UT0104426
Sayyid Hasan Nashrullah (Hezbollah Lebanon), Ali Akbar Mohtashemi (Parlemen Iran), Khaled Meshal (Kepala Biro Politik Hamas)

Memasuki minggu ketiga serangan militer Israel ke Gaza, hubungan negeri Daud itu dengan negara-negara Arab sekelilingnya ikut memburuk. Dimulai dari hadirnya tembakan roket dari arah Libanon ke utara Israel, sebagai indikasi solidaritas militan Hisbullah Libanon pada Hamas di Gaza. Aksi ini dilakukan atas dasar luka lama, saat 2006 lalu Israel menginvasi Libanon Selatan gara-gara ingin menghancurkan sarang-sarang Hisbullah.

Belum habis nostalgia Israel-Hisbullah, kini tentara Daud di Dataran Tinggi Golan juga ditembaki dari arah Suria. Sementara mereka yang berjaga di perbatasan Arava ikut dihujani peluru dari arah Yordania. Meski Kerajaan Yordania termasuk sekutu Amerika di Timur Tengah, Israel tak bisa mengelak fakta 5 juta penduduk Yordania berdarah Palestina, keturunan para pengungsi Filistin saat bendera Bintang Daud pertama kali berkibar di 1948.

Ribut-ribut menentang Israel juga terjadi di meja negosiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Libia menjadi pelopor resolusi Dewan Keamanan 1860, yang isinya menyerukan gencatan senjata dan pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza. Sementara Liga Arab dibawah pimpinan Mesir, Yordania dan Arab Saudi bergerak sendiri berusaha mendesak Amerika dan negara-negara Eropa. Tekanan para tetangga Arab ini sampai membuat Komite Pemilu Israel nekat melarang partai-partai etnis Arab di ranah Yahudi untuk ikut serta dalam pemilu nasional mereka 10 Februari nanti.

Namun diantara semua huru-hara diplomasi ini, Iran justru tak bersuara. Negeri Ayatollah itu heboh bersuara saat Presiden George W. Bush kena lempar sepatu di Irak, namun justru bertenang diri saat ratusan penduduk Gaza dihujani roket musuh lamanya, Israel. Jawabannya hanya satu, Ayatollah Ali Khameini dan Presiden Mahmoud Ahmadinejad kini tengah bermain di balik layar.

“Kita tahu Hamas dan Hisbullah selama ini adalah pion-pionnya Iran,” kata Sabam Siagian, berposisi sebagai pengamat isu internasional dalam Diskusi Panel Palestina oleh Konggres Advokat Indonesia di Jakarta.

Hubungan Hamas dan Iran sebenarnya dapat ditelusuri kembali di era 1980-an. Yang jika mengacu pada analisis Hudson Institut di Amerika, menjadi titik tolak pertama hubungan Hamas dan Iran. Namun hubungan ini masih bersifat minor. Iran saat itu lebih fokus menggalang kekuataan Shiah di kawasan teluk, termasuk mendanai militan Hisbulah Libanon. Hamas yang beraliran Sunni Palestina pun enggan bergantung sepenuhnya pada Iran. Mereka hanya meminta bantuan Iran saat ingin mengalahkan popularitas rival mereka, Palestinian Islamic Jihad (PIJ).

Namun Perang Teluk Amerika dan Irak di 1991 mengubah segalanya. Menyaksikan Irak mulai runtuh, Iran menyadari mereka harus mulai menggalang kekuatan di kawasan teluk. Hubungan Iran dengan Hamas menguat saat delegasi Hamas pimpinan Musa Abu Marzook mengunjungi Tehran dan bertemu para pimpinan kunci disana. Termasuk Ayatollah Ali Khameini sendiri. Hudson Institut melaporkan Iran saat itu bekomitmen memngucurkan subsidi US $ 30 juta pertahun bagi Hamas, termasuk memberikan senjata dan pelatihan militer di Iran, Libanon serta Sudan. Tahun 1993 Hamas bahkan membuka kantor cabang mereka di Tehran dan menyatakan Hamas serta Iran kini memiliki ”persamaan pandangan atas isu Palestina dari dimensi Islamiah”. Hamas telah menjadi aset strategis Iran di jantung Daud.

Tak hanya erat, hubungan Iran-Hamas selanjutnya bagaikan sekutu. Setelah perang intifada kedua terjadi di 2000, invasi Amerika ke Irak, kematian pemimpin Fatah Palestina Yaser Arafat serta kemenangan Hamas dalam pemilu Palestina 2006; Iran pun mulai mengalihkan dukungannya dari Hisbullah ke Hamas.

”Hamas terlihat sebagai alat yang lebih berkuasa (daripada Hisbullah) untuk menolong Iran mewujudkan keinginannya mendominasi kawasan,” tulis Meyrav Wurmser, Direktur Pusat Studi Timur Tengah Hudson Institut dalam analisanya. Menurut Wurmser, meski berbeda sekte, Hamas dan Iran tetap berbagi ideologi Islamiah yang sama. Hamas tak hanya sekedar ingin menegakkan negara Islam Palestina dari Jalur Barat dan Gaza, namun juga ingin mengeliminasi keberadaan Israel, musuh lama Iran, disana.

Perdana Menteri Hamas Palestina Ismail Haniya sendiri pernah menyatakan Iran telah menjadi patner strategis bagi rakyat Palestina. Saat Pemerintahan Fatah Mahmoud Abbas memecat Hanniya di Juli 2007, pernyataan Haniya setahun sebelumnya itu segera menebar spekulasi Iran berada di balik kudeta Hamas merebut Jalur Gaza.

Kini saat pionnya digebuki Israel, Iran memilih bermain di balik layar. Bukan hanya Israel saja yang mengamat-amati arah kebijakan Presiden terpilih Barack Obama atas isu Gaza. Iran juga turut pasang mata. Pertama kali dalam sejarah dunia, Presiden Mahmoud Ahmadinejad menjadi pemimpin Iran pertama yang mengucapkan selamat atas kemenangan Obama. Sekaligus menyatakan menerima janji kampanye Obama untuk bernegosiasi dengan Iran. Kini konfrontasi Israel di Gaza, tanpa sengaja telah memberi kesempatan Iran menguji janji Obama.

”Kini Iran berdiam diri, ingin menguji reaksi Obama (atas serangan Israel atas Gaza),” kata Sabam Siagian.

Sikap berdiam diri Iran ini tentu saja terbatas untuk tidak ikut ramai-ramai negosiasi internasional di PBB. Sejak hari pertama serangan Israel, Pemimpin Agung Iran Ayatollah telah mengutuk negeri Daud itu. Begitu pula Ahmadinejad. Sementara koran Israel, Haaretz melaporkan para pemimpin Iran juga telah menemui pemimpin-pemimpin Hamas Palestina di minggu kedua serangan Gaza. Serangan dari arah Libanon yang diduga didalangi Hisbullah pun kembali mengarahkan mata dunia akan peranan Iran di balik layar. Berada dibalik layar memang bukan berarti bersidekap tangan.

***
Dimuat di Jurnal Nasional Halaman Internasional

Sumber: Veby Mega Indah