melaknatnya. Betapa sering dia didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan engkau melaknatnya, sesungguhnya dia mencintai Allah dan Rasul-Nya. ” (HR. Bukhari)

    Walaupun demikian di kalangan Ahlus Sunnah juga ada yang membolehkan laknat terhadapnya karena mereka meyakini bahwa Yazid telah melakukan kedhaliman yang menyebabkan laknat bagi pelakunya.

    Kelompok yang lain berpendapat untuk mencintainya karena dia seorang muslim yang memegang pemerintahan di zaman para shahabat dan dibai’at oleh mereka. Serta mereka berkata: “Tidak benar apa yang dinukil tentangnya padahal dia memiliki kebaikan-kebaikan, atau dia melakukannya dengan ijtihad.”

    Pendapat yang benar adalah apa yang dikatakan oleh para imam (Ahlus Sunnah), bahwa mereka tidak mengkhususkan kecintaan kepadanya dan tidak pula melaknatnya. Di samping itu kalaupun dia sebagai orang yang fasiq atau dhalim, Allah masih mungkin mengampuni orang fasiq dan dhalim. Lebih-lebih lagi kalau dia memiliki kebaikan-kebaikan yang besar.

    Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dari Ummu Harran binti Malhan radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    Tentara pertama yang memerangi Konstantiniyyah akan diampuni. (HR.
    Bukhari)

    Padahal tentara pertama yang memeranginya adalah di bawah pimpinan
    Yazid bin Mu’awiyyah dan pada waktu itu Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bersamanya.

    Catatan:

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah melanjutkan setelah itu dengan ucapannya: “Kadang-kadang sering tertukar antara Yazid bin Mu’ awiyah dengan pamannya Yazid bin Abu Sufyan. Padahal sesungguhnya Yazid bin Abu Sufyan adalah dari kalangan Shahabat, bahkan orang- orang pilihan di antara mereka dan dialah keluarga Harb (ayah Abu Sufyan bin Harb -pent) yang terbaik.
    Dan beliau adalah salah seorang pemimpin Syam yang diutus oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketika pembebasan negeri Syam. Abu Bakar ash- Shiddiq pernah berjalan bersamanya ketika mengantarkannya, sedangkan dia berada di atas kendaraan. Maka berkatalah Yazid bin Abu Sufyan: “Wahai khalifahRasulullah, naiklah! (ke atas kendaraan) atau aku yang akan turun.”
    Maka berkatalah Abu Bakar: “Aku tidak akan naik dan engkau jangan turun, sesungguhnya aku mengharapkan hisab dengan langkah-langkahku ini di jalan Allah. Ketika beliau wafat setelah pembukaan negeri Syam di zaman pemerintahan Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau mengangkat saudaranya yaitu Mu’awiyah untuk menggantikan kedudukannya.

    Kemudian Mu’awiyah mempunyai anak yang bernama Yazid di zaman pemerintahan ‘Utsman ibnu ‘Affan dan dia tetap di Syam sampai terjadi peristiwa yang terjadi.
    Yang wajib adalah untuk meringkas yang demikian dan berpaling dari membi-carakan Yazid bin Mu’awiyah serta bencana yang menimpa kaum muslimin karenanya dan sesungguhnya yang demikian merupakan bid’ah yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. Karena dengan sebab itu sebagian orang bodoh meyakini bahwa Yazid bin Mu`awiyah termasuk kalangan shahabat dan bahwasanya dia termasuk kalangan tokoh-tokoh orang shalih yang besar atau imam-imam yang adil. Hal ini adalah kesalahan yang nyata.”
    (Diambil dari Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, jilid 3, hal. 409-414)

    Bid’ah-bid’ah yang Berhubungan dengan Terbunuhnya Al-Husein

    Kemudian muncullah bid’ah-bid’ah yang banyak yang diadakan oleh kebanyakan orang-orang terakhir berkenaan dengan perisiwa terbunuhnya Al-Husein, tempatnya, waktunya dan lain-lain. Mulailah mereka mengada-adakan An-Niyaahah (ratapan) pada hari terbunuhnya Al- Husein yaitu pada hari ‘Asyura (10 Muharram), penyiksaan diri, mendhalimi binatang-binatang ternak, mencaci maki para wali Allah (para shahabat) dan mengada-adakan kedustaan-kedustaan yang diatasnamakan ahlul bait serta kemungkaran-kemungkaran yang jelas dilarang dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.

