TULISAN Dr. M. Hasballah M. Sa’ad; “Syiah di Aceh” (Serambi, Minggu, 22/02/2009) telah menggugah saya dan memberi tanggapan, khususnya berkait Hikayat Muhammad Nafiah, putra Ali bin Abi Thalib dari isterinya yang lain, yang didudukkan di paha kanan Rasulullah saw. Sementara, cucu kesayangan beliau saw, Hasan dan Husen didudukkan di paha kiri Rasul yang kemudian membuat Saida Fatimah, bermasam muka. Lalu Rasul saw, menjelaskan bahwa Hasan dan Husein akan menemui ajal karena dibunuh, dan Muhammad Nafiah akan menuntut bela atas kematian mereka ini.

Bila benar yang dimaksudkan Muhammad Nafiah adalah anak Ali bin Abi Thalib dari isteri yang lain, maka saya ingin memperjelas bahwa isteri tersebut bernama Khaulah yang berasal dari Sind yang tertawan pada perang Yamamah kemudian menjadi budak Bani Hanafiah. Khalifah Abubakar memberikannya kepada Ali, dan hasil perkawinan ini lahirlah Muhammad bin Ali bin Abu Thalib pada tahun 21 H. yang terkenal bernama Ibnu Al-Hanafiah. Cerita yang menyebutkan Rasul Saw memangkunya adalah sangat musykil sekali terjadi karena Rasul wafat pada tanggal 12 Rabiul’awal tahun 11 hijrah, dan Muhammad Nafiah baru lahir pada tahun 21 H.

Sejarah mencatat Ali bin Abi Thalib pada perang Jamal tahun 36 H, dan pada perang Shiffin tahun 37 H. Dia terkenal gagah berani, alim dan wara’. Meskipun dia keturunan dari Ali bin Abi Thalib tapi Syi’ah Itsna Asy’ariyah tidak memasukkannya sebagai salah satu Imam karena mereka membatasi imam, yaitu hanya pada anak-anak Ali dari Fatimah r.a. Namun oleh faham Syi’ah sekte Al-Kisaniyah tidak membatasi hanya dari anak-anak Fatimah r.a. Mereka mengangkat Muhmmad bin Al-Hanafiah, menjadi salah satu Imam mereka, setelah berjuang memerangi penguasa yang zalim akhirnya. Dia wafat pada tahun 81 H sekembali dari Makkah menunaikan haji. Dia dikuburkan di Baqi.

Tragedi Karbala memang sangatlah tragis, memilukan, dan keji. Sebagaimana disebutkan oleh Dr. Hasballah dalam tulisannya. Duka nestapa dan airmata terus mengucur. Belum lagi kering atas duka suatu peristiwa terjadi lagi peristiwa lain. Sejak terbunuhnya Sayyidina Ali as oleh Abdurahman bin Muljam (kelompok Khawarij) pada tanggaj 17 Ramadhan tahun 40 H, cucu kesayangan Rasul saw, Hasan pun diracun oleh anak perempuan Shail bin Amr atas bujukan Muawiyah sehingga menemui kesyahidannya pada tahun 50 H setelah menderita selama empat puluh hari di pembaringan. Dan puncak kepiluan adalah terbunuhnya Husen di Karbala pada tahun 61 H dengan cara yang sangat keji oleh Ubaidillah bin Ziyad atas perintah Yazid bin Muawiyah.

Apa yang terjadi pada Sayyidina Husen kembali terulang pada cucunya Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husen pada tahun 122 H. Saat itu beliau berjuang melawan kekuasaan zalim Hisyam bin Abdul Malik, kepalanya tertembus anak panah hingga menemui ajalnya. Pengikutnya berusaha menyembunyikan jasad Zaid dengan menguburkan pada tempat yang tersembunyi tetapi dapat diketahui oleh lasykar Bani Umayyah lalu kuburannya digali kepalanya dipenggal dikirim ke Damaskus sedangkan tubuhnya disalib di Kufah. Tragedi yang syahidnya Hasan dan Husen menjadi tradisi keagamaan di Aceh sebagai penghormatan. Itu menandakan bahwa di Aceh ada pemeluk Syi’ ah yang sering ditentang karena beda faham dengan Ahlussunnah.

Mengenai Muawiyah dan anaknya Yazid, Syeikh Nuruddin ar-Raniry yang menjadi mufti Kerajaan Aceh Darussalam masa kekuasaan Iskandar Tsani (1045 -1050 M) mengeluarkan fatwa dalam bentuk syair berikut. Kata Nuruddin ebeunu Hasanji, meunan neupekri lam katanya Meupakat ulama dum na Aceh. menoe neupegah kalam calitra Saidina Ali ngon Muawiyah. nibak Allah pangkat beusa, Soe yang ceureuca dua ureung nyan. nibak Tuhan keunong meureuka Misei Yazid aneuk Muaw iyah, Fe/ora lidah he syeedara.

Bek keuh takheun Yazid kaphe, hana dali Yang peusiasa. Hana hadih nibak nabi, hana dali kheun Rabbana. Indonesianya : Kata Nurddin ibn Hasanji, demikian tegas dalam katanya Ulama Aceh telah mufakat demikian riwayat ceritanya Saidina Ali dan Muawiyah, disisi Allah mereka sama Siapa yang cerca orang dua itu. dari Allah murka menimpa Juga Yazid anak Muawiyah, jaga lidahmu wahai saudara Janganlah dikata Yazid kaf’ir, tiada dalil menopangnya Tiada hadis ucapan nabi, tiada bukti firman Ilahi (Dr- Ahmad Daudy. MA .Allah dan Manusia dalam Konsepsi Nuruddin Ar-Raniry, CV. Rajawali Jakarta).

Fatwa itu menunjukkan bahwa telah terjadi perbedaan pemahaman dalam kontek peristiwa Perang Siffin (tahun 37 H) dan Perang Karbala (tahun 60 H) dalam pandangan Sunni. Syeikh Nuruddin mencoba mengaburkan dan memperingatkan ulama-ulama pada masa itu untuk tiduk terpengaruh dengan ajaran Syi’ah. Perbedaan faham antara Syi’ah dan Ahlussunnah terajut dalam rentang sejarah yang panjang yang membias sampai ke Aceh dan mula berdirinya Kerajaan Peureulak (249 H) disusul Kerajaan Samudra Pase (433 H) sampai pada Kerajaan Aceh Darussalam (920-1322).

Fatwa itu merupakan juga suatu ilustrasi bahwa paham Syi’ah pernah berkembang di Aceh. Bait terakhir adalah merupakan suatu pengunci agar hal itu tidak dibicarakan lagi. Berdasarkan fakta sejarah saya tidak merasa enggan untuk berkesimpulan bahwa faham Syi’ah pernah berkembang di Aceh. Namun dengan banyaknya ulama Ah1ussunnah baik di Aceh ataupun yang datang dari Mekah yang menganut mazhab Syafi’iah pengaruh Syi’ah pun mulai memudar. Dan bila sekarang ada yang melantunkan syair Hasan Husen atau ritual lainnya dengan simbol- simbol Syi’ah adalah semata-mata karena kecintaan mereka kepada ahlu1 bait, tapi mereka mungkin (?) bukan penganut faham Syi’ah. ***

Sumber: Serambinews