(Analisis Muhammad Baqir Sadar)

Oleh: Muhammad Said Marsaoly

DOKTRIN empirical menyakini bahwa; proses penyimpulan dalam silogisme meggunakan model “induktif”. Yakni, pola penyimpulan dari Partikular ke Universal atau dari yang khusus ke umum. Misal dalam Premis “Semua Manusia Pasti Mati”, “Hanafi Manusia” maka “Hanafi Pasti Mati”.

Menurut Baqir Sadar, proses penyimpulan itu tertolak karena tidak memenuhi unsur silogisme deduktif. Dengan kata lain, premis tersebut sama sekali tidak mendatangkan kesimpulan baru. Padahal seperti kita tahu silogisme sejatinya mendatangkan sesuatu yang baru yang tidak terkandung pada premis sebelumnya. Baqir Sadar menambahi, silogisme seperti contoh diatas berada dalam kesalahan yang disebut “mengaggap apa yang dipersoalkan sudah jelas”.

Lebih jauh Baqir Sadar menulis;  Sebab jika kita menerima premis “semua manusia pasti mati” berarti kita memasukkan setiap manusai pada subjek itu berikutnya jika kita ikuti premis itu dengan premis kedua “Muhammad adalah manusia” maka ada dua kemungkinan. 1) Kita sadar bahwa Muhammad adalah salah satu invidu dari individu-individu mansuia yang kita masukkan dalam premis pertama. Dan kerenanya, kita juga sadar bahwa Muhamamad pasti mati sebelum kenyataan itu kita sebut pada premis kedua; 2) Kita tidak tahu, karena itu, kita telah menggeneralisasikan premis pertama secara tidak benar, sebab kita belum tahu apakah kematian berlaku bagi masing-masing mansuia?.

Dengan demikian jelaslah bahwa silogisme induktif tidak dapat menghasilkan konklusi baru. Contoh-contoh diatas sama saja dengan kita menggunakan Premis “setiap manusia pasti bersalah” Muhammad Manusia” Maka Muhammad Pasti salah”. Kekeliruan itu seperti telah kita tahu.

Beberapa Silogisme Deduktif

Setelah mengulas keberatan tentang doktrin empirical Baqir Sadar melanjutkan dengan penolakannya terhadap doktrin empirical mengenai “pengalaman adalah kriteria untuk mengenali realitas” salah satu doktrin yang telah menjalar kemana-mana hatta agama sekalipun. Dibawah ini penulis menyajikan beberapa silogisme dalam doktrin empirical. Yang menjadi subjek matter dalam paper ini.

“pengalaman adalah kriteria untuk mengenali realitas “ apakah prinsip tersebut diperoleh manusia tanpa pengetahuan sebelumnya? ataukah ia seperti pengetahuan-pengetahuan lain manusia yang tidak fitri dan tidak niscaya?. Jika ia adalah pengetahuan primer, yang mendahului pengelaman maka gugurlah doktrin empirikal yang tidak mempercayai pengetahuan primer, dan benarlah adanya keniscayaan pengetahuan manusia yang tidak bergantung pada pengalaman. Apabila pengetahuan tersebut membtuhkan pengetahuan sebelumnya, makan itu berarti pada mulanya kita tidak tahu bahwa pengalaman adalah kriteria logis, yang dijamin kebenaranya. Bagaimana mungkin pembuktian kebenarannya, dan menganggapnya sebagai kriteria pengalaman, jika kebenaranya belum pasti? Bukankah pengalaman tidak tidak dapat membuktikan dirinya sendiri?

Ide filosofis yang bertumpuh pada pengalaman pada prinsipnya tidak mampu mengukuhkan materi. Karena yang ditangkap oleh indera adalah fenomena aksidental materi bukan materi itu sendiri. Substansi materi tersebut hanya dapat di serap dengan pengetahuan rasional primer. Tanpa adanya prinsip rasional indera tidak dapat menetapkan adanya materi dari bauh yang semerbak (bunga misalnya). Dengan alasan itu, maka kebutuhan terhadap pengetahuan rasional bukan saja dibuktikan untuk menetapkan ide-ide metafisis namun materipun membutuhkan gagasan rasional dan ide-ide primer tersebut.

Prinsip kemustahilan tidak dapat ditetapkan dengan pengalaman. Kemustahilan dalam arti “tidak adanya kemungkinan maujudnya sesuatu” bukanlah termasuk dalam pengalaman. Pengalaman hanya dapat menunjukan “tidak adanya hal-hal tertentu”. Tapi tidak adanya sesuatu tidak menunjukan kemustahilannya. Pembahasan-pembahasan mendatang kita akan tunjukan beberapa poin tambahan keberatan Baqir Sadr terhadap empirisme dengan analisis yang lebih dalam.

Sumber: Yayasan RausyanFikr Yogyakarta