    Al-Husein radhiyallahu ‘anhu telah dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan mati syahid pada hari ‘Asyura dan Allah telah menghinakan pembunuhnya serta orang yang mendukungnya atau ridla dengan pembunuhannya. Dan dia mempunyai teladan pada orang sebelumnya dari para syuhada, karena sesungguhnya dia dan saudaranya adalah penghulu para pemuda ahlul jannah. Keduanya telah dibesarkan pada masa kejayaan Islam dan tidak mendapatkan hijrah, jihad, dan kesabaran atas gangguan-gangguan di jalan Allah sebagaimana apa yang telah didapati oleh ahlul bait sebelumnya. Maka Allah mulyakan keduanya dengan syahid untuk menyempurnakan kemulyaan dan mengangkat
    derajat keduanya.

    Pembunuhan beliau merupakan musibah besar dan Allah subhanahu wa ta’ala telah mensyari’atkan untuk mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika musibah dalam ucapannya:

    …. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orangyang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka
    itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al- Baqarah: 155-157)

    Sedangkan mereka yang mengerjakan apa-apa yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka meratapinya seperti memukul pipi, merobek baju, dan menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah, maka balasannya sangat keras sebagaimana diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam:

    Bukan dari golongan kami, siapa yang memukul-mukul pipi, merobek- robek baju, dan menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah. (HR. Bukhari
    dan Muslim)

    Dalam hadits lain, juga dalam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al- Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia berkata: “Aku berlepas diri dari orang-orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri darinya, yaitu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari al-haliqah, ash-shaliqah dan asy-syaaqqah. (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dan dalam Shahih Muslim dari Abi Malik Al-Asy’ari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    Empat perkara yang terdapat pada umatku dari perkara perkara jahiliyah yang mereka tidak meninggalkannya: bangga dengan kedudukan, mencela nasab (keturunan), mengharapkan hujan dengan bintang-bintang dan meratapi mayit. (HR. Muslim)

    Dan juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    Sesungguhnya perempuan tukang ratap jika tidak bertaubat sebelum matinya dia akan dibangkitkan di hari kiamat sedangkan atasnya pakaian dari timah dan pakaian dada dari nyala api neraka. (HR.
    Ahmad, Thabrani dan Hakim)

    Hadits-hadits tentang masalah ini bermacam-macam. Demikianlah keadaan orang yang meratapi mayit dengan memukul-mukul badannya, merobek-robek bajunya dan lain-lain. Maka bagaimana jika ditambah lagi bersama dengan itu kezaliman terhadap orang-orang mukmin (para shahabat), melaknat mereka, mencela mereka, serta sebaliknya membantu ahlu syiqaq orang-orang munafiq dan ahlul bid’ah dalam kerusakan dien yang mereka tuju serta kemungkaran lain yang Allah lebih mengetahuinya.

    ———–
    Maraji’:

    -Majalah SALAFY edisi VIII/1996
    -Minhajus-Sunnah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
    -Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
    -Al-’Awashim Minal Qawashim, oleh Qadhi AbuBakar
    -Ibnul Arabi dengan tahqiq dan ta’liq Syaikh Muhibbudin Al-Khatib.
    -Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir.
    -Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani.
    -Shahih Muslim dengan Syarh Nawawi.
    -Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-
    Albani.

    semoga bermanfaat….
    Allahul musta’an…

  2. Januari 19, 2009 pukul 11:00 pm

    Karena Anda copy paste, saya juga mau copy paste ah.

    Anda menulis:

    Berkata Ibnul Arabi dalam kitabnya Al-Awashim minal Qawashim: “…Akhirnya kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah Al-Husein, maka datang kepada kita musibah yang menghilangkan kebahagiaan jaman.” (lihat Al-Awashim minal Qawashim oleh Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dengan tahqiq dan ta’liq Syaikh Muhibbuddin Al-Khatib, hal. 229-232). Yang dimaksud oleh beliau dengan ucapannya “Kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah Al-Husein” adalah bahwa niat Al-Husein dengan sebagian kaum muslimin untuk mensucikan bumi dari khamr Yazid yang hal ini masih merupakan tuduhan-tuduhan dan tanpa bukti, tetapi hasilnya justru kita menodai bumi dengan darah Al-Husein yang suci. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhibbudin Al-Khatib dalam ta’liq-nya terhadap buku Al-Awashim Minal Qawashim.

    Jawab:

    Ini menunjukkan bahwa sebenarnya Syaikh Muhibbudin al-Khatib kurang membaca referensi ketika mengatakan “tidak ada bukti bahwa Yazid adalah peminum khamr”.

    Padahal jauh-jauh hari Hasan al-Bashri telah mengatakan hal ini, sebagaimana yang disampaikan oleh Abul A’la al-Maududi, bahwa Mu’awiyah telah melakukan empat hal yang apabila satu saja ada pada dirinya telah cukup menjadikannya celaka. Salah satunya adalah melantik puteranya, Yazid, sebagai pemimpin setelahnya. Padahal Yazid adalah seorang pemabuk dan pemakai baju sutera.” [Lihat: Al-Maududi, “Al-Khilafah wa al-Mulk”, hal. 106].

