Tulisan ini aku tulis sesaat setelah mendapatkan pertanyaan dari seorang kawan.

Dalam blognya, dia menulis mengenai wanita yang berjilbab tetapi berakhlak buruk. Dia tanya bagaimana pendapatku soal tersebut.

Semoga jawabanku ini tidak dianggap sebagai fatwa, karena memang itu sangat tidak mungkin. Ustadz bukan apalagi ulama yang telah mendapatkan sertifikasi untuk berijtihad.

Mendapatkan pertanyaan tersebut, aku jadi teringat ketika pertama kali menjadi seorang screener pada screening Basic Training HMI Cab Surakarta Komisariat Hasan Albanna.

Beberapa peserta perempuan tidak mengenakan jilbab. Melihat hal itu aku langsung bertanya mengenai jilbab.

Sebelumnya aku tanya, “Apakah Anda beragama Islam?” Seketika juga ia menjawab dengan mantap, “ya iyalah mas. Makanya aku ikut HMI.” Tidak mau kalah mantap, aku tanya balik, “Mengapa Anda tidak berjilbab? Bukankah di Al Qur’an yang merupakan kitab suci Anda memerintahkan para wanita menutup aurat dengan memakai jilbab?”

Jawaban yang sudah bisa aku tebak akan keluar dari mulutnya, benar-benar terucap. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak ingin di cap jelek oleh orang lain karena berjilbab tetapi berakhlak buruk. Jadi ia gak akan mengenakan jilbab sebelum akhlaknya baik.

Aku pikir, jawaban tersebut sebetulnya jawaban yang kacau. Kacau disini bukan berarti bertentangan dengan Al Quran, tetapi terdapat kekacauan logika berpikir.

Apa hubungannya antara jilbab dengan akhlak baik ataupun buruk? Menurutku itu ndak ada hubungannya.

Jilbab itu terkait dengan aurat. Sedangkan akhlak buruk itu merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan bukan dengan ‘tidak berjilbab’. Akhlak buruk dapat diberikan solusi tazkiyatun nafs, pembersihan atau penyucian diri.

Bagi orang yang belum berjilbab, kita sarankan untuk berjilbab. Bagi orang yang akhlaknya buruk, kita berikan solusi tazkiyatun nafs.

Jadi, buruknya akhlak seorang perempuan, jangan sampai hal itu dijadikan alasan untuk tidak berjilbab. Bukan karena bertentangan dengan Al Qur’an, tetapi lebih karena GAK LOGIS.