Jalaluddin Rakhmat

Kita akan berbicara tentang doa dalam perspektif kecintaan. Dia dalamnya kita akan membicarakan hakikat doa, macam-macam doa, dan adab berdoa. Karena berhubungan dengan mahabbah (kecintaan), kita akan berbicara tentang doa dalam kaitannya dengan kiat-kiat meraih cinta Tuhan. Belajar mencintai Allah. Kita ini ada kaitannya juga dengan Tombo Ati-nya Emha Ainun Najib; mengurangi makan, banyak bergaul dengan orang salih, dan lain-lain. Saya akan menyebutnya yang lain lagi, yaitu menjauhi banyak bicara.

Banyak bicara, dalam bahasa Arabnya adalah fudhul al-kalam. Fudhul artinya kelebihan. Kelebihan sesuatu disebut fadha’il atau fadhilah. Fudhul al-mal artinya kelebihan harta. Fudhul al-kalam artinya kelebihan pembicaraan, yaitu memanjang-manjangkan perkataan tetapi isinya sedikit; penyakit yang diderita oleh orang seperti saya dan mubaligh. Sangat sulit mendekati Tuhan dengan adanya fudhul al-kalam ini. Nabi bersabda, “Janganlah kalian memperbanyak pembicaraan tanpa ada dzikrullah di dalamnya. Banyak berbicara tanpa zikir kepada Allah akan memperkeras hati. Manusia yang paling jauh dari Allah ialah yang hatinya keras. Salah satu penyebab hati keras adalah berbicara tanpa ada dzikirullah di dalamnya.“

Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman,“Tidak ada baiknya obrolan kalian itu kecuali kalau dalam obrolan itu ada perintah untuk beramal salih (untuk bersedekah) dan untuk amar makruf nahi mungkar. Di luar itu tidak ada kebaikannya obrolan itu.“

Selanjutnya tentang muhasabah (mengoreksi diri), Imam Musa al-Kazhim a.s. berkata, “Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menghisab dirinya setiap hari. Kalau dia beramal baik dia mengharapkan kelebihannya dari Allah, kalau dia beramal jelek dia meminta ampunan kepada Allah, dan dia bertobat kepada-Nya.“

Rasulullah Saw pernah menasihati Abu Dzar, “Abu Dzar, seseorang belum menjadi orang yang bertakwa sebelum dia memeriksa dirinya lebih keras daripada seorang pedagang kepada mitra dagangnya, sehingga dia harus tahu dari mana dia memperoleh makanannya; darimana dia memperoleh pakaiannya; dan dari mana dia memperoleh minumannya: apakah halal atau haram.“

Muhasabah adalah proses pemeriksaan diri yang dilakukan secara teratur, harus setiap hari. Bagusnya, sebelum tidur kita melakukan muhasabah itu. Kita memikirkan apa yang kita lakukan pada hari ini; kita periksa, kita timbang –amal baik dan amal buruknya lebih banyak mana. Dalam sebuah hadis,  Nabi saw bersabda, “Siapa saja yang sudah mencapai umur 40 tahun kemudian kebaikannya tidak melebihi kejelekannya, setan menciumnya dia antara kedua dahinya.“ (Dalam riwayat lain Nabi saw berkata,“Siapkan tempat tinggalnya di neraka.“)

Saya sudah mencapai 40 tahun, mestinya saya harus menghitung-hitung, apakah kebaikan saya sama dengan kejelekan saya. Kalau sama, berarti saya sudah dicium setan setiap harinya. Kalau lebih jelek lagi, mungkin sudah tidak dicium setan lagi, tetapi sudah menjadi setan sekaligus. Oleh karena itu, salah satu adab para muhibbin (para pencinta Tuhan) ialah muhasabah.

Berikutnya adalah muraqabah. Ada dua arti muraqabah di kalangan para muhibbin: (1) Kita mengabdi kepada Allah seakan-akan kita melihat Allah, atau kalau kita tidak merasa melihatNya, Allah memperhatikan kita. Kita membayangkan bahwa Tuhan selalu mengawasi kita. Mengawasi, dalam bahasa Arabnya, raqaba. Dalam Al-Qur’an ada kalimat: Wakanallahu ‘ala kulli Syay’in raqiba (Allah mengawasi segala sesuatu). Yang jadi persoalan ialah kita tidak merasa diawasi Allah SWt. Oleh karena itu, latihlah lalu bahwa kita selalu diperhatikan, selalu diawasi oleh Allah SWT pada setiap saat, bahkan setiap kali kita menarik nafas.