    Suyuthi meriwayatkan dari al-Dzahabi yang berkata: “Ketika Yazid melakukan apa yang ia lakukan pada penduduk Madinah, sembari tetap bersama minuman khamr-nya dan perbuatan mungkarnya….” [Lihat: Suyuthi, “Tarikh al-Khulafa”, hal. 209].

    Ibn Katsir mengatakan: “Yazid bin Mu’awiyah telah terlalu banyak mengundang siksa atas dirinya melalui kebiasaan minum khamr-nya.” [Lihat: Ibn Katsir, “al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 255].

    Ibn Katsir juga mengatakan: “Diriwayatkan bahwa Yazid telah masyhur dengan kegemarannya dalam bermusik, minum khamr, bernyanyi, dan berburu. Dan setiap hari ia selalu mabuk (makhmur).” [Lihat: Ibn Katsir, “al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 259].

    Anda menulis:

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Al-Husein terbunuh di Karbala di dekat Eufrat dan jasadnya dikubur di tempat terbunuhnya, sedangkan kepalanya dikirim ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad di Kufah. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dan dari para imam yang lain. Adapun tentang dibawanya kepala beliau kepada Yazid telah diriwayatkan dalam beberapa jalan yang munqathi’ (terputus) dan tidak benar sedikitpun tentangnya. Bahkan dalam riwayat-riwayat tampak sesuatu yang menunjukkan kedustaan dan pengada-adaan riwayat tersebut. Disebutkan padanya bahwa Yazid menusuk gigi taringnya dengan besi dan bahwasanya sebagian para shahabat yang hadir seperti Anas bin Malik, Abi Barzah, dan lain-lain mengingkarinya. Hal ini adalah pengkaburan, karena sesungguhnya yang menusuk dengan besi adalah ‘Ubaidilah bin Ziyad. Demikian pula dalam kitab-kitab shahih dan musnad, bahwasanya mereka menempatkan Yazid di tempat ‘Ubaidilah bin Ziyad. Adapun ‘Ubaidillah, tidak diragukan lagi bahwa dialah yang memerintahkan untuk membunuhnya (Husein) dan memerintahkan untuk membawa kepalanya ke hadapan dirinya. Dan akhirnya Ibnu Ziyad pun dibunuh karena itu. Dan lebih jelas lagi bahwasanya para shahabat yang tersebut tadi seperti Anas dan Abi Barzah tidak berada di Syam, melainkan berada di Iraq ketika itu. Sesungguhnya para pendusta adalah orang-orang jahil (bodoh), tidak mengerti apa-apa yang menunjukkan kedustaan mereka.” (Majmu’ Fatawa, juz IV, hal. 507-508).

    Jawab:

    Lalu apa bukti yang menguatkan pernyataan Ibn Taimiyah tersebut? Apalagi ketika ia mengatakan bahwa riwayat seputar dibawanya kepala al-Husein as ke hadapan Yazid sebagai riwayat yang munqathi’?

    Dan lagi yang dikatakan riwayat Anas bin Malik itu adalah terkait dengan Ubaidullah bin Ziyad, bukan Yazid bin Mu’awiyah. Ketika itu Anas bin Malik hadir di tempat Ubaidullah, dan menyaksikan Ubaidullah memukul-mukul kepala al-Husein as. Jadi, jelas saja Anas tidak berada di Syam, melainkan di Iraq (tempat Ubaidullah). Hadits tersebut diriwayatkan dalam banyak kitab, seperti:

    1. Ibn Asakir, “Tarikh Damsyiq”, hadits no. 48-50.

    2. Thabrani, “Mu’jam al-Kabir”, hadits no. 111.

    3. Al-Haitsami, “Majma’ al-Zawa’id”, jilid 9, hal. 195.

    dan lain-lain.

    Terlihat bahwa Ibn Taimiyah tidak meneliti hadits secara benar, sehingga mencampuradukkan dua peristiwa yang berbeda.

    Mengenai pemukul-mukulan yang dilakukan oleh Yazid, ada sederet ulama ahlusunnah yang mengakui kejadian tersebut di atas, seperti al-Jahidz dan Ibn Atsir. Khusus Ibn Atsir, tentunya anda tahu bahwa ia juga seorang ulama ahli rijal, yang terkenal dengan kitab rijal-nya “Usud al-Ghabah”. Sementara, ia mengatakan: “Yazid memberi izin kepada masyarakat untuk menemuinya, sementara kepala (al-Husein) berada di sisinya. Ia lalu memukuli mulut dari kepala tersebut, sembari mengucapkan syair.” [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 85]. Dengan demikian, secara tidak langsung ia membantah ucapan Ibn Taimiyah bahwa riwayat tersebut munqathi’.

