Bulan Mei mulai berjalan dengan diawali 2 hari peringatan bersejarah. Pertama, hari buruh internasional. Kedua, hari pendidikan nasional.

Di Indonesia, hari buruh internasional tidak termasuk dalam hari besar dan libur. Karena itu, demi menuntut hak-haknya yang semakin menjerat, bukan hanya perut mereka, tetapi menjerat leher juga, mereka rela tidak bekerja (meliburkan diri). Para buruh berbondong-bondong turun ke jalan, berpanas-panasan sembari meneriakkan yel-yel menolak penindasan dan pengebirian hak-hak buruh.

Berbeda halnya dengan hari pendidikan nasional yang biasa disingkat hardiknas.

Hari yang mengingatkan kita akan semangat pendidikan, malah disikapi dengan meliburkan sekolah. Walaupun ada sekolah yang masih mewajibkan siswanya masuk, itu pun hanya sebatas kewajiban upacara. Setelah itu, siswanya diperbolehkan pulang. Entah pulang, entah jalan-jalan. Setidaknya ada raut muka kebahagiaan tampak dari wajah mereka karena pada hari itu mereka bebas dari kewajiban sekolah.

Dua hal yang begitu berbeda. Untuk menuntut hak-haknya, para buruh ramai-ramai bolos. Ini wajar karena hari buruh ditetapkan untuk mengingatkan kaum buruh akan pemenuhan hak-haknya. Tetapi untuk memperingati hari pendidikan, para siswa sekolah beramai-ramai memenuhi mall, taman-taman karena pada hardiknas mereka bebas dari kewajiban belajar. Apa benar hal ini pun wajar sehingga patut dimaklumi?

Entahlah, hanya saja aku harus meminta maaf pada Anda semua karena telah membuat Anda membaca celotehan tak berarti ini.