Ada hadits yang indah ketika Allah berbicara kepada Rasulullah Saw pada malam Mikraj. Hadits ini sering dijadikan rujukan para sufi karena mengajarkan bagaimana kita mencintai Allah. Hadits ini juga merupakan percakapan antara Tuhan dengan kekasih-Nya. Terjemahan hadits itu berbunyi sebagai berikut:

Tuhan berfirman, ”Ahmad, tahukah engkau tentang hidup yang paling bahagia dan yang paling kekal?”

Rasulullah menjawab,”Ya Allah, tidak.”

Allah berfirman,”Hidup yang paling bahagia adalah kehidupan seseorang yang tidak melupakan zikir kepada-Ku, yang tidak melupakan kenikmatan-Ku, dan yang tidak jahil dari-Ku. Dia menggunakan siang dan malanya untuk mencari Ridha-Ku. Sementara hidup yang abadi adalah kehidupan seseorang yang memandang dunia ini dengan rendah, sehingga dunia kecil di hadapan kedua matanya. Pada saat yang sama, ia membesarkan akhirat. Orang itu juga mendahulukan kehendak-Ku daripada kehendaknya. Dia mencari Ridha-Ku, membesarkan hak-hak Ku, dan melakukan muraqabah siang dan malam dari setiap perbuatan jelek dan kemaksiatan yang dilakukannya. Dia juga menafikan dari hatinya apa yang Aku benci. Dia membenci setan dan segala godaannya. Dia tidak memberikan jalan bagi iblis dalam hatinya sebagai penguasa. Bahkan dia memberikan jalan masuk dalam hatinya untuk cinta, sehingga Aku menjadikan seluruh hatinya terpaut kepada-Ku; sibuk dengan diri-Ku, dan lidahnya bergumam dengan segala anugerah-Ku yang Aku berikan kepada setiap kecintaan-Ku diantara makhluk-Ku. Aku membukakan mata hati dan pendengarannya, sampai dia mendengar dan melihat dengan mata hatinya pada kebesaran-Ku…”

Yang terakhir, yang ada hubungannya dengan doa, ialah adab kita kepada Allah. Kita harus mempunyai adab tertentu di hadapan Allah. Nabi ’Isa a.s. diriwayatkan pernah bersabda:

Janganlah kamu berkata bahwa ilmu itu ada di langit, sehingga yang naik ke langit pasti mendapat ilmu itu. Janganlah pula kamu berpikir ilmu itu ada di perut bumi, siapa saja yang masuk ke dalamnya ia akan memperoleh ilmu itu. Ilmu itu tersembunyi di dalam hati nuranimu. Beradablah di hadapan Allah dengan adab kaum ruhaniyyin. Berakhlaklah di hadapan Allah dengan akhlak kaum shiddiqin. Kelak ilmu akan memancarkan dari hatimu. Allah akan memberikan ilmu kepadamu dan memenuhi hatimu dengan ilmu.

Dengan demikian, adab adalah perintah Allah. Beradablah di hadapan Allah SWT: Apa tandanya beradab di hadapan Allah? Ada sebuah hadits qudsi yang mengejutkan saya ketika saya membaca, ”Hamba-Ku, apakah memang perbuatan kamu, menyuruh Aku tetapi perhatianmu ke kanan dan ke kiri. Kemudian engkau berbicara dengan sesama hamba-Ku yang lain. Engkau mengarahkan seluruh perhatianmu kepadanya dan engkau tinggalkan Aku?”

Adab kepada Allah ialah sebagaimana kita melakukan adab dalam berbicara dengan sesama manusia. Ketika kita berbicara dengan sesama orang, kita akan memusatkan perhatian kita kepadanya dan kita tidak melirik ke kanan dan ke kiri. Sebaliknya, ketika kita bermunajat kepada Allah SWt perhatian kita kemana-mana, perhatian kita tercurah kepada makhluk lain dan lupa kepada Khaliq yang kita hadapi. Apakah termasuk perilaku yang indah kalau kita menghadap Tuhan sementara perhatian kita ke sana kemari?

Diriwayatkan bahwa Nabi pernah keluar pada satu saat untuk meninjau ternak dan gembalanya. Ada seorang gembala disitu yang melepaskan pakaiannya. Begitu melihat Nabi datang, di buru-buru memakai bajunya kembali. Lalu Nabi berkata, ”Teruskan saja. Kami ini Ahlulbayt. Kami tidak akan mempekerjakan orang yang tidak beradab di hadapan Alah dan tidak malu dalam kesendiriannya di hadapan Allah.”

Baginya, malu itu kalau ada orang saja. Di hadapan Allah dia tidak malu. Hal itu juga ada hubungannya dengan yang kita bicarakan di sini, yakni adab dalam doa.

Al-Qur’an memberikan contoh adab dalam berdoa, misalnya, doa Nabi Ayyub a.s., “Tuhanku, kesengsaraan menimpaku sekarang ini, sementara Engkau Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.”

Itulah doa Nabi Ayyub. Lihatlah dalam doa itu, Nabi Ayyub tidka mengatakan, “Tuhanku, Engkau menimpakan kepadaku penderitaan ini. Sayangilah aku.”

Tidak ada kata perintah dalam doa itu. Itulah adab berdoa. Tidak ada kalimat perintah kepada Allah SWT. Tidak ada fi’l amr disitu, tetapi yang disebut adalah nama Allah. Walaupun yang menguji itu adalah Allah, Nabi Ayyub tidak langsung berdoa dengan menuduh, “Tuhanku, Engkau telah menimpakan penderitaan kepadaku.”

Ada juga doa Nabi Ibrahim, “Apabila aku sakit, Dialah Yang memberikan kesembuhan.”

Ibrahim tidak mengatakan, “Kalau Engkau yang menimpakan sakit kepadaku, Engkaulah yang menyembuhkanku.”

Dia hanya menyebutkan, “Kalau aku sakit…“

Lihat juga doa Nabi Adam a.s., “Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Sekiranya Engkau tidak mengampuni kami dan tidak menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.“

Disitu tidak ada kalimat perintah. Itulah doa yang beradab. Dia yang penuh dengan adab ialah doa yang di dalamnya tidak ada kalimat perintah. Di Indonesia, kita sering mendengar doa-doa resmi dalam acara kantor-kantor yang isinya seluruhnya perintah kepada Tuhan. Maklum yang berdoa adalah para pejabat di kantor, sehingga dia menganggap Tuhan adalah anak buahnya yang harus diperintah. “Tuhan, lunakkan hati para inspektur; sehingga Bandung dapat memperoleh Satya Purna Karya Nugraha.“

Ada doa yang seperti itu. Apa itu salah? Tidak, itu tidak salah, tetapi kurang beradab.

Termasuk adab dalam berdoa ialah tidak meminta hal-hal yang sangat spesifik, mendikte Tuhan bahwa itulah yang paling baik bagi kita. Misalnya, jangan dikatakan, “Tuhan, sembuhkanlah saya,” tetapi katakanlah, “Duhai Sang Maha Penyembuh.”

Bahkan, katanya, lebih beradab lagi kalau kita berdoa dengan hal-hal yang bersifat umum dan kita memasukkan ke dalam doa itu bukan saja diri kita, tetapi juga kaum Muslim dan Muslimah seluruhnya.

Kata doa berasal dari kata da’a, yad’u, du’a’an atau da’watan. Da’wah dalam bahasa Arab artinya doa. Dalam Al-Qur’an, kata da’wah juga artinya doa, karena baik doa maupun dakwa artinya panggilan. Seruan juga bisa berarti undangan. Karena hubungan kita dengan Allah itu sama –hal ini pernah diceritakan bahwa Tuhan memanggil kita dan kita pun memanggil Dia– maka hakikat doa adalah saling memanggil di antara dua kekasih.

Macam-macam Doa
Doa yang paling awal adalah doa orang-orang awam. Doa ini ditandai dengan perintah-perintah. Yang diharapkan dari doa itu isinya: (1) agar diberi sesuatu, mengharapkan sesuatu, atau takut pada sesuatu; (2) agar dilindungi.

Ada tiga macam doa: Pertama, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu surga dan berlindung kepadaMu dari api neraka.”

Berikutnya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu.“

Yang pertama, meminta agar diberi surga dan dijauhi dari neraka. Dia pada tingkat ini adalah mengharapkan ganjaran dan dijauhkan dari siksaan; mengharapkan keberuntungan dan dijauhkan dari bencana; mengharapkan harta yang banyak dan diselamatkan depositonya. Jadi, seluruhnya berada diantara ganjaran dan hukuman. Yang kedua sudah tidak memikirkan lagi pemberitan Tuhan, tidak memikirkan lagi ancaman Tuhan. Karena itu, doa yang kedua berbunyi, “Aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu.“

Jadi, sekarang bukan masalah surga dan neraka lagi, tetapi masalah ridha dan kemurkaan Tuhan.

Puncak yang terakhir dari doa itu adalah, “Aku berlindung kepada-Mu dari Diri-Mu.“ Dalam salah satu doa Imam Ali Zainal Abidin dituturkan, “Aku melarikan diri dari-Mu menuju-Mu.“

Doa yang kedua adalah doa yang lebih berisi tentang pengakuan akan kehinaan dan kekecilan diri kita. Jadi, ia hanya merupakan obrolan saja kepada Allah yang menceritakan betapa lemahnya diri kita. Pada tingkat yang kedua ini, doa itu bersifat pengakuan. Kita mengadukan diri kita kepada Allah SWT, seperti contoh doa Nabi Adam a.s., “Ya Allah, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Sekiranya Engkau tidak mengampuni kami, pasti kami menjadi orang yang rugi.“

Saya sering membayangkan, doa-doa yang seperti itu agak sulit diaminkan. Akan tetapi, doa yang isinya perintah gampang diaminkan. Sebab, doa yang isinya perintah itu ditujukan hanya untuk diri sendiri, sangat egois. “Tuhanku, ampunilah aku, sayangi aku, tingkatkan derajatku, dan beri rezeki aku.” Ujungnya “aku” semua. Doa itu tidak salah, tetapi itu adalah jenis doa yang awam. Kita jangan sombong, merasa diri sudah tinggi, kita masih awam memang.

Sementara doa yang kedua, doa yang berisi pengakuan (apalagi doa tingkat ketiga) sangat sulit diaminkan. Misalnya Imam Ali Zainal Abidin berdoa, “Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri,” lalu, “Amin,” misalnya, agak sulit. Tampaknya kita hanya mendengarkan saja doa itu, kita ikuti saja dalam hati, dan tidak usah diaminkan. Mengaminkannya dengan cara mengikuti seluruh hati kita. Tuhanku, kepada diri-Mu kuadukan diriku, yang memerintahkan kejelekan, yang bergegas melakukan kesalahan, yang tenggelam dalam kemaksiatan kepada Mu; yang menjadikan aku oran gyang celaka, yang terhina…”

Semua itu adalah pengaduan. Kita tentu saja boleh mengadu kepada Allah SWT; mengadukan kehinaan kita di hadapan-Nya.

Doa yang paling tinggi adalah doa yang merupakan bisikan cinta. Doa itu isinya rayuan seorang pecinta kepada kekasihnya. Dia merayu kekasihnya supaya tetap memelihara cintanya. Munajat Imam Ali Zainal Abidin dipenuhi dengan rayuan-rayuan. Jadi, walaupun, misalnya, ada kata perintah, tetapi kata perintah itu berisi rayuan, berisi ungkapan cinta. Seperti perintah Majnun kepada Layla, “Aku turut berbahagia atas pernikahanmu. Aku tidak meminta apa-apa, kecuali engkau mengenang bahwa di satu tempat ada seseorang yang sekiranya tubuhnya dicabik-cabik oleh binatang buas, dia masih tetap menyebut namamu.”

Itu perintah juga, tetapi perintah sangat halus, perintah yang sangat beradab. Kita pernah membaca salah satu doa Imam Ali Zainal Abidin yang merupakan ungkapan cinta:

Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku
Pertemuan dengan-Mu kecintaanku
Kepada-Mu kerinduanku
Cinta-Mu tumpuanku
Pada Kekasihku gelora rinduku
Ridha-Mu tujuanku
Melihat-Mu keperluanku
Mendampingi-Mu keinginanku
Mendekat kepada-Mu puncak permohonanku

Doa-doa Rabi’ah al-’Adawiyyah kepada Tuhan juga berisikan cinta. Doanya terkenal. Satu doa sudah diterjemahkan oleh Taufiq Ismail dan menjadi puisi. Rabi’ah bertutur:

Tuhanku, kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka, masukkanlah aku ke dalam neraka itu, dan besarkan tubuhku di neraka itu, sehingga tidak ada tempat lagi di neraka itu buat hamba-hamba-Mu yang lain.
Kalau aku menyembah-Mu karena menginginkan surga-Mu, berikan surga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain, bagiku Engkau saja sudah cukup.

Itu terjemahan Taufiq Ismail, sangat bagus. Sekali lagi, itulah doa yang sampai pada tingkat cinta. Doa itu isinya hanya bisikan cinta. Karena doa itu menjadi bisikan cinta, orang merasa enak. Kita sedang merayu orang yang kita cintai. Ketika kita mengungkapkan ungkapan cinta kita kepada-Nya, berbicara yang panjang pun enak. Jadi, salah satu ukuran bahwa doa kita sudah berisi bisikin cinta ialah apakah kita tahan berdoa dengan doa yang panjang, yang isinya ungkapan cinta? Bagi saya, saya akan menjawab pertanyaan itu, “Tidak.“ Saya belum bisa, belum dapat merasakan nikmatnya membaca doa panjang seperti itu.[]

Dikutip dari buku Kuliah-Kuliah Tasawuf, Terbitan Pustaka Hidayah