    Untuk melengkapi riwayat tersebut, saya bawakan riwayat-riwayat lainnya sebagai berikut:

    1. Al-Qasim bin Abdurahman (salah seorang budak Yazid bin Mu’awiyah) berkata: “Tatkala kepala-kepala diletakkan di hadapan Yazid bin Mu’awiyah, yaitu kepala al-Husein, keluarga, dan para sahabat beliau. Ia (Yazid) berkata: “Sungguh kami telah membelah kepala seseorang dari para lelaki yang angkuh terhadap kami, yang mana mereka adalah orang-orang yang paling durhaka dan paling lalim.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 391].

    2. Uwanah bin al-Hakam al-Kalbi berkata: “Ubaidillah lalu memanggil Muhaffiz bin Tsa’labah dan Syimr bin Dzil Jausyan dan berkata: “Berangkatlah dengan membawa perbekalan dan kepala untuk menghadap amirul mukminin Yazid bin Mu’awiyah.” Mereka lalu berangkat. Dan ketika sampai di istana Yazid, Muhaffiz berteriak dengan suara lantang: “Kami datang dengan membawa kepala manusia paling dungu dan keji.” Yazid pun berkata: “Ibu Muhaffiz tidak melahirkan seorang yang lebih keji dan lebih dungu darinya (al-Husein). Sedangkan ia (al-Husein) adalah seorang pemutus hubungan yang zalim.” Dan tatkala Yazid melihat kepala al-Husein, ia berkata: “Sungguh kami telah membelah kepala seseorang dari para lelaki yang angkuh terhadap kami, yang mana mereka adalah orang-orang yang paling durhaka dan paling lalim.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 394-396; Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 84].

    3. Para penulis sejarah ahlusunnah terkenal meriwayatkan: “Setelah diarak keliling kota, Ibn Ziyad (gubernur Kufah) mengirim kepala al-Husein as kepada Yazid bin Mu’awiyah di Syam (Damaskus). Saat itu bersama Yazid terdapat Abu Barzah al-Aslami. Lalu Yazid meletakkan kepala tersebut di hadapannya dan memukul-mukul mulut dari kepala itu dengan tongkat seraya bersyair. Abu Barzah lalu berkata: “Angkat tongkatmu! Demi Allah, aku kerap melihat Rasulullah mencium bibir itu.” [Lihat: Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 7, hal. 190; Al-Mas’udi, “Muruj al-Dzihab”, jilid 2, hal. 90-91; “Tarikh Thabari”, jilid 2, hal. 371; Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 85].

    4. Ibn Katsir juga mengutip dari Abu ‘Ubaidah Mua’mar bin al-Matsna, yang berkata: “Ketika Ibn Ziyad telah membunuh al-Husein dan orang-orang yang bersama beliau, ia lalu mengirim kepala-kepala mereka tersebut kepada Yazid…” [Lihat: Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 255].

    5. Al-Qasim bin Bukhait berkata: “Yazid lalu memberi izin orang-orang untuk masuk, sementara kepala (al-Husein) berada di hadapannya. Ia lalu memukul-mukul mulut dari kepala itu dengan tongkat seraya bersyair.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 396-397].

    Aneh sekali. Anda hanya berpegang pada pendapat tunggal Ibn Taimiyah, yang tidak disertai bukti-bukti. Sementara anda membuang sedemikian banyak riwayat dari para ulama ahlusunnah. Apakah ini sikap yang adil?

    Anda menulis:

    Adapun yang dirajihkan oleh para ulama tentang kepala Al-Husein bin Ali radhiyallahu ‘anhuma adalah sebagaimana yang disebutkan oleh az-Zubair bin Bukar dalam kitabnya Ansab Quraisy dan beliau adalah seorang yang paling ‘alim dan paling tsiqah dalam masalah ini (tentang keturunan Quraisy). Dia menyebutkan bahwa kepala Al-Husein dibawa ke Madinah An-Nabawiyah dan dikuburkan di sana. Hal ini yang paling cocok, karena di sana ada kuburan saudaranya Al-Hasan, paman ayahnya Al-Abbas dan anak Ali dan yang seperti mereka. (Dalam sumber yang sama, juz IV, hal. 509).

    Jawab:

    Pernyataan Zubair bin Bukair tersebut tidak bisa anda jadikan hujjah (dalil), karena sama sekali tidak menafikan bahwa kepala al-Husein as telah dibawa ke hadapan Yazid di Damaskus.

    Kenyataannya, kepala al-Husein as tersebut dibawa menuju Madinah bersama para wanita keluarga Nabi saww, setelah sebelumnya dibawa terlebih dahulu ke hadapan Yazid. [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 84-88].

    Anda menulis:

    Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Yazid bin Mu’awiyyah. Untuk membahas masalah ini kita nukilkan saja di sini ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah secara lengkap dari Fatawa-nya sebagai berikut.

    Jawab:

    Anda mengatakan “Sikap Ahlusunnah terhadap Yazid bin Mu’awiyah” dengan hanya berpedoman pada ucapan Ibn Taimiyah. Apakah Ibn Taimiyah mewakili ahlusunnah?

    Padahal kenyataannya ulama ahlusunnah justru mengecam Ibn Taimiyah dan tidak memasukkannya dalam golongan Ahlusunnah, di antaranya:

    1. Syaikh Abdullah al-Harari al-Syafi’i menyebutkan dalam kitabnya bahwa (ketika ia menyusun kitabnya tersebut) telah terdapat 58 kitab ahlusunnah yang menolak akidah Ibn Taimiyah, dan terdapat 83 kitab ahlusunnah yang menolak akidah Muhammad bin Abdul Wahab. [Lihat: Syaikh Abdullah al-Harari, “Maqalat al-Sunniyah fi Kasyfi Dhalalat Ahmad Ibn Taimiyah”, hal. 238-251].

    2. Ibn Bathuthah berkata tentang Ibn Taimiyah: “Ada yang tidak beres pada akalnya.” [Lihat: Ibn Bathuthah, “al-Rihlah”, hal. 90].

    3. Ali bin Makhluf (seorang qadhi mazhab Maliki di Mesir, w. 718 H) berkata: “Ibn Taimiyah berkata tentang tajsim (penjasadan Allah). Bagi kami, siapa saja yang berkeyakinan seperti ini, maka ia adalah kufur dan wajib dibunuh.” [www.anwar-alislam.be, “Min ‘Ulama Ahlusunnah Alladzina Raddu ‘Alaa Ibn Taimiyah”]

    4. Taqiyuddin al-Subki al-Syafi’i berkata: “Aku mendapati salah satu dari kitabnya (Syaikh Syihabuddin al-Jalabi al-Halabi) yang menolak pandangan Ibn Taimiyah. Sedangkan pandangan akidah Ahlusunnah adalah sebagai berikut…” [Lihat: Al-Subki, “Thabaqat al-Syafi’iyah”, jilid 9, hal. 34].

    dan lain-lain.

    Dengan demikian, semestinya anda mengatakan “Sikap Ibn Taimiyah terhadap Yazid bin Mu’awiyah”.

    Anda menulis:

    Terbunuhnya Al-Husein radhiyallahu ‘anhu sedangkan Yazid tidak memerintahkan untuk membunuhnya dan tidak pula menampakkan kegembiraan dengan pembunuhan Husein serta tidak memukul gigi taringnya dengan besi. Dia juga tidak membawa kepala Husein ke Syam. Dia memerintahkan untuk melarang Husein dengan melepaskannya dari urusan walaupun dengan memeranginya. Tetapi para utusannya melebihi dari apa yang diperintahkannya tatkala Samardi Al-Jausyan mendorong ‘Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuhnya. Ibnu Ziyad pun menyakitinya dan ketika Al-Husein radhiyallahu ‘anhu meminta agar dia dibawa menghadap Yazid, atau diajak ke front untuk berjihad (memerangi orang-orang kafir bersama tentara Yazid -pent), atau kembali ke Mekkah, mereka menolaknya dan tetap menawannya. Atas perintah Umar bin Sa’d, maka mereka membunuh beliau dan sekelompok Ahlul Bait radhiyallahu ‘anhum dengan dhalim.

    Jawab:

    Dengan pernyataan tersebut, Ibn Taimiyah untuk kesekian kalinya berusaha menutupi kezaliman Yazid bin Mua’wiyah, dengan melemparkan kesalahan tersebut hanya kepada Ubaidullah bin Ziyad dan Umar bin Sa’ad.

    Sedikit koreksi pada tulisan anda:

    1. Yang mendesak Ubaidullan bin Ziyad bukan Samardi al-Jausyan, melainkan Syimr bin Dzil Jausyan.

    2. Salah satu opsi yang ditawarkan oleh al-Husein as (sebagaimana yang diriwayatkan sebagian orang) bukan meminta “diajak ke front untuk berjihad bersama tentara Yazid” seperti yang anda sebutkan, melainkan meminta “dibawa ke tapal batas manapun dari kaum muslimin”.

    Mengenai opsi yang diajukan oleh al-Husein as kepada Umar bin Sa’ad, yang berbunyi agar beliau as “dibawa menghadap Yazid (supaya bisa membai’atnya)” atau “dibawa ke tapal-tapal batas kaum muslimin”, maka hal ini telah dibantah oleh ‘Uqbah bin Sam’an.

    ‘Uqbah bin Sam’an, orang yang menyertai al-Husein as sejak dari Madinah hingga Mekkah dan dari Mekkah hingga Karbala (namun kemudian tertawan oleh tentara Ibn Ziyad), mengatakan: Aku menemani al-Husein dari Madinah hingga Mekkah, dan dari Mekkah hingga Irak, dan aku tidak pernah berpisah dengan beliau hingga beliau terbunuh. Dan beliau tidak berpidato di hadapan orang-orang meski hanya satu kalimat—baik di Madinah, Mekkah, selama perjalanan, di Irak, maupun saat berhadapan dengan pasukan hingga beliau terbunuh—kecuali aku mendengarnya. Sungguh demi Allah, beliau tidak pernah menyatakan bahwa beliau akan membai’at Yazid bin Mu’awiyah, dan tidak akan pergi ke tapal-tapal batas kaum muslimin. Melainkan beliau berkata: “Biarkan aku kembali ke tempat dari mana aku datang, atau biarkan aku pergi di bumi yang luas ini sepanjang dapat mengamati urusan yang terjadi dalam masyarakat.” Namun mereka menolaknya. [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 54-55; Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 340].

    Berikut saya berikan bukti bahwa penyerangan dan pembunuhan terhadap diri al-Husein as adalah atas perintah Yazid bin Mu’awiyah:

    1. Suyuthi berkata: “Maka Yazid mengirm surat kepada gubernurnya di Irak, Ubaidullah bin Ziyad, agar memeranginya (al-Husein).” [Lihat: Suyuthi, “Tarikh al-Khulafa”, hal. 207].

    2. Ibn Sa’ad mengatakan: “Kala itu Nu’man bin Basyir menjabat sebagai gubernur Kufah. Yazid khawatir bahwa Nu’man tidak berani menghadapi al-Husein. Sehingga kemudian ia mengirim surat kepada Ubaidullah bin Ziyad agar menjadi gubernur di Kufah, menggantikan Nu’man. Ia juga memerintahkan kepada Ubaidullah agar menghadapi al-Husein, dan agar segera mencapai Kufah sebelum didahului oleh al-Husein.” [Ibn Sa’ad, “Thabaqat”, seputar “Maqtal al-Husein”].

    Mengenai kegembiraan Yazid atas terbunuhnya al-Husein as, berikut riwayatnya:

    1. Ibn Atsir mengatakan: “Ketika kepala al-Husein sampai ke hadapan Yazid, maka hal itu telah menggembirakan Yazid terhadap apa yang telah ia (Ibn Ziyad) lakukan. Hingga kemudian orang-orang masuk, menunjukkan kebencian kepadanya, melaknatnya, dan mencacinya. Karenanya, Yazid pun lalu menunjukkan penyesalan atas terbunuhnya al-Husein.” [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 87].

    2. Ibn Katsir meriwayatkan dari Abu ‘Ubaidah Mua’mar bin al-Matsna, yang mengatakan: “Ketika Ibn Ziyad membunuh al-Husein dan orang-orang yang bersama beliau, ia lalu mengirimkan kepala-kepala tersebut kepada Yazid. Maka Yazid pun bergembira pada mulanya, dan menempatkan Ibn Ziyad di samping dirinya. Namun tak berapa lama kemudian, ia menunjukkan penyesalan.” [Lihat: Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 255].

    dan lain-lain.

    Ubaidullah bin Ziyad memang memukul-mukul gigi depan (atau mulut) dari kepala al-Husein as ketika dibawa ke Kufah [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 81]. Namun Yazid bin Mu’awiyah juga melakukan hal itu ketika kepala al-Husein as dikirim ke Damaskus, sebagaimana yang telah saya kutipkan riwayatnya di bagian sebelumnya.

    Anda menulis:

    Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dari Ummu Harran binti Malhan radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tentara pertama yang memerangi Konstantiniyyah akan diampuni.” (HR. Bukhari). Padahal tentara pertama yang memeranginya adalah di bawah pimpinan Yazid bin Mu’awiyyah dan pada waktu itu Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bersamanya.

    Jawab:

    Riwayat lengkap hadits tersebut adalah: “Tentara pertama dari umatku yang melakukan penyerangan melalui laut, akan dijamin surga. Tentara pertama dari umatku yang menyerang kota Kaisar (konstantinopel), akan diampuni.” [Lihat: “Shahih Bukhari”, jilid 2, kitab “Jihad wa al-Siir”, bab “Maa Qiila fi Qitali al-Rum”].

    Sejauh pencarian saya, hadits ini hanya diriwayatkan di kitab Bukhari. Dan diriwayatkan secara tunggal, hanya satu jalur (dari Ishaq bin Ibrahim bin Yazid al-Damsyiqi hingga Ummu Haram). Dan semua perawinya adalah orang Syam (Damaskus).

    Al-Mahlab mengatakan: “Hadits tersebut berisi keutamaan atas Mu’awiyah, karena ia adalah orang pertama yang mengadakan ekspedisi penyerangan melalui laut. Sekaligus hadits tersebut juga berisi keutamaan Yazid, karena ia adalah orang pertama yang menyerang Konstantinopel, yang terjadi pada masa kekuasaan Mu’awiyah. [Lihat: Ibn Hajar al-Asqalani, “Fathul Bari”, jilid 6, kitab “Jihad wa al-Siir”, bab “Maa Qiila fi Qitali al-Rum”].

    Sementara itu, Ishaq bin Rahawaih mengatakan: “Semua hadits yang menyatakan keutamaan Mu’awiyah bin Abu Sufyan tidak ada yang shahih.” [Lihat: Ibn Qayyim al-Jauziyah, “Studi Kritik Terhadap Hadits”, hal. 107, penerbit Pustaka Azzam].

    Tentang pribadi Ishaq bin Rahawaih, berikut ini kesaksian ulama ahlusunnah:

    1. Al-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang imam besar, ulama dari Timur, dan pemimpin para hafizh.” [Lihat: Al-Dzahabi, “Siyar A’lami Nubala”, jilid 11, hal. 359].

    2. Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tak mendapati orang yang menandingi kealimannya di Iraq.” [Lihat: Ibn Qayyim al-Jauziyah, “Studi Kritik Terhadap Hadits”, hal. 107, penerbit Pustaka Azzam].

    Apalagi para perawi hadits Bukhari tersebut adalah orang-orang Syam (Damaskus). Bisa jadi salah seorang di antaranya adalah orang-orang yang dibayar oleh Mu’awiyah untuk membuat hadits-hadits palsu untuk mengangkat musuh-musuh Ahlul Bait as, termasuk dirinya. Hal ini adalah sebagaimana yang ia perintahkan sendiri.

    Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (putera ulama besar ahlusunnah Ahmad bin Hanbal) mengatakan: Suatu ketika aku bertanya kepada ayahku tentang Ali dan Mu’awiyah. Lalu ayahku menjawab: “Ketahuilah bahwa Ali banyak memiliki musuh. Mereka berupaya untuk mencari sesuatu yang bisa mencelanya, namun mereka tak menemukannya. Akhirnya mereka mencari musuh-musuhnya, dan menciptakan keutamaan-keutamaan bagi musuh-musuhnya itu.” [Lihat: Suyuthi, “Tarikh al-Khulafa”, hal. 199; Ibn Hajar al-Asqalani, “Fathul Bari”, jilid 7, hal. 83].

    Sementara itu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Urwah dari Aisyah, ketika Rasulullah saww memperoleh berita dari Jibril as bahwa al-Husein as akan dibunuh oleh umat beliau saww sendiri, maka beliau saww menangis sedih sembari memegang tanah Thaf (Karbala). Lalu beliau saww juga memberitakan hal ini kepada para sahabat. [Lihat: Ali bin Muhammad al-Mawardi al-Syafi’i, “I’lam al-Nubuwah”, hal. 83; “Musnad Ahmad”, jilid 3, hal. 242; Muttaqi al-Hindi, “Kanzul ‘Ummal”, jilid 6, hal. 222-223; “Mustadrak al-Hakim”, jilid 3, hal. 176].

    Ummu Salamah meriwayatkan: Suatu ketika Nabi saww berkata: “Sungguh tidak akan masuk seseorang, kecuali aku telah menantinya.” Kemudian masuklah al-Husein, dan aku pun mendengar Nabi saww menangis tersedu. Ketika al-Husein berada di pangkuan atau di dekat beliau saww, maka beliau saww selalu mengelus kepalanya sembari menangis. Lalu Nabi saww berkata: “Sungguh Jibril telah datang kepadaku, dan mengabarkan bahwa umatku kelak akan membunuh anak ini di tempat yang bernama Karbala.” [Lihat: Thabarani, “Mu’jam al-Kabir”, jilid 23, hal. 289; “Musnad Ahmad”, jilid 6, hal. 294; Muttaqi al-Hindi, “Kanzul ‘Ummal”, jilid 13, hal. 656].

    Dan al-Qur’an menyatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya,1232 maka Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. al-Ahzab: 57).

    Sungguh naif sekali. Anda berpegang pada riwayat tunggal dan bahkan hanya terdapat di satu kitab, lalu meninggalkan al-Qur’an dan riwayat-riwayat mutawatir, demi membela dan bersikap apologi terhadap Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan Yazid bin Mu’awiyah.

  3. hans
    Januari 20, 2009 pukul 1:45 am

    Salam kenal,

    Saya minta izin untuk mengcopas jawaban ustaz untuk referensi saya.

    terima kasih,

  4. hana'
    Januari 21, 2009 pukul 10:41 am

    asw_

    membaca arsip bulan Desember syi’ah dan ikhwanul muslimin …

    sangat indah bila seluruh umat islam bersatu atas panji kebenaran islam ,,,

    namun yang saya herankan,, kenapa masih saja ada pihak yang memercikkan api pertentangan…

    wafat Al-Husein a.s adalah pelajaran penting yang seharusnya dijadikan tauladan dan semangat bagi setiap muslim dengan bendera apapun…

    jika Rasul saja mencintai dan berduka atas Al-Husein…
    megapa kita tidak sementara Rasulullah s.a.w.w telah memperlihatkan sunnahnya…

  5. ngambokgerot
    Maret 23, 2009 pukul 9:12 pm

    setiap orang yang mengaku beriman dan mencintai rasulullah pasti mengutuk perbuatan zalim terhada al husain.
    semakin lengkaplah laknat allah terhadap yazid bin muawiyah serta bapaknya muawiyan bin abu sofyan yang sudah jelas kebenciannya terhadap ahlul bait,
    wahai sahabat, ini bukanlah masalah syiah ataupun ahlulsunnah, tetapi ujian iman kita terhadap masalah ini.
    barang siapa yang tidak mengutuk perbuatan yazid dan bapaknya terhadap ahlul bait dan imam Ali , maka terputuslah harapannya akan syafaat Rasulullah.
    Kami (saya dan teman teman), saat menunaikan ibadah haji meneteskan air mata saat kami mengkilas balik pembunuhan terhadap hussain bin Ali bin Abu thallib ra.
    bagaimana mungkin orang yang mengaku beriman dapat menerima ini.
    kami teringat bagaimana perjuangan dan kesabaran fatimah mendampingi ayahandanya yaitu Rasulullah dalam perjuangan meneggakkan Islam, serta peran Ali bin abi thallib sangat luar biasa, sedangkan dimanakah Muawiyyah saat permulaan Islam? , Ayahnya yaitu Abu sufyan baru masuk islam setelah penaklukan kota Mekah, dan keluarga mereka adalah penentang utama Nabi saat permulaan Islam, apakah dapat disejajarkan dengan Ahlul baits.
    Dimanakah keimanan kita?, sekali lagi saya ingatkan, ini adalah ujian keimanan dari Allah, apakah kita benar benar mencintai Rasulullah?
    Mencintai keluarga Nabi dan menghujat yazid bin muawiyah bin abu sufyan tidak identik dengan Syiah, ini adalah kewajiban umat islam.

  6. Dajjal Telah Nyata
    Juni 3, 2009 pukul 3:01 am

    Jika seorang zalim berubah menjadi amirul mukmin
    tidakkah ini pertanda hakekat dajjal?

    sesungguhnya tidak sulit melihat kaf fa ra di jidat dajjal, karena dajjal menggusung dakwah yang sebenarnya adalah kemewahan/kemegahan dunia itulah azab/neraka.

    Maka lihatlah bagaimana seorang yang telah mansyur sebagai laknatullah dalam peristiwa pembantain seorang suci as (“dari kalangan utusan penentu/siratal mustaqiem- pembeda antara pengikut Imam mahdi dan dajjal”) kini telah berubah menjadi amirul mukmin dalam keyakinan pengikutnya serta telah hadir dan datang dengan bala tentaranya.

    sadarlah saudara muslim..hari penantian itu telah dekat..kita tinggal menanti sang Imam Sejati

  7. Juni 30, 2009 pukul 8:25 am

    Labaika ya Husain……

  8. ihsan
    Juni 29, 2013 pukul 2:55 pm

    Memang Husein telah mati syahid dan itu telah terjadi 1300 tahun yg lalu, apakah akan tetap diratapi sampai hari kiamat? Hamzah bin Abdul Muthalib paman Nabi SAW juga mati syahid di perang Uhud, tetapi gak pernah tuh diratapi oleh Nabi SAW. Kenapa Husein cucu Nabi yg kala itu sdh berumur 54 thn diratapi terus sampai sekarang? Pada hal Allah SWT mengatakan dlm Al-Qur’an,jika seseorang meninggal dunia hendaklah mengatakan”Inna lilahi wa inna ilaihi raji’un”. Ritual meratapi kematian Husein bin Ali r.a.adalah salah satu upacara sakral agama “Syi’ah” yg dlm Islam merupakan perbuatan yg sgt dibenci Nabi SAW . Jadi benarlah kalau Syi’ah itu adalah sesat dan menyimpang dari ajaran Islam